
"Aku pulang...." Richard masuk ke dalam apartemennya dan duduk dengan malas di kursi sofa dalam ruangan.
"By...," panggilnya.
"Iya, bentar...."
Amanda keluar dari dapur membawa segelas teh hangat untuk suaminya. Kegiatan ini sudah mulai dia biasakan semenjak mereka pulang dari bulan madu.
"Minum dulu, Chad." ujarnya menyodorkan gelas.
"Makasih By." Richard mengambil dan meminumnya dalam satu tegukan besar.
"Ya ampun, Chad. Masih panas loh itu," kaget Amanda melihat kelakukan suaminya.
"Gak, udah enggak." sahut Richard meletakkan gelasnya di atas meja.
"Capek yah?"
"Iya, tadi aku rapat cuma sendiri. Donal minta izin ketemu mamanya," sahut Richard tidak bersemangat.
"Mau aku pijitin gak?" tawar Amanda.
"Boleh. Tapi emang kamu gak capek, By?"
"Enggak, aku gak pernah capek kalo buat suami aku."
"Aww ... udah makin pinter yah sekarang mulutnya," sahut Richard tersenyum senang.
"Belajar dari siapa dulu...." kekeh Amanda mulai memijit pundak pria blasteran itu.
"Gimana keadaan butik, By?"
"Baik, semua lancar-lancar aja, Chad."
"Baguslah, mungkin lusa aku bakal ke Kalimantan, By. Ada beberapa kerjaan yang harus aku cek langsung. Mau ikut gak?"
"Gak ah, aku masih capek. Nanti aja kalo mau kesana lagi baru aku ikut!" tolak Amanda masih belum mau naik pesawat lagi dalam waktu dekat ini.
"Yah, padahal aku pengennya kamu ikut, By...."
"Kenapa emangnya?"
"Gak pa-pa, aku cuma pengen bulan madu lagi sama kamu," kekeh Richard menyeringai nakal.
"Ish, bulan madu mulu kamu! Tiap hari minta jatah, masih belum puas juga emangnya?!" sahut Amanda masih memijit pundak suaminya.
"Enggak. Hal begituan gak akan pernah puas, By. Itu kebutuhan, sama kayak makan. Kalo gak makan sehari, asam lambung langsung naik. Sama kayak burung aku, sehari gak masuk sarang. Kelaparan terus dia gak bisa tidur...." canda Richard tertawa terbahak, duduk membelakangi Amanda.
Memutar bola mata malas, Amanda hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan tidak berfaedah suaminya. Untuk hal seperti itu, Richard memang paling jago pikirnya.
"Oh yah, Chad-"
"Apa? Mau main?" potong Richard cepat.
"Ish, main mulu kamu. Baru juga nyampe!" kesal Amanda mencubit pinggang pria itu.
__ADS_1
"Aduh, sakit By...." rengek Richard.
"Makanya otak kamu dibenerin dulu! Mikirnya gak pernah jauh-jauh dari hal begituan!"
"Yah gimana dong, dari awal kita deket aja, kan kegiatannya cuma itu doang. Jadi kalo gak begitu, berasa ada yang kurang gitu loh."
Amanda berdecak menghentikan pijatannya di pundak Richard. "Aku serius, Chad!"
"Iya, iya ... jangan marah. Nanti seksinya ilang lagi," canda Richard berbalik cepat menghadap istrinya.
"Tuh, kan. Baru juga dibilangin! Dasar otak mesumm kamu!"
"Mesumm tapi suka, kan?" Richard tertawa menggelitik pinggang Amanda hingga wanita itu ikut tertawa bersamanya.
Sore menjelang malam itu dihabiskan keduanya bercanda dan saling meledek satu sama lain. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah dari ini pikir mereka.
"Udah Chad, perut aku udah sakit ini ketawa terus daritadi."
"Iya. Kamu mau ngomong apa tadi?"
"Peluk dulu...," pinta Amanda manja.
"Aku masih bau, belum mandi Beby."
"Nggak pa-pa, aku tetep suka kok bau kamu."
Richard tersenyum menarik Amanda mendekat padanya. "Sini, awas kalo bilang gak tahan karena bau yah?!"
Amanda tertawa dan merapatkan diri ke dekat suaminya. Menyandarkan kepalanya ke dada bidang Richard, hati Amanda seketika menjadi hangat dan tentram.
Kedatangan dia juga tadi pagi di kantor Richard karena ingin memeluk dan membaui pria itu. Amanda juga bingung kenapa dia jadi aneh begini, padahal mereka belum sampai dua jam berpisah dan dia sudah sangat merindukan suaminya.
"Kamu berapa lama mau pergi nanti?"
"Mungkin paling lama sampe lima hari, kenapa?"
"Kok lama banget, aku pikir cuma satu hari kamu perginya."
"Astaga ... mana ada orang pergi kerja cuma satu hari, By. Ini di luar pulau loh, kerjaan aku sedikit banyak disana. Nggak mungkin juga bisa selesai dalam satu hari."
Amanda mengerucutkan bibir membuang nafas panjang.
"Kenapa sih?" tanya Richard mendengar desahann nafas panjang istrinya.
"Kangen nanti aku, Chad...." rengek Amanda mulai berkaca-kaca.
"Eh, kamu bisa ngomong kangen juga yah?" goda Richard makin membuat mata Amanda memerah dan mulai menangis.
"Loh kok malah nangis, By?" Richard mengangkat kepala Amanda dari dadanya dan mengusap pipi wanita itu.
Amanda sudah menangis sesenggukan di sampingnya.
"Kamu jahat! Aku bilang bakal kangen malah dianggap becanda! Aku benci sama kamu!" Amanda menepis tangan Richard dari pipinya.
"Astaga Beby, iya sorry. Maafin aku kalo candaan aku udah kelewatan."
__ADS_1
"Nggak, aku nggak mau maafin kamu! Kamu jahat!"
Amanda sudah duduk menjauh dari suaminya, dan masih menangis sakit hati disamping Richard.
"Aku cuma becanda, By. Maaf yah, jangan marah dong." bujuknya mendekati Amanda dan mengelus kepalanya lembut.
"Jangan pegang-pegang!" Amanda menepis lagi tangan kekar Richard. "Aku nggak mau kamu deket-deket aku, sana...!" usirnya mengibaskan tangan.
Richard memilih duduk agak menjauh daripada Amanda kembali marah padanya.
"Tuh, kan kamu emang jahat. Kamu malah duduk jauh-jauh dari aku!" Amanda kembali menangis, merengek seperti anak kecil.
"Lah katanya tadi gak mau deket-deket, kok sekarang malah marah aku duduk jauhan, By?" sahut Richard serba salah.
"Nggak mau! Kamu udah gak sayang sama aku lagi, kamu jahat!"
Astaga ... Richard jadi kesal sendiri dalam hati. Tadi mereka baru saja bercanda dan sekarang Amanda malah menangis tidak jelas di sampingnya.
Perasaan Amanda gak pernah gini deh selama ini, kenapa jadi aneh begini sih dia? Richard mengalah dan perlahan mendekati istrinya yang masih menangis itu.
"Udah dong, jangan nangis, By. Akukan tadi cuma becanda. Aku juga nanti bakal kangen kok sama kamu, nanti kita sering video call yah biar kangennya gak terlalu berasa...," bujuk Richard.
Amanda mendongak dengan mata merah dan hidung sembabnya. "Yaudah, tapi kamu gak boleh lama-lama disana yah, Chad. Kalo aku telpon, langsung diangkat! Awas aja kalo banyak alesan!"
"Iya, iya ... kalo aku gak sibuk aku pasti angkat."
"Janji yah?" Amanda mengulurkan jari kelingkingnya ke depan Richard.
"Eh, pake gini juga?" kagetnya tidak percaya Amanda sampai meminta dia berjanji layaknya janji anak kecil.
"Iya, cepetan!"
Mau tidak mau Richard pun menautkan jari kelingkingnya bersama Amanda. Wanita itu sontak tersenyum kegirangan dan dalam sekejap mata, langsung berhenti menangis.
"Makasih sayang...." Amanda tersenyum dan kembali memeluk suaminya bahagia.
Astaga, istri gue kenapa jadi aneh begini sih? Gumam Richard membalas pelukan Amanda.
.
.
.
.
.
.
.
.
Belum ada adegan main dulu yah guys... 🤭😆
__ADS_1