Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Ayah dan Anak


__ADS_3

"Gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Richard mendekati Dokter Brian.


"Belum ada perubahan yang berarti, Pak. Maaf...," sahut dokter itu ikut prihatin.


Richard mengangguk, meninggalkan dokter Brian dengan hati yang sedih. Terhitung sudah dua Minggu lebih semenjak kejadian menyakitkan yang menimpa istrinya, Amanda belum juga mau membuka mata.


Pria blasteran itu masih setia menunggu di rumah sakit bersama Amanda. Bahkan Richard meminta ibunya membawakan sebagian barang-barang Amanda, demi untuk mengobati rasa rindunya pada istrinya.


Setiap malam Richard akan tidur memeluk baju Amanda hingga pagi. Dia bahkan menyemprotkan parfum khusus yang selama ini Amanda pakai, yang dibuatkan hanya untuknya. Richard berharap dengan begitu, dia bisa merasakan kehadiran istrinya di sampingnya.


"Chad," panggil Tommy baru saja masuk ke ruangan VVIP rumah sakit.


Richard mendongak, melihat siapa yang datang. "Yes, Dad?"


"Kamu udah makan?"


Richard membuang nafas panjang, jengah dengan pertanyaan yang itu-itu saja untuknya. Semua keluarganya maupun Amanda setiap kali tiba di sana, selalu bertanya hal yang sama padanya.


Richard sampai lelah sendiri menjawab pertanyaan yang sama dari mereka, dan terkadang berbohong mengiyakan ucapan dari mereka semua agar lebih tenang.


"Pasti belum, kan? Ayo sini, makan sama Daddy." Tommy duduk di dekat Richard berada.


Pria itu meletakkan ayam goreng mentega kesukaan Richard sejak kecil di atas meja. Wangi aroma khas makanan itu langsung menyeruak masuk ke indera penciuman Richard. Perutnya seketika langsung berbunyi nyaring minta diisi.


"Tadi Daddy singgah beli ini dulu baru kesini. Daddy yakin kamu belum makan dari siang."


"Thanks, Dad," sahut Richard tulus.


"Iya, makan dulu." Tommy menyodorkan sepotong ayam mentega beserta nasi di piring, ke hadapan Richard.


Pria itu menyambutnya dengan tidak sabar, dan buru-buru memakannya dengan lahap.


Tommy tersenyum bahagia melihat anak penerusnya makan hingga tiga kali tambah. Ternyata usahanya untuk membuat Richard mengisi perutnya, berhasil juga pikir Tommy.


"Perusahaan gimana, Dad?" tanya Richard membuka suara setelah keduanya selesai makan malam.

__ADS_1


"Baik-baik aja, kamu nggak perlu khawatirin itu. Semua pemegang saham bisa ngertiin keadaan kamu saat ini."


Richard mengangguk, merasa bersyukur ayahnya masih mau membantu dia disaat-saat seperti ini.


"Daddy pasti udah capek...."


"Nggak, Daddy masih kuat buat keluarga Daddy!" sahut Tommy menunjukkan lengannya yang berotot.


Richard tertawa geli melihat tingkah Tommy yang kadang bisa melucu untuk menghiburnya, terlepas dari sikap dia selama ini yang begitu keras menentangnya menjadi pelukis.


"Makasih, Dad."


Tommy terdiam menurunkan tangannya. "Makasih buat apa? Kamu anak Daddy, Chad. Udah tanggung jawab Daddy buat mastiin anak-anak Daddy bahagia."


"Tetep aja aku mau bilang makasih sama Daddy. Setelah aku nikah dan kejadian ini menimpa aku sama Amanda, aku jadi belajar kalau tanggung jawab setelah menikah itu jauh lebih besar dibanding masih sendiri. Aku kuat hadepin ini juga sedikit banyak berkat didikan Daddy. Ternyata Daddy udah persiapin aku jauh-jauh hari buat hadepin cobaan seberat ini, biar aku nggak lemah dan cepat menyerah. Aku bersyukur untuk itu, Dad...."


Mata Tommy sontak memanas mendengar ucapan panjang lebar dari anaknya. Baru sekarang Richard mau bicara sepanjang ini dengan dia. Biasanya mereka akan lebih banyak berdebat atau bertengkar karena satu masalah.


Tapi malam ini, Richard terlihat jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Tommy bangga melihat perubahan positif yang terjadi pada anaknya setelah dia menikah.


Mengingat bagaimana kejadian bertahun-tahun yang lalu, membuka rasa perih dihatinya. Pria dengan rambut yang mulai beruban itu tidak bisa menyembunyikan rasa penyesalannya yang mendalam.


Sebagai orang tua dia merasa sudah gagal menjadi pelindung yang baik untuk anak-anaknya. Tommy tahu kalau Richard kadang menangis di kamar setiap malam karena keegoisannya.


"Maafin Daddy, Chad. Maafin semua salah Daddy sama kamu. Kelak kalo kamu jadi orang tua, jangan seperti daddy-mu ini...." Tommy mengusap pipi dan sudut matanya yang berair.


Melihat anaknya yang sekarang sangat berantakan di depannya, makin membuat hati pria itu sakit. Tommy tahu bagaimana Richard berusaha menguatkan hatinya sendiri, menunggu Amanda bangun dari komanya yang entah sampai kapan.


Tommy ingin menghibur anaknya namun tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa memberikan sedikit perhatian seperti ini sembari meminta maaf untuk semua kesalahannya di masa lalu.


"Daddy bicara apa, sih? Bahasanya udah kayak Mario teduh aja...," canda Richard mencoba mencairkan suasana.


Dia tahu kalau apa yang dikatakan ayahnya tadi sungguh keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Richard cuma tidak mau pria itu terus berkata maaf untuk sesuatu hal yang sudah lama lewat.


Richard tidak ingin mengingat masa-masa itu lagi, baginya masa lalu akan tetap ada di sana menjadi pelajaran untuknya di masa sekarang. Dan sebagai anak, tentu saja kita harus bisa memaafkan semua kesalahan yang dilakukan oleh orang tua kita baik sengaja maupun tidak.

__ADS_1


Richard ingin menjadi salah satu diantara anak-anak itu. Daddy-nya akan tetap menjadi pahlawannya sejak dulu dan sampai nanti.


"Kamu emang nggak pernah bisa diajak bicara serius!" kesal Tommy menarik tisue di atas meja.


"Abisnya Daddy kesini cuma mau curhat, sih. Harusnya, kan aku yang butuh dihibur ... bukan Daddy." kekeh Richard sengaja membuat pria itu tertawa malu di depannya.


"Kamu maunya dihibur apalagi, hah? Udah dibawain ayam mentega kesukaan kamu, masih kurang juga?!" cibir Tommy.


"Kuranglah, aku butuh hiburan, Dad. Aku bosan nunggu sendirian disini," jujur Richard.


"Yaudah, tar lagi pesanan Daddy sampe. Kamu tunggu aja."


Richard mengernyit. "Pesanan? Pesanan apaan maksud Daddy?"


"Tunggu aja, tar juga kamu bakal tau," sahut Tommy tersenyum penuh arti.


Dalam rasa penasaran yang cukup lama, akhirnya apa yang dikatakan oleh Tommy datang. Beberapa orang terlihat membawa barang-barang ke dalam ruang perawatan VVIP, yang diketahui Richard sebagai alat-alat tempurnya jika dia sedang ingin bermain cat.


"A-apa ini, Dad?" tanya Richard tidak percaya.


"Ini buat ngisi kebosanan kamu disini, Chad. Pakai itu buat lepasin semua beban di hati kamu. Daddy yakin hati kamu bakal lebih plong setelahnya." Tommy menepuk pundak Richard seakan memberikan tanda kalau dia sudah mendukung bakat anaknya.


"Lukis apa yang pengen kamu lukis, Chad. Simpan itu dan tunjukkin sama istri kamu setelah dia bangun nanti."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sekeras-kerasnya didikan orang tua, merekalah pahlawan kita untuk hidup kita di masa sekarang dan masa nanti .... ❤️


__ADS_2