Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Kesempatan


__ADS_3

Menuju salah satu gedung yang biasa di jadikan tempat acara pernikahan, Richard dan Amanda turun dari dalam mobilnya.


"Bibirnya biasa aja dong Manda, gak usah manyun-manyun begitu. Gue cium juga Lo!"


"Bawel! Udah cepetan, gue nggak bisa lama-lama disini."


Richard tertawa dan menggandeng pundak tunangannya. "Kita tuh mau nikah Manda, mana ada orang mau nikah trus disuruh cepet-cepet begitu. Santai dong...."


"Ih, apa sih Lo. Nggak usah rangkul gue juga kali!" risih Amanda.


"Diem aja napa sih, gue cium beneran juga Lo!" ancam Richard makin merapatkan tubuh Amanda ke dekatnya.


Tidak bisa menolak, Amanda masuk bersama pria pemaksa yang memaksa ingin menikah dengannya.


Sedikit mengancam kalau mereka hari ini disuruh Tari untuk mengecek gedung pernikahan mereka, Amanda akhirnya mengiyakan ajakan Richard tadi.


Amanda tidak mau diberondongi pertanyaan oleh wanita paruh baya itu nanti, lebih baik dia cari aman daripada harus menghadapi ocehan ala emak-emak rempong tersebut.


"Jadi Bapak dan Ibu, ini ada contoh panggung yang biasa digunakan klien kami disini. Tapi kalau Bapak dan Ibu punya tema sendiri, kami bisa menyiapkannya untuk kalian."


Richard begitu antusias membolak balikkan sebuah dokumen kecil berisi tema-tema pernikahan yang ada.


Berbeda dengan Amanda, wanita itu hanya sibuk dengan ponsel di tangan. Pekerjaannya masih belum selesai saat Richard datang mengganggunya tadi di butik.


"Beby maunya tema apa?"


"Terserah...."


"Kok terserah sih, coba liat dulu...." pinta Richard menyodorkan dokumen itu.


"Terserah Lo aja, Chad. Gue lagi sibuk ini!" sahutnya kesal.


Tidak ingin hilang akal, Richard menarik ponsel mahal Amanda dari tangannya dan menyimpannya di saku celananya.


"Apa-apaan sih, Chad. Balikin gak?"


"Nanti. Liat dulu yang ini."


"Tapi gue-"


"Udah cepet! Kalo nggak gue telpon nyokap gue!" ancam Richard lagi.


Amanda mendengus dan menarik dokumen yang di pegang Richard dari tangannya. Dasar anak mami, taunya cuma ngancem doang!


Seorang penanggung jawab WO yang duduk berhadapan dengan mereka berdua hanya bisa geleng-geleng kepala melihat dua orang yang akan menikah itu.


Jika pasangan lain begitu bahagia mempersiapkan pernikahan mereka, lain halnya dengan pasangan yang akhir-akhir ini selalu menghiasi layar TV. Mereka malah asik berdebat di depannya, dengan Richard yang terus menggoda calon istrinya itu.

__ADS_1


Apa begini cara mereka saling mengungkapkan cinta satu sama lain? Pikir penanggung jawab itu.


"Ini aja yah Mbak. Kami ambil yang ini." tunjuk Richard pada sebuah gambar desain tema pernikahan.


"Tolong di persiapkan sebaik mungkin yah Mbak. Rencananya kami akan mengadakan pernikahan kami bulan depan." sambungnya lagi penuh semangat.


"Baik Pak, bisa saya tahu tepatnya tanggal berapa?"


"Tanggal sepuluh aja Mbak."


"Apa?" kaget Amanda menyela pembicaraan keduanya. "Itukan tinggal tiga Minggu lagi, Chad. Kenapa cepet banget?"


"Loh kenapa emangnya? Lebih cepet lebih baik, kan Manda ... udah Lo diem aja, biar gue yang urus semua!"


Dua pasangan itu kembali berdebat di depan penanggung jawab yang bingung sendiri dengan kelakuan mereka. Ini mau nikah apa mau ribut sih? gumamnya memijit pelipisnya.


"Udah Mbak, tanggal sepuluh fix yah. Nanti malam saya transfer uangnya."


Richard berdiri dan pergi meninggalkan Amanda yang masih marah-marah di tempatnya.


"Chad!" teriaknya mengejar pria blasteran itu.


"Apa lagi sih Manda...?"


"Lo nggak bisa mutusin gitu aja, Chad. Nikah itu bukan untuk main-main kalo Lo tau! Jangan seenaknya ngambil keputusan yang Lo sendiri gak yakin. Gue nggak mau jadi korban keisengan Lo yah!" sentak Amanda tidak suka.


"Masuk di mobil cepet!" seret Richard membawa Amanda masuk ke dalam mobil.


"Mau apa lagi sih Lo?!"


"Gue mau ngomong serius sama Lo. Liat gue...." pinta Richard menarik dagu tunangannya.


"Kenapa Lo nggak mau nikah sama gue?" tanyanya dalam.


"Kenapa? Apa perlu gue jawab itu?"


"Iya, kasih alasan yang jelas kenapa."


Amanda menepis tangan Richard dan tertawa miris. "Karena kita nggak saling cinta, Chad. Lo tau sendiri gimana kita ketemu dan berakhir dengan sandiwara gila ini. Harusnya Lo tau itu!"


Richard menghembuskan nafas panjang. "Cinta yah, gimana kalo gue bilang gue udah jatuh cinta sama Lo dari awal kita ketemu di ranjang?"


Amanda tersentak. "A-apa?"


"Iya, gue tau mungkin emang gak masuk akal dan gak bisa di percaya. Tapi dari awal gue nyentuh tubuh Lo, gue tau kalo ada yang beda. Gue bahkan udah ngomong sama diri gue sendiri, kalo mulai saat itu Lo bakal jadi milik gue."


"Jangan becanda, Chad...."

__ADS_1


"Gue nggak becanda Manda, gue nggak pernah seserius ini sebelumnya. Alasan gue bikin sandiwara ini karena gue emang mau nahan elo disisi gue. Gue tau kalo lo emang masih cinta sama mantan brengsek Lo itu juga. Tapi, kenapa Lo nggak mulai dari sekarang aja belajar cinta sama gue. Gue emang gak bisa berkata-kata manis kaya dia, tapi gue bisa buktiin kalo gue lebih baik dari dia!"


Amanda terdiam, masih menatap manik mata cokelat muda pria di depannya. Bukannya tidak bisa tapi Amanda masih butuh waktu untuk bisa mulai membuka lembaran baru dengan orang lain.


Dia masih butuh waktu, iya ... waktu. Amanda yakin dia bisa melupakan semua rasanya untuk Ardi jika dia diberikan waktu lebih lagi.


"Gue nggak akan paksa Lo buat cinta sama gue sekarang. Tapi ... kasih gue kesempatan untuk bisa masuk ke dalam hati Lo, Manda. Buka hati Lo buat gue, biarkan gue masuk kesana dan cintai elo apa adanya. Gue siap nungguin Lo, sampe Lo mau terima gue."


"Lo ngomong udah kayak lirik lagu tau nggak," kekeh Amanda.


"Gue serius Amanda Ninda...," dongkol Richard.


Sudah susah payah membangun momen serius dan romantis, Amanda malah menganggapnya lelucon, kesal pria itu.


"Iya, gue tau Lo serius. Makasih yah ... makasih karena mau nungguin gue. Bantu gue yah Chad. Bikin gue bisa secepatnya lupa dengan rasa masa lalu...."


"Eh, Lo serius, kan?" tanya Richard berbinar.


Amanda mengangguk. "Iya...." sahutnya tersenyum hangat.


Richard menarik tubuh tunangannya dengan perasaan membuncah bahagia. Astaga ... se senang inikah rasanya saat perasaan kita diterima?


Richard tidak pernah se bahagia ini sebelumnya, setidaknya perjuangan dia kedepannya tidak akan sia-sia.


Tinggal selangkah lagi dia bisa mendapatkan hati Amanda, dan mereka bisa hidup bahagia sebagai pasangan suami istri.


Mengingat kata suami istri, Richard semakin tidak sabar untuk menjadikan wanita ini istrinya. Memiliki Amanda sepenuhnya dengan status resmi dan bisa membangun rumah tangga yang bahagia, kini menjadi prioritas utamanya.


Richard mulai larut dengan impian sederhananya tentang sebuah keluarga kecil yang hangat dan penuh cinta.


"Makasih Beby, I love you...."


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ah ... ada yang mekar tapi bukan bunga...


Semoga bisa lancar jaya yah, Chad 🤭😁


__ADS_2