Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Omongan Pria


__ADS_3

Tiba di Indonesia, Donal masuk kerumah orang tuanya sambil bersiul bahagia setelah mengantarkan Celin pulang.


Pria itu berjalan dengan langkah kaki ringan dan tidak sadar kalau Dena sudah melihatnya sejak tadi, saat dia keluar dari taksi.


Wanita paruh baya itu bergegas turun dari lantai dua rumahnya sambil memegang sapu di tangan, dan sedikit berlari mendekati Donal.


"Anak kurang ajar...!" pekik Dena melayangkan sapu ke arah Donal.


"Aww, ibu ... sakit, Bu." Donal meringis merasakan kerasnya batang sapu mendarat di kepala dan punggungnya.


"Anak nggak tau diuntung! Masih ingat pulang kamu!" Dena masih memukul anak laki-lakinya dengan kuat.


Sudah berhari-hari dia menyimpan kekesalan dihati untuk pria itu. Donal sudah membohonginya berkali-kali dan membuat rasa kesal itu semakin memuncak saat ini.


"Ampun, Bu ... sakit banget ini, Bu." keluh Donal mencoba menahan pukulan sapu lantai Dena padanya.


"Masih tau pulang kamu, hah?! Seharusnya kamu nggak perlu dateng lagi kesini!"


"Trus kalo aku nggak pulang Ibu sama ayah gimana? Ibu nggak bisa punya cucu nanti, Bu."


Dena mencebik terus memukuli Donal hingga dia puas dan terduduk di kursi sofa. Wajah wanita itu memerah menahan marah dan kesal dalam satu paket.


Baju yang dipakai Donal pun sudah compang camping dengan tubuh yang mulai membiru karena pukulan ibunya.


"Mau apa lagi kamu kesini?! Kamu mau Ibumu ini mati cepet, hah?!"


"Ibu, ibu kok ngomongnya begitu, sih? Aku pulang karena emang udah waktunya aku pulang, Bu." Donal duduk di samping Dena yang tidak mau menatapnya.


"Pergi kamu dari sini! Ibu nggak mau liat wajah kamu sekarang!" usir wanita bermata sipit itu.


"Jangan dong, Bu. Nanti kalo aku bener-bener udah nggak ada, Ibu juga yang sedih dan sakit hati."


"Nggak, lebih baik ibu nggak punya anak daripada stress punya anak kayak kamu!" sahut Dena bersedekap dada.


"Iya, aku minta maaf, Bu. Kemarin aku ke Paris jemput calon menantu Ibu...," jujur Donal.


Dena diam tidak ingin menggubris ucapan anaknya.


"Kemarin aku sama dia sempet berantem, Bu. Makanya aku ke sana buat bawa dia pulang. Besok, aku udah janji sama dia bakal ke rumahnya bawa Ibu sama ayah. Kali ini aku nggak boong, Bu...." bujuk Donal menyentuh tangan Dena perlahan.


"Mana handphone, sama kunci mobil kamu?!"

__ADS_1


Donal mengernyit. "Buat apa, Bu?"


"Mana? Cepet kasih kesini!" pinta Dena mengulurkan tangannya.


Donal merogohnya dari saku celana tanpa curiga sedikit pun, dan memberikannya ke tangan Dena.


"Ibu udah nggak percaya lagi sama kamu!" sahut Dena berdiri dari sofa.


Donal mendongak, menatap wanita yang sudah melahirkannya. "Maksud Ibu?"


"Mulai sekarang kamu Ibu hukum nggak boleh keluar rumah dan ketemu siapapun. Semua fasilitas kamu bakal Ibu sita termasuk semua properti yang kamu beli sembunyi-sembunyi dari kami! Ibu diam bukan berarti ibu nggak tau kelakuan kamu selama ini, Nal. Ibu masih sayang sama kamu karena tahu gimana kerasnya ayah sama kamu! Tapi cukup, kali ini ... nggak ada tolerir lagi buat kamu!"


"Ta-tapi, Bu. Aku, kan udah minta maaf, Bu. Lagipula besok aku udah janji sama cewek aku buat ketemu keluarganya dia. Kita bakal kesana sama-sama, Bu."


"Ibu udah nggak percaya sama drama kamu lagi, Nal! Pokoknya kamu nggak boleh keluar rumah, sampe kamu ketemu sama wanita yang Ibu jodohin sama kamu!"


"Apa?" kaget Donal. "Kenapa dijodoh-jodohin lagi sih, Bu? Aku pikir kita udah selesai ngomongin itu?!" protesnya lagi tidak terima.


"Terserah Ibu maunya gimana, kamu udah ngecewain Ibu beberapa kali. Sekarang, mau nggak mau kamu tetap harus nikah sama pilihan Ibu!" Dena berlalu meninggalkan Donal yang berteriak memanggilnya.


"Bu...!" Pria itu terduduk di atas kursi sofa dengan pikiran yang berkecamuk. Sialan! Kenapa jadi kayak gini, sih?!


Donal tahu kalau wanita itu sudah marah besar padanya sekarang. Dena bukan ibu yang mudah memberikan hukuman dan jauh lebih sabar ketimbang ayahnya.


Melihat Dena yang kali ini memberi hukuman tidak tanggung-tanggung padanya, Donal harus memutar otak mencari cara untuk membujuk wanita itu dan memberikan dia kesempatan bertemu dengan Celin besok.


"Mana pacar kamu, Cel?" tanya Cut, ibu Celin.


Celin menatap jam di pergelangan tangannya dengan gelisah, sudah satu jam lebih menunggu dari waktu yang dijanjikan Donal, pria itu tidak kunjung datang ke rumah mereka.


"Pria itu serius nggak, sih sama kamu?!" Doddy, ayah Celin ikut menyela.


"Papa kok ngomongnya begitu, sih? Dia seriuslah sama Celin. Kalo dia nggak serius, dia nggak mungkin jemput Celin di Paris kemarin!" sahut wanita itu membela Donal.


Doddy berdecak melipat korannya dengan kesal. "Omongan pria nggak bisa dipegang, Cel. Sekarang dia bilang cinta sama kamu, besok nggak tau apa masih iya ato enggak!"


"Pacar aku nggak begitu, Pa. Dia pria yang baik, aku yakin dia bakal dateng. Dia udah janji sama aku...," sahut Celin penuh keyakinan.


Dia percaya Donal tidak akan membohonginya apalagi sampai mempermainkan perasaannya. Donal pasti akan datang, Celin yakin Donal akan menepati janjinya hari ini, untuk melamar dia di depan orangtuanya.


"Udah, nggak usah bertengkar...," sela Cut menengahi perdebatan anak dan suaminya.

__ADS_1


"Coba kamu telpon pacar kamu dulu, Cel. Siapa tahu mereka kejebak macet atau ada apa-apa di jalan," sambungnya memberi saran.


Celin mengangguk, mengambil ponselnya dengan cepat dan menekan nomor Donal. Panggilan itu tersambung tapi tidak diangkat, Celin makin was was setelah beberapa kali panggilannya, Donal tetap tidak mengangkat telepon itu.


Wajah Celin sontak menyendu dengan rasa kecewa di dalam sana.


"Gimana?" tanya Cut.


"Nggak diangkat, Ma...," sahut Celin lemah.


Doddy berdecih, melempar koran yang dia pegang ke atas meja kuat.


"Papa bilang juga apa, omongan pria nggak bisa dipegang Celin ... sekarang kamu pilih, mau terima perjodohan itu, atau tetep sama pacar kamu yang nggak jelas itu?!"


"Tapi aku cinta sama dia, Pa. Aku—"


"Kamu cinta sama dia tapi dianya malah nggak serius begini sama kamu!" potong Doddy cepat.


"Jangan buang-buang waktu kamu sama orang yang jelas-jelas nggak serius sama kamu, Cel. Umur kamu udah matang, udah bukan waktunya lagi kamu main-main dan menunggu sesuatu yang nggak jelas! Papa sama Mama cuma pengen yang terbaik buat kamu. Anak temen Papa itu baik kok, dia juga udah mapan. Dia pasti bisa bahagiain kamu sama anak-anak kalian nanti," sambung pria paruh baya itu panjang lebar.


Hati Celin berdenyut mendengar ucapan ayahnya yang memang benar. Melihat Donal tidak kunjung datang hingga hampir tengah malam, makin membuat wanita itu sakit hati.


Kenapa Lo nggak dateng, Nal? Gue udah berharap banyak sama Lo ... kenapa Lo bikin gue patah hati lagi begini, Nal? Gumam Celin memendam sakit sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sabar, yah ...


Kadang cinta itu butuh diuji ...


__ADS_2