
"Jadi, kamu udah nyiapin gaun pengantin kamu sendiri, By?"
Amanda mengangguk. "Iya, gara-gara kamu tukang jahit aku sampe harus lembur berhari-hari untuk nyelesein gaunnya. Tentuin tanggal nggak mikir-mikir dulu sih!"
"Ya maaf, abisnya aku udah nggak sabar mau nikah sama kamu By. Masa kita begini-begini aja hubungannya...."
"Iya, aku tahu. Makasih yah udah yakinin hati aku buat pilih kamu jadi suami aku, Chad."
"Harus dong, kamu nggak mungkin nggak terpesona sama kharisma aku ini...." sahutnya bangga.
"Iya, iya ... pesona Richard Klose emang beda."
Keduanya baru saja selesai makan siang. Amanda sedang duduk bersandar di dada Richard dengan tangannya yang asik mengusap perut kotak-kotak prianya.
"Besok undangannya udah ada By."
"Hah? Aku kok nggak liat contoh undangan kita, Chad?" kaget Amanda.
"Sengaja, aku pengen ngasih surprise aja sama kamu. Undangannya aku yang desain sendiri loh ... nanti besok kita ke WO ambil undangan yang udah selesai di cetak."
"Ih, romantis banget sih kamu ... jadi makin cinta," goda Amanda mengusap pipi tanpa bulu itu.
"Harus dong Beby. Nikah, kan sekali seumur hidup. Aku pengen nikahan kita nanti berkesan, aku udah minta WO ngatur semuanya dengan baik sesuai kemauan aku. Kamu tinggal nikmatin aja pas hari H nanti."
Ah, Richard bahkan sampe pikirin hal sejauh itu gumamnya. Pria yang dulu selalu membuatnya jengkel ini, kini berubah menjadi pria romantis yang sampai terjun langsung mengatur acara pernikahan mereka nanti.
"Makasih yah, Chad."
Amanda mengecup bibir Richard bahagia, semoga sampai hari pernikahan mereka tiba nanti. Tidak akan ada halangan apapun seperti yang pernah menimpanya waktu lalu, pikirnya.
"Aku yang harusnya bilang makasih, By. Makasih karena udah mau buka hati kamu buat aku. Makasih udah biarin aku masuk dan diam disana. Aku akan buktiin kalo aku bisa bahagiain kamu dan anak-anak kita nanti."
Amanda memeluk tubuh kekar Richard bahagia, tinggal selangkah lagi dan mereka benar-benar bisa saling memilki satu sama lain. Terima kasih untuk Sang Pencipta yang masih memberikan seorang jodoh yang baik untuknya.
Tiba-tiba pintu ruangan Richard dibuka dari luar. Seorang wanita paruh baya dengan baju brand ternama yang melekat di tubuhnya, masuk mendapati dua orang yang tengah berciuman dengan panas di dalam.
"Astaga Richard...!" teriaknya menutup kedua matanya.
Amanda langsung mendorong tubuh Richard dan berdiri dari sofa. Seperti sedang tertangkap basah, wajahnya langsung berubah merah padam.
__ADS_1
"Mommy ... gangguin aja ih!" sentak Richard kesal kegiatan panasnya yang baru saja akan dimulai harus terganggu dengan kedatangan Tari.
"Dasar emang kamu yah! Mama datang bukannya disambut malah dibentak-bentak begitu!"
Wanita itu melangkah maju mendekati kursi sofa tamu dimana mereka berada.
Amanda yang salah tingkah tidak tahu harus berkata apa. Bahkan untuk sekedar menyapa calon mertuanya dia tidak bisa, mulutnya seakan terkunci dengan rapat. Astaga ... malu banget gue, gumamnya dalam hati.
"Udah dari tadi disini Manda?" sapa Tari lebih dulu.
Dia tahu kalau wanita yang tengah berdiri dengan wajah memerah bak kepiting rebus itu, sedang menahan malu karena di pergoki lagi olehnya siang ini.
"I-iya Mom," sahutnya terbata.
"Duduk By," sela Richard menarik wanita itu duduk di dekatnya.
Tari duduk di kursi sofa single dan sedang menatap bergantian anak dan calon menantunya.
"Kalian berdua kok udah mau nikah nggak bilang-bilang Mommy? Tadi pagi Rena telpon katanya kalian mau nikah tanggal sepuluh. Kok malah jadi tiba-tiba gini?"
"Tiba-tiba gimana sih, Mom ... bukannya Mommy yang minta kita cepetan nikah. Ini aku udah majuin malah protes, gimana sih!" sahut Richard membela diri.
"Ya ampun Mom, nggak usah ribet gitu deh. Harus emang kita ngundang mereka? Kan yang mau nikah aku sama Manda, bukan Mommy sama daddy," sahut Richard kesal dengan kerempongan mamanya ini.
"Kamu tuh yah, dibilangin selalu aja ngeyel! Pokoknya mereka harus kalian undang, mommy nggak mau tahu!"
Anak dan ibu itu kembali berdebat tentang masalah undangan yang akan mereka undang nanti. Amanda hanya bisa membuang nafas panjang melihat mereka berdua.
Hidupnya pasti mulai sekarang akan lebih heboh dari sebelumnya, calon mama mertuanya ini selalu tidak mau kalah dengan teman-teman seperkumpulannya.
Amanda jadi ngeri-ngeri sedap nanti kalo diajak bertemu dengan wanita-wanita sosialita berduit itu, mereka pasti tidak akan ada habisnya bergosip tentang sesuatu hal pikirnya.
"Yaudah, kalo gitu undangannya besok langsung kirim ke rumah. Biar nanti mommy yang urus tamu-tamu kalian yang akan diundang nanti!" ujar Tari tetap kekeh dengan keputusannya.
"Loh, kok gitu sih Mom. Aku-"
"Iya nggak apa-apa Mom," potong Amanda cepat. "Mommy aja yang atur kalo gitu," sambungnya memberi kode pada Richard untuk berhenti berdebat dengan Tari.
"Nah, gitu dong. Beginikan enak, mommy jadi tenang sekarang."
__ADS_1
Richard berdecak tidak bisa membantah apa kata Tari, karena Amanda sudah memaksanya untuk diam.
"Nanti mommy mau hubungi salah satu temen mommy di tv burung elang untuk siarin langsung nikahan kalian juga!"
"Apa?" kaget dua pasangan itu.
"Mommy apa-apaan sih, kita tuh bukan artis Mom...," protes Richard lebih dulu.
Astaga ... kenapa jadi ribet begini sih? Gumam Amanda tidak berani memprotes ucapan Tari.
"Kalian emang bukan artis, tapi satu negara ini kenal siapa Manda, kan. Mommy mau semua orang tahu siapa yang berhasil dapetin wanita cantik desainer muda kita ini...." tunjuknya bangga pada calon menantunya.
"Selain itu, berita pernikahan kalian juga pasti bakal berpengaruh pada saham perusahaan. Perusahaan kamu akan jauh lebih untung lagi nanti, percaya deh sama Mommy...," sambung Tari memberi pengertian untuk anak laki-lakinya.
Astaga ... ini kita mau nikah udah kayak mau bikin sinetron, ribet banget urusannya! Gumam Amanda lagi.
"Mommy emang yah, bener-bener deh...." sahut Richard bingung harus berkata apa lagi.
"Udah, pokoknya kalian tenang aja. Untuk urusan selanjutnya biar mommy yang urus. Kalian fokus aja dengan kerjaan kalian, selesein semuanya sebelum nikahan kalian nanti. Karena abis nikah, kalian harus pergi bulan madu! Jangan kayak mommy sama daddy dulu, giliran mau bulan madu malah harus ditunda karena masih punya kerjaan. Nanti Manda bakal mommy bawa juga ke salon langganan mommy, yah ... kita perawatan disana biar Manda makin cantik sebelum hari H," ujar Tari panjang lebar.
Amanda hanya bisa mengangguk lemah mendengar semua rencana yang sudah disusun calon mertuanya ini untuknya. Hadeh ... resiko punya mama mertua rempong yah begini deh, gerutunya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
Save mama mertua 🤭
__ADS_1