
"Amanda...." Seorang wanita memakai topi rajut di dorong masuk ke dalam ruang perawatan wanita itu oleh seorang pria.
Amanda mendongak, menatap kaget siapa yang baru saja memanggil namanya.
"Monik?"
"Sorry gue baru bisa dateng, Manda...." Monik tersenyum dengan wajah yang pucat.
"Lo ngapain disini, Nik? Lo, kan lagi sakit...."
"Gue diizinin keluar, Manda. Dokter gue ikut juga sama gue kesini. Gue maksain mau jengukin elo. Gue nggak tenang semenjak denger Lo kecelakaan."
"Astaga ... tapi Lo nggak perlu juga kesini, Nik." Amanda mengatur posisi ranjangnya agar lebih nyaman untuk dia duduk.
Monik sudah di dorong mendekat padanya. Wanita itu duduk di kursi roda dengan baju yang cukup tebal membungkus dia.
"Lo harusnya nggak usah kesini, Nik. Kesehatan Lo jauh lebih penting," sambung Amanda mengingatkan temannya itu.
Dia hanya khawatir jika kondisi Monik kembali drop, hanya karena ingin menjenguknya di rumah sakit.
"Gue udah lebih baik, Manda. Pengobatannya mulai berhasil meski rambut gue pada rontok!" sahut Monik menunjuk kepalanya.
Amanda terdiam menatap keadaan rekan bisnisnya dulu. Wanita itu memang terlihat lebih kurus dengan kepala yang mungkin sudah plontos, tertutup dengan topi yang dia pakai.
Ternyata ditengah keadaannya yang menyedihkan, masih ada orang lain yang lebih mengenaskan dibanding dirinya, gumam Amanda.
"Gimana keadaan kamu, Manda?" tanya Monik membuyarkan pikiran wanita berambut panjang itu.
"Sejauh ini aku ngerasa baik-baik aja, Nik. Tapi kata dokter aku masih harus CT Scan lagi besok, dia mau ngeliat gimana benturan di kepala aku sekarang."
Monik mengangguk dengan hati yang sedikit tenang, setidaknya melihat Amanda yang masih berbicara seperti biasa. Bisa meyakinkan hatinya kalau wanita ini memang benar baik-baik saja setelah bangun dari koma yang cukup lama.
"Gue lega banget dengernya, Manda. Semoga aja nggak ada yang perlu dikhawatirin lagi, yah?"
Amanda mengangguk. "Iya, gue juga berharap begitu, Nik."
"Gue juga turut berduka, yah buat anak kalian, Manda. Lo harus kuat, yah? Jangan putus asa, kalian masih bisa berusaha buat dapetin anak lagi...." Monik mengusap punggung tangan Amanda simpatik.
Dia tahu kalau temannya ini pasti sangat terpukul saat tahu anak yang dia kandung tidak selamat ketika kecelakaan itu terjadi.
"Iya, makasih, Nik. Semua juga ngomong begitu sama gue. Mudah-mudahan aja kesedihan gue ini nggak akan berlarut terlalu lama...."
"Gue tahu Lo kuat, Amanda yang gue kenal bukan wanita lemah! Badai ini pasti bisa kalian lewatin." Monik menatap wanita di depannya memberi semangat.
Sekalipun tidak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak di dalam perut, tapi sebagai sesama wanita, Monik hanya ingin memberi dukungan sepenuhnya untuk Amanda.
"Suami Lo mana? Kok nggak ada?" tanya Monik mengalihkan pembicaraan.
Dia tidak mau Amanda kembali larut dalam kesedihannya jika mereka masih terus membahas tentang itu lagi.
__ADS_1
"Dia lagi ke ruangan dokter."
"Ngapain?"
"Nggak tahu, kayaknya ada yang pengen dibicarain sama dokter yang handle (menangani) gue."
Monik manggut-manggut mengerti. "Gue pikir dia ninggalin Lo sendiri disini."
"Enggaklah, Richard nggak pernah ninggalin gue sedetik pun, Nik. Dia selalu disini temenin gue disaat gue koma sampe hari ini."
"Wah ... Lo beruntung banget dapet suami kayak gitu, Manda. Gue dari dulu selalu iri, deh liat kalian berdua...."
Pria yang sejak tadi berdiri diam di dekat Monik berdehem. Perhatian dua wanita yang sedang bercengkrama itupun sontak beralih padanya. Amanda mengernyit menatap bingung pria bertubuh tinggi dengan garis wajah luar negerinya.
"Ini siapa, Nik?" tanyanya penasaran.
"Dia dokter gue."
"Ditambah tunangan," sela pria itu dingin.
"Tunangan?" Amanda beralih menatap Monik yang seketika membuang nafas kasar.
"Lo udah tunangan, Nik?"
"Nggak, nggak ada tunangan gue. Dianya aja yang kegeeran!" elak Monik malas membahas masalah ini.
Terlihat sebuah cincin bermata berlian melingkar indah dijari lentik Monik yang pucat.
Amanda sampai ternganga menatap bergantian Monik dan pria bule itu.
"Apa sih, Lo yang maksa gue Bradd. Gue nggak pernah nganggep pertunangan kita kalo Lo mau tahu!" Monik menarik tangannya dari genggaman pria yang dipanggilnya Bradd.
Wanita itu lagi-lagi dibuat kesal dengan tingkah Bradd yang suka seenaknya padanya.
"Terserah Lo mau ngomong apa, yang penting gue tahu kita udah tunangan!" sahut Bradd masa bodoh.
"Dasar sinting! Lama-lama gue makin sakit deket-deket sama Lo!"
Melihat pertengkaran keduanya, Amanda hanya bisa terdiam dengan hati yang penuh tanda tanya. Apa benar kalau rekan kerjanya yang memang pecinta pria-pria luar negeri itu sudah bertunangan dengan pria ini?
Jika melihat bagaimana pria itu berbicara, sepertinya benar kalau Monik sudah bertunangan dengan dia. Tapi, kenapa Monik terlihat tidak suka dengan Bradd? Amanda sampai pusing memikirkan hubungan rumit mereka.
"Beby...." Richard masuk ke dalam, menghentikan perdebatan Monik dan Bradd.
Pria blasteran itu kaget mendapati wanita yang dulu selalu tampil wow, kini sedang duduk di kursi roda dengan wajah yang pucat.
"Monik?" ujarnya mendekati ketiga orang itu.
"Hai, Chad...," sapa Monik hangat.
__ADS_1
"Ini beneran elo, Nik?"
"Trus Lo maunya siapa? Masa kunti, sih?!" canda wanita itu tertawa geli.
Richard menatap Amanda seakan meminta penjelasan tentang Monik yang terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Istrinya hanya mengangguk memberi jawaban akan tatapan mata Richard. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Monik, tapi Amanda tidak ingin membicarakannya sekarang pikir Richard.
"Udah daritadi disini, Nik?" tanya Richard kembali bersikap biasa.
"Belum lama, gue cuma nyempetin waktu kesini jengukin Amanda. Bentar lagi gue juga udah harus balik, Chad."
Richard mengangguk, menatap pria yang berdiri disamping Monik. "Trus ini siapa?"
"Dokter...."
"Tunangan...."
Dua orang itu kompak menjawab namun dengan jawaban yang berbeda. Richard sampai melongo dibuatnya.
"Mana yang bener, sih?"
"Gue yang bener, Chad. Nggak usah dengerin apa kata dia!" sahut Monik lebih dulu.
Bradd berdecak dengan hati yang kesal. Wanita ini selalu saja menolaknya sejak pertama kali mereka bertemu.
Bahkan setelah dia mengikat Monik dengan pertunangan sepihaknya, Monik tetap saja masih menolak dia mentah-mentah. Entah apa yang masih kurang dengannya sampai dia tidak juga tertarik dan malah seperti membencinya.
Richard kembali menatap Amanda yang mengangkat kedua bahunya, tidak tahu menahu dengan hubungan Monik dan Bradd.
Sepertinya kisah cinta rekan kerja istrinya ini sedikit ribet, pikir pria itu.
.
.
.
.
.
.
.
Cerita Monik nggak akan dibahas lebih lanjut lagi, yah...
Cukup sampe segitu aja 🤭😁
__ADS_1