Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Kelakuan Mike


__ADS_3

"Makasih yah, Nis...."


"Makasih buat apa?" tanya Manis tidak mengerti.


"Ya karena Lo udah bikin gue sama keluarga gue kayak dulu lagi...," sahut Mike tersenyum hangat.


"Nggak usah bilang makasih Mike, aku cuma pengen sebelum kita nikah ... semua kesalahpahaman yang terjadi sama keluarga kamu bisa tuntas. Aku pengen keluarga kita sama-sama bahagia kedepannya," sahut Manis bijak.


Mike semakin melebarkan senyum diwajahnya, dia makin yakin kalau Manis memang wanita yang paling tepat untuknya.


"Lo udah makin pinter, yah sekarang? Makin cinta deh...." goda Mike menaik turunkan alisnya.


Manis berdecak meneruskan pekerjaannya di dapur.


"Kok nggak dijawab, sih?!" protes pria blasteran itu.


"Emang aku harus jawab apa?"


"Ya apa kek, ngomong lo juga cinta sama gue ato apa gitu...."


Manis diam tersenyum tipis membelakangi calon suaminya.


"Tuh, kan diem lagi ... Lo nggak cinta, yah sama gue?!" protes Mike lagi mendekati Manis.


"Apa sih, emangnya perlu, yah aku ngomong kayak gitu?"


Mike berdecak, memeluk Manis dari belakang. "Dengerin apa kata gue kalo nggak mau gue makan Lo sekarang!" bisiknya di telinga Manis.


Wanita itu sontak merasa geli, dan mencoba melepaskan rangkulan Mike padanya.


"Kamu, kan baru aja abis makan Mike ... emang kamu nggak kenyang-kenyang, yah?"


"Perut gue emang udah kenyang, tapi biji gue masih belum, Nis...." Mike makin mengetatkann rangkulan tangannya di pinggang ramping Manis.


"Ish, dasar mesumm! Lepasin, aku masih banyak kerjaan!" Manis terus berontak dalam rangkulan posesif Mike padanya.


Banyak bergerak, wanita itu malah membuat sesuatu dibawah sana menegang dan sesak. Mike makin merapatkan tubuhnya hingga Manis tersudut ke dinding wastafel.


"Nis, gesek-gesekk aja mau nggak?" bisik Mike dengan suara yang mulai berat.


Selama mengenal Manis, Mike sudah tidak pernah merasakan kelembutan surga dunia lagi. Pria itu benar-benar membutuhkan sesuatu yang bisa membuat bijinya senang, pikirnya.


"Maksud kamu apa, sih gesek-gesekk? Ini aku nggak bisa nafas Mike...!" keluh Manis risih dengan desakan pria itu di tubuhnya.


"Lo nggak bisa ngerasain, yah?"


"Ngerasain apaan?"


"Ini, yang tegang dan keras ini, Nis...."

__ADS_1


"Apa? Mana?"


Mike menghembuskan nafas berat, menempelkan tubuh bagian bawahnya yang sudah menegang ke bokong Manis.


Dalam acara menggesek-gesekkan itu, Manis akhirnya sadar kalau ada sesuatu yang mengganjal dibawah sana.


"Mike....!" pekik Manis.


"Apa?"


"Dasar gila! Kamu pikir aku bantal main gesek-gesekk begitu?!"


"Bentar doang, Nis. Masih mending kayak gini daripada gue maksa minta jatah sama Lo, kan?" Pandangan mata pria yang tengah menahan gejolak di dirinya itu mulai sayu, dengan nafas yang semakin berat.


Hanya menyentuhkan sesuatu miliknya saja seperti ini sudah bisa membuat Mike melayang, apalagi sampai menyentuh Manis di dalam sana.


Mike yakin kalau dia pasti akan meminta beberapa kali ronde pada Manis saat mereka sudah menikah nanti.


"Mike! Kamu emang udah nggak waras. Ini aku nggak bisa gerak Mike...?" Manis risih sendiri melihat pria ini sudah seperti anjingg di kampungnya yang sedang menggosook-gosokkan miliknya mencari sesuatu pada anjingg betina.


"Bentar doang, Nis. Lo diem aja...," bisik Mike lagi.


Aroma nafas mint dengan sapuan nafasnya yang berat membuat Manis meremangg. Pria itu makin gila bergerak dengan tangan yang perlahan naik menuju dadanya.


Tangan kekar Mike bahkan sudah masuk, menyingkap baju tipis yang Manis pakai. Wanita itu makin takut dan gugup dengan tingkah Mike yang jelas-jelas tengah menggerayangiinya saat ini.


Jantungnya ikut berdetak tidak karuan dengan nafas yang tersengal. Bagaimana ini? Mike memang calon suaminya, tapi jika dia terus berbuat seperti ini padanya. Manis takut kalau mereka berdua malah akan hanyut dalam permainan memabukkan, sebelum mereka resmi menjadi pasangan suami istri.


Manis bisa merasakan tubuhnya sedang terbuai dengan sentuhan-sentuhan lembut Mike padanya.


"Nis, gue pegang, yah?" bisik Mike lagi.


"Ja-jangan Mike ... kita, kan belum nikah," sahut Manis gugup.


"Pegang doang, Nis. Gue janji nggak bakal minta yang lain lagi...."


"Tapi Mike—" Bunyi dering ponsel Mike memotong ucapan Manis.


Pria itu buru-buru mengambil ponsel mahalnya dari saku celana dan mematikan panggilan itu sebelum sempat melihat siapa yang meneleponnya.


"Kok dimatiin Mike?"


"Nggak penting, ini yang lebih penting sekarang...," sahutnya mencoba masuk diantara penutup dada Manis.


Bunyi dering ponsel Mike kembali mengganggu kegiatan melepas penasarannya yang kedua kali ditubuh Manis.


Pria yang tengah menegang itu berdecak menarik tangannya yang baru saja menyentuh dada bawah Manis dari sana. Kesempatan ini digunakan Manis untuk mendorong Mike menjauh darinya.


"Jangan kemana-mana, gue belum selesai!" tahan Mike memegang pergelangan tangan Manis, kuat.

__ADS_1


Pria itu dengan cepat mengangkat teleponnya sebelum Manis lari dari sana. "Halo...!"


"Woi, galak amat Lo!" sahut seorang pria dari ujung telepon.


"Apa sih, ganggu orang aja!" sentak Mike kesal.


"Wih, lagi kawin yah, Lo?" ledek Donal.


"Berisik...! Mau apa Lo telepon gue?" tanya Mike tidak sabar.


"Nggak sabaran amat, sih jadi biji," kekeh Donal sengaja membuat sahabatnya itu makin kesal.


"Taii! Cepet ngomong Lo mau apa! Gue nggak punya waktu ladenin biji jablay kayak Lo!"


Donal berdecih dari seberang sana. "Mentang-mentang udah mau nikah, sombong!"


"Bodo! Cepet ngomong Lo mau apa? Kalo nggak gue matiin, nih telponnya!" ancam Mike masih memegang tangan Manis disamping dia.


"Ish, gue cuma mau ngasih tahu tadi Richard telpon gue. Dia minta kita ke rumah sakit, gue nggak bisa ke sana sekarang. Nanti malam gue ada acara, Lo aja yang ke sana gantiin gue. Kasian dia nggak ada temennya...."


"Yaudah, gue ke sana tar sore."


"Eh, jangan tar sore bangkee ... sekarang aja! Richard minta kita ke sana sekarang! Lo tahan dulu biji Lo itu!" sahut Donal mengingatkan.


"Hal kayak gitu mana bisa ditahan Donal...." Suara Mike terdengar menekan nama sahabat bijinya itu, kesal karena kegiatan pendakiannya terganggu.


"Yah, Lo jepit dululah pake jepitan baju...," canda Donal tertawa puas.


"Taii! Udah, nanti gue ke sana! Kabari gue kalo cewek yang di jodohin sama Lo cantik apa kagak...."


"Ish, Celin tetep yang paling cantik! Bye...." Donal mematikan panggilan itu sepihak. Mengingat nanti malam dia akan bertemu dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya, membuat pria berkulit sawo matang itu kesal sendiri.


Pikiran untuk melarikan diri dari sana sudah tertata rapi dipikirannya. Pokoknya apapun yang terjadi, dia harus lari sebelum ibunya mempertemukan dia dengan wanita itu.


.


.


.


.


.


.


.


Next Part ketemu Richard, yah...

__ADS_1


Sabar menanti up guys 🤗


__ADS_2