Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Kampung Manis


__ADS_3

"Ini apa, Nis?" tunjuk Mike pada sebuah benda beroda tiga di depan mereka.


"Namanya becak Mike."


"Iya, gue tau. Maksud gue, tuh kita mau naik ini?" Manis mengangguk.


"Kenapa harus naik ini, sih, Nis? Emang kita gak bisa naik mobil, yah?" protes Mike berdiri di samping wanita yang tengah sibuk menghitung jumlah tas mereka.


"Semalem katanya ujan Mike. Jalanan makin becek kalo ujan, mobil bakal susah kalo mau lewat." Manis memberikan dua tas mereka ke tangan pengemudi becak bertopi anyaman.


"Jadi kita mesti naik ini, nih?" tanya Mike tidak yakin.


"Iya. Disini transportasi biasanya pake begini buat pergi ke kampung aku. Udah, yuk naik. Nanti keburu malem kita nyampenya." Manis naik lebih dulu ke atas becak.


"Ta-tapi, Nis—"


"Naik aja cepet!" potong Manis menyembulkan kepala dari balik tirai tembus pandang becak.


Mike hanya bisa pasrah mengikuti Manis naik ke sana. Perjalanan yang membutuhkan waktu hampir satu hari itu, harus dihabiskan keduanya di dalam becak yang berjalan pelan dan terkadang tersendat saat melewati jalanan yang penuh dengan lumpur tebal.


Mike sampai pusing berada di dalam becak yang berjalan mengikuti jalanan berlumpur di sana.


"Brenti-brenti, Pak!" pekik Mike tiba-tiba.


"Kenapa Mike?" Pria itu tidak sempat menjawab dan malah melompat keluar, menjauh dari becak. Di ujung sana dia sedang memuntahkan isi dalam perutnya.


Manis ikut turun, mendekati Mike yang bersandar di batang pohon.


"Astaga Mike, kamu nggak pa-pa?" tanya Manis mengusap tengkuk pria itu.


"Gue udah nggak mampu, Nis. Gue mau pulang aja...," keluh Mike dengan bibir pucatnya.


"Tapi kita bentar lagi udah mau nyampe Mike. Tahan aja, yah ... kita nggak mungkin bermalem disini."


Mike berdecak merasa kesal dalam hati, dia tidak menyangka perjalanan menuju ke kampung wanita itu akan sejauh ini. Belum lagi dengan jalannya yang berliku dan bisa dibilang tidak layak, benar-benar membuat Mike pusing setengah mati.


"Pak Mike nggak pa-pa?" Parto datang tergopoh-gopoh mendekati atasannya.


"Pak Parto bawa minyak angin nggak?" tanya Manis masih mengusap tengkuk Mike.


Pria paruh baya itu dengan sigap mengeluarkan minyak angin yang dia siapkan untuk perjalanan penuh perjuangan mereka kali ini.


Sedikit banyak Parto sudah mencari tahu tentang letak kampung Manis sebelumnya. Beruntung Oma tuannya tidak jadi datang kesana setelah perdebatan panjang antara Moses dan Mike kemarin malam.

__ADS_1


"Pake ini biar enak badannya Mike." Manis menggosok minyak angin ke tengkuk pria itu sampai pada lehernya.


Mendadak pria itu berubah menjadi seperti anak kecil di dekat Manis. "Yang ini belum, Nis...." tunjuknya pada dadanya yang bidang.


Wanita itu dengan patuh mengikuti kemana Mike minta digosokkan minyak angin tersebut. Pikirannya lebih fokus dengan rasa khawatirnya pada pria blasteran itu.


Mike malah menggunakan kesempatan ini untuk merasakan sapuan lembut tangan Manis di tubuhnya.


"Udah enak belum?"


"Udah. Makasih, yah, Nis."


"Yaudah, kita jalan lagi, yah? Keburu malem kita nyampenya kalo kelamaan disini." Manis meraih lengan Mike, menopang tubuh pria itu disamping dia.


"Lo selalu lewatin jalan ini kalo mau ke kota, Nis?" Keduanya sudah duduk kembali di atas becak yang tengah berjalan dikayuh oleh seorang pengemudi.


"Iya, semua orang di kampung kami juga begitu. Harus lewat jalan ini biar bisa ke kota."


"Emang jalannya cuma ini doang?" Manis mengangguk. "Hebat, loh orang-orang di kampung elo. Bertahun-tahun lewatin jalan kayak gini nggak pernah ngeluh sedikit pun," sambung Mike tidak habis pikir.


"Bukan nggak ngeluh Mike, tapi nggak tau mau ngeluh sama siapa. Mau ngeluh sama pemerintah pun belum tentu di gubris sama mereka, paling abis di janji doang...!"


Mike manggut-manggut sambil memperhatikan jalan di sekitar mereka. Sebelum tiba di kampung tempat tinggal Manis, mereka di sambut banyaknya pesawahan yang hijau.


Udara di sana pun terasa sangat berbeda dengan Jakarta. Mike bisa merasakan udara sejuk dengan angin yang sepoi-sepoi berhembus di depan mereka.


"Ronggur Ni Huta, Mike."


"Disini kabupaten Samosir, kan?"


"Iya, kenapa emangnya?"


"Nggak, gue cuma kaget aja disini punya kampung yang bener-bener masih alami. Bahkan yang di sana aja...." tunjuk Mike pada seorang pembajak sawah yang akan mereka lewati di depan.


"Masih gunain kebo buat buat bajakin sawah, loh. Kalo dilain daerah, kan pasti udah pake mesin biar nggak ribet. Hebat aja gitu mereka masih pertahanin cara tradisional kayak begitu disaat semua udah serba modern di jaman sekarang," sambung Mike panjang lebar.


"Di kampung aku, tuh semua hal yang berbau tradisional itu emang masih di pertahanin Mike. Nanti kamu juga bakal liat semua rumah-rumah kami disini pun masih sama kayak rumah jaman dulu."


Tiba di depan rumah tradisional khas daerah sana, Manis turun dari becak diikuti Mike. Matanya tidak lepas memandangi semua sudut rumah itu dari luar.


Atap rumah yang dibuat berujung dan agak tinggi dari ruangan rumah terlihat begitu cantik dari pandangan mata abu-abunya. Ternyata benar kalau rumah-rumah disini memang masih rumah tradisional, adat daerah sana.


"Ayo, masuk Mike," ajak Manis.

__ADS_1


"Eh, tunggu, Nis...." tahan Mike.


"Kenapa?"


"Di rumah Lo ada siapa aja?" tanya Mike was was.


"Cuma ada ibu sama kakak aku. Tenang aja, mereka nggak gigit orang kok...." kekeh Manis berjalan lebih dulu di depan pria itu.


Mike berdecak mengikuti Manis dari belakang. Wanita itu masih sempat-sempatnya bercanda, pikirnya. Parto juga ikut masuk sambil membawa banyaknya tas barang yang mereka bawa untuk keluarga Manis.


"Bu, Manis pulang, Bu...." Manis berjalan masuk mencari ibunya di dalam ruangan dan dapur.


"Kenapa, Nis?" tanya Mike melihat wanita berambut panjang itu hanya sendiri.


"Ibu masih di sawah kali Mike, mungkin bentar lagi pulang. Kamu mau mandi dulu nggak? Biar aku siapin."


"Nggak usah, tunggu ibu Lo pulang aja, Nis. Gue nggak enak belum ketemu yang punya rumah udah nyelonong masuk."


"Yaudah, kalo gitu aku buatin teh dulu buat kamu sama Pak Parto, yah...."


Menunggu hampir lima belas menit di ruangan sederhana beralaskan ubin, seorang wanita yang terlihat berwajah mirip dengan Manis. Masuk menatap kaget Mike dan Parto yang duduk berhadapan.


"Heh, siapa kalian? Mau nagih utang lagi?!" pekik wanita itu marah-marah.


"Eh, enggak, Bu. Kami ini—"


"Ibu, ibu ... kau pikir aku ini Ibu kau!" potong wanita itu menatap tajam Mike. "Keluar kau, jangan cari Simbolon disini! Aku sudah lama pisah sama dia!" sambungnya mengusir dua pria yang tidak tahu apa-apa itu.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Untuk Part ini author mau ngucapin makasih banyak untuk Ka Melly Sianturi yang udah mau ditanya-tanyain soal kampungnya Manis...


Aku padamu, Ka Mel 🤭🥰


__ADS_2