Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Take Off


__ADS_3

"Dimana dia, Nal?"


"Tuh, lagi diseret sama polisi dan pihak bank di depan rumahnya!"


Richard membuka kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung bak seluncuran miliknya, menatap tajam seorang pria yang tengah di borgol dan di masukkan ke dalam mobil polisi.


"Rumahnya disita, dan yang gue denger dia sempet berontak mau coba kabur. Jadi keknya polisi langsung gercep nangkep dia!" terang Donal sekretaris sekaligus sahabat Richard.


"Lo udah telpon pengacara yang gue bilang belum?"


"Udah. Jadi gimana sekarang?"


Richard diam berpikir sejenak, padahal hari ini dia berencana untuk menemui Ardi di rumahnya. Tapi setelah melihat bagaimana pria gila itu di giring polisi barusan, Richard harus merubah rencana yang sudah dia susun.


"Minta pengacara kita langsung ke kantor polisi, suruh dia bicara sama si sapii."


"Buat apa?" tanya Donal tidak mengerti dengan rencana sahabatnya ini.


"Bilang sama dia bawa berkas yang gue minta kemarin, gue mau bicara empat sama si sapii nanti!"


"Lo yakin?"


Richard mengangguk. "Yakin banget, Nal. Gue yakin seratus persen dia nggak bakal bisa nolak permintaan gue. Lo liat aja nanti!"


"Ya udah, terserah Lo maunya gimana."


Donal pun menghubungi seorang pengacara yang diminta Richard kemarin untuk mengurus masalahnya dengan Ardi. Entah apa yang sedang pria itu rencanakan, tapi Donal yakin kalau Richard pasti sudah memikirkan semuanya dengan matang.


"Dia katanya udah meluncur kesana Chad," ujar Donal lagi setelah menutup panggilan telepon dengan pengacara mereka.


"Kalo gitu kita ke kantor polisi juga sekarang."


Donal mengangguk dan mulai melajukan mobil milik atasannya Richard. Tiba disana, pengacara yang ditunjuk oleh pria blasteran itu sudah lebih dulu ada dan sedang membicarakan maksud kedatangan mereka pada polisi yang mengurus masalah Ardi.


Richard akhirnya diberikan kesempatan untuk menemui Ardi yang sudah ditahan, setelah bernegosiasi dengan pihak berwenang hampir lima belas menit.


"Silahkan Pak," ujar salah seorang anggota polisi.


Richard mengangguk dan duduk di depan meja ruang tunggu untuk menemui pria yang kemarin ingin coba-coba membawa wanitanya lagi.


Hari ini dia harus memastikan agar Ardi tidak akan berani mengganggu Amanda maupun hubungan mereka berdua.


"Lo?!" kaget Ardi mendapati Richard yang ingin bertemu dengannya.


Pria yang baru saja di jebloskan ke penjara terkait hutang dari bank yang tidak bisa Ardi lunasi, menatap melotot Richard yang duduk penuh wibawa di depannya.

__ADS_1


"Kenapa? Kaget?" sahut Richard tertawa remeh. "Duduk sini, gue mau ngomong sama Lo!"


"Ngomong apa? Gue nggak butuh apa-apa dari Lo!"


"Yakin Lo nggak butuh apapun dari gue?" tanya Richard penuh arti.


"Nggak!"


"Yaudah, padahal gue kesini mau buat kesepakatan sama Lo! Tapi Lo nggak mau, ok ... gue juga nggak rugi. Selamat bersenang-senang aja Lo disini!"


Richard bangkit berdiri sengaja agar pria itu berpikir lagi untuk menolak kedatangannya.


"Tunggu!" tahan Ardi.


Richard tersenyum menang dan berbalik menatapnya. "Apa?"


"Maksud Lo mau bikin kesepakatan apa sama gue?"


"Penasaran juga Lo? Katanya tadi nggak mau!" ledek Richard masih berdiri.


"Lo nggak mungkin dateng kesini kalo nggak ada yang penting! Apa, Lo mau bikin kesepakatan apa sama gue?"


Richard kembali duduk di depan Ardi dengan hati yang puas, tidak sia-sia dia sedikit berakting tadi.


Padahal Richard mulai was-was jika Ardi tetap menolak kesepakatan yang sengaja dia buat untuk menyingkirkan pria itu dari hidupnya dan Amanda.


"Trus?"


"Asal Lo mau tanda tangani kesepakatan yang gue kasih."


"Apa itu?"


Richard tersenyum smirk. "Jangan pernah muncul lagi di depan gue ataupun Amanda. Lo harus pergi jauh dari negara ini, dan jangan coba-coba sekalipun kembali kesini atau nggak sengaja ketemu kami!" sahutnya lantang.


Richard memperhatikan bagaimana wajah Ardi tampak berubah setelah mendengar kesepakatan yang diminta dia padanya. Bodoh sekali kalau pria gila ini menolak persyaratan yang dia kasih, pikir Richard.


Ardi diam berpikir, bagaimana ini? Kalau dia ingin bebas dia harus menyetujui syarat yang diberikan Richard. Dan jika dia mengiyakan itu, dia tidak akan pernah bisa lagi bertemu dengan Amanda, wanita yang masih dia cinta sampai sekarang.


"Gimana? Tawaran gue cuma berlaku satu kali. Kalo Lo nggak mau, gue juga nggak masalah. Paling setelah ini Lo tetep di penjara, kan. Terserah Lo maunya apa!"


Ardi masih diam, jika dia menyetujuinya sudah pasti dia akan kehilangan Amanda. Tapi kalaupun dia menolak, dia akan mati terpenjara disini atau mungkin akan keluar setelah bertahun-tahun kemudian.


"Cepetan Ar ... gue nggak punya banyak waktu! Apa jawaban Lo?!"


"Gue setuju...."

__ADS_1


"Setuju apa?" tanya Richard memastikan.


"Gue nggak bakal gangguin Amanda dan hubungan kalian lagi, dan menghilang seperti yang Lo minta...." jawab Ardi dengan berat hati.


Dia tetap harus memilih bukan? Ardi tahu kalau dia sudah kehilangan Amanda. Wanita itu kini sudah jauh pergi meninggalkannya, menyisakan cinta dihatinya.


Richard tersenyum menang. "Good choice (pilihan bagus)! Gue pegang kata-kata Lo! Setelah Lo keluar dari sini, pengacara gue bakal ngasih Lo tiket dan duit sedikit buat hidup Lo di luar negeri!" Richard berdiri dan beranjak meninggalkan ruang tunggu tahanan itu.


"Tunggu Chad!" tahan Ardi.


"Kenapa lagi?"


"Makasih untuk bantuan yang Lo kasih."


"Nggak usah ngucapin makasih, Lo cukup patuhin kesepakatan kita dan Lo bisa hidup tenang di luar!"


Ardi tersenyum miris. "Tolong jaga Amanda, tolong sampein ucapan maaf gue buat dia!" sahutnya tulus.


"Ok nanti gue sampein buat Lo!" Richard kembali melangkah keluar, tidak ingin berlama-lama dengan pria tidak punya hati itu.


Satu masalah sudah berhasil dia tangani, Ardi tidak akan mengganggu hubungan mereka lagi kedepannya. Richard setidaknya bisa bernafas lega, mereka tinggal menunggu hari pernikahan dia dan Amanda yang tinggal seminggu lagi.


Setelah kepergian Richard, Ardi dihampiri seorang pria paruh baya bersama dengan Donal, sekretaris sekaligus sahabat Richard.


Mereka harus memastikan kalau Ardi benar-benar akan keluar dari negara ini setelah Richard melunasi hutang-hutangnya di bank.


Dengan berat hati, Ardi pun menandatangani surat perjanjian atas kesepakatan antara dirinya dan Richard.


Ardi benar-benar telah kehilangan Amanda. Wanita pertama yang dia cinta, tapi juga dia sakiti. Bodohnya dia yang dulu menyia-nyiakan cinta Amanda yang tulus, dan malah bermain api di belakangnya.


Pria itu hanya diam sampai dia masuk ke dalam pesawat diantar langsung oleh Donal.


"Good luck bro, hidup dengan baik di luar sana! Jangan lakuin kesalahan yang sama lagi!" Donal menepuk bahu Ardi dan keluar meninggalkan pria itu di dalam pesawat.


Donal masih disana sampai pesawat yang ditumpangi Ardi take off meninggalkan bandara ibu kota.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bye Sapii 👋


__ADS_2