Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Pembawa Sial!


__ADS_3

"Chad, kamu udah makan belum?"


"Belum, Mom."


Tari berdecak, mengambil nasi kotak di atas meja yang dia beli tadi siang. "Kamu mau ikutan sakit kayak istri kamu, Chad?! Buka mulut kamu, biar Mommy yang suapin!"


"Tapi aku nggak laper, Mom...." tolak pria blasteran itu.


"Makan! Jangan bikin mommy kesel Richard!" Tari menyodorkan satu sendok makanan ke mulut anaknya dengan pandangan mata tajam.


Ogah-ogahan Richard membuka mulut lebar di depan Tari. Pria itu sudah jauh lebih kurus dengan kumis dan jambang yang menghiasi wajahnya. Tari semakin tidak tega melihat keadaan anak laki-lakinya saat ini.


"Kamu mau sampe kapan kek gini, sih, Chad? Apa mesti mommy suapin kamu terus biar kamu mau makan?" cibir Rena yang juga ada di sana.


"Apa sih, gue tuh nggak laper! Makanya belum makan!" sahut Richard dengan mulut penuh makanan.


"Telan dulu makanannya baru ngomong, Chad!" tegur Tari.


Rena menggeleng-gelengkan kepala melihat adiknya yang sudah sebesar itu, masih saja mau disuapin ibu mereka.


"Besok Mommy mending nggak usah dateng, deh. Biar aja Richard nggak makan-makan, toh kalo dia sakit dia juga yang siksa sendiri nggak ada yang ngurusin!" Rena sengaja membuat adiknya kesal.


"Berisik! Bilang aja Lo ngiri karena nggak disuapin mommy?!"


Dua kakak beradik itu saling menatap tajam satu sama lain dengan wajah yang saling mencibir. Bahkan di saat seperti inipun anak-anaknya masih saja sering tidak akur, pikir Tari.


Bunyi ketukan pintu mengalihkan pandangan tiga orang di dalam kamar perawatan VVIP, Tari buru-buru bangkit dari kursi, membuka pintu.


"Siang Tan," sapa seorang wanita muda berambut panjang.


"Kamu? Ngapain kamu disini?!" sahut Tari tidak suka.


"A-aku, mau—"


"War? Udah sampe?" potong Richard berdiri di belakang ibunya.


"Eh, iya, Pak." sahut Mawar takut-takut.


"Kamu yang manggil dia kesini, Chad?!" tanya Tari.


"Iya, Mom. Aku mau ngasih beberapa kerjaan di butiknya Amanda."


"Emang nggak ada orang lain selain dia yang bisa kamu suruh? Mommy takut yang ada dia malah bawa sial sama butiknya menantu mommy," sindir Tari menatap kesal Mawar.

__ADS_1


Wanita itu menyalahkan bodyguard yang disewa Richard untuk menjaga Amanda atas kecelakaan yang menimpa menantunya.


Apalagi melihat keadaan Mawar yang hanya terluka sedikit, makin menambah rasa kesal di hatinya untuk Mawar.


"Mommy ngomong apa, sih?" sahut Richard tidak enak.


"Hei, kamu! Jangan deket-deket sama anak dan menantu saya, yah! Saya nggak mau keluarga saya ketiban sial lagi dari kamu!" sentak Tari menunjuk wajah Mawar yang tertunduk.


"Mom!" Richard mulai kesal melihat tingkah ibunya yang dinilai dia sudah keterlaluan.


"Apa?! Kamu belain dia?! Pokoknya mommy nggak suka wanita ini deket-deket lagi sama keluarga kita!" Tari berlalu meninggalkan keduanya di depan pintu.


Wanita paruh baya itu tetap bersikukuh tidak ingin Mawar berada di sekitar mereka, sebelum Amanda sadar dari komanya.


Rena yang mendengar perdebatan itu hanya bisa membuang nafas panjang, hatinya sedikit banyak seperti Tari. Dia juga sedikit menyalahkan Mawar yang dinilai mereka tidak hati-hati dalam berkendara.


Meski sampai saat ini pelaku tabrakan sudah di tangkap oleh pihak kepolisian, tapi tetap saja Mawar dianggap sebagai salah seorang penyebab adik iparnya sampai harus koma hingga sekarang.


"Nggak usah dengerin apa kata nyokap gue, War. Dia cuma masih sedih aja liat kondisi Amanda saat ini," ujar Richard menenangkan hati Mawar.


"Maafin aku, Pak. Aku-"


"Udah, nggak usah minta maaf!" potong Richard cepat. "Itu cuma musibah, nggak ada yang mau kena musibah seperti ini. Lo tenang aja, gue nggak marah kok sama Lo...."


Rasa bersalah dan traumanya belum hilang, Mawar bahkan tidak berani membawa mobil sendiri sekarang. Kejadian itu benar-benar membuatnya ketakutan untuk sekedar memegang kemudi.


"Makasih, Pak," sahut Mawar dengan sudut mata yang berair.


"Nggak usah bilang makasih. Lo juga, kan terluka waktu itu. Setidaknya Lo beruntung nggak sampe kenapa-napa, kayak Manda," sahut Richard dengan lapang dada.


"Udah, nggak usah ngomongin itu lagi. Gue punya tugas yang lebih penting buat Lo," sambung Richard menjelaskan tentang beberapa pekerjaan Mawar di butik istrinya.


Wanita itu dipercayakan Richard untuk mengurus semua kebutuhan pelanggan mereka sampai setidaknya Amanda siuman nanti. Richard yakin kalau Mawar pasti bisa mengurus butik dengan baik.


"Jadi Lo udah ngerti, kan?" Mawar mengangguk. "Yaudah, Lo bisa pergi sekarang. Vania udah nunggu Lo di sana. Nanti bakal ada Dira juga sekretaris baru gue, yang bantuin elo."


Mawar mengernyit. "Sekretaris baru, Pak?"


"Iya, dia yang gantiin Donal."


"Emang Donal kemana, Pak?" tanya Mawar tidak tahu.


Pria itu sama sekali tidak bicara apa-apa padanya saat dia menjenguk Mawar dia rumah sakit.

__ADS_1


"Nggak tau. Katanya, sih cari Celin. Tapi, yah nggak tau juga."


Wajah Mawar sontak menjadi sendu mendengar berita ini, ternyata benar kalau Donal sama sekali tidak memberikan dirinya kesempatan untuk bisa merebut hati pria berkulit sawo matang itu.


Sudah dianggap pembawa sial, dan kini malah ditinggal pergi oleh pria yang dia cinta ... sungguh takdir sedang mempermainkan hatinya, pikir Mawar.


Tiba di butik, Mawar langsung di sambut asisten Amanda di sana. Wanita itu sepertinya sedang kewalahan mengurus semua pelanggan yang mulai meminta kejelasan pesanan mereka setelah mendengar pemilik butik itu kecelakaan dan koma.


"Jadi ini gimana, War? Gue udah nggak sanggup hadepin ibu-ibu yang nggak ngerti di suruh tunggu," keluh Vania.


"Udah Lo tenang aja, biar nanti gue yang hadepin satu-satu. Mereka di mana?"


"Diatas, mereka udah nunggu Lo daritadi. Gue bilang perwakilan dari miss Amanda bakal dateng siang ini."


"Yaudah, kita ke atas kalo gitu."


Dua wanita yang dimandatkan Richard untuk membantu mengurus butik milik istrinya, duduk berhadapan dengan lima orang pelanggan VIP yang sudah beberapa hari ini datang kesana memprotes pesanan mereka yang belum juga ada kejelasan hingga sekarang.


"Ibu-ibu semua tenang saja. Kami akan menyelesaikan semua pesanan ibu-ibu sekalian tepat waktu. Kebetulan sebelum musibah ini terjadi, miss Amanda sudah menyelesaikan semua desainnya hingga kami tinggal menyempurnakannya kembali. Mohon ibu-ibu bisa bersabar lagi menunggu." Mawar berusaha membujuk dan bernegosiasi dengan lima pelanggan yang dikenal mereka paling banyak maunya selama ini.


Hingga saat sore hari menjelang, kelima pelanggan itu pun akhirnya mau menunggu dan pulang dengan hati yang cukup puas.


"Capek banget ngadepin ibu-ibu rempong begitu!" keluh Mawar terduduk lemas di depan meja kerja Amanda.


"Iya bener, untung aja mereka mau ngerti juga," sahut Vania ikut duduk di depan Mawar.


"Besok pastiin penjahit-penjahitnya udah mulai bikin gaun yang mereka pesan, yah, Va?"


"Ok."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut, tar sore lagi, yah 🤭😁


__ADS_2