
"Jadi karena kalian udah mau nikah tiga hari lagi, Manda sama Richard jangan dulu ketemu yah? Manda di pingit dulu sampe hari H nanti...."
"Kok gitu sih Mom? Masa kita gak bisa ketemu...." sela Richard tidak terima, menatap Tari yang duduk di depan mereka.
"Ish kamu tuh gak bisa di bilangin yah, Chad. Udah denger aja apa kata Mommy! Tradisi disini itu emang begitu, kalau mau nikah yah harus di pingit dulu. Mommy sama kakak kamu juga begitu kok, jadi dengerin aja apa kata Mommy!"
Richard membuang nafas panjang, sehari saja tidak bertemu dengan Amanda bisa membuatnya tidak bersemangat menjalani hari, apalagi sampai tiga hari pikirnya.
Richard langsung menatap Amanda yang duduk disamping dia dan menggenggam tangan calon istrinya.
"Nggak usah kayak anak kecil Lo! Sadar umur woi, cuma tiga hari juga!" sela Rena menertawakan wajah nelangsa Richard.
"Berisik Lo!" sinis pria blasteran itu.
Mereka duduk di ruang tamu dimana Richard dan kedua temannya di hukum tadi. Mike dan Donal sudah pulang setelah Amanda datang dan menyelamatkan mereka dari hukuman mommy Tari.
"Yaudah, aku anterin Manda pulang dulu Mom." sambung Richard menarik tangan Amanda.
"Kok pulang? Mommy pikir mau tidur disini...."
"Nggak usah Mom, mama sendirian dirumah. Kasian...." jawab Amanda.
Tari mengangguk mengerti. "Kalo gitu hati-hati yah ... bawa mobilnya pelan-pelan Chad!"
"Iya...." Richard segera membawa Amanda keluar rumah dan masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada semua anggota keluarganya.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?" sahut Richard melajukan mobil menuju rumah Amanda.
"Kok gak semangat gitu semenjak mommy ngomong soal dipingit?" selidik Amanda.
"Ya gimana ... aku, kan jadi nggak bisa ketemu kamu By!" sahut Richard apa adanya.
Amanda tersenyum geli. "Cuma tiga hari Chad, dah kayak bertahun-tahun aja kamu nggak bakal ketemu aku!"
"Buat aku itu emang bertahun-tahun Beby ... tiga hari kayak seribu abad buat aku!"
"Gombal!" sahut Amanda berdecak malas.
"Terserah kamu mau bilang gombal, aku yang rasain jadi aku yang lebih tahu!"
Amanda seketika tertawa melihat wajah Richard yang berubah cemberut karena di goda olehnya.
"Iya, iya ... aku percaya. Kamu nggak cocok kalo ngambek, Chad! Kalo kata ka Rena, sadar umur woi!" sahut Amanda mengikuti nada suara calon kakak iparnya tadi.
Tawa renyah langsung keluar dari mulut Amanda, prianya memang senang bertingkah seperti anak kecil.
Richard makin gemas dengan tingkah Amanda dan memilih menepikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi.
"Kamu tuh emang yah, seneng banget godain aku!" Gelitik Richard di pinggang tunangannya.
"Ampun, ampun Chad...." keluh Amanda mulai sakit perut karena terlalu banyak tertawa.
__ADS_1
"Masih mau ledekin aku?"
"Enggak, udah ... nggak lagi Chad."
"Bener?"
"Iya ... udah dong Chad. Perut aku udah sakit ini!"
Giliran Richard yang tertawa puas melihat wajah merah Amanda yang terlalu banyak tertawa karena ulahnya. Wanita itu sampai tersengal bernapas di sampingnya.
"Awas yah kalo masih berani ledekin aku lagi, aku makan kamu!" ancam Richard masih tertawa.
"Dah kayak zombie aja kamu!"
"Iya, zombie mesum...."
Amanda mencibir dan ikut tertawa bersama pria yang dia cinta. Dia juga pasti akan sangat merindukan Richard, apalagi Amanda tidak diizinkan bekerja selama masa pingit ini. Pasti akan sangat membosankan diam dirumah dan tidak bisa melakukan aktivitas lebih.
Baru memikirkannya saja sudah membuat Amanda bosan, apalagi harus menjalaninya nanti.
"Chad, aku mau nanya dong?" ujar Amanda setelah keduanya berhenti tertawa.
"Nanya apa?"
"Aku masih bisa kerja, kan setelah kita nikah?"
Richard mengatur duduknya dan menatap manik mata cokelat tua Amanda.
"Kamu emang masih mau kerja?"
Richard tersenyum dan mengusap pipi tirus Amanda lembut. "Kalo kamu mau kerja aku nggak apa-apa, aku tau kalo itu salah satu impian kamu selama ini. Aku nggak masalah soal itu."
Amanda tersenyum dengan hati yang ringan, dia pikir Richard akan memintanya duduk diam dirumah dan menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya.
Tapi mendengar ucapan Richard barusan membuat Amanda bahagia, pria di depannya begitu pengertian sampai mau mengizinkan dia bekerja setelah mereka menikah.
"Makasih yah, Chad...."
"Nggak usah bilang makasih Beby. Selama kamu senang, aku juga ikut bahagia liatnya. Tapi ada satu hal yang mau aku minta dari kamu...."
"Apa? Mau minta apa?"
Richard mengambil tangan Amanda dan mengusap punggung tangannya. "Aku mau kita nggak nunda punya momongan yah Beby...."
Amanda tersenyum malu. "Aku pikir apa!" sahutnya membalas tatapan mata Richard. "Iya, aku nggak bakal nunda. Kalo udah rezeki dan dikasih sama yang Di Atas, aku siap kok Chad. Tenang aja...."
Richard tersenyum bahagia, setidaknya impiannya untuk memiliki keturunan dari rahim wanita yang dia cinta bisa segera terpenuhi.
Keluarga mereka pasti akan lebih ramai lagi nanti, Richard jadi tidak sabar untuk memulainya bersama Amanda.
"Nah sebelum kita pulang, temenin aku 'main' dulu yuk...." ajak Richard menaik turunkan alisnya.
"Ish, otak kamu yah Chad! Nggak pernah jauh-jauh dari hal begituan!" kesal Amanda memukul lengan berotot calon suaminya.
__ADS_1
"Yah gimana, aku jugakan butuh amunisi buat tiga hari kedepan Beby. Kita nggak bakal ketemu loh, burung aku pasti bakal kangen banget sama sarangnya...," kekeh Richard.
"Maunya kamu itu bukan burung kamu!" cibir Amanda.
"Ya, kan sama aja Beby. Mau yah? Mumpung lagi sepi loh ini."
"Nggak mau, aku capek! Udah ngantuk juga, tar aja pas malam pertama sah jadi laki bini!"
"Astaga ... lama banget itu Manda, tiga hari loh Beby. Kamu tega burung aku nggak di kasih makan tiga hari?" rengek Richard seperti anak kecil minta makan.
"Ish, alesan kamu aja itu! Udah cepet, aku mau pulang trus tidur!" sahut Amanda bersikeras.
Bukan Richard namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau, mendorong kursinya kebelakang Richard maju dan menarik tengkuk Amanda agar bibir mereka saling bertemu.
Amanda tidak bisa menolak saat Richard menahan tengkuknya kuat dengan satu tangan mengusap pahanya dan terus naik mengusap sesuatu di balik kain berenda yang Amanda pakai.
Wanita itu terlena, terbuai dengan permainan bibir serta lidah Richard dengan jari yang mulai memaksa masuk di bawah sana.
Baru saja menerobos tempat tersembunyi itu, suara ketukan di jendela kaca dimana Richard duduk mengagetkan keduanya.
Seorang pria berpakaian polisi terlihat berdiri di balik kaca tersebut.
"Anjrittt...! Ganggu orang aja nih Bapak-bapak!" kesal Richard menurunkan baju terusan Amanda yang tersingkap.
"Selamat malam Pak, ada apa berhenti disini?" tanya anggota polisi itu setelah Richard membuka kacanya setengah.
"Maaf Pak, ini ade saya lagi sakit makanya kita berhenti sebentar disini...," sahut pria itu beralasan.
Anggota polisi itu sedikit menunduk dan melihat Amanda yang tersandar di kursi penumpang mengangguk lemah. Wanita itu berusaha menahan diri untuk tidak tertawa mendengar ucapan Richard padanya.
"Yasudah, segera bawa ke rumah sakit Pak. Jangan berhenti disini, tempat ini sepi jadi rawan bahaya!"
"Ok Pak, saya permisi dulu."
Richard pun menyalakan mesin mobil dan meluncur meninggalkan tempat tadi dengan hati dongkol.
"Sabar yah burung, tunggu tiga hari lagi ok?" goda Amanda tertawa terbahak.
.
.
.
.
.
.
.
Nah, kan ...
__ADS_1
Udah dibilangin tunggu pas udah sah aja masih ngeyel sih....
Sabar yang babang Richard 🤭🤣