Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Nggak Bisa Setia


__ADS_3

"Hai War...." Donal menghampiri wanita yang ditugaskan Richard untuk membantu pekerjaan sekretarisnya selama dia tidak ada.


"Hai Nal, kenapa?"


"Nggak pa-pa, gue cuma mau ajakin Lo makan siang aja di kantin kantor. Mau nggak?"


"Boleh, gue juga lagi pengen makan sesuatu."


"Yaudah, yuk...." ajak Donal kegirangan.


Pria berkulit sawo matang itu bersorak gembira dalam hati, Mawar wanita yang cukup susah dia dekati selama ini mau juga diajak makan siang olehnya.


Setidaknya dengan pergi makan bersama seperti ini, dia akan semakin mudah mendekati Mawar pikirnya.


"Lo mau makan apa?" tanya Donal mengambil sebuah nampan.


"Kek-nya salad aja deh."


"Salad?" Mawar mengangguk. "Emang salad bisa bikin kenyang?"


"Bisa, aku juga masih agak kenyang kok ini. Tadi pagi aku udah makan yang berat soalnya."


"Berat yah ... beratan mana sama ganteng aku?" canda Donal tersenyum malu-malu.


"Beratan makananlah," sahut Mawar tertawa geli.


Pria dengan senyum manisnya itu ikut tertawa bersama Mawar yang sudah selesai mengambil salad untuk makan siangnya.


"Lo yakin cuma makan itu doang War?"


"Iya, gue udah biasa kayak gini. Kalo pagi udah makan berat, siangnya gue lebih makan yang ringan-ringan aja."


"Asik ... pantesan badan Lo seksi begini," puji Donal menaik turunkan alisnya.


"Bisa aja Lo!"


Dua orang itupun duduk berhadapan dan sesekali bercanda menikmati makan siang. Mereka langsung menjadi pusat perhatian pegawai yang lain karena Donal yang dikenal mereka sebagai sekretaris pribadi direktur utama.


"Cel...!" panggil salah satu teman divisinya.


"Apa?"


"Itu, kan Pak Donal yah?" tunjuknya pada seorang pria yang memakai kemeja garis-garis putih.


"Mana?"


"Itu...."


Celin memicingkan mata melihat pria yang tempo hari memaksanya main di dalam kamar mandi hotel restoran. Sedikit kesal melihat Donal yang mencari-cari perhatian pada wanita yang dianggapnya sebagai saingan, Celin berjalan mendekati meja mereka.


"Seneng yah makan siang berdua!"


Donal tersentak mendapati Celin berdiri di samping meja, bersedekap dada.


"Cel...." ucapnya keki.


"Kenapa? Kok jadi salting gitu?" cibir Celin.

__ADS_1


"Enggak, siapa yang salting sih. Lo mau makan siang juga?"


"Nggak, gue lagi pengen makan orang sekarang!"


Donal menelan salivanya kasar, dia lupa kalau wanita ini bisa muncul kapan saja di dalam gedung perusahaan tempat mereka sama-sama bekerja.


"Abis gepre-geprein gue, sekarang Lo malah mau geprein cewek lain yah? Murahan amat Lo jadi cowok!" kesal Celin menatap tajam Donal.


"Apa sih maksud Lo Cel, jangan ngomong yang enggak-enggak yah!"


Celin berdecak memutar bola mata malas. "Kaum kalian tuh emang begitu, bersikap seolah-olah nggak ada apa-apa sama cewek yang abis kalian pake! Gue pikir cuma kaum kami yang selalu dibilang orang murahan, ternyata kaum kalian juga ada yah?! Bahkan lebih murahan dari binatangg!" sinisnya berlalu dari sana.


Pegawai yang duduk dekat dengan mereka seketika saling berbisik setelah mendengar ucapan Celin. Gosip tentang kedekatan antar sekretaris dan mantan sekretaris direktur utama perusahaan, langsung menyebar di dalam ruangan itu.


Mawar yang merasa tidak nyaman karena menjadi bahan tontonan pegawai lain, berdiri meninggalkan Donal yang berteriak memanggilnya.


Ah sial, kenapa si kunti itu bisa nongol disini sih? Kesal Donal ikut pergi keluar dari kantin kantor.


Dia harus mencari Celin sekarang, gila aja tuh cewek seenaknya hina-hina dia depan semua pegawai yang ada disana. Kesal, Donal menekan tombol lift untuk pergi ke lantai divisi Celin bekerja.


"Mau kemana Lo?!" tanya Mike baru tiba di gedung perusahaan. Dua sahabat biji itu bertemu di dalam lift.


"Lo ngapain disini?" tanya Donal balik.


"Ketemu elo lah, masa ketemu Richard!"


"Ngapain Lo mau ketemu gue? Ini masih jam kantor, sibuk gue!" sahut Donal dengan nada suara meninggi.


"Wihh, biasa aja kali Nal. Nggak usah nge-gas gitu. Kenapa sih Lo? Lagi datang bulan yah?" goda Mike.


"Ngapain Lo nyari Celin? Jangan bilang siang-siang gini Lo mau mesumm yah bangkee!"


Donal berdecak dan keluar dari dalam lift yang terbuka. "Bukan urusan Lo!"


"Eh taii nih orang!" maki Mike sebelum pintu lift tertutup.


Dengan langkah panjang Donal berjalan mencari Celin di ruangannya, tapi wanita itu tidak ada disana. Dia lupa kalau sekarang masih jam istirahat, mungkin saja Celin malah pergi keluar gedung pikirnya.


"Cari siapa Pak Donal?" tanya manajer divisi tempat Celin bekerja.


"Oh saya cuma mau cari Celin Pak, ada yang mau saya tanyakan sama dia."


Pria berkepala botak itu mengangguk. "Apa perlu saya menghubunginya Pak?"


Donal mengangguk cepat, mungkin kalau kepala divisinya yang menghubungi Celin. Wanita itu mau datang kesini untuk menemuinya.


Hanya selang lima menit setelah manajer divisi menghubungi Celin, wanita yang hari ini memakai rok di atas lutut berwarna nude dengan kemeja berwarna putih dan heels setinggi lima centi itu tiba disana.


Celin sedikit kaget mendapati ada Donal juga disana, dan sedang menatapnya dengan tajam.


"Ada apa Bapak menghubungi saya?" tanya Celin setelah tiba di depan dua pria berbeda umur itu.


"Ini kamu dicari Pak Donal, beliau ingin bicara sesuatu katanya. Saya permisi dulu Pak Donal," pamit pria itu meninggalkan dua orang yang sedang bertengkar layaknya orang pacaran.


"Ikut gue!"


"Nggak!" tolak Celin tegas.

__ADS_1


"Jangan lupa kalo gue tuh atasan Lo disini! Ikut gue cepet!" tarik Donal membawa Celin menaiki lift.


"Apa sih Lo tarik-tarik gue kayak gini?!"


"Diem!" bentak Donal mengetatkann tangannya di pergelangan tangan Celin.


Menekan tombol di lantai paling atas, Donal membawa wanita itu ke atap gedung yang terbuka.


Masih menarik tangan Celin, Donal melepaskannya dengan kuat hingga wanita itu hampir jatuh terjungkal ke depan.


"Apa-apaan sih Lo?!" pekik Celin tidak terima.


""Lo suka yah sama gue?" tanya Donal to the point.


"Apa?"


"Lo suka kan sama gue, makanya Lo ngomong begitu tadi di kantin kantor?!"


Celin sontak tertawa sarkas mendengar ucapan Donal. "Lo gila yah, otak Lo lagi nggak korslet kan Nal? Pikiran darimana itu sampe Lo bisa simpulin kayak gini, dasar aneh!" ujarnya masih tertawa.


"Bener Lo nggak suka sama gue? Trus kenapa Lo kayak gak terima gitu kalo gue deketin Mawar?" tanya Donal menyelidik.


"I-itu karena." Celin terdiam tidak tahu harus menjawab apa.


Dia sendiri bingung kenapa dia harus marah dan kesal melihat Donal yang terus-terusan mengejar Mawar, dan seakan menggunakan dirinya hanya untuk kesenangan pria ini semata.


Melihat keterdiaman dan kebingungan Celin, Donal tersenyum tipis dan menarik wanita itu hingga bibir keduanya bertemu.


Mencium lembut dengan permainan bibir dan lidah yang bergantian, Donal tahu kalau wanita ini pasti sudah memiliki perasaan untuknya. Apalagi melihat dua mata Celin yang perlahan tertutup karena permainannya, Donal bisa mengambil bisa kesimpulan untuk itu.


"Gue bisa bikin Lo jadi milik gue. Tapi, gue bukan orang yang bisa setia sama satu cewek!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aduhh


Kesel gak sih sama nih biji satu ini!


Sabar yah,, part bulan madu masih on the way 🤭


Visual Celin sama Mawar bisa kalian cek di story IG author @adamvanda

__ADS_1


__ADS_2