
Pagi ini Dira bangun dengan hati yang gembira, semalaman pria bermata sipit itu tidur memeluk Mawar yang tidur diam di sampingnya.
Sebelum Mawar bangun, Dira sudah lebih dulu beranjak dari ranjang. Padahal dia berharap Mawar yang lebih dulu bangun, dan kaget mendapati dirinya sudah berada di atas ranjang bersamanya. Namun wanita itu tidur dengan sangat nyenyak dan tidak bergerak sama sekali.
Keluar dari kamar mandi, Mawar masih juga menutup mata di ranjang. Bahkan posisinya tidak berubah dari semenjak Dira meninggalkannya saat bangun tadi.
Pria itu tidak curiga sama sekali, barulah saat waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Dira memberanikan diri mendekati Mawar dan membangunkannya.
"War ... hei, bangun." Dira menepuk lembut lengan Mawar.
Wanita itu masih tidak bergeming, hingga tangan Dira tidak sengaja menyentuh pipi Mawar.
"Demam?" Dira mengusap dahi Mawar yang ternyata lebih panas dari pipinya.
"Astaga bener dia demam, gimana ini?" Dira mulai panik mengetahui tubuh Mawar yang panas.
"Kenapa bisa demam, yah? Apa karena gue bawa dia tidur sama gue semalem?" Monolog Dira.
Pria itu buru-buru beranjak, mengambil ponselnya untuk menghubungi atasannya Richard.
"Halo, Pak."
"Kenapa, Dir?" sahut Richard dari ujung teleponnya.
"I-ini, Pak. Mawar tiba-tiba demam, Pak." sahut Dira ragu-ragu.
"Demam? Kok bisa?"
"Aku juga nggak tau, Pak. Ini gimana yah, Pak. Kita, kan ada pertemuan dengan klien jam sembilan...," tanya Dira meminta solusi dari atasannya.
Richard diam diujung teleponnya ikut berpikir, klien mereka hari ini memang orang yang cukup penting, dan pertemuan merekapun sudah direncakan jauh-jauh hari sebelumnya. Tidak mungkin membatalkan pertemuan ini secara tiba-tiba, pikir Richard.
"Gimana, Pak? Aku tetap kesana aja dan minta orang jagain Mawar ... ato gimana, Pak?" tanya Dira lagi.
"Nggak usah, kamu bawa Mawar aja ke rumah sakit. Soal klien kamu nggak usah pikirin, biar nanti aku yang handle itu dari sini."
"Baik, Pak. Maaf udah ngerepotin Bapak sebelumnya," sahut Dira tidak enak.
"Nggak perlu minta maaf. Mawar tiba-tiba sakit itu bukan salah kamu, kecuali kalo kamu yang emang sengaja bikin dia sakit!" ucap Richard penuh arti.
"Ya ampun, Pak. Aku mana berani bikin anak orang sakit...."
"Yaudah sana, bawa Mawar ke rumah sakit sekarang. Takutnya demamnya makin naik."
Sambungan telepon itu pun terputus saat Richard meminta Dira menghubunginya jika ada apa-apa dengan Mawar.
Pria blasteran itu ikut merasa bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Mawar, disaat dia tengah bekerja atas perintahnya.
Dira menyimpan ponselnya ke saku celana, dan mengambil mantel milik Mawar dari dalam lemari. Tidak lupa dia mengambil kunci mobil dan menggendong membawa Mawar keluar dari sana.
Dira sempat menghubungi pihak hotel untuk membawa mobil perusahaan keluar menunggu di lobby utama.
__ADS_1
Sedikit tergesa Dira membawa mobil menuju rumah sakit terdekat, pria itu benar-benar khawatir sekarang. Sejak tadi dia terus berusaha membangunkan Mawar yang tidak kunjung mau membuka mata.
"Suster...," panggil Dira setengah berteriak.
Dira menggendong tubuh Mawar ke atas ranjang IGD menunggu diperiksa dokter yang sedang bertugas pagi itu.
"Silahkan tunggu diluar, Pak." Seorang suster wanita mempersilahkan Dira keluar dari ruang IGD.
Hampir lima belas menit berselang setelah dokter masuk memeriksa keadaan Mawar, dokter maupun perawat belum ada yang keluar dari balik tirai yang tertutup.
Dira semakin was was, apa mungkin demamnya sudah sangat parah atau ada sesuatu yang terjadi pada Mawar? Dira menerka-nerka sembari berjalan bolak-balik di depan ruang IGD.
"Pak, sudah urus administrasinya?" tanya seorang perawat yang tadi meminta Dira keluar dari ruang IGD.
"Belum. Gimana keadaannya, Sus?"
"Dokter masih sementara menangani pasien, Bapak bisa selesaikan dulu administrasinya di sebelah sana...," tunjuk perawat itu disamping kanan mereka.
Dira mengangguk, dan berjalan cepat mengurus administrasi penanganan Mawar dirumah sakit. Sembari mengurusnya, Dira terus berbalik menatap ke arah ruang IGD, memastikan apa dokter sudah keluar atau belum dari sana.
"Bapak wali dari nona Mawar?" tanya seorang pria berjubah putih mendekati Dira.
"Iya, Dok. Gimana keadaanya?"
"Demamnya sudah berangsur turun, untung saja Bapak membawanya cepat ke rumah sakit. Tubuhnya tidak bisa menahan panas terlalu lama, sepertinya nona Mawar pernah terinfeksi sebelumnya dan jika dia sampai demam ... infeksi tersebut akan langsung menyerang tubuhnya dan bisa mengakibatkan ketidaksadaran seperti tadi," terang dokter panjang lebar.
Dira seketika bisa bernafas lega mendengar penjelasan dokter yang memeriksa Mawar. Ternyata keputusan dia menghubungi Richard tadi pagi bisa membuatnya membawa Mawar kerumah sakit secepatnya. Dira beruntung tidak panik berlebihan saat itu.
"Baik, Dok. Terima kasih sebelumnya."
Satu jam setelah pembicaraannya dengan dokter, Mawar dibawa suster ke ruang perawatan.
Menurut mereka wanita itu masih perlu dirawat satu hari di rumah sakit, untuk memantau kondisinya yang ditakutkan bisa demam kembali.
Dira duduk di dekat ranjang perawatan Mawar dan tidak sengaja tertidur di sana. Wanita yang mulai sadar itu bangun, menatap ke sekelilingnya dan mendapati pria yang dia kenal tengah tertidur dengan damai di sampingnya.
Mawar melihat tangannya di pasangi infus dengan pakaian yang sudah berganti memakai baju rumah sakit. Apa Dira yang bawa gue ke rumah sakit?
Mawar tersenyum dengan hati menghangat, ternyata meskipun mengesalkan tapi Dira sesungguhnya adalah pria yang baik dan perhatian.
Mawar merasa jauh lebih bahagia sejak mengenal Dira. Caranya memperlakukan dirinya bisa sangat manis dan menyebalkan secara bersamaan.
Pelan tapi pasti, Mawar mulai terbiasa dengan kehadiran Dira yang terus menerus mendekatinya sejak dari pertama mereka berkenalan.
"Udah bangun?" Mawar tersadar dari lamunannya mendengar suara Dira. Pria itu menguap, mengucek matanya yang perih karena mengantuk.
"Lo yang bawa gue kesini, Dir?"
"Iyalah, masa Lo jalan sendiri kemari." Dira mengecek kembali suhu tubuh Mawar dengan meletakkan tangannya ke dahi Mawar.
"Demam Lo udah turun...." Mawar merasa jantungnya menggila merasakan sapuan tangan kekar sedikit kasar itu di dahinya.
__ADS_1
Meski terkesan cuek, tapi Mawar yakin kalau sebenarnya Dira sangat mempedulikan dirinya dan tidak ingin dia kenapa-napa.
"Makasih yah, Dir. Gue nggak tahu gue masih hidup apa kagak kalo Lo nggak ada di kamar semalem...," ujar Mawar tulus.
"Makanya Lo harus bersyukur kita nginap satu kamar, gimana kalo nggak ada gue? Pasti sekarang Lo udah kejebak sendiri di kamar."
"Iya ... makasih, yah udah peduli sama gue."
"Gue peduli karena gue cinta sama lo, War...." sahut Dira to the point.
"A-apa?"
"Kalo gue nggak cinta sama Lo, nggak mungkin gue panik sendiri waktu tahu Lo demam dan nggak bangun-bangun...," sambung Dira menatap dalam manik mata cokelat tua Mawar.
"Lo serius?" tanya Mawar tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Mungkin Lo cuma anggep gue becanda dan nggak pernah nunjukin perasaan gue selama ini, War. Tapi, bikin Lo kesel sebenernya adalah cara gue bisa bikin Lo tertarik sama gue. Ada yang bilang kalau cinta itu dimulai dari benci dan tumbuh menjadi cinta. Gue pengen Lo juga ngerasa begitu, War. Benci ... abis itu cinta sama gue."
Wajah putih Mawar seketika merona mendengar pengakuan pria di depannya. Siapa sangka kalau Dira sudah memendam perasaan untuknya selama ini.
Meski terkesan tidak serius, dan sering bertindak seenaknya padanya ... tapi melihat wajah Dira sore ini, Mawar jadi tahu satu hal. Ternyata Dira bisa serius juga dengan perasaan dan pengakuannya untuk dia.
"So, would you be my girlfriend Mawar?" (Jadi, maukah kamu menjadi pacarku Mawar?)
Mawar terdiam dengan mata yang membola, apa pria ini baru saja menembaknya? Astaga ... Mawar tidak pernah berpikir akan ditembak oleh seorang pria disaat dia sedang berantakan seperti ini.
"Diem Lo gue anggap sebagai iya...."
"A-apa? Gue—"
"Udah nggak usah bilang apa-apa lagi, kita udah resmi jadian sekarang. Lo istirahat dulu, gue panggilin dokter bentar." Dira bangkit, mencium dahi Mawar penuh cinta dan berlalu meninggalkan wanita itu di kamarnya.
Begitu pintu tertutup, Dira mengayunkan tangannya ke udara, bersorak tertahan melampiaskan kebahagiaan yang dia rasa dihatinya.
.
.
.
.
.
.
.
Jadian apa ini?
Apa ini yang dinamakan jadian versi pemaksaan? 🥺😆
__ADS_1