Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Menepati Janji


__ADS_3

Masuk di kamar, Amanda buru-buru menuju kamar mandi. Perutnya langsung berputar dengan rasa mual luar biasa. Wangi aroma jamu tadi masih terus terasa di hidung mancung Amanda.


"Kamu kenapa By?" Richard datang mengusap tengkuk istrinya.


"Jangan disini Chad, nanti kamu jijik."


"Jijik apa sih, kamu kan istri aku sekarang...." sahutnya masih mengusap tengkuk Amanda.


"Ini kenapa? Kok jadi muntah-muntah begini By? Perasaan tadi kamu baik-baik aja deh."


"Nggak tau, mungkin karena jamu yang mommy kasih tadi kali. Aku nggak suka sama baunya, aneh!"


Amanda kembali mengeluarkan isi dalam perutnya sampai puas. Richard masih setia disana mengusap dan menahan rambut panjang Amanda.


Dia juga ikut mengambilkan minyak angin yang selalu Tari simpan di laci lemari dalam kamar mandi, mengusapkannya ke leher dan perut rata Amanda.


Wajah tanpa cela Amanda sontak memucat dengan keringat yang membasahi dahinya.


"Udah?" Amanda menggangguk lemah. "Sini, aku gendong ke kamar."


"Eh, nggak usah. Aku masih bisa jalan Chad."


"Udah diem aja." Richard mengangkat tubuh ramping Amanda dalam gendongan ala bridal style-nya ke atas ranjang kamar mereka.


Wanita berkulit putih itu hanya bisa pasrah dan melingkarkan tangannya ke leher Richard.


"Aku bikinin teh hangat yah."


"Nggak usah, aku nggak aus. Aku mau tidur aja...," sahut Amanda lemah.


"Yaudah, mungkin kamu masuk angin By. Semalam, kan kita tidur di pinggir pantai."


"Iya mungkin."


Richard mengusap kepala Amanda, mendaratkan ciuman hangat di dahinya. Wanita itu terlihat kelelahan setelah pulang dari bulan madu mereka.


Selesai mandi, suara ketukan di pintu kamar Richard terdengar. Pria blasteran itu sedikit berlari membukanya sebelum Amanda terbangun. Istrinya tidur sangat lelap sampai tidak sadar kalau sejak tadi Tari sedang berada di depan kamar mereka, dan mengetuk pintu cukup kuat.


"Ada apa Mom?"


"Rena, Chad...."


Richard mengernyit. "Ka Rena kenapa?"


"Rena mau lahirin, ayo cepet. Kita kerumah sakit sekarang, mommy udah telpon Deryl sama Daddy."


Tari berlalu dari sana meninggalkan Richard yang masih syok di pintu kamarnya. Astaga ... dia tidak mau jika sampai dia yang harus kembali menemani kakak perempuannya itu melahirkan lagi.


Sambil memakai baju, Richard ragu-ragu mendekati Amanda yang masih tidur lelap di atas ranjang empuk mereka.

__ADS_1


"By," bisik Richard di telinga Amanda.


"Hmm...."


"Aku mau ke rumah sakit sama mommy. Ka Rena mau lahiran," sahutnya masih berbisik.


Amanda seketika membuka mata dan langsung duduk di atas ranjang. "Astaga ... ayo cepet Chad!"


"Eh, kamu udah nggak pa-pa?"


"Iya. Aku cuci muka dulu bentar."


Amanda segera beranjak dari atas ranjang dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Richard sampai terheran-heran melihat istrinya yang tadi terlihat sangat lemah, kini malah terlihat sangat bersemangat. Mungkin benar kalau wanita itu hanya kelelahan dan masuk angin saja, pikirnya.


"Chad, Manda...!" Tari berteriak dari lantai satu rumahnya sambil menahan Rena yang mulai kesakitan di kursi sofa.


Wanita itu sudah tidak mampu berjalan hingga Richard harus menggendongnya ke dalam mobil mereka.


Duduk di dekat Rena yang sedang meringis sakit, Amanda ikut deg degan melihatnya. Mungkin saat dia melahirkan nanti, dia juga akan seperti ini pikirnya.


"Cepat sedikit, Pak!" Tari mengusap-usap punggung Rena dengan tangan yang lain memegang tangan anak perempuannya.


"Aku udah nggak kuat Mom...."


"Tahan bentar lagi sayang, kita udah mau nyampe ini. Deryl udah ke rumah sakit sekarang."


Tari tahu kalau Rena masih sedikit trauma dengan kelahiran pertamanya yang tidak ditemani Deryl.


Setidaknya walau Deryl berada jauh darinya, Rena ingin Deryl bisa menemani dia walau hanya dalam sambungan panggilan video. Tapi kekecewaan malah harus diterima oleh Rena karena Deryl yang tidak kunjung bisa dihubungi saat itu.


"Nggak usah ingat-ingat yang udah lewat, Ka. Percaya aja kalo laki Lo nggak bakal ngecewain Lo lagi kali ini." Richard duduk di kursi samping kemudi sambil sesekali melihat kakak perempuannya di kursi belakang.


Dia ingin agar kakaknya bisa lebih tenang menjalani kelahiran anak keduanya. Richard yakin kalau pria yang dipanggilnya bule jadi-jadian itu akan menepati janji menemani Rena melahirkan.


Tiba di rumah sakit, mereka di sambut oleh dua orang perawat dengan kursi roda disana. Tommy sudah tiba lebih dulu, dan ikut membantu Rena turun dari mobil.


"Deryl mana Dad?" tanya wanita hamil itu.


"Bentar lagi dia nyampe, tenang aja."


Rena mengangguk dan dibawa perawat keruang bersalin dengan cepat. Wanita itu langsung di baringkan di atas ranjang untuk diperiksa.


"Udah pembukaan tujuh yah, Bu. Tahan sebentar lagi." Dokter kandungan Rena baru saja memeriksa pasiennya dan meminta perawat untuk bersiap-siap.


"Deryl mana Mom?"


"Sabar sayang, mungkin dia kejebak macet. Richard udah telpon suami kamu, tenang aja ok?"


Tari berusaha menenangkan anak perempuannya dengan mengusap lengan Rena yang tidur miring ke kiri.

__ADS_1


"Mommy yakin kalo dia bakal tepatin janjinya temenin aku lahiran Mom?"


"Iya, mommy yakin sayang. Dia suami kamu, kan. Dia cinta sama kamu dan anak kalian juga, Deryl pasti akan tepatin janjinya. Percaya sama Mommy...."


Rena mengangguk dengan perasaan berkecamuk dihati. Dia berharap Deryl tidak akan lagi mengingkari janji mereka dulu.


Berpacaran dan berhubungan dengan Deryl selama sembilan tahun hingga hamil di luar nikah, membuat Rena begitu menginginkan kehadiran prianya itu disampingnya.


"Honey...." Suara seorang pria yang sejak tadi Rena tunggu, terdengar di dalam ruang bersalin itu.


"Ryl...." Tangis kebahagiaan tidak bisa dibendung Rena saat melihat suaminya akhirnya ada disana menemani dia saat ini.


"Maaf aku telat, tadi jalannya macet." Deryl mendekati Rena dan mencium dahi istrinya.


"Mommy tinggal yah sayang...." Tari keluar meninggalkan pasangan suami istri itu.


Dia ikut bahagia melihat harapan anaknya bisa terwujud. Deryl ternyata bisa membuktikan ucapannya untuk menemani Rena melahirkan kali ini.


"Jangan nangis Honey." Deryl mengusap pipi Rena lembut.


"Sakit yah?"


Rena menggeleng. "Nggak akan sesakit dulu waktu kamu nggak ada disamping aku Ryl."


"Maafin aku Honey, aku janji akan selalu temenin kamu dan anak-anak kita mulai sekarang."


Persalinan yang memakan waktu tidak sampai satu jam itu berhasil dilakukan, Deryl menepati janjinya menemani Rena yang sekuat tenaga mengeluarkan buah cinta mereka.


Kini dia tahu bagaimana susahnya Rena dulu melahirkan anak pertama mereka tanpa kehadirannya. Sampai sekarang Deryl sangat menyesal karena tidak bisa ada disana.


.


.


.


.


.


.


.


Kalau kalian jeli disini Keith diceritain udah umur lima tahun, kan?


Nah, mereka nikah baru setahun yang lalu. Jadi Rena memang hamil di luar nikah saat keduanya masih pacaran.


Apa alasannya?

__ADS_1


Nanti kita bakal tahu di part berikutnya...


Tungguin yah 😁


__ADS_2