
"Gue punya tugas buat Lo, Nal...."
"Apa?"
"Lo tau, kan pengepul besi tua di daerah belakang kawasan Cilincing?"
Donal mengangguk. "Tau, kenapa emangnya?"
"Gue mau Lo beli tempat itu! Bayar semua yang kerjasama samanya lebih mahal, biar mereka brenti berbisnis sama tempat itu!"
"Hah? Lo yakin? Duitnya banyak banget itu Chad. Yakin mau ngeluarin duit sebanyak itu?"
"Yakin, kalo masalah duit Lo nggak usah khawatir. Atur aja sama yang kayak gue bilang!"
Donal hanya bisa mengangguk pasrah, menjadi bawahan sahabatnya sendiri membuat dia harus selalu mengiyakan apa kata atasannya ini.
"Tapi ... Lo beli tempat itu buat apa? Lo mau pindah usaha jadi tukang pengepul besi tua sekarang?" tanyanya ingin tahu.
"Gue mau bikin mantannya Manda bangkrut!"
"Hah? Kenapa? Dendam kesumat Lo sama dia?" canda Donal.
"Ish, dia itu yang mau cari gara-gara sama gue! Taai emang tu orang!" Richard menceritakan kejadian kemarin pagi saat Ardi menculik Amanda, sampai mengikat tangannya seperti binaatang.
"Eh taai tu orang! Minta di ulek itu bijinya! Kesel gue astaga denger omongan Lo!"
"Nah makanya, gue mau ngasih pelajaran sama tu sapii. Enak aja mau gangguin milik gue, siapa suruh dulu nyia-nyiain!" sambung Richard masih kesal setiap kali mengingat kejadian kemarin.
"Tapi, bukannya dia punya tempat lain juga selain di daerah sana? Gue pernah denger dari bokap gue, kalo PT itu punya cabang juga di beberapa tempat."
"Oh, yah ... kalo gitu kita belinya satu, satu. Kalo dia masih sok nantangin gue, kita habisin semua kepunyaan dia!"
Donal mengangguk lagi, tahu bagaimana perangai sahabatnya ini. Richard tidak akan mudah melepaskan pria yang sudah berani menantangnya itu.
Richard pasti akan terus mengejar Ardi sampai pria itu berhenti dan menyerah mengganggu hubungannya dengan Amanda.
"Eh tapi tunangannya gimana? Kasian banget astaga tu ceweknya. Jadi cowok kok nyali bancii begitu, beraninya sama cewek doang!"
"Kemarin sih dia bilang mau mutusin si sapii, tapi yah nggak tau juga. Gue nggak mau ambil pusing soal urusan mereka berdua! Pokoknya Lo urus secepatnya jual beli tempat itu, biar dia tau siapa yang sedang dia lawan!" sahut pria blasteran itu berapi-api.
"Asik ... Lo udah kayak pemain sinetron tau nggak," goda Donal sahabatnya.
"Terserah! Sana, kerja lagi!" usir Richard melambaikan tangan kanannya.
__ADS_1
"Ok Bos."
Donal keluar dari ruangan direktur utama masuk ke ruangannya sendiri. Sebentar lagi jam makan siang akan tiba, pria berkulit sawo matang itu makin tidak sabar untuk mendapatkan vitamin angsa pandannya dari Celin.
"Dimana?"
"Masih kerja, kenapa?" sahut mantan sekretaris sahabatnya Richard.
"Naik kesini yah nanti pas jam makan siang...."
"Ngapain?"
"Gesek...."
"Gesek? Gesek apaan?"
"Yah itu, gesek-gesekkan kayak waktu di mobil."
Celin berdecak di ujung teleponnya. "Sorry, gue nggak biasa main dua kali sama cowok!"
Wanita berambut panjang dengan cat blonde-nya menutup panggilan telepon Donal sepihak. Dia hanya bermain-main saja dengan pria itu waktu lalu, tujuannya masih sama. Yaitu mendapatkan Richard, pria yang sok jual mahal padanya.
Celin masih penasaran dengan isi tubuh Richard diikuti keperkasaannya dalam bermain, membayangkan pria berhidung mancung itu berada di atasnya sudah menjadi impian Celin selama beberapa tahun bekerja bersama Tommy ayahnya.
Sial! Baru sekarang dia ditolak cewek mentah-mentah begini. Sepertinya Celin bukan wanita yang mudah jatuh dalam buaian permainannya. Lihat aja gimana nanti gue bakal bikin Lo ngemis-ngemis ke gue Cel, gumamnya dalam hati.
Sore hari saat pekerjaannya sudah selesai, Donal menghubungi kepala accounting dimana Celin di tempatkan dan meminta wanita itu datang ke ruangannya membawakan berkas yang dia butuhkan.
Alasan, iya ... itu hanya alasan Donal. Hari ini dia harus berhasil menemui Celin dan menuntaskan apa yang dia mau dari wanita itu.
"Ngapain Lo suruh gue kesini?!" sentak wanita yang memakai kemeja ketat berwarna merah muda.
Donal menarik tangan Celin dan mendudukkannya di atas pangkuannya. "Kenapa? Lo nggak suka?"
"Ish, minggir!" sahutnya berusaha melepaskan diri dari rangkulan Donal di pinggangnya.
"Jangan mahal-mahal Cel, gue lagi kere ini...."
"Maksud Lo? Lo pikir gue cewek bayaran apa!"
"Eh, nggak gitu Cel. Becanda gue, becanda...," kekeh Donal menggoda wanita berdada besar itu.
"Yaudah minggir, gue mau pulang!"
__ADS_1
"Tunggu, temenin gue dulu...."
"Ogah, Lo nggak budeg kan Nal? Lo denger, kan apa yang gue bilang tadi di telpon?!" kesal Celin masih di tahan Donal.
"Denger, gue denger kok ... tapi masalahnya, gue butuh elo sekarang. Coba Lo pegang...."
Donal mengarahkan tangan Celin ke area pangkal pahanya.
"Eh anjrittt...." kaget Celin menarik tangannya dari sana. "Bangkee Lo!"
Donal tertawa terbahak melihat wajah Celin yang sudah merah padam karena ulah pria nakal ini. Miliknya memang sudah mengeras, butuh di belai saat ini juga.
"Mau yah Cel...?" pintanya lagi.
"Gak, ogah! Minggir!" Celin semakin meronta di atas pangkuan Donal.
Astaga ... wanita ini justru makin membangkitkan miliknya di bawah sana.
Keduanya saling tarik menarik di atas kursi hingga pintu ruang kerja Donal terbuka dari luar.
"Ngapain kalian bedua?" kaget Richard mendapati kelakuan aneh dua orang di depannya.
Celin sontak berdiri dan menjauh dari pria yang tengah menahan gejolak pandan didirinya.
"Maaf Pak, tadi Pak Donal macam-macam ke saya ... dia mau melecehkan saya Pak!"
"A-apa?" sahut Richard makin terkejut.
"Nggak, bukan gitu Bos. Tadi kami cuma ... cuma ... main Bos," sahut Donal bingung mencari alasan.
"Main?"
"I-iya Bos," sahutnya lagi terbata.
Richard berdecak dan menggelengkan kepala. "Main kuda-kudaan?"
"Nggak Pak, Pak Donal mau coba-coba berbuat aneh-aneh sama saya Pak. Tolong saya Pak...." Celin memasang wajah memelas, biar pria gila yang tidak tahu malu itu mendapat hukuman pikirnya.
"Saya tahu kalian sedang punya hubungan, tapi ... kalau mau bermesraan jangan di kantor saya! Tolong kalian tau tempat!"
Richard keluar dari sana dan membanting pintu ruang kerja Donal kuat, kenapa dia harus melihat adegan pangku memangku seperti tadi sih. Sial! Gue harus cepet-cepet pulang ketemu Manda.
Donal lagi-lagi menarik tangan Celin dan membawanya masuk ke kamar mandi pribadinya dalam ruangan, dan menguncinya di dalam sana.
__ADS_1
"Lo nggak bisa nolak lagi sekarang!" ujarnya menyeringai penuh arti.