Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Berita


__ADS_3

"Bos...!"


Donal masuk menemui Richard di ruangannya dengan terburu-buru.


"Lo nggak bisa ketuk pintu dulu, Nal?!" kesalnya kaget.


"Sorry, sorry Bos. Tapi ini udah urgent (penting) banget."


"Apa sih? Apa yang penting?"


"Ini ... gue baru dapet berita kalo PT punyanya Ardi bangkrut," sahut pria berkulit sawo matang itu memberikan tab di tangannya pada Richard.


"Hah? Beneran?" Richard buru-buru mengambil tab milik Donal dan membaca berita tentang kebangkrutan itu.


Dalam berita online yang dibacanya, dijelaskan kalau PT milik Ardi yang bergerak di bidang pengepul besi tua harus tutup dan gulung tikar, karena tersandung kasus penipuan dan penyelundupan ilegal.


"Ini kok bisa gini sih?" tanya Richard bingung.


"Nggak tau, gue juga kaget pas liatnya tadi."


"Gue yakin ini pasti ulah Pak Menteri Yahya...." sahut pria blasteran itu.


Pria paruh baya itu tidak akan mungkin melepaskan bajingan yang sudah memukuli anaknya hingga sampai masuk rumah sakit dengan mudah.


Meski Pak Yahya berjanji pada anaknya Betty akan melepaskan Ardi, tapi Richard yakin kalau tidak ada seorang ayah manapun yang rela anak perempuan satu-satunya di pukuli oleh pria bajingan seperti Ardi.


Iya, ini pasti ulahnya. Richard setidaknya bisa sedikit bernafas lega karena pria itu kini tidak bisa berbuat macam-macam lagi setelah kehilangan miliknya yang dia rintis dari nol.


"Beneran itu ulahnya Pak Yahya?"


"Iya, gue yakin banget. Udahlah, Lo nggak usah beli tempat laknat itu lagi. Gue udah puas liat dia bangkrut dan gak punya apa-apa lagi sekarang!"


"Tapi gimana kalo dia masih gangguin hubungan elo sama Manda? Dia pasti bakal ngemis-ngemis ke Manda sekarang setelah kehilangan semua miliknya. Dia bakal mencari perhatiannya karena udah jatuh miskin!"


Richard terdiam dan berpikir, mungkin akan lebih baik jika dia memerintahkan seseorang untuk selalu mengikuti Amanda mulai sekarang pikirnya.


Ardi pasti akan melakukan berbagai cara untuk bisa mendekati Amanda, atau bahkan mungkin menculiknya seperti tempo hari.


"Kok Lo malah diem, sih?!" sentak Donal memukul meja kerja bosnya.


"Taii Lo! Gue lagi mikir tau!"


"Mikirin apaan sih?"


"Gue lagi berpikir buat cariin Manda bodyguard, Nal. Gue takut si sapii bakalan berbuat nekat lagi seperti waktu lalu. Gue nggak mau Manda kenapa-napa nanti."


Donal mengangguk setuju. "Bener, lebih cepet lebih baik, Chad. Kita nggak tau rencana apa lagi yang bakal tu sapii lakuin."


"Yaudah, kalo gitu Lo cari agen bodyguard yang bisa di percaya. Tapi gue maunya cewek yah, nggak ada yang cowok-cowok!"


"Hah? Serius Lo?" Richard mengangguk. "Susah tau nyari bodyguard cewek, Chad. Dimana coba gue harus nyariin."


"Ya itu urusan elo! Makanya cari dari sekarang, sana!" usir Richard menunjuk pintu ruangannya.

__ADS_1


"Ish, kalo bukan temen udah gue getok Lo!" kesal Donal setengah bergumam.


"Ngomong apa Lo barusan, hah?! Mau gue pecat Lo?!"


"Eh, enggak Bos, enggak. Ampun Bos...." sahutnya berlari keluar dari ruangan sahabat sekaligus atasannya itu.


Richard berdecak dan mengambil ponselnya di atas meja untuk menghubungi Amanda tunangannya.


"Halo...." sapa Amanda dari ujung sana.


"Ngapain Beby?"


"Lagi desain gaun, kenapa?"


"Kangen...," bisik Richard dengan nada manjanya.


"Baru juga ketemu tadi pagi sebelum ke kantor, Chad!" sahut Amanda menggelengkan kepala.


"Yah gimana, maunya ketemu kamu terus sih. Kangen 'main' juga. Terakhir dua hari yang lalu, kan?"


"Ish otak kamu tuh yah ... nggak ada kerjaan emang kamu, hm?"


"Hari ini nggak ada jadwal apa-apa. Aku kesana aja yah, temenin kamu kerja," usul Richard.


"Nggak usah, kamu kalo kesini malah aku yang nggak bisa kerja karena di gangguin kamu. Udah diem aja di kantor, aku masih harus selesein desain gaun pesanan orang!" tolak Amanda tegas.


Bukan apa-apa, tapi pria mesum yang banyak maunya itu akan terus merecokinya hingga membuat mereka malah berakhir di sofa ataupun di kamar mandi seperti sebelum-sebelumnya.


Dan kalau sudah begitu, Amanda yakin pekerjaannya akan terbengkalai karena sudah lelah meladeni pria penuh ***** itu.


"Yaudah, nanti kalo udah selesai desainnya telpon aku lagi yah? Aku kesana nanti."


"Iya. Udah yah, aku tutup dulu telponnya."


"Tunggu...," sahut Richard setengah berteriak.


"Apa lagi?"


"Kiss bye dulu."


Amanda hanya bisa menarik nafas panjang dan mengikuti kemauan pria itu sebelum akhirnya menutup teleponnya.


Hampir dua jam menyelesaikan desain gaun yang dipesan pelanggannya, seseorang terdengar mengetuk pintu ruang kerja Amanda dari luar.


Amanda bangkit berdiri dan berjalan membuka pintu, sedikit terkejut mendapati seorang wanita paruh baya tengah berdiri di depan sana. Amanda menyapanya dengan sedikit kikuk.


"Mommy...?"


"Hai sayang," sahut Tari menautkan pipi kiri dan pipi kanan pada calon menantunya.


"Sibuk, nggak?" tanyanya hangat.


"Udah enggak Mom, aku baru selesein desain gaun. Masuk dulu Mom...." ajak Amanda.

__ADS_1


Wanita yang selalu bergaya bak sosialita itu duduk dan meletakkan tas tangan mahalnya di sampingnya.


"Kalau gitu ikut mommy, yuk?"


"Kemana Mom?"


"Ke salon, mommy kebetulan udah booking buat kita bertiga hari ini."


"Bertiga?" tanya Amanda memastikan.


"Iya ... Kamu, mommy, sama Rena. Kita barengan kesana, mommy udah booking sampai tiga hari sebelum nikahan kalian. Jadi setiap hari kita bakal kesana untuk perawatan."


Apa? Setiap hari? Bagaimana pekerjaannya akan selesai kalau dia harus ke salon setiap hari? Astaga ... Amanda tidak habis pikir dengan pikiran calon mertuanya ini.


"Ayo siap-siap, Rena udah nungguin kita disana. Kasian kalo dia harus kelamaan nunggu," sambung Tari lagi tanpa beban.


Ah, mana mungkin Amanda bisa menolak ucapan wanita di depannya ini. Dengan hati yang berat Amanda pun bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi bersama Tari.


Sebelum keduanya keluar ruang kerjanya, Amanda masih sempat mengirimkan pesan singkat untuk Richard dan mengatakan untuk menjemputnya nanti di salon langganan ibunya.


Richard pasti tahu dimana tempatnya tanpa perlu Amanda mengirimkan alamat salon tersebut.


Amanda pergi menaiki mobil mewah Tari dan duduk bersamanya di kursi belakang. Wanita itu terlihat sibuk mengutak-atik ponsel berlambang buah miliknya dan mengajak Amanda berfoto.


"Ayo Manda, mommy mau posting di Instagram mommy nanti. Biar temen-temen mommy liat gimana cantiknya calon menantu mommy...."


Amanda hanya menyengir dan sedikit mendekat ke arah Tari. Emang bener tante-tante rempong, pikirnya. Apa-apa harus di foto dan di posting di media sosial.


Harus yah seperti itu? Ah ... dia saja sangat kadang berfoto. Tapi yang namanya calon menantu yang baik, emang nggak bisa kan menolak permintaan dari calon mertua?


Amanda yakin selama beberapa hari ke depan sebelum pernikahan dia dan Richard, dia pasti akan semakin dirempongi wanita ini, pikirnya.


Tanpa mereka sadari sebuah mobil hitam dengan kaca yang sangat gelap tengah mengikuti mereka dari belakang.


.


.


.


.


.


.


.


.


Udah follow IG author nggak guys?


Kalau belum follow @adamvanda yukk...

__ADS_1


Ada visual Richard dan Amanda disana... 🤗


__ADS_2