Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Zombie?


__ADS_3

"Lo suka sama Donal yah, War?" tanya Amanda tiba-tiba.


"Eh, eng-nggak kok Manda."


"Jangan boong, keliatan tau dari muka elo."


Mawar sontak mengusap wajahnya mendengar ucapan Amanda. "Masa sih?" tanyanya malu.


Amanda tertawa geli melihat tingkah bodyguard-nya ini. "Jadi bener nih Lo suka sama Donal?"


Mawar mengangguk pelan dengan wajah memerah.


"Mau bilang suka aja susah banget!" goda Amanda.


Mereka sedang duduk di dalam restoran sembari menikmati makan siang bersama. Setelah mengantarkan Richard dan asistennya, wanita itu meminta Mawar mencari restoran western sebelum mereka pergi ke butik.


Perutnya sejak tadi sudah berbunyi minta diisi. Padahal sebelum ke bandara, Amanda sempat membeli roti bakar dan minum susu tadi.


Biasanya dulu jika sudah makan roti dan minum susu, Amanda tidak akan merasakan lapar hingga menjelang sore hari. Entah kenapa sekarang dia sedikit-sedikit merasa lapar dan mengantuk.


"Trus gimana? Udah ada perkembangan belum hubungannya sama Donal?" sambung Amanda.


"Perkembangan apanya, dia juga udah pacar sekarang," sahut Mawar tanpa sadar.


"Pacar?"


Mawar sontak menutup mulutnya. Tidak enak rasanya membicarakan hubungan orang pada Amanda, yang notabene adalah istri dari bosnya.


"Emang Donal udah punya pacar? Kok gue nggak tau, yah?"


Mawar terdiam bingung harus menjawab apa. Dia tidak mau dibilang mulut ember oleh Donal jika mengatakan hal pribadinya pada Amanda.


"Pacarnya siapa emangnya?" tanya Amanda lagi penasaran.


"Sorry, Manda. Gue nggak bisa kasih tau."


Amanda mengernyit. "Kenapa?"


"Nggak enak aja sama Donal. Itu, kan urusan pribadinya, gue gak enak aja sama dia."


"Ish ... gue, kan cuma nanya siapa pacarnya doang bukan yang lain, War!" protes Amanda.


"Iya sih, tapi gue-nya yang nggak enak."


"Kalo gitu bisikin gue aja, War."


Amanda bersikukuh ingin mencari tahu siapa pacar pria yang sering menggodanya itu. Dia tidak menyangka kalau seorang pria pemain seperti Donal bisa juga serius menjalin hubungan dengan wanita.


"Dia Celin," sahut Mawar setengah berbisik.


"Celin?" Mawar mengangguk.


"Celin yang mantan sekretarisnya Richard dulu?" Mawar mengangguk lagi.


"Astaga ... gue nggak nyangka kalo mereka bakal beneran jadian," sambung Amanda menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Emangnya kenapa?" Kali ini giliran Mawar yang penasaran dengan pria yang dia suka.


"Yah, Lo tau sendiri, kan gimana perangainya Donal yang suka main sana sini. Gue pikir dia sama Celin cuma main-main doang, nggak nyangka aja kalo Donal malah kepincut beneran sama Celin."


Mawar seketika menjadi ciut sendiri mendengar ucapan Amanda. Tidak tahu apa dia masih punya kesempatan lagi untuk mendekati Donal atau tidak setelah ini.

__ADS_1


"Eh, sorry, War. Gue nggak maksud bikin Lo sedih." Amanda mengusap punggung tangan bodyguard-nya tidak enak.


"Nggak pa-pa Manda, gue sih biasa aja. Toh, kalo emang jodoh nggak bakal kemana, kan?" sahut Mawar berusaha terdengar legowo.


"Iya bener, kita nggak pernah tau dengan siapa kita bakal berjodoh. Kalo emang Donal jodoh elo, dia pasti nggak akan lari kemana. Gue doain yang terbaik aja deh buat elo yah, War...."


"Iya, makasih Manda."


Dua wanita muda itu masih asik berbincang sampai Amanda tidak sengaja melihat seorang pria blasteran yang dia tahu sebagai sahabat suaminya, baru saja masuk ke dalam restoran.


"Mike...!" panggil Amanda melambaikan tangan.


Pria berhidung mancung itu menoleh dan membalas lambaian tangan Amanda.


Mawar ikut berbalik melihat Mike berjalan mendekat ke meja mereka, diikuti seorang wanita berpakaian rapi.


"Hai Manda, Mawar...." sapa Mike duduk di dekat mereka.


"Mau makan siang juga?" tanya Amanda.


"Iya, kebetulan gue baru selesai meeting sama klien deket sini."


Amanda dan Mawar kompak mengangguk, menatap wanita yang sudah duduk di samping Mike.


"Pacar elo, Mike?" tanya Mawar lebih dulu.


"Bukan."


"Trus?"


"Ada deh," kekeh Mike tersenyum penuh arti.


Dua wanita itu berdecak memutar bola mata malas.


"Aku Manis, Bu."


Amanda mengangguk menatap wanita yang terlihat masih sangat polos itu, dan beralih menatap Mike yang duduk di depannya.


"Seneng yah, dapet yang bening kayak gini Mike?" cibir Amanda.


"Apa sih, sirik aja Lo!" sahut Mike tertawa geli.


"Richard sama Donal berangkat hari ini, yah?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kita baru abis anterin tadi."


Mike mengangguk berbicara panjang lebar dengan dua wanita di depannya, sambil sesekali meladeni mereka yang terus saja meledeknya dari tadi.


Pria itu terlihat malu-malu biji saat Amanda dan Mawar bergantian menggodanya, sedangkan Manis hanya bisa diam tidak mengerti dengan pembicaraan ketiganya.


"Tadi siapa sih, Pak?" tanya Manis setelah mereka berpisah masuk ke mobil masing-masing.


"Mike, Nis...!" sahut pria itu mengingatkan.


"Eh, iya. Mike." Mawar tersenyum menunjukkan gigi-giginya yang rapi.


Lagi-lagi jantung Mike berdetak tidak karuan melihat senyuman semanis madu itu.


"Nis, udah dong. Jangan senyum-senyum lagi! Gue, kan udah bilang jangan senyum di depan gue?!"


Manis seketika berubah cemberut mendengar ucapan bosnya. Entah kenapa sekarang dia selalu dilarang oleh Mike untuk tersenyum, apalagi kalau senyum di depannya seperti tadi.

__ADS_1


"Trus aku harus gimana, dong Mike? Masa aku harus manyun terus sepanjang hari?!" protes Manis.


"Nggak pa-pa, yang penting jantung gue bisa selalu sehat dan baik." Mike terkekeh geli di dalam hati, mulai melajukan mobil menuju rumahnya.


Manis sudah tinggal bersamanya selama tiga hari dan selalu memasakkan makanan untuknya. Dia sekarang lebih senang makan dirumah daripada di luar.


Mereka makan di restoran tadi pun karena Manis yang mengeluh sudah lapar sejak tadi, karena tidak sempat sarapan. Mau tidak mau, Mike pun membawa dia ke restoran dekat dengan tempat pertemuan mereka dengan klien.


"Tar malem mau masak apa, Nis?" tanya Mike memecah keheningan diantara mereka.


"Kamu maunya apa?"


"Kalo gue maunya elo, gimana?"


Manis mengernyit. "Maksud kamu?"


"Kalo makan malamnya elo aja gimana? Aku lagi pengen makan elo soalnya."


Manis refleks duduk sedikit menjauh dari Mike yang berada di sampingnya membawa mobil.


"Jangan bilang kalo kamu udah berubah jadi zombie sekarang Mike?" sahutnya takut.


"Apa? Zombie?"


"Iya, aku pernah nonton kalo zombie itu sukanya makan orang! Mereka paling suka kalo yang masih fresh dan hidup kayak aku!"


"Astaga...." Mike menggeleng-gelengkan kepala mendengar penuturan Manis.


"Kamu digigit di bagian mana Mike?! Aku bisa potong bagian tubuh kamu itu sebelum terus menjalar dan kamu berubah jadi zombie beneran!" Manis mulai histeris menarik tangan Mike yang sedang berusaha menahan tawanya.


"Jangan tarik-tarik, Nis. Kita bisa celaka kalo Lo tarik-tarik gue kayak sapi gini."


"Yaudah berhenti dulu, aku nggak mau ikutan jadi zombie kayak kamu! Turunin aku aja disini, aku masih harus ngirimin gaji yang kamu kasih kemarin sama emak di kampung, Mike."


Pria berambut jabrik itu tidak bisa lagi menahan tawanya, dia semakin senang menggoda Manis yang polos namun juga bodoh dalam satu paket.


"Kok kamu malah ketawa, sih Mike? Berhenti dulu...!"


Mike masih tertawa terbahak duduk di belakang kemudi, entah apa yang akan terjadi nanti jika dia benar menggigit Manis sekarang. Bisa-bisanya wanita ini malah menganggap godaan dia tadi sebagai ciri-ciri zombie yang sering tayang di TV.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Nah, kan ...

__ADS_1


Udahlah,, author juga nggak bisa ngomong apa-apa sama pikiran Manis ini 🥴😆


__ADS_2