
"Manda mana, Chad?" tanya Donal capek berdiri dari tadi di samping sahabatnya.
Mereka sudah turun dari pesawat sejak dua puluh menit yang lalu dan menunggu di depan pintu keluar Bandara.
"Ini juga lagi gue telpon, Nal. Sabar dikit napa, sih? Udah kayak cewek-cewek lagi PMS Lo!" Richard ikut kesal melihat teman bijinya yang sejak tadi tidak berhenti menggerutu di sampingnya.
Entah panas atau lapar, Donal terus memberondonginya dengan pertanyaan-pertanyaan di mana istrinya berada saat ini.
Sejak tadi Richard tidak bisa menghubungi nomor ponsel Amanda maupun Mawar, termasuk ibu mertuanya Amel.
Perasaan pria itu makin tidak enak saat melihat mobil yang diketahuinya sebagai mobil kakak ipar dia, mendekat. Seorang pria keturunan luar negeri keluar dari dalam sana dengan raut wajah yang cemas.
"Kok elo yang jemput? Amanda mana?" tanya Richard bingung.
"Ayo, masuk dulu. Nanti gue jelasin di dalem."
Deryl membuka bagasi belakang mobilnya, membantu dua pria itu memasukkan koper mereka.
"Buru-buru amat, sih?" goda Donal pada kakak ipar sahabatnya yang dikenal suka reseh pada mereka.
Deryl hanya diam dengan tatapan kosong, pria itu sedang memutar otak harus berkata apa pada Richard tentang keadaan Amanda sekarang.
"Ayo naik!" Deryl berputar masuk ke kursi kemudi bersiap membawa mereka ke rumah sakit.
"Kenapa, sih, Ryl?" tanya Richard penasaran melihat Deryl tidak membalas ucapan Donal tadi.
Biasanya pria itu akan balas mengejek sahabat-sahabatnya jika mereka menggoda pria yang dipanggilnya bule jadi-jadian.
"Amanda mana, Ryl?" tanya Richard lagi.
"Kita ke rumah sakit dulu, Chad." sahut Deryl fokus membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Dua biji itu mengernyit. "Ngapain ke rumah sakit? Emang siapa yang di rawat?" tanya Donal lebih dulu.
Deryl kembali diam, mungkin akan lebih baik untuk Richard tahu saat mereka sudah tiba pikirnya.
Beruntung jalanan saat itu tidak macet, mereka tiba di rumah sakit hanya dalam waktu lima belas menit saja.
"Lo belum jawab pertanyaan gue dari tadi, Ryl?!" tahan Richard saat pria itu akan keluar dari mobil. Entah mengapa sikap Deryl tidak seperti biasanya.
"Ikut gue aja, Chad. Ayo!" desak Deryl melepaskan tangan Richard dari lengannya. Suara pria itu terkesan memaksa walaupun tidak bernada tinggi.
Baik Richard maupun Donal dibuat bingung dan bertanya-tanya oleh sikap Deryl yang terkesan dingin. Mereka terpaksa ikut turun mengikuti pria itu dari belakang.
Masuk ke dalam ruang IGD perasaan Richard makin tak menentu, ada rasa tidak nyaman yang tidak bisa dia ungkapkan, apalagi melihat ibu dan ayahnya yang saling berpelukan dan menangis di depan sana. Richard merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Tapi apa?
"Mommy...," panggil Richard mendekati wanita paruh baya itu. Pandangannya mencari sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa semua pada ngumpul disini?" tanyanya lagi saat melihat keluarga besarnya dan Amanda ada disini. Tapi dia tidak melihat sosok Istrinya, sosok yang sudah begitu dia rindukan.
Dimana Amanda? Dimana wanita itu? Sebenarnya apa yang terjadi? Rasa takut mulai meliputi Richard, kecemasan jelas terlihat di wajahnya.
"Chad...." Panggilan Tari menarik pikiran Richard yang sedang menerka-nerka.
Tari memeluk anak laki-lakinya dengan air mata yang mengalir deras. Dadanya mulai kembang kempis karena rasa sesak yang sudah tidak bisa dia kendalikan lagi.
"Kok nangis, Mom? Ada apa sih? Kok malah pada kumpul-kumpul disini?" tanya Richard menatap semua yang ada di sana disela pelukan Tari.
Keluarganya tidak ada yang berani menatap Richard dan hanya tertunduk di depannya.
"Kamu yang sabar yah, Sayang," ucap Tari dengan bibir yang gemetar di sela Isak tangisnya.
Tangannya tanpa henti mengusap punggung bidang Richard, berusaha memberi penguatan akan sesuatu yang belum bisa dia sampaikan.
Masih dalam suasana yang membingungkan, dokter keluar dari dalam ruang IGD dengan wajah yang tak terbaca.
"Suami, ibu Amanda sudah datang?" tanya dokter Brian yang menangani wanita berkulit putih mulus itu.
"Amanda? Kenapa sama Amanda, Mom?" tanya Richard melepaskan pelukan mereka. Menatap manik penuh linangan air mata.
"Amanda kecelakaan, Chad," sahut Tommy lebih dulu. Dia tahu istrinya tidak sanggup menjawab pertanyaan putra mereka.
"A-apa? Aa-amanda—" Richard tidak sanggup menyelesaikan ucapannya. Tubuhnya mematung, menolak semua yang baru saja dia dengar.
Richard memberanikan diri menatap wajah ayahnya, mencari kebohongan dalam pria yang kini terlihat rapuh. Tapi sayangnya, semua orang kini menatapnya penuh iba.
Richard mengalihkan pandangannya, menatap dokter yang dari tadi hanya diam saat keluarganya menyampaikan kabar tidak enak.
"Maaf, Pak. Tapi kami tidak bisa menyelamatkan bayi kalian, Ibu Amanda kehilangan banyak darah saat dibawa kemari. Sekarang keadaannya pun masih kritis, kami masih menambah transfusi darah dari ibu kandungnya untuk istri Bapak," terang Dokter Brian penuh sesal karena harus menyampaikan kabar ini.
Amel tengah berada di dalam untuk mendonorkan darah miliknya. Wanita itu memaksa ingin menjadi pendonor untuk anaknya.
Mata Richard terbelalak lebar, menajamkan telinga sekali lagi. "Ba-bayi? Maksud Dokter, istri saya hamil?"
Kabar sebelumnya saja hampir membuat dirinya berhenti bernafas, ini ada apa lagi? Dokter itu mengatakan istrinya hamil dan bayi mereka—bayi mereka tiada?
Richard terhuyung ke belakang hingga punggungnya membentur dinding. Dia sudah tidak kuasa lagi membendung air matanya. Dunianya seketika runtuh.
"Nggak, ini nggak mungkin. Ini semua pasti salah." Suara Richard nyaris seperti gumaman, tapi semua orang yang ada di sana dapat mendengar suaranya yang lirih dengan jelas.
"Ini nggak mungkin," gumamnya lagi dengan kedua telapak tangan merangkum wajah. Tubuh pria itu mulai bergetar hebat.
Tubuh Richard melorot hingga bersimpuh di lantai. Menangis meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
Dokter Brian mengernyit menatap Tari dan Tommy yang diketahuinya sebagai mertua dari Amanda. Apa suaminya sendiri tidak tahu? Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Iya, Chad. Istri kamu lagi hamil sekarang, kami rencananya mau kasih kamu surprise setelah kamu pulang dari Kalimantan. Tapi kami nggak nyangka kalo Amanda dan Mawar malah kecelakaan pas mau jemput kamu ke bandara," sahut Tari dengan suara lembutnya.
Suara kesedihan terdengar memenuhi lorong IGD itu, Richard menangis menumpahkan rasa sakit dan sesak di hatinya.
Ternyata apa yang dia rasakan semalam sejak Amanda bertanya hal yang tidak masuk akal padanya, benar terjadi. Istrinya seakan ingin berpamitan pada Richard di saat mereka tengah berjauhan seperti kemarin.
Semua keluarga Richard dan Amanda ikut menitikkan air mata melihat ketidakberdayaan pria blasteran itu. Bahkan Donal ikut menangis tidak tega melihat sahabatnya ditimpa musibah seperti ini.
"Maaf, Pak. Tapi saya ingin menginformasikan kalau ibu Amanda masih harus dirawat intensif di ruangan ICU. Ada kemungkinan ibu Amanda akan mengalami koma setelah ini, mohon Bapak dan keluarga selalu siap dengan berita yang tidak terduga." Dokter Brian masih berdiri di sana memberitahukan hasil observasinya setelah berhasil menyelamatkan nyawa Amanda.
Tangisnya berhenti, Richard langsung berdiri dan mencengkeram bahu dokter Brian erat dengan terus mengguncangnya. "Maksudmu apa berkata begitu Dokter?!"
Tidak, Amanda harus baik-baik saja! Amanda tidak boleh pergi.
Richard melepaskan cengkeramannya, mundur satu langkah dengan tangan mengacung. "Istri saya akan tetap hidup! Jika dia sampai kenapa-napa, Dokter yang akan bertanggung jawab dan rumah sakit ini!"
Dia tidak suka pria dengan jubah putihnya itu berbicara seakan-akan Amanda bisa kapan saja meninggalkannya. Richard tidak terima dan tidak akan rela, Amanda harus tetap hidup apapun caranya pikir Richard.
"Chad, udah. Nggak usah marah-marah begitu sama Dokter, dia juga lagi berusaha semampunya buat nolong Amanda. Kamu mesti tenang, kita juga semua yang ada disini sedih lihat kondisi Amanda, Chad...," bijak Tari mengingatkan anaknya.
"Aagrhhhh…! Amanda harus baik-baik aja, Mom! Kalo gak Richard yang bakal susul Amanda kemanapun dia pergi!" ancamnya.
Pria itu mendengus marah berlalu dari sana, dia butuh udara segar saat ini juga. Richard masih syok, tidak menyangka kejadian menyakitkan ini menimpa keluarga mereka.
Baru saja kebahagiaan itu mereka raih dan kini harus terenggut oleh kejadian seperti ini? Richard ingin sekali menyalahkan Yang Punya Hidup karena sudah membuat Amandanya menderita di dalam ruang rumah sakit itu.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia sudah kehilangan buah cintanya dan Amanda, Richard tidak mau jika harus kehilangan wanita berharga di hidupnya lagi.
Richard meringkuk di samping dinding rumah sakit, kembali menangis. Dadanya semakin sesak sekarang, jika bisa memilih lebih baik dia melarang Amanda menjemputnya tadi.
Sekarang Richard malah harus dihadapkan dengan kenyataan pahit seperti ini. Pria itu merutuki dirinya sendiri sembari menumpahkan semua rasa di hatinya dalam tangisan sendu sore itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1