
Tok tok tok ...
"Mike, udah bangun belum?"
Hampir sepuluh menit berada di depan pintu kamar pria blasteran itu, Mike tidak kunjung menyahut dari dalam.
Manis ditugaskan olehnya semalam untuk membangunkan dia pagi-pagi sekali, karena harus pergi menemui klien mereka.
"Mike...!" Manis masih berteriak dan terpaksa membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak di kunci.
Membuka dengan pelan, Manis sedikit memasukkan kepalanya dan menatap kamar pria itu yang masih gelap yang hanya diterangi lampu tidur.
"Astaga ... bener kalo dia belum bangun dari tadi!"
Manis masuk melangkahkan kakinya menuju ranjang dimana Mike masih tidur seperti bayi.
"Mike, hei ... bangun!" Manis menggoyangkan lengan berotot pria itu.
Bukannya bangun Mike malah menarik Manis ke atas ranjang, dan langsung memeluknya seperti bantal guling.
"Ya ampun, Mike...!" pekik Manis dengan jantung yang berdetak hebat.
Baru sekarang dia dipeluk seorang pria di atas ranjang seperti ini.
"Diem, gue masih ngantuk!"
"Ini apa sih, lepasin aku dulu!" Manis masih meronta di dalam dekapannya.
"Ish, bisa diem gak sih, Nis? Di mimpi aja Lo masih bersisik kayak gini. Coba dong sekali-kali mulut Lo tuh diem dulu!" sahut Mike masih memejamkan mata.
"Mimpi apaan sih?! Ini beneran aku tau!" protes Manis merasa risih dengan pelukan Mike.
Pria itu ternyata tidak pakai baju, dan hanya menggunakan celana boxer bergambar Superman.
Beranggapan kalau dia hanya bermimpi, Mike malah memasukkan tangannya di balik baju Manis dan mulai mengusap punggungnya.
"Mike...!" Manis terus meronta, merasa geli dengan sapuan tangan kasar Mike di punggungnya.
"Apa? Gue cuma mau nyentuh dada Lo aja, Nis."
Manis berdehem marah tidak bisa mentolerir sikap Mike yang seenaknya menyentuhnya. Dalam sekali tarikan kuat, Manis menyendul paha dalam Mike dengan lututnya hingga pria itu berteriak, terbangun dari tidurnya.
"Aduh...." ringis Mike memegang harta kebanggaannya.
"Sakit, kan? Makanya jangan macam-macam sama aku!" sinis Manis bangkit dari ranjang.
"Aduh, apa-apaan sih Lo, Nis?! Kenapa gue malah di tendang?"
"Masih nanya lagi, siapa suruh kamu mau coba-coba megang aku?! Biar aja tuh biji sekalian gak bisa bediri!"
Kesal, Manis pergi meninggalkan Mike yang masih merintih kesakitan di atas ranjangnya. Bangkee ... rusak deh masa depan gue!
Manis turun ke lantai satu dan masuk ke dapur. Jantungnya masih menggila di dalam sana, Mike hampir saja menyentuh dadanya.
__ADS_1
Beruntung dia cepat bergerak, kalau tidak ... entah sudah terjadi apa padanya di dalam kamar atasannya itu.
Wajah Manis sontak memerah melihat tubuh kekar Mike yang tadi sempat dia sentuh. Dia tidak sangka kalau di balik kemeja yang selalu Mike pakai, pria itu punya tubuh yang sangat bagus. Tidak seperti pria-pria yang selama ini dia lihat di kampungnya, yang punya perut buncit seperti wanita hamil.
Ah, sial! Harusnya aku nggak liat dan menyentuh dia tadi! Manis kembali menyibukkan diri di dapur sebelum Mike datang.
"Kamu apain, Pak Mike sampe gak bisa bangun dari tempat tidur, Nis?" tanya Parto sekretarisnya.
"Nggak apa-apain kok, Pak...," sahut Manis takut-takut.
"Jangan boong! Itu, Pak Mike ngeluh anu-nya sakit banget gegara di tendang kamu! Kamu mau, Pak Mike mati yah?!"
Manis menggeleng dengan dua tangan melambai di depan dada. "Enggak, Pak. Aku nggak sengaja. Tadi, Pak Mike tiba-tiba aja meluk aku. Jadi aku refleks nendang anu-nya, deh...."
Parto berdecak tidak habis pikir dengan kelakuan dua orang itu. Tadi Mike menghubunginya dan minta di panggilkan dokter karena takut benda kebanggaan dia itu rusak dan tidak berfungsi lagi, setelah sundulan lutut Manis padanya.
Mendengar penuturan wanita berhidung mancung itu, Parto jadi yakin kalau ini juga kesalahan atasannya. Pria pemain itu memang kadang sering bersikap seenaknya pada wanita.
"Lain kali kamu kalo mau bela diri, jangan main nendang bagian itunya juga, Nis. Dia atasan kamu loh, gimana nanti kalo dia nuntut kamu karena itu? Kamu mau masuk penjara?!" sahut Parto sengaja menakut-nakuti wanita polos itu.
Manis menunduk dengan tangan meremas ujung bajunya, dia juga tidak sengaja melakukannya. Itu hanya refleks sebagai bentuk pertahanan dirinya saja tadi.
"Udah sana ke atas. Bawain makanan buat, Pak Mike. Awas kalo kamu main nendang lagi kayak tadi!"
"Iya, Pak." sahut Manis merasa bersalah.
Wanita itu membawakan sarapan untuk Mike yang duduk bersandar di atas ranjang, dengan dua kaki yang terbuka lebar.
"Makan dulu, Mike." Manis meletakkan nampan di atas nakas dekat ranjang.
"Lo sengaja mau hancurin masa depan gue yah, Nis?!" sentak Mike.
"Maaf, Mike. Aku nggak sengaja...."
"Alesan aja Lo! Gimana kalo gue gak bisa punya anak, Lo mau tanggung jawab?!" kesal pria itu.
"Iya, aku bakal tanggung jawab."
Mike mengernyit. "Tanggung jawab gimana maksud Lo?"
"Bikinin anak buat kamu."
Mike tersedak dengan salivanya sendiri mendengar jawaban Manis. Dia tidak menyangka kalau wanita berambut panjang itu akan berpikiran sampai kesana.
"Caranya gimana?" tanya Mike penasaran.
"Nanti, kalo aku udah nikah sama pria yang aku suka. Aku bakal kasih anak pertama aku buat kamu."
"Astaga...." Mike memijit pelipisnya tidak habis pikir.
"Kenapa? Kamu bisa punya anak, kan? Aku nggak pa-pa, aku rela kasih dia buat kamu. Aku yakin kamu bisa ngurus anak aku dengan baik nanti," sahut Manis dengan segudang rencana di kepalanya.
"Kenapa harus anak kamu sama orang lain sih, Nis? Kenapa kita nggak bikin anak aja sendiri?"
__ADS_1
"Hah? Tadi katanya kamu udah nggak bisa punya anak?"
Mike mendengus menarik tangan Manis duduk di sampingnya. "Aku, kan tadi bilang kalo, Nis. Bukan udah pasti!"
"Oh ... kirain udah pasti," sahut Manis manggut-manggut.
"Makanya buat buktiin aku bisa punya anak apa enggak, kita harus mulai bikin dari sekarang."
"Apa?!" kaget Manis.
"Iya, tadi katanya kamu mau tanggung jawab? Nah, ini caranya biar kamu bisa tanggung jawab sama aku."
Mike tersenyum penuh arti menatap Manis yang kebingungan sendiri dengan ucapannya tadi pada dia. Mungkin kesempatan ini bisa dia gunakan untuk mengerjai Manis pikirnya.
"Tapi Mike, nggak bisa yang lain emangnya? Aku nggak mau ngasih tubuh aku sama orang yang nggak aku cinta," sahut Manis dengan polosnya.
"Yaudah, mulai sekarang Lo belajar cinta aja sama gue!" sahut Mike santai.
"Eh, emang bisa?!"
"Bisalah, gampang itu."
"Caranya?"
"Lo tidur sama gue mulai nanti malam!" sahut Mike mengangkat satu alisnya.
"Ish, ogah! Yang ada kamunya macem-macem lagi sama aku."
"Katanya mau belajar cinta ... itu salah satu resepnya biar Lo bisa cepet jatuh cinta sama gue, Nis."
Manis terdiam menatap dalam pria di depannya. Kenapa dia merasa kalau malah dia yang apes, yah?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aduh,, ada-ada aja emang nih biji satu!
Hati-hati senjata makan tuan yah, Mike 🤭😆
__ADS_1