
"Woi bangkee, dimana Lo?!" sentak Richard ketika panggilan teleponnya diangkat oleh sahabatnya.
"Apa, sih Lo teriak-teriak begitu?! Gue nggak budek, biji!" kesal Donal menjauhkan teleponnya.
"Cepet bilang Lo di mana! Daritadi nyokap Lo nggak brenti hubungin gue tanyain elo! Dia sampe nuduh gue sembunyiin elo di antah berantah mana!"
Donal berdecak, duduk sembari meminum kopi panasnya. "Bilang aja Lo nggak tau, Chad. Susah amat!"
"Eh, nyokap lo tuh udah kayak dukun tau nggak. Dia tahu kalo gue lagi boongin dia apa kagak! Cepet bilang Lo lagi di mana, gue nggak mau kualat boongin orang tua!" kesal Richard.
"Udah, bilang aja kalo gue nggak mau ngasih tahu, gue lagi di mana sama Lo. Tenang aja, bentar lagi gue pulang. Udah ye, bye...." Donal mematikan sambungan telepon itu sebelum mendengar jawaban dari sahabatnya.
Dia yakin kalau Richard pasti sedang memaki-maki dia di sana.
"Biji ... biji...." Suara Celin membuat pikiran Donal teralihkan, wanita itu sejak tadi terlihat cemas ke sana kemari mencari sesuatu.
"Apa, sih biji biji segala, Cel? Gue disini kali daritadi!" Donal beranjak dari kursi mendekati wanitanya.
"Gue nggak manggil elo, gue manggil biji yang lain!"
Donal mengernyit. "Emang disini siapa lagi yang biji, hm?"
Pria itu sudah berada di belakang tubuh Celin yang sedang menunduk mencari sesuatu. Tangan nakalnya sengaja meremass bokongg padat Celin hingga wanita itu mendengus kesal.
"Tangan Lo, Nal!" kesalnya menepis tangan Donal.
"Apa ... siapa suruh Lo godain gue pake bokongg seksi Lo ini?"
"Ish, minggir sana. Gue mau nyari biji dulu!" dorong Celin.
"Biji siapa, sih, Cel? Dari tadi Lo ngomong biji biji mulu!" sahut Donal tidak senang.
"Yang pasti bukan bijinya elo! Minggir!"
Donal berdecak tidak terima, pria itu malah menarik Celin hingga keduanya jatuh ke atas sofa.
"Nal...!" pekik Celin kaget.
"Jelasin dulu biji, biji apaan maksud Lo!" Donal menahan dua tangan Celin, mengunci pergerakan wanita itu.
"Gue udah bilang itu bukan bijinya elo!"
"Trus siapa, hah? Disini cuma gue yang biji doang, nggak ada yang lain lagi. Lo pasti sengaja, kan mau godain gue?" sahut Donal tersenyum mesumm.
"Nggak usah GR, dari kemarin juga gue udah bilang sama Lo, gue udah punya biji yang laen!"
"Nggak, gue nggak percaya!"
__ADS_1
"Bodo! Bukan salah gue kalo Lo nggak percaya!"
Keduanya sontak berdebat untuk hal yang dianggap berbeda oleh mereka. Donal tetap bersikeras kalau Celin hanya ingin menggodanya saja. Sementara Celin ingin mencari miliknya yang belum kembali sejak kemarin.
Asik berdebat satu sama lain, tiba-tiba seekor kucing berwarna abu-abu kecoklatan melompat ke atas Donal dan Celin. Pria itu berteriak kaget, melompat dari atas tubuh wanitanya.
"Biji...!" pekik Celin memeluk kucing kesayangannya yang dia cari-cari sejak kemarin.
"A-apa itu, Cel?!" Donal bersembunyi di balik kursi sofa rumah wanitanya.
"Biji, Nal. Biji gue udah pulang," sahut Celin bahagia.
Donal mendongak, mengintip dari balik kursi. "I-itu, kan kucing, Cel?"
"Emang kucing, ini kucing yang aku namain biji." Celin mengusap kepala kucingnya dan menciumnya dengan gemas.
"Astaga, Cel ... Lo ngapain piara kucing, sih? Cukup piara gue aja, Cel...," sahut Donal masih bersembunyi di balik kursi.
"Ish, ogah! Kucing masih lebih setia dibanding elo!"
"Tapi gue alergi kucing, Cel...." Baru saja selesai berkata begitu, Donal sudah bersin-bersin di bawah sana. Matanya seketika memerah dengan hidung dan telinga yang berwarna sama.
"Cel, tolongin gue...." Donal tidak bisa berdiri dan terus bersin. Wajahnya pasti sebentar lagi akan bengkak, pikirnya.
"Astaga, Nal...." Celin meletakkan kucing bijinya ke atas sofa, dan beranjak mendekati Donal yang mulai tersiksa dengan kehadiran makhluk berbulu itu.
"Trus gue mesti gimana, Nal?" tanya Celin mulai khawatir.
"Lo bersih-bersih dulu sama ganti baju, bulu-bulu kucing Lo pasti nempel di baju lo! Gue nggak bisa kena itu, Cel." sahut Donal sembari bersin beberapa kali.
"Ya ampun ... ok, tunggu bentar."
"Tunggu, Cel!" tahan Donal lagi.
"Apalagi?!"
"Kucing Lo di kandangin dulu, nanti dia malah kesini."
"Ok, ok...." Celin buru-buru memasukkan kucing bijinya ke kandang, dan berlalu masuk ke kamar mandi.
Lima menit berada di dalam sana, Donal masih terduduk di lantai dengan wajah yang semakin membengkak. Celin sampai terkejut luar biasa melihat perubahan yang terjadi pada pria berkulit sawo matang itu.
"Nal, ya ampun ... kita ke rumah sakit aja, yah? Ini wajah Lo udah kayak zombie...."
Donal menggangguk lemah, berusaha berdiri di bantu Celin ke kursi lainnya.
"Tunggu, gue ambil kunci mobil dulu...." Celin masuk ke kamar mengambil kunci di atas meja nakas.
__ADS_1
Melihat pria itu yang begitu tersiksa, Celin tancap gas menuju rumah sakit terdekat.
"Maafin gue, yah, Nal. Gue nggak tau kalo Lo alergi sama kucing," ujar Celin merasa bersalah.
Pria itu sudah terbaring di atas ranjang perawatan rumah sakit, dan tengah infus. Kata dokter bengkaknya akan hilang beberapa jam lagi.
"Nggak usah minta maaf, Cel. Gue juga, kan nggak pernah ngomong sama Lo kalo gue alergi kucing."
"Trus biji kesayangan gue gimana, dong, Nal? Masa iya gue buang dia gitu aja? Gue udah sayang sama dia...," sahut Celin tidak tau harus berbuat apa.
"Lo lebih sayang dia ato gue, Cel?"
"Lah, kok malah bandingin diri Lo sama kucing, sih, Nal?"
"Nggak pa-pa, gue cuma pengen tau aja, Cel. Lo tetep harus milih juga, kan maunya sama siapa. Kucing Lo, ato gue?"
Celin diam menatap Donal bingung. Melihat ketidakberdayaan pria itu sekarang, Celin juga tidak tega padanya. Tapi jika mengingat bulu-bulu halus kucing bijinya, Celin makin tidak tega dibuatnya. Astaga ... susah sekali memilih dua bijinya ini, pikir Celin.
"Gimana, Cel? Gue terima kalo Lo lebih milih kucing Lo dibanding gue. Gue realistis aja, gue juga masih sayang nyawa gue, Cel. Gue nggak mungkin sama Lo kalo Lo masih piara tuh kucing." Donal berusaha legowo menerima apapun jawaban wanita itu.
Dia hampir saja kehilangan nyawa hanya karena makhluk berbulu yang paling dibenci Donal. Kalaupun Celin lebih memilih kucingnya, dia akan berusaha menerimanya meski harus sakit hati karena kalah dengan seekor kucing.
Celin mendekat, mengusap lembut kepala Donal. "Kalo gue milih salah satu diantara kalian ... Lo janji, kan mau terima?"
"Iya, gue janji."
"Kalo gitu, gue milih biji...," sahut Celin dengan jawaban mengambangnya.
"Biji? Biji yang mana?"
"Yang ini...." tunjuk Celin menyentuh pangkal paha Donal dengan gemas.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Udah mulai nakal, yah Bun... 😆