
"Sampe kapan kamu mau nungguin pria yang nggak jelas itu, Cel? Kamu sadar nggak, sih kalo dia cuma mainin kamu?!" Doddy duduk di depan meja makan sembari memberi peringatan untuk anak perempuannya.
"Ini udah berapa hari, kamu masih mau nungguin pria yang nggak jelas itu sampe kapan, hah?! Jangan buang-buang waktu kamu Celin...!" sambung Doddy lagi menatap tajam wanita yang duduk di samping kirinya.
Wanita itu hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. Ingin mencari Donal, dia tidak tahu di mana rumah prianya.
Celin malu jika harus bertanya pada mantan atasannya Richard. Apalagi semenjak dia pulang, Celin baru tahu kalau istri pria yang sempat dia suka itu sedang koma di rumah sakit.
Celin tidak mau mengganggu Richard yang pasti sedang sedih dan tidak ingin diganggu oleh siapapun sekarang. Akhirnya dia pun lebih memilih menunggu sampai Donal mengabarinya.
Tapi sudah hampir empat hari menunggu, pria yang sempat berjanji akan menikahinya itu tidak kunjung datang ataupun menghubunginya.
Hingga malam ini, Doddy kembali mengutarakan perjodohan yang sudah mereka siapkan untuk Celin.
"Lebih baik, kamu terima aja perjodohan yang Papa sama mama atur buat kamu. Dia pria yang punya latar belakang jelas, dan juga dari keluarga baik-baik. Kamu pasti bahagia nikah sama dia."
Celin masih diam larut dengan pikirannya sendiri. Tidak ada satu sendok makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Wanita itu terlalu malas untuk mengisi perut semenjak Donal tidak mengabarinya sama sekali.
"Udah, nggak usah galau lagi Sayang ... kamu coba aja dulu berhubungan sama pria itu. Siapa tahu kalian bisa cocok satu sama lain," sela Cut memberi pengertian untuk anaknya.
Dia tahu bagaimana perasaan Celin saat ini. Cut hanya berharap agar anak semata wayangnya bisa lebih bijak dalam memilih pria yang akan menjadi suaminya kelak.
Masuk ke dalam kamar, Celin tidur dengan perasaan tidak enak. Bagaimana jika besok setelah bertemu dengan pria yang akan dijodohkan dengannya, dan Donal baru muncul? Apa yang akan dia katakan pada pria itu?
Meski Celin marah dan kesal pada Donal, tapi jauh di dalam hati, Celin berharap pria yang dia cinta itu akan datang menemuinya, dan memberikan alasan yang jelas kenapa dia menghilang tanpa kabar.
Harusnya dia memang tidak boleh begini, apalagi setelah diperlakukan seperti ini oleh Donal. Celin merasa dirinya terlalu bodoh hingga tetap saja berharap pada pria pemaksa itu.
Mungkin besok akan menjadi awal baru dihidupnya, pikir Celin.
"Udah siap?" Cut masuk ke dalam kamar Celin, mendekati anak perempuannya.
"Bentar lagi, Ma." Wanita berambut blonde itu sedang duduk di depan meja rias.
__ADS_1
"Nggak usah dandan gimana lagi, kamu udah cantik walau tanpa make up." goda Cut mengusap pundak anaknya.
Celin tersenyum, memoleskan pewarna bibir glossy sebagai tahap akhirnya merias wajah. "Kan, cantiknya dapet dari Mama...."
"Bisa aja kamu," sahut Cut tertawa geli. "Gimana, udah siap, kan ketemu calon suami kamu?"
Celin mengernyit. "Kok calon suami sih, Ma? Aku, kan belum setuju mau nikah sama dia...?!" protes wanita itu tidak terima.
"Iya, iya ... Mama tahu. Mama, kan cuma nanya aja."
"Ish, pokoknya kalo aku nggak suka. Aku nggak mau, yah Mama sama papa maksain aku buat nikah sama dia!" sahut Celin mengingatkan.
"Kalo itu jangan ngomong sama Mama, Cel. Papa kamu, tuh yang ngebet pengen kamu nikah sama temen anaknya."
"Ya, Mama bantuin aku juga, dong buat jelasinnya sama Papa. Pokoknya aku nggak mau dipaksa!" sahut Celin bersikukuh.
"Iya, tapi mudah-mudahan aja kamu suka, yah sama pria pilihan papa itu...."
Celin diam, tidak mau memberi jawaban apa-apa pada ibunya. Untuk menjanjikan dia akan suka dengan pria misterius yang akan dijodohkan dengannya itu, Celin tidak bisa.
"Ayo, kita udah telat." Cut mengajak anaknya pergi setelah Celin terdiam cukup lama.
Disopiri oleh ayahnya sendiri, Celin duduk dengan gelisah di dalam mobil. Hatinya masih ragu antara menerima perjodohan ini atau tidak.
Dalam hati dia berharap agar Donal akan datang menghentikan pertemuan dua keluarga ini, untuk membuktikan keseriusan pria itu pada keluarganya.
Tapi, sudah hampir tiba di restoran. Donal tidak kunjung menghubunginya ataupun terlihat batang hidungnya. Celin semakin dibuat resah karenanya.
"Kamu mau ke mana?" tahan Cut melihat anaknya akan beranjak dari ruangan restoran.
"Aku mau ke toilet sebentar, Ma."
"Yaudah, jangan lama-lama. Mereka udah di parkiran katanya." Celin mengangguk dan pergi meninggalkan ruang pribadi restoran itu.
__ADS_1
Hatinya tidak tenang sekarang, apa yang harus dia lakukan? Apa sebaiknya dia lari saja dari sini? Celin takut jika pertemuan ini malah akan membuat dua keluarga di dalam sana membicarakan perjodohan mereka yang sama sekali tidak disetujui olehnya.
Tapi untuk berharap pada Donal pun rasanya tidak mungkin. Entah pria itu sengaja atau tidak menghilang darinya, Celin hanya ingin semuanya jelas sebelum dia melangkah ke depan.
Celin tidak mau ada sisa-sisa masa lalu sebelum dia maju, jika memang Donal tidak menginginkan dirinya lagi.
Lama terdiam di dalam kamar mandi sendirian, Celin akhirnya memilih masuk ke dalam ruangan. Mungkin tidak ada salahnya jika dia mencoba seperti kata ibunya semalam.
Ya, mencoba ... siapa tahu memang pria itu baik dan dia bisa merelakan Donal setelah dipermainkan oleh pria itu, pikir Celin.
Baru saja akan melangkah menuju ruangan pribadi restoran berada, tangannya tiba-tiba di tarik oleh seseorang yang kaget melihat keberadaan dia di sana.
"Ngapain lo disini?!"
"Lo...?" kaget Celin dengan mata yang membola sempurna.
.
.
.
.
.
.
.
Segitu dulu, yah 🤭😁
Yuk tebak-tebakan yuk,,
__ADS_1
Siapa kira-kira, yah yang tahan Celin? 🤔🤭