
"Gimana istri saya, Dok?" Richard menatap pria yang memakai jubah putih di depannya penuh harap.
"Ibu Amanda sudah sadar, Pak."
Senyum sumringah langsung menghiasi wajah pria blasteran itu. "Beneran, Dok?"
"Iya Pak Richard. Saat ini Ibu Amanda keadaanya sudah lebih stabil, Bapak bisa masuk ke dalam untuk menemuinya."
Richard seketika terduduk di lantai dengan ucapan syukur yang keluar dari bibirnya. Pria itu sampai menitikkan air mata bahagia.
Mike dan Manis ikut terharu mendengar ucapan dokter Bryan. Melihat Richard yang saat ini begitu bahagia, membuat keduanya ikut larut dalam suasana penuh haru itu.
Richard berlalu masuk dengan jantung yang berdebar. Setelah penantiannya selama tiga Minggu lebih, akhirnya hari ini dia bisa bertemu dengan istrinya.
Mendorong pintu ruangan ICU dengan tidak sabar, Richard menatap tidak percaya wanita yang tengah terbaring dengan mata yang tidak lagi menutup seperti sebelumnya.
Alat-alat ditubuhnya pun sudah di lepas, dan tersisa jarum infus yang masih terpasang di tangan.
"Beby...." Richard menghambur, memeluk tubuh wanitanya penuh kerinduan.
"Akhirnya kamu balik sama aku, By. Aku kangen, By...." Richard menangis mencium pipi Amanda.
"Kamu tahu, aku selalu nungguin kamu selama ini, By. Aku nggak berhenti doain kamu biar kamu tetep sama aku, aku seneng banget kita akhirnya bisa berkumpul lagi kayak dulu...." Richard melepaskan pelukannya mencium bibir kering Amanda dengan hati penuh kegembiraan.
Wanitanya sudah kembali, ini seperti mimpi untuk Richard. Ternyata penantiannya selama ini tidaklah sia-sia.
Tetesan air mata kebahagiaan terus membanjiri pipi Richard, dengan bibir yang terus menyentuh bibir mungil istrinya.
"Kamu nungguin aku selama ini yah, Chad?" Amanda berucap setelah Richard melepaskan tautan bibir mereka.
"Maaf udah bikin kamu khawatir...," sambung wanita itu tersenyum lemah.
"Nggak, By. Aku khawatir tapi udah nggak lagi. Kamu sadar aja udah bikin aku seneng banget...."
Amanda mengangguk, mencoba mengangkat tangannya menyentuh rahang tegas suaminya. "Aku punya kejutan buat kamu, Chad."
Deg...
Richard terdiam mengingat buah cinta mereka sudah tidak ada lagi di perut Amanda.
Istrinya pasti berpikir kalau anak mereka masih ada di dalam sana. Bagaimana ini? Bagaimana dia menjelaskan tentang kenyataan yang pasti akan membuat hati Amanda terpukul?
"Beby...." Richard mengambil tangan halus Amanda, menciumnya dengan lembut.
__ADS_1
"Nanti kamu bisa bilang sama aku, tapi sekarang kamu harus pulih dulu. Aku nggak mau kamu mikir yang berat-berat dulu, aku pengen kita bisa cepet pulang ke rumah."
"Tapi, Chad ... ini, tuh penting banget. Kamu harus tahu kalo kamu bakal jadi—"
"Ayah?" potong Richard.
"Kamu udah tahu?" Richard mengangguk dengan hati yang bimbang.
Apa ini waktu yang tepat untuk memberitahukan yang sebenarnya atau tidak pada Amanda, pikir Richard.
"Beby ... kamu mau nggak janji satu hal sama aku?"
"Janji apa?"
"Kamu nggak akan sedih dan nyalahin diri kamu sendiri."
Amanda mengernyit, merasa ada yang aneh dengan ucapan Richard barusan. "Kenapa aku mesti janji kayak gitu, Chad? Emangnya apa yang terjadi?"
"Nggak ada, aku cuma mau kamu janji itu aja sama aku. Aku telpon mama sama mommy dulu, yah bentar? Mereka nggak tahu kalo kamu udah sadar...." Richard sengaja mengalihkan pembicaraan agar Amanda berhenti bertanya padanya.
Pria itu buru-buru menjauh, mengambil ponsel dari saku celana. Amanda merasa ada yang sedang disembunyikan Richard darinya, perasaannya mendadak tidak enak dibuatnya.
"Ada apa, Chad?" Richard kembali duduk di kursi samping ranjang istrinya setelah menelepon.
"Apanya?"
"Aku?" tunjuk Richard pada dirinya sendiri.
"Iya, kamu lagi nyembunyiin sesuatu sama aku, kan?" Richard terdiam, menelan salivanya kasar.
Astaga ... kenapa Amanda bisa sangat mengenalnya hingga dia bahkan tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari wanita ini, pikir Richard.
"Nggak ada, By. Aku udah bilang kamu jangan mikir yang berat-berat dulu. Kamu baru sadar, By. Tubuh sama pikiran kamu masih perlu beradaptasi. Aku nggak mau kamu kenapa-napa lagi nanti."
"Aku koma berapa lama, Chad?" tanya Amanda masih penasaran dengan sesuatu yang sedang disembunyikan suaminya.
"Tiga minggu, By...."
"Selama itu?"
"Iya."
"Trus anak kita gimana, Chad? Dia baik-baik aja, kan?"
__ADS_1
Richard membuang nafas panjang, mengambil tangan istrinya. "Aku udah bilang jangan mikir yang lain-lain dulu...."
"Jawab aja, Chad. Aku butuh jawaban kamu sekarang!" Suara Amanda terdengar meninggi, hatinya benar-benar tidak enak sekarang.
"Anak kita baik-baik aja, kan, Chad? Jawab aku, Chad...!" Manik mata coklat Amanda menatap Richard bertanya-tanya.
Pria ini sudah beberapa kali mengalihkan pembicaraan mereka, dan seperti tidak ingin memberikan jawaban apa-apa padanya.
Richard tidak mampu membalas tatapan mata Amanda yang terasa sedang mencabik-cabiknya dari dalam.
Membayangkan Amanda akan sangat terpukul setelah mengetahui anak mereka sudah tidak ada, makin membuat hati Richard sesak. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Chad, tolong jangan boongin aku. Aku cuma butuh jawaban kamu, Chad?" pinta Amanda dengan tubuh lemahnya.
Dia hanya ingin memastikan saja keadaan anak mereka di dalam perutnya.
"Beby, dengerin aku. Apapun yang terjadi, aku tetep cinta sama kamu. Kita masih bisa berusaha lagi kedepannya."
"Maksud kamu apa, sih?! Jangan muter-muter cerita kayak gitu Richard!" Amanda mulai terdengar kesal.
Richard tahu kalau wanita ini akan terus memaksa dia untuk memberitahukan yang sebenarnya. Pria itu kembali menghembuskan nafas panjang, menggenggam tangan Amanda dengan kuat.
"Anak kita nggak bisa bertahan, By. Dia ... dia udah nggak ada bareng kita lagi."
"A-apa?"
"Kamu harus kuat, By. Anak kita udah bahagia di sana, jangan nyalahin diri kamu. Kita masih bisa berusaha buat dapetin anak lagi." Richard berusaha memberikan pengertian pada Amanda yang mulai menangis.
"Percaya aja kalo semua terjadi karena udah di atur sama Yang Diatas, By. Buat aku, kamu udah selamat dari kecelakaan itupun aku udah sangat bersyukur, By. Kamu kebahagiaan aku. Aku nggak bisa bayangin kalo kamu juga ikut pergi ninggalin aku."
"Maafin aku, Chad. Aku udah berusaha lindungin anak kita, aku udah—"
"Nggak ada yang perlu dimaafin Beby ... aku udah ikhlas. Nggak ada satu pun manusia yang mau kejadian kayak gini menimpa sama mereka, kita hanya cukup pasrah dan berserah aja sama Yang Diatas. Kamu selamat, aku udah bersyukur banget, By. Kita boleh sedih, tapi jangan sampe sedih itu bikin kita sakit dan terluka hingga berlarut-larut. Aku ada disini sama kamu, kita bakal ngelewatin ini semua sama-sama. Aku kuat karena ada kamu, kamu juga harus kuat karena ada aku. Kita akan saling memberi kekuatan satu sama lain...."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Layaknya kehidupan yang selalu memberikan kejutan tak terduga,, pasangan ini pun akan belajar kalau cinta harus selalu kuat di atas cobaan yang datang...