Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Rena dan Deryl


__ADS_3

"Selamat Pak, Bu ... anaknya perempuan dan sempurna."


Tangis bahagia kembali membanjiri wajah Rena dan Deryl. Sejak tadi pria berkewarganegaraan asing itu terus menangis tidak mampu melihat bagaimana istrinya sedang menahan sakit dan sekuat tenaga berusaha mengeluarkan anak kedua mereka.


Deryl terus mendaratkan kecupan-kecupan cintanya di wajah Rena, sembari memberi semangat disamping wanitanya.


"Kita IMD dulu yah, Bu Rena."


Dokter kandungan yang membantu persalinan Rena meletakkan anak perempuannya ke atas dada wanita itu secara tengkurap, sebagai bentuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD).


Sentuhan langsung antara kulit ibu dan kulit bayi ini dipercaya bisa memperbaiki tingkat oksigen pada bayi, mengurangi tangisan, memperbaiki tidur dan ASI untuk bayi, serta mengatur tekanan darah dan kadar hormon Ibu.


Rena pun menyelimuti bayi perempuan mereka dibantu suaminya Deryl, dan mulai mengusapnya lembut.


"Cantik banget Honey, mukanya kayak kamu."


Deryl kembali mencium dahi Rena, hatinya bahagia melihat anak dan istrinya dalam keadaan yang sehat.


"Mau dikasih nama apa, Ryl?"


"Amore...."


"Amore?"


"Iya. Amore artinya cinta, kan. Ini buah cinta kita yang lahir dengan penuh cinta juga. Aku pengen kita selalu ingat dengan rasa cinta dihati kita, melalui kehadiran anak-anak kita Honey."


Rena tersenyum bahagia mendengar ucapan Deryl. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain dicintai dengan tulus oleh orang yang kita cintai juga.


Setelah semuanya selesai, Rena dibawa keruang perawatan bersama bayinya yang diletakkan di dalam box kaca.


Keluarga besar dari sebelah menyebelah sudah menunggu mereka di dalam sana. Sedikit memberikan kejutan untuk ibu yang baru melahirkan itu, ruang perawatan Rena telah penuh dengan bunga dan balon-balon cantik, serta boneka untuk bayi perempuannya.


"Selamat yah sayang...." Tari mendekat dan memeluk Rena yang duduk agak bersandar di ranjang rumah sakit.


"Makasih Mom."


"Siapa nama bayinya, Ka?" tanya Amanda mendapat giliran memeluk keponakan barunya itu.


"Amore namanya...."


"Wah ... namanya cantik banget kayak orangnya," puji Amanda mengelus pipi lembut bayi yang masih merah itu.


"Nanti kita bikin yang lebih cantik lagi dari ini By, tenang aja." Richard datang merangkul bahu Amanda, menggoda istrinya.


"Emang bisa?" cibir Deryl yang mendengar ucapan Richard barusan.

__ADS_1


"Bisalah, punya gue kan bibit unggul."


"Gaya Lo!"


"Udah, udah ... kalian ini nggak pernah bisa akur kalo ketemu!" Tari menyela pembicaraan anak dan menantunya sebelum makin berlanjut dan membuat telinganya sakit.


Hingga saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, semua keluarga Rena dan Deryl pun pamit meninggalkan pasangan suami istri itu di rumah sakit.


"Keith yakin mau tidur disini?"


"Iya Auntie. Keith mau disini aja jagain ade bayi."


"Yaudah, tapi nanti jangan gangguin ade sama mommy kalo lagi tidur yah Keith? Kasian, mereka musti banyak tidur biar bisa cepet main lagi sama Keith."


"Ok Auntie," sahut anak tampan berumur lima tahun itu.


"Makasih yah Manda, udah bantu jagain Keith tadi." sela Rena yang sejak tadi mendengar pembicaraan anak dan adik iparnya.


"Iya sama-sama Ka Rena. Kita pulang dulu yah, nanti besok kita kesini lagi."


"Iya hati-hati. Bawa mobilnya pelan-pelan Chad!" sahut Rena mengingatkan adiknya.


Dua pasangan suami istri yang baru pulang bulan madu itupun pergi meninggalkan keluarga yang tengah berbahagia karena ketambahan satu anggota baru.


Suasana sontak menjadi sepi dengan Keith yang mulai mengantuk duduk di dekat box adiknya.


"Yes Dad."


"Sini Daddy peluk."


"Nggak mau, Keith bukan ade bayi. Kata grandma Keith nggak boleh tidur di peluk lagi, malu sama ade Amore."


Deryl dan Rena saling menatap dan tersenyum, anak mereka sudah lebih besar dan mandiri sekarang. Terbukti dari bagaimana Keith tidur sendiri di atas sofa tanpa ditemani orang tuanya lagi.


"Udah tidur?" tanya Rena.


"Iya."


"Kamu nggak tidur?"


"Bentar lagi, aku masih mau temenin istri aku dulu." Deryl mendekat dan tidur di samping Rena.


Untung saja ranjang rumah sakit ini cukup besar hingga dua orang itu bisa saling memeluk satu sama lain diatasnya.


"Makasih yah Honey...."

__ADS_1


"Makasih buat apa?"


"Makasih karena udah jadi wanita kuat buat keluarga kita." Deryl mengusap punggung Rena lembut.


"Makasih karena udah mau maafin dan terima aku waktu itu, makasih karena tetap setia dampingin aku sampe ini, dan makasih karena udah lahirin anak-anak yang ganteng dan cantik untuk aku...."


Mendengar ucapan Deryl membuat hati Rena menghangat. Pria yang pertama kali bertemu dengannya saat keduanya berlibur ke negara asal Tommy di Jerman, adalah pria pertama yang mampu membuat dada Rena bergetar hingga detik ini.


Awal pertemuan mereka pun terbilang cukup ekstrim, Deryl sempat menolong Rena yang waktu itu hampir menjadi korban perampokan saat mobil yang dia bawa mogok di jalan yang sepi.


Sempat bertarung dengan para perampok yang berjumlah tiga orang, Deryl mampu menumbangkan mereka dan membawa Rena pergi meninggalkan tempat itu.


Dari sanalah awal mulai benih-benih cinta itu tumbuh hingga keduanya sepakat menjalin hubungan selama beberapa tahun, sampai Rena hamil di luar nikah.


"Aku minta maaf karena nggak temenin kamu waktu itu Honey, sampe sekarang aku selalu menyesal udah lewatin hal berharga dan momen terpenting itu dalam keluarga kita, hanya karena ambisi aku ingin sukses dulu sebelum kita menikah. Aku egois, karena nggak mikirin perasaan kamu dan Keith. Aku-"


"Ryl...." Rena memotong ucapan suaminya, menatap pria itu dalam.


"Aku udah maafin semuanya Ryl, itu udah lama lewat. Hal itu justru bikin kita sama-sama dewasa, kan? Sekarang keluarga kita udah main kuat, cinta kita juga udah makin besar satu sama lain. Kamu nggak usah nyesel atau apapun lagi, aku dan anak-anak kita masih milik kamu."


Bulir kristal kembali jatuh dari pelupuk mata Deryl, entah sudah berapa kali hari ini dia menangis bahagia karena mencintai wanita sehebat Rena.


Tidak ada yang bisa membalas kebaikan wanita itu, yang mau menerima kesalahan dia di masa lalu karena terlalu sibuk dengan bisnisnya.


Deryl sekarang sadar, kalau harta duniawi hanyalah pilihan nomor dua untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Hadirnya Rena dan anak-anak mereka adalah harta yang paling berharga dan terutama dalam hidupnya yang sepi.


Sejak kecil Deryl sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya yang bercerai, dan memaksa dia untuk menjadi anak yang mandiri dan tidak boleh lemah.


Hingga dalam umurnya yang masih muda, Deryl sudah terbilang cukup sukses dalam mengembangkan bisnis yang dia rintis dengan susah payah.


Hal itu menjadikan Deryl begitu terobsesi dengan bisnisnya, hingga tidak sadar dia hampir saja kehilangan harta terbesarnya dalam hidup.


"Makasih honey, aku mencintaimu...."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Satu pelajaran dalam kisah ini yaitu, keluarga lebih penting dari hal apapun juga...


__ADS_2