
"Kamu mau makan nggak Mike?"
"Nggak, Nis. Gue belum laper."
"Tapi kamu belum makan dari tadi pagi Mike ... semuanya abis kamu muntahin, kan?"
Mike menggeleng lemah, bersandar nyaman di sandaran bantal yang diatur Manis. Semenjak tahu istrinya hamil, Mike merasakan apa itu morning sickness pada ibu hamil.
Pria itu bahkan tidak bisa melihat cahaya terang dan hanya diam di dalam kamar mereka, hingga kehamilan Manis yang sudah memasuki usia tiga bulan.
"Tar aja, Nis. Gue mau tidur dulu." Manis mengangguk, menarik selimut menutupi tubuh suaminya.
"Mau kemana?" Mike menahan tangan Manis sebelum istrinya sempat beranjak dari ranjang.
"Keluar bentar Mike. Kamu katanya mau istirahat."
"Disini aja temenin gue, Nis. Gue mau pegang ini sambil bobo," tunjuk Mike pada dada wanitanya.
Salah satu kegemaran pria itu selama Manis hamil adalah memegang dadanya sampai tertidur. Mike senang berlama-lama di sana yang terkadang membuat Manis gelisah sendiri.
"Tar malem aja gimana? Tadi pagi, kan udah Mike?" sahut Manis berusaha bernegosiasi.
"Nggak mau, gue maunya sekarang Manis. Inget kata Oma, nggak boleh nolak kalo gue minta apa-apa, kan? Lo mau anak kita ngeces pas udah lahir nanti?" Manis menghembuskan nafas panjang.
Hampir setiap kali Mike akan memakai alasan tersebut untuk meminta apapun darinya. Ini karena Jessie pernah berkata kalau keinginan ibu hamil yang sedang mengidam itu harus diikuti, agar kelak anak mereka lahir tidak akan mengecess karena tidak diikuti kemauannya.
"Yaudah, tapi jangan minta yang aneh-aneh lagi, yah?" sahut Manis mengalah. Wanita itu naik ke atas ranjang, ikut berbaring disamping Mike.
"Emang selama ini gue selalu minta yang aneh gitu?"
"Enggak, udah mana sini tangannya. Katanya mau bobo." Manis mengalihkan pembicaraan sebelum Mike bertanya lebih banyak lagi.
Pria blasteran itu mengangguk dan mengangkat tangannya, memasukkannya ke dalam baju tipis yang Manis pakai.
"Kok pake braa sih, Nis...? Kan, gue udah bilang nggak usah pake beginian kalo lagi sama gue!" protes Mike saat jarinya tidak berhasil menyentuh benda kenyal Manis.
"Iya, aku lupa lepas tadi. Tunggu aku buka dulu."
Manis bangun dari atas bantal, yang langsung ditahan oleh Mike.
"Nggak usah, gue aja yang buka." Mike melingkarkan tangannya, membuka pengait penutup dada Manis dengan tidak sabar.
Benda berwarna hitam itu langsung ditarik oleh Mike saat pengaitnya berhasil dibuka, dan dilemparkannya ke lantai.
"Mana, gue mau cium dulu...," pinta Mike merapatkan dirinya ke dekat Manis.
"Tadi katanya cuma mau pegang doang, ini kok pake cium segala, sih?!" protes Manis.
__ADS_1
"Bentar doang, Nis. Gue lagi pengen soalnya." Manis hanya bisa pasrah saat pria itu menyingkap bajunya, masuk ke dalam sana dan membenamkan dirinya dengan penuh semangat.
Bunyi kecapan terdengar memenuhi kamar mereka yang perlahan membuat Mike menegang sendiri.
Selama ini hasrat bercintanya seakan pergi karena gejala kehamilan yang sebenarnya dirasakan oleh Manis, justru berpindah padanya dan harus diderita olehnya. Mike benar-benar kehilangan nafsuu lelakinya dan baru dirasakannya sekarang ini.
"Nis," panggil Mike setelah puas memainkan dada istrinya.
"Udah? Mau bobo?"
"Enggak."
"Terus?"
"Mau main ... boleh, yah?" Mike menatap penuh harap wanita di depannya.
"Tumben banget kamu minta main, emang udah nggak mual lagi?"
"Nggak, biji gue udah minta diisi." Mike mengambil tangan Manis, meletakkannya ke pangkal pahanya.
"Nih, dia udah tegak begini, Nis."
Manis seketika tertawa geli menatap manik mata abu-abu Mike yang mulai berkabut. Sepertinya suaminya ini memang sudah tidak bisa menahan hasrat laki-lakinya lagi lebih lama.
"Boleh kan, Nis?" tanya Mike lagi meminta izin.
"Ok, ok ... gue nggak akan kasar-kasar." Mike bangkit dengan penuh semangat, menarik keluar celananya menampilkan benda berharga miliknya yang sudah menegangg.
"Ini...," tunjuk Mike. "Lo main pake lidahh dulu gimana?"
"Hah? Maksudnya aku harus pake mulut dulu?" Mike mengangguk.
"Nggak, ah. Aku nggak mau. Terakhir kamu suruh aku begitu, aku malah keselek biji kamu...!" keluh Manis mengingat bagaimana dirinya yang hampir muntah karena keperkasaan suaminya.
Mike mendorong kepalanya hingga benda sebesar itu masuk sampai ke kerongkongan Manis, dan membuat dia terbatuk-batuk karenanya.
"Itu karena Lo masih amatiran, Nis. Sekarang, kan Lo udah makin lihai dan jago. Gue janji, deh nggak akan dorong kepala Lo lagi. Mau, yah?" bujuk Mike.
"Nggak, ogah! Pake tangan kamu aja sendiri kalo mau!" tolak Manis bersikeras.
"Ya ampun, Nis. Sekali ini aja, mau yah?"
"Nggak!"
"Ayo, dong...."
"Nggak!"
__ADS_1
"Lo mau anak kita ngeces, hm?" Manis berdecak tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya.
Pria ini memang paling pintar membawa-bawa anak mereka yang masih berada dalam perutnya. Mike tahu kalau Manis tidak akan bisa menolak jika dia menggunakan alasan ini untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Maafin Daddy, yah baby ... abisnya mommy kamu nggak mau ngasih apa yang daddy minta sih, gumam Mike dalam hati.
"Bentar doang, Nis. Gue janji nggak akan dorong kepala Lo lagi kayak lalu." Mike masih berusaha membujuk wanitanya.
"Bener, yah nggak di dorong?!"
"Iya, gue janji."
"Yaudah, mana...." Mike bersorak dan membantu istrinya bangkit duduk di ranjang dengan dia yang sedikit menunduk, untuk memudahkan miliknya masuk ke mulut Manis.
Awalnya Mike masih membiarkan Manis bergerak sendiri memacu dirinya, namun makin lama pria itu ikut bergerak untuk mempercepat laju permainan mulutt Manis. Hingga akhirnya, Mike refleks mendorong kepala Manis karena gemas ingin melihat miliknya memenuhi bibir tipis wanitanya.
Manis yang tidak siap terkejut, dan seketika terbatuk dengan keperkasaan Mike yang masih berada di mulutnyaa.
Sialan...! Dasar Mike! Kesal dengan apa yang dilakukan suaminya dan menganggap pria itu membohonginya. Manis langsung menggigit benda panjang Mike sampai Mike berjengkit dan berteriak kaget.
"Aduh, Nis...!" pekik Mike sadar dari nafsuu yang memenuhinya.
"Sakit, Nis...." Manis masih menggigit miliknya, sengaja membuat pria itu kesakitan.
"Udah, Nis. Ok, udah ... sakit banget ini," keluh Mike lagi memohon.
Manis menarik diri dari keperkasaan suaminya, tersenyum menang dengan tangan mengusap bibirnya.
"Enak, kan? Mau lagi nggak?"
"Nggak, nggak usah. Gue nggak akan nyuruh Lo lagi makan biji gue...."
.
.
.
.
.
.
.
...The End ...
__ADS_1