
"Anak Mama...." Amel datang memeluk Amanda yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Ibu dan anak itu sontak menangis, melepaskan segala rasa dihati keduanya.
"Mama, mama baik-baik aja, kan?"
"Mama bakal baik-baik aja kalo anak mama juga baik-baik aja, Manda. Makasih udah kembali sama kita semua disini...." Amel masih memeluk anak perempuannya penuh kerinduan.
Mendapatkan telepon dari Richard tadi membuat wanita itu sangat terkejut. Penantian dan doa-doanya selama ini ternyata membuahkan hasil yang begitu indah.
Yang Empunya Hidup ternyata mendengar rintihan dan keluh kesah seorang ibu setiap malam, pikir Amel.
"Kamu mesti banyak istirahat abis ini, Manda. Kamu harus cepet sembuh biar bisa pulang ke rumah, berkumpul sama suami kamu lagi."
"Iya, Ma. Makasih udah doain Amanda selama ini."
Amel melepaskan pelukan mereka, duduk di tepi ranjang rumah sakit. "Kamu anak mama, doa mama akan terus ada buat kamu, Nak. Kamu udah jadi wanita yang luar biasa kuat. Mama yakin kamu pun akan makin kuat lagi kedepannya."
Hati Amanda menghangat mendengar ucapan ibunya, pikirannya langsung teringat dengan buah hati dia dan Richard yang kini sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa aku bisa hamil lagi, Ma?"
Amel tersentak mendengar pertanyaan tiba-tiba Amanda padanya. Sepertinya anaknya sudah mengetahui tentang berita ini, pikir Amel.
"Kamu kok nanyanya begitu, sih Sayang? Tentu aja kamu bisa hamil lagi. Kamu wanita yang sehat. Kamu hanya kecelakaan, bukan nggak bisa hamil Sayang...."
"Richard pasti kecewa sama aku, Ma. Aku nggak bisa jagain anak kita." Amanda mulai menangis, menyalahkan dirinya.
Sejak mengetahui tentang anak mereka, Amanda malah berpikir kalau semua itu adalah kesalahannya.
Kalau saja dia tidak pergi ke bandara waktu itu, mungkin sekarang mereka tengah menunggu kehadiran anak mereka dengan bahagia. Richard pasti sedang menemaninya ke rumah sakit untuk check up, pikir Amanda.
"Astaga Amanda ... kamu kenapa mikir kayak gitu? Ini bukan salah kamu Sayang, ini udah jalan kalian berdua. Semua yang terjadi udah seizin Yang Diatas, kita sebagai manusia hanya perlu menjalaninya dengan sabar. Mama tahu kamu wanita yang kuat, masalah seperti ini pasti bisa kalian lewatin dengan baik." Amel mengambil tangan anaknya, mengusap punggung tangan itu dengan lembut.
"Richard selalu jagain kamu selama ini Sayang, dia bahkan udah makin kurus sekarang. Kamu liat sendiri, kan gimana suami kamu tadi? Jangan nyiksa diri kamu sama Richard dengan pikiran kamu itu Sayang. Ingat kalo ada suami dan keluarga kamu yang bakal selalu disini mensupport kamu tiap saat," sambung Amel mencoba memberi semangat untuk Amanda.
Tidak ada seorang ibu yang tega melihat anaknya sedih seperti ini termasuk Amel. Wanita itu tahu bagaimana perasaan Amanda yang pasti terus menyalahkan dirinya, hingga dia harus kehilangan anak dia dan Richard.
"Bener yang dibilang mama kamu Amanda...." Tari datang mendekati dua wanita yang tengah menangis itu.
Sejak tadi dia sudah mendengar keluh kesah anak menantunya yang sepertinya takut mengecewakan Richard dan mereka sebagai keluarganya.
__ADS_1
"Mommy...." Amanda tersenyum dengan hati yang sesak menatap ibu mertuanya duduk di tepi ranjang sebelah kirinya.
"Kamu boleh nangis, tapi inget ... kesedihan yang berlarut-larut hanya akan bikin hati kamu makin sakit Sayang. Semua udah terjadi, kita nggak perlu menyesalinya lagi. Takdir dan jalan hidup masing-masing kita udah diatur sama Yang Diatas, kamu bisa kumpul sama kita lagi udah merupakan kebaikan yang tak terhingga dari Dia. Jangan nyalahin diri kamu lagi untuk sesuatu yang bukan kesalahan kamu...."
Amanda mengangguk dengan air mata berlinang. Mendapatkan keluarga yang selalu mendukungnya seperti ini membuat wanita itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Amanda bersyukur karena baik Richard maupun keluarga mertuanya, tidak mempermasalahkan dirinya yang kecelakaan dan harus kehilangan anak dan cucu mereka.
"Sekarang kamu fokus sembuh dulu, mommy udah nggak sabar bawa kamu pulang ke rumah. Kita bakal adain syukuran buat kesembuhan kamu." Tari tersenyum lembut, mengusap air mata dipipi menantunya penuh cinta.
"Iya, Mom. Makasih selalu support (dukung) Amanda selama ini, mama juga ... aku sayang kalian." Dua wanita paruh baya itu kompak mengangguk dan memeluk Amanda dari samping kanan dan kiri.
Mereka hanya ingin Amanda berhenti berpikir yang tidak-tidak dan terus menyalahkan dirinya. Bagi mereka, kesembuhan dan kembalinya Amanda pada mereka adalah hal yang paling penting dan berharga.
Richard belum lama berdiri di dekat pintu melihat adegan penuh haru di dalam sana. Pria itu bersyukur dikelilingi orang-orang yang sangat baik. Amanda nya pasti akan segera sembuh dan tidak akan terus larut dalam kesedihannya karena kehilangan anak mereka.
Richard yakin kalau istrinya perlahan akan bisa menerima semua yang sudah terjadi pada keluarga kecil mereka.
"Gimana perasaan kamu, Chad?" Tommy mendekati anak laki-lakinya yang diam sejak tadi.
"Aku? Aku bahagia, Dad...," sahut Richard tanpa beban.
Tommy mengangguk, menepuk pundak anaknya. "Daddy tahu kamu pasti kuat, Daddy bangga sama kamu, Chad!"
"Makasih, Dad. Aku juga kuat karena bantuan Daddy sama mommy...."
Keluarga yang tengah diliputi kebahagiaan itu berkumpul di dalam ruang perawatan VVIP, di mana tempat itu menjadi saksi bisu bagaimana Richard berusaha kuat dan sabar melewati hari-hari terberatnya dalam hidup.
Kini masa-masa penuh air mata itu sudah lewat, Richard siap menyambut hari bahagianya lagi bersama Amanda, dengan hati dan cinta yang semakin kokoh satu sama lain.
Richard berjanji akan terus berada disamping Amanda, menemani wanita itu hingga mereka dipisahkan oleh waktu.
"Kamu tahu, Chad...."
"Apa?"
"Selama aku tidur, aku selalu denger suara kamu manggil-manggil aku...."
"Oh, yah?"
"Iya, aku sampe denger gimana kamu ceritain curhatan kamu tentang hubungan kita."
__ADS_1
Richard tersenyum memeluk wanitanya di atas ranjang rumah sakit. "Jadi kamu udah sadar waktu itu?"
"Iya, tapi aku masih lemah banget, Chad. Aku nggak mampu buka mata aku, aku cuman bisa gerakin jari-jari tangan aku aja buat nunjukin kalo aku denger semua apa yang kamu ceritain sama aku." Amanda jadi ingat bagaimana pria itu terus berkata mencintainya dan tidak ingin berjauhan sedikitpun dengan dia.
"Saat itu aku pengen banget meluk kamu dan bilang kalo aku nggak bakal kemana-mana, aku masih ada disini sama kamu Sayang ... aku sakit banget nggak bisa bangun trus bikin kamu tenang, aku—"
"Beby...." potong Richard menarik dagu runcing Amanda.
"Semua udah lewat, kamu udah disini sama aku aja, udah bikin aku luar biasa seneng, By. Tugas kamu sekarang cuma cepet sembuh, trus bikin aku bahagia."
Amanda tersenyum mendekatkan bibirnya ke bibir Richard. Ciuman hangat penuh kerinduan itu berlangsung cukup lama hingga Richard melepaskan pagutan bibir mereka sepihak.
"Kenapa?" tanya Amanda tidak rela.
"Nggak usah diterusin, By. Bahaya...!"
"Bahaya?"
"Iya, nanti biji aku minta disayang...." Amanda berdecak, tertawa geli dalam dekapan tubuh kekar suaminya.
Tawa kebahagiaan langsung terdengar memenuhi ruangan itu hingga keduanya larut dalam tidur paling nyenyak sepanjang beberapa Minggu ini.
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya,,
Kebahagiaan kembali pada pasangan ini,
yah 🤗
__ADS_1