
"Udah siap semuanya belum?"
"Udah," sahut Celin sambil memakai sepatu.
"Tunggu...." tahan Donal mendekati wanita itu.
"Kenapa?"
"Biar gue yang pasangin, sini...." Donal menarik kaki jenjang Celin dan mulai memasangkan sepatu untuknya.
Wanita berambut blonde itu tersenyum dengan hati yang membuncah. Donal memang paling tahu membuat hatinya berbunga pikir Celin.
"Nanti gue mau sering-sering pakein Lo sepatu kayak gini, Cel...."
"Kenapa emangnya?"
Donal mendongak, menatap penuh arti wanita di depannya. "Biar gue bisa bikin kayak gini...."
Pria itu kembali menunduk, mencium betis kecil Celin perlahan dan naik semakin ke atas hingga berhenti di pangkal paha dalamnya.
"Nal...!" pekik Celin geli.
Donal terus maju, menarik pinggang Celin hingga ke ujung kursi dan dengan sigap menarik penutup merah kesukaannya, yang membungkus sesuatu di balik rok pendek Celin.
Membaui area hangat itu, Donal masih sempat-sempatnya mengusap bibir bawah lembab Celin dengan lembut.
"Na-nal...," desahh Celin tidak bisa menahan diri saat bibir pria itu asik mengecupnya di bawah sana.
"Kita udah harus pergi, Nal. Bentar lagi uber-nya sampe."
Donal tidak mempedulikan ucapan wanitanya dan terus asik dengan kegiatannya sendiri. Melihat Celin tengah memakai sepatu seperti tadi malah membuat naluri kejantanannyaa bangkit. Celin memang selalu menggoda imannya sejak pertama mereka bertemu.
Donal buru-buru menarik resleting celana, bersiap memasuki kelembutan Celin. Benda itu sudah tegak sempurna dan menerobos masuk dengan cepat menyentuh titik spott wanitanya.
Celin mengerangg merasakan rasa sesak di bawah sana, Donal mulai memaju mundurkan tubuhnya, memimpin permainan dengan cepat sebelum mobil pesanan mereka tiba.
"Na-nal...," desahh Celin lagi.
Sodokan pria itu terasa memenuhi miliknya yang sempit. Tangan Donal bahkan tidak tinggal diam menerobos kaos scuba yang Celin pakai, memaksa masuk mencari ujung benda kenyal itu.
Memainkan dan memilinn itu dengan lembut, Donal membawa Celin hanyut dalam permainan memabukkan prianya.
Dalam sentakan-sentakann kuatnya, Celin merasa tubuhnya melengkung dengan refleks dan perlahan basah di bawah sana. Donal memang paling tahu bagaiman membuat wanitanya memekik menyebut namanya berulang kali.
"Enak, Cel...," desahh Donal setengah berbisik di telinga wanita yang sedang memejamkan mata menikmati permainan pria itu.
__ADS_1
Saat bunyi klakson mobil terdengar dari luar, Donal ikut mengerangg panjang berhasil menyemburkan miliknya sebanyak yang dia mau di dalam kelembutan Celin.
Wanita itu berdecak dan tertawa geli melihat kelakuan Donal yang langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena takut terlambat. Dasar mesumm gumamnya dalam hati.
"Enak nggak, Cel...?" tanya Donal setelah keduanya berada dalam mobil.
"Apanya?"
"Tadi, mainnya...."
Celin berdecak, tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Lo emang bener-bener, yah."
"Kenapa? Kenapa sama gue?"
"Tau, ah. Males gue!"
Donal tertawa menarik Celin mendekat padanya. "Sensasinya beda tau kalo lagi dikejar waktu begitu, Cel. Gue demen kalo sering-sering dipacu adrenalin kayak begitu." kekehnya mengusap punggung Celin.
"Apa, sih yang nggak Lo demen, Nal? Semua kayaknya Lo demen, deh...," cibir Celin.
"Tapi Lo suka, kan?"
"Nggak!"
"Serah, serah Lo...!"
Dua orang yang sedang dimabuk cinta itu sedang berada di jalan menuju bandara. Mereka akan kembali ke Indonesia hari ini.
Setelah memastikan tubuhnya sudah lebih baik, Donal memaksa Celin ikut pulang dengannya. Pria berkulit sawo matang itu tidak mau menunggu terlalu lama lagi, dia harus segera memperkenalkan Celin pada orang tuanya secepatnya.
Ibu dan ayah Donal pasti sudah kesal menunggu dirinya yang tidak kunjung pulang dan tidak tahu ada di mana.
"Cel...," panggil Donal.
"Apa?"
"Nanti begitu kita sampe, kita langsung ke rumah gue, yah?"
Celin mengernyit. "Ngapain?"
"Ke rumah gue aja dulu, Cel. Nanti juga Lo bakal tau kalo udah sampe."
"Nggak, ah. Gue nggak mau!" tolak Celin.
__ADS_1
Donal meregangkan rangkulannya di pinggang Celin. "Kenapa nggak mau?"
"Masa cewek yang ke rumah cowok, sih, Nal? Dimana-mana, yah ... cowok yang lebih dulu ke rumah, sih cewek, bukan malah kayak elo!" protes Celin tidak terima.
"Ya ampun ... emang apa bedanya, sih, Cel? Kan, kita sama-sama mau kenalan sama orang tua kita masing-masing...?" keluh Donal tidak habis pikir dengan kemauan wanita itu.
"Iya, gue tau. Tapi gue nggak mau kalo gue yang duluan ke rumah elo! Pokoknya kalo Lo emang serius sama gue, Lo yang harus ke rumah gue lebih dulu!" sahut Celin bersikukuh.
Wanita itu memang sengaja membuat Donal sedikit kalang kabut karenanya. Mengingat kemarin orang tua Celin baru saja menghubunginya, dan mengatakan kalau keluarga yang ingin menjodohkan anaknya dengan dia, sudah menanyakan Celin lagi.
Dia mau Donal datang kerumah dan terang-terangan berkata kalau Donal adalah pacarnya, agar orang tua dia bisa percaya kalau Celin memang benar sudah punya kekasih, dan akan menolak perjodohan itu.
"Yaudah, ok. Gue ikutin mau Lo kalo gitu, sekalian gue bawa orang tua gue kesana...," sahut Donal mengalah.
Celin mendongak menatap Donal tidak percaya. "Beneran?"
"Iya, biar sekalian keluarga kita saling mengenal juga. Gue mau kita cepet-cepet nikah...."
Celin terdiam dan menunduk secara perlahan. Membayangkan kata nikah keluar dari mulut Donal saja tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya.
Apa benar kalau Donal akan melamar dia saat keluarganya bertemu? Celin merasa ini seperti mimpi. Pria yang berminggu-minggu lalu sudah membuat hatinya porak poranda itu, kini berkata ingin menikah dengannya? Astaga ... Celin benar-benar bahagia sekarang.
Donal seakan tahu kalau Celin pun ingin menjadi satu selamanya dengan pria itu.
"Kok diem?" tanya Donal mengangkat dagu Celin.
"Nggak pa-pa."
Donal tersenyum mengecup bibir seksi Celin. "Nggak usah mikir yang enggak-enggak lagi. Gue pasti ke rumah lo setelah kita sampe di Indo. Lo tunggu gue di sana dan dandan yang cantik, ok?"
Celin mengangguk penuh semangat, hatinya tengah berbunga-bunga sekarang. Wanita itu semakin tidak sabar untuk cepat sampai di negara kelahiran mereka.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Ok, kita tunggu yah 😁