Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Mengerti, Mengalah dan Menerima...


__ADS_3

Tiga Bulan Kemudian


"Chad, kamu di mana?" teriak Amanda dari dalam kamar mereka.


"Bentar, By. Aku lagi nyiapin makanannya."


"Cepet, Chad. Aku udah laper...!" Richard menghembuskan nafas panjang, mencoba bersabar dalam hati.


Terhitung sudah enam kali pria itu dibuat kesana kemari oleh istrinya yang sedang hamil tiga bulan.


Wanita itu sedang mengidam menginginkan berbagai macam masakan yang cukup susah ditemukan di kota ini.


Richard harus mencari sampai ke luar kota, demi untuk wanita yang tengah mengandung buah hati mereka.


"Ini, By...." Richard menyodorkan sepiring makanan yang diminta Amanda kehadapannya.


"Kok cuma satu piring, doang? Punya kamu mana, Chad?"


"Aku masih kenyang, By. Kan, tadi yang makan makanan kamu, aku." Amanda berdecak, meletakkan piring yang baru diberikan Richard padanya di atas ranjang.


"Aku nggak mau makan kalo kamu juga nggak makan!"


"Loh, kok gitu, sih. Aku masih kenyang, By. Lagipula makanannya aku beli tadi cuma seporsi doang. Kamu aja yang makan, yah?" bujuk Richard mengangkat piring itu kembali kehadapan Amanda.


"Nggak, aku nggak mau! Kamu juga harus makan, Chad. Kalo enggak, aku nggak akan makan sampe besok!" sahut Amanda bersikeras.


"Jangan gitu, By. Nanti kalo kamu sakit, kasian anak kita, dong...."


"Ya siapa suruh daddy-nya nggak mau makan bareng sama mommy-nya. Biar dia tahu kalo daddy-nya udah nggak sayang lagi sama dia!" sahut Amanda bersedekap dada.


Richard menghembuskan nafas panjang lagi, teringat dengan ucapan ibunya dua bulan yang lalu tentang wanita yang sedang hamil. Tari meminta dirinya agar lebih sabar menghadapi Amanda, karena hormon wanita hamil yang sering berubah-ubah.


Richard diharuskan mengerti, mengalah dan menerima semua ucapan Amanda walau dia sendiri sudah lelah dan kesal dalam hati.


"Jangan ngomong gitu, By. Yaudah aku makan. Kamu juga harus ikut makan sama aku, yah?" ucap Richard akhirnya mengalah.


Amanda sontak mengangguk dengan penuh semangat. Wanita itu segera membuka mulutnya begitu suapan pertama di berikan Richard padanya.


Kali ini Amanda benar-benar makan dan ikut menghabiskan sepiring makanan itu. Berbeda dengan lima makanan sebelumnya, Amanda hanya menghirup aromanya dan mencoba se sendok saja.


Alhasil, Richard yang diharuskan Amanda untuk menghabiskannya dengan alasan sayang kalau makanannya dibuang.


"Enak?" Amanda mengangguk dengan pipi menggembung berisi makanan.


"Makan yang banyak biar anak kita sehat, yah...?" Richard mengusap sudut bibir istrinya dengan jari. Wanita itu semakin terlihat memesona dengan tubuh yang mulai berisi.

__ADS_1


Makan pagi yang berlangsung sampai makan siang itupun berakhir dengan rasa sesak dan penuh di perut Richard. Pria itu bahkan sampai kesusahan berjalan menuruni tangga untuk membawa piring kotor ke dapur.


Astaga ... baru tiga bulan, Chad. Lo harus kuat, masih ada enam bulan lagi. Richard terduduk di kursi sofa, menyandarkan tubuhnya dengan celana yang terbuka di bagian perut.


Baru tiga bulan dan beberapa celana yang biasa Richard pakai sudah mulai sempit. Dia jadi resah sendiri membayangkan perutnya akan ikut membuncit seperti Amanda, jika setiap hari dia harus menghabiskan beberapa piring makanan seperti hari ini.


"Ish, daritadi di panggil ternyata lagi tidur disini!" Amanda turun dari lantai dua rumah mereka, mencari-cari Richard sejak tadi.


Pria blasteran itu tidur seperti kebo diatas kursi sofa dengan celana yang mulai melorot, memperlihatkan satu garis buluh hitam yang memanjang dari bawah pusar, sampai terhalang dibalik celana dalamm katun yang Richard pakai.


Wanita yang senang menjaili Richard semenjak dia hamil, tersenyum jahat melihat buluh-buluhh itu. Amanda mendekati Richard, dan menarik beberapa helai dari sana hingga suaminya berjengkit kaget.


"Aduh...," teriak Richard sadar dari tidurnya.


Amanda seketika tertawa terbahak, menjatuhkan dirinya di samping Richard yang kesal.


"Apa-apaan, sih Beby?! Sakit tahu nggak!" keluh Richard dengan nada suara meninggi.


Wanita yang tadi sedang tertawa geli menikmati keusilannya pada Richard, langsung terdiam mendengar ucapan suaminya.


"Kamu mau bikin aku jantungan?! Gimana pas tadi aku kaget trus aku kesambet? Kamu mau anak kita lahir dia udah nggak punya Daddy?" sambung Richard masih mengeluarkan unek-unek dihatinya.


Wajah Amanda menyendu dengan bibir yang terkulum kedalam, dan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kamu kok marah-marah sama aku, Chad? Kamu udah nggak sayang, yah sama aku?" Suara Amanda terdengar bergetar.


Wanita itu mulai sesenggukan di samping Richard yang sadar kalau dia sudah keterlaluan pada wanita yang sedang hamil ini.


"Ya ampun, By. Aku nggak marah, aku cuma kesel aja tadi kamu bikin aku kaget. Jangan nangis, By...,"ucap Richard buru-buru membujuk istrinya.


"Jadi kamu kesel sama aku? Aku, kan cuma becanda, Chad ... kamu kok tega banget sama aku, sih?" Tangisan Amanda makin menjadi mendengar perkataan suaminya. Hatinya sakit diperlakukan seperti itu oleh Richard.


Astaga ... sepertinya dia sudah salah bicara tadi, gumam Richard merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.


"Nggak, aku nggak kesel. Aku cuma kaget, By. Udah, yah...? Jangan nangis lagi," bujuk Richard memeluk wanitanya.


"Boong! Kamu emang sengaja bentak-bentak aku, kan tadi?! Kamu tega sama aku, Chad...!" Amanda memberontak dalam pelukan prianya.


Hati wanita hamil memang begitu, tidak bisa dibentak sedikit pasti langsung tergores. Ibarat kertas layang-layang yang robek, hati Amanda bisa digambarkan seperti itu saat ini.


"Iya, aku minta maaf. Aku yang salah. Maafin aku, yah Beby...." Richard masih memeluk Amanda yang makin kuat menangis, meraung seperti anak kecil dalam pelukannya.


Lebih baik dia minta maaf daripada drama tidak mau disalahkan ini terus berlanjut sampai nanti malam, pikirnya.


"Astaga Amanda...." Tari baru saja tiba di rumah anak laki-lakinya, mendekati pasangan suami istri itu di ruang keluarga.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Manda? Kok nangis?" tanya Tari khawatir.


Richard menelan salivanya susah, jika sudah begini pasti dia yang akan dimarahi Tari karena membuat menantu kesayangannya menangis tersedu-sedu seperti ini.


"Mommy...." rengek Amanda melepaskan pelukan Richard.


"Kenapa Sayang? Ada apa?" Tari bergantian memeluk menantunya.


"Richard, Mom."


Tari mengernyit, mengalihkan pandangannya pada anaknya. "Richard? Kenapa sama suami kamu?"


"Richard bentak aku tadi, Mom. Dia marah-marah sama aku, dia bilang anak aku bakal nggak punya Daddy nanti pas dia lahir. Dia mau tinggalin aku, Mom...," sahut Amanda melaporkan kelakuan suaminya pada ibu mertuanya.


"Astaga Richard ... bener itu yang dibilang Amanda?!"


"Eng-nggak, Mom. Nggak gitu ceritanya. Aku tadi cuma—"


"Tuh, kan dia masih mau nyalahin aku, Mom." potong Amanda cepat. "Richard emang udah nggak sayang sama aku...!" sambungnya makin kuat menangis dalam pelukan Tari.


"Dasar anak nakal!" Tari melepaskan pelukannya dengan Amanda, memukul punggung Richard beberapa kali.


Wanita itu sudah mulai kesal melihat menantunya selalu menangis setiap kali dia datang kerumah mereka, dan melaporkan kalau Richard lah penyebab dia menangis.


"Udah berapa kali Mommy bilang, jangan pernah bikin Amanda nangis. Kamu, kok nggak ngerti-ngerti juga, sih Richard...!" Pria bertato di lengan itu hanya bisa pasrah menerima amukan ibunya.


Lagi-lagi dia harus mendapatkan hukuman atas apa yang bukan menjadi kesalahannya, dan sialnya setiap kali Tari memarahi dan memukulinya seperti ini, Amanda akan berhenti menangis dan tersenyum meledeknya dengan lidah yang terjulur ke depan.


Hadeh ... semoga aja pas anak gue lahir sikapnya nggak nyebelin kayak emaknya sekarang!


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Yang minta keseruan Tiga Biji pas bininya hamil, ini yah ...


Dua lagi otw 😁


__ADS_2