
"Enak yah Chad...."
"Enak apa?"
"Enak kalo udah punya baby, apalagi kalo baby-nya lucu kayak Amore."
Richard tersenyum duduk di balik kursi kemudi. Mereka sedang dalam perjalanan pulang kembali ke rumah orangtuanya.
Sambil memegang kemudi dengan satu tangannya, Richard membelai kepala Amanda lembut.
"Udah nggak sabar yah By?"
"Apanya?"
"Punya baby."
Amanda mengangguk. "Iya, nggak sabar banget malah. Nggak sabar perut aku jadi gede trus aku jadi jelek nanti. Aku pengen liat kalo kamu masih mau sama aku apa enggak."
"Ish, kok ngomongnya begitu sih."
"Lah kenapa, kan banyak tuh cowok yang giliran istrinya hamil malah main diluar gegara udah nggak seksii lagi."
Richard mendengus. "Ya yang lain By, bukan aku! Aku mana tega biarin istri aku yang udah capek-capek bawa perut kesana kemari, trus malah main diluar. Nggak masuk dalam pikiran aku tuh By," jujur Richard.
Amanda tersenyum mengambil tangan Richard yang masih asik membelai rambutnya.
"Kamu bakal setia, kan sama aku Chad?"
"Astaga ... kok nanyanya begitu sih By. Setialah, aku udah janji sama yang Di Atas untuk selalu cinta dan setia sama kamu, kan. Aku mana berani mau ingkarin janji aku sendiri sama Dia."
"Kalo sakit dan aku nggak bangun-bangun, kamu tetep setia, kan sama aku?"
Richard memilih memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Mematikan mesin mobil, pria blasteran itu duduk menyamping menatap istrinya.
"Kamu kenapa jadi nanya-nanya yang aneh-aneh sih By? Kenapa? Ada apa?"
"Aneh apa sih, aku kan cuma nanya doang Chad."
Richard membuang nafas panjang, bergantian menggenggam tangan Amanda. "Kamu cinta terakhir aku By, mau bagaimanapun keadaan kamu. Aku akan tetap selalu ada disamping kamu, nggak peduli apapun yang terjadi kelak. Kita akan selalu sama-sama."
Hati Amanda menghangat mendengar perkataan suaminya. Akhir-akhir ini dia memang sedikit sensitif, apalagi melihat kebahagiaan di keluarga kakak iparnya membuat Amanda ikut hanyut dalam suasana penuh keharuan tadi.
Ah, dia jadi ingin cepat-cepat hamil agar bisa merasakan jadi wanita yang sempurna sesungguhnya.
"Jangan mikir yang enggak-enggak lagi By, cinta aku sama kamu tulus tanpa syarat."
"Asik, kayak lirik lagu yah Chad...," kekeh Amanda.
"Ish, aku serius By."
"Iya, aku tahu. Makasih yah sayang, i love you...."
__ADS_1
Richard tersenyum menarik tengkuk Amanda. Mendaratkan ciuman hangat dan basah pada bibir tipis wanitanya, pria itu asik menyesapp mengigit memainkan lidahnya disana.
"Chad...!" Amanda mendorong dada bidang suaminya. "Jangan disini, nanti kita di pergokin orang lagi kayak dulu."
"Iya, aku lupa. Yaudah kita ke apartemen aku aja yah."
"Hah? Kenapa?"
"Kejauhan kalo kita kerumah mommy, aku udah nggak tahan ini...."
Amanda berdecak tertawa geli, pria itu mulai blingsatan duduk di kursi kemudi.
Cepat-cepat Richard menyalakan mobil dan menekan pedal gas, hingga mereka tiba di apartemennya yang hanya berjarak lima menit saja dari tempat mereka berhenti tadi.
"Aku jadi inget sesuatu deh, Chad."
"Inget apa?"
"Jadi inget pas pertama kali aku datang kesini sama kamu."
Richard tertawa menekan tombol lift menuju lantai tempat apartemennya berada. "Iya bener, aku masih inget kamu ngoceh melulu sejak kita keluar dari club sampe di kamar aku."
"Ngoceh?" tanya Amanda tidak percaya.
"Iya, kamu tuh kalo lagi mabuk jadi cerewet tau nggak. Aku sampe pusing dengerin bibir tipis kamu ini ngomong nggak ada rem-nya," kekeh Richard mencapit gemas bibir istrinya.
"Tapi kalo aku nggak ngoceh begitu, kamu pasti nggak bakal jatuh cinta sama aku."
Dua pasangan pengantin baru itu tertawa berjalan keluar dari dalam lift yang terbuka. Menuju kamar 2014, Richard menekan tombol password di pintu apartemennya.
"Tanggal lahir kamu, aku ganti pas kita main kedua kali disini."
Amanda tersenyum makin kuat merangkul lengan kekar suaminya. Pria itu bahkan sampai mengingat bagaimana kedua kalinya mereka bersama dalam keadaan sadar.
Dia masih ingat bagaimana perasaannya saat melakukan kegiatan panass itu bersama Richard. Amanda tidak menyangka kalau hubungan menguntungkan mereka dulunya, berakhir dengan kata cinta diantara mereka.
Baru saja masuk, Richard sudah menggendong wanitanya masuk ke dalam kamar.
"Chad...." kaget Amanda.
"Apa?" kekehnya.
Meletakkan Amanda di atas ranjang, Richard mulai mencumbuu bibir istrinya dengan tangan menarik turun celana yang dia pakai.
Richard kini sudah polos di bagian bawah sana, benda perkasa itu menggantung indah dan tampak mengerass. Dia menarik tangan Amanda menyentuh keperkasaannya, hingga wanita itu berjengkit.
Amanda ikut penasaran dengan benda yang selalu membuatnya basah itu, dan tanpa aba-aba dari suaminya dia mulai memainkannya dengan tangan.
Richard sedikit memekik tertahan dengan nafas yang berat saat Amanda makin liar menyentuh benda sensitif miliknya. Hanya dari sentuhan tangan Amanda saja, Richard bisa dibuat melayang karenanya.
"By...."
__ADS_1
"Apa?"
"Mau nggak makan burung?" tanya Richard dengan mata berkabut.
Amanda tertawa geli melihat wajah suaminya yang memohon tapi juga sedang menahan hasrat di bawah sana.
"Gigit aja gimana? Aku gemes sih," goda Amanda.
"Boleh, tapi jangan kenceng-kenceng yah ... takut aku malah keluar di mulut kamu."
"Astaga...."
Richard bangkit menumpu badannya dengan lutut di atas ranjang, dan menarik Amanda duduk mendekat padanya.
Mengarahkan benda kebanggaannya ke mulut Amanda, Richard merasakan kelembutan dan sensasi berbeda dari dalam sana.
Dengan mata yang sedikit terpejam, Richard dibawa melayang dengan permainan lidah serta bibir tipis yang selalu dia cumbu penuh cinta.
Mengangkat rambut Amanda dan menahannya agar tidak mengganggu, Richard sedang menikmati bagaimana wajah istrinya sedang melakukan pemujaan pada tubuh bagian bawahnya.
Sesekali tatapan mata mereka bertemu, Richard ikut meremass dua gunung istrinya memberikan rasa geli di tubuh Amanda.
Tidak bisa menahan lebih lama lagi, Richard buru-buru menarik celana panjang yang masih di pakai Amanda, bersiap memasukinya.
Membalikkan badan wanitanya, Richard masuk menerobos dinding sempit yang selalu kuat mencengkram miliknya yang berukuran di atas rata-rata itu.
Amanda memekik merasakan benda itu kembali menyentakknya dalam tempo yang cepat. Richard memang sudah tidak tahan, hingga hanya dalam waktu lima menit, dia berhasil menyemburkan miliknya dan jatuh terkulai di atas punggung Amanda.
"Enak gak By?" tanyanya dengan nafas yang naik turun.
"Enak...."
"Burung aku enak juga, kan? Kenyang nggak?" kekeh Richard masih di atas punggung Amanda.
"Iya, kenyang atas bawah aku."
Tawa langsung memenuhi kamar yang menjadi bukti tempat mereka bermain sejak awal pertemuan hingga sudah sah menjadi suami istri.
Richard menarik diri dan mencium Amanda melanjutkan kegiatan menyenangkannya sekali lagi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Part bulan madu udah,, tapi basah-basahannya masih berlanjut yah guys 🤭😆