
"Halo, Bu?"
"Mana cewek yang kamu bilang mau kenalin sama Ibu, Nal? Kok nggak pernah dateng ke rumah, sih?"
"Sabar dong, Bu. Ini juga, kan Donal masih di Kalimantan. Nantilah tunggu kalo aku udah pulang ke Jakarta," sahut Donal beralasan.
Dia lupa dengan janjinya pada Dena ibunya, tentang Celin yang akan dia kenalkan sebagai pacarnya.
"Waktu lalu kamu bilang bakal kenalin ke Ibu sama ayah sebelum kamu berangkat, ini kok malah molor begini? Jangan-jangan kamu bohongin Ibu yah, Nal?!"
"Astaga, Bu. Aku mana berani, sih bohongin Ibu. Aku lupa kemarin, Bu. Banyak kerjaan di kantor gegara kami mau berangkat, jadinya aku nggak sempet bawa pacar aku kerumah."
"Bener kamu nggak bohongin Ibu?" tanya Dena penuh selidik.
"Iya, Bu. Percaya deh sama Donal."
"Yaudah, nanti setelah kamu balik dari Kalimantan segera bawa pacar kamu kerumah. Ibu udah batalin perjodohan kamu dengan anak teman ibu, awas aja kalo kamu boongin Ibu!" ancam Dena dari seberang sana.
"Iya, Bu. Udah yah, Donal mau lanjut kerja lagi."
"Ish, kamu kapan sih berhenti jadi babu di tempat sahabat kamu, Nal? Ayah udah tua, kasian ayah ngurus perusahan sendiri."
Donal membuang nafas kasar menjauhkan ponsel dari telinganya, ibunya masih berbicara panjang lebar di sana. Donal sudah lelah mendengarkan itu itu saja yang selama ini di protes oleh Dena darinya.
Padahal kalau bukan karena perjodohan tidak masuk akal yang mereka siapkan untuknya, Donal juga tidak akan mau bekerja jadi suruhan begini.
Tapi setidaknya dengan bersama Richard, Donal lebih leluasa dan bebas melakukan apa yang dia mau, dan tentu saja bisa bertemu dengan Celin.
Ah, nama wanita itu terus terngiang-ngiang di pikirannya. Mau kemana lagi dia mencari Celin? Detektif yang dia sewa bahkan belum bisa menemukan Celin sampai sekarang.
Donal merasa kalau Celin sengaja menghilang darinya, dan tidak ingin ditemukan.
"Halo, Nal? Kamu dengerin Ibu nggak sih?!" teriak Dena dari ujung telepon.
"Iya, iya ... Donal denger kok. Udah yah, Bu. Aku harus kerja lagi ini, nanti aku telepon kalo udah balik ke Jakarta. Bye, Bu."
Donal buru-buru mengakhiri panggilan itu sebelum Dena kembali mencercanya lagi seperti tadi.
Pria itu sedang berbaring di atas ranjang kamar hotel dengan laptop yang menyala di dekatnya. Ternyata mencari seoang wanita di tengah kesibukannya selama ini benar-benar merepotkan.
Mungkin dia harus cepat-cepat mencari pengganti dirinya di perusahaan Richard, gumamnya.
Tapi siapa? Tidak ada satu kandidat pun yang selama ini dia yakin bisa menjadi sekretaris handal seperti dia.
Selama bekerja di perusahaan batu bara tersebut, Donal sudah menilai beberapa pegawai yang ada di perusahaan. Sejauh ini belum ada yang cukup mampu diandalkan untuk menggantikan dia dan Celin sebagai seorang sekretaris.
Apa dia harus membuka lowongan baru untuk posisi tersebut? Tapi pasti akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi pikirnya.
__ADS_1
Donal tidak bisa menunggu lagi, Celin sudah harus ditemukan. Ibu dan ayahnya akan kembali memaksa dia untuk dijodohkan lagi jika dia tidak membawa Celin ke hadapan mereka.
Dalam pikiran dan hati yang kemelut, ponsel Donal kembali berdering nyaring. Terlihat nama Mawar ada di sana.
Semenjak dia tiba di Kalimantan, wanita itu sering menghubunginya seperti ini. Donal tahu kalau Mawar pasti sedang berusaha mendekatinya.
Mungkin jika tidak mengingat rasanya yang tulus untuk Celin, dia pasti sudah bersama dengan Mawar sekarang.
Sempat tertarik dengan wanita pemberani yang jago bela diri itu, Donal tahu kalau Mawar pasti bisa dijadikan pacar dan calon istri yang baik. Tapi sayangnya hatinya malah terpaut pada pesona dan pribadi Celin selama ini.
Sikapnya yang kadang jutek dengan mulutnya yang pedas, justru membuat Donal penasaran dan jatuh cinta. Ah, cinta emang bener-bener ribet gumamnya.
"Ya, War?"
"Lagi ngapain? Gue ganggu nggak?"
"Nggak kok, gue juga lagi istirahat sebentar ini. Kenapa?" tanya Donal pura-pura tidak peka.
"Nggak pa-pa, gue cuma kangen aja pengen denger suara elo," sahut Mawar berani.
Tidak ada lagi kata malu dihatinya, bagi dia untuk bisa mendapatkan Donal. Dia harus membuang jauh-jauh rasa malu, dan gengsi untuk sekedar berkata kangen ataupun menelepon duluan seperti apa yang dia lakukan saat ini.
"War...."
"Iya?"
"Menurut Lo?"
"Ya, nggak tau. Gue nggak mungkin nanya kalo gue udah tau jawabannya."
Panggilan itu mendadak sunyi, Mawar tampak terdiam berpikir. Mungkin ini saatnya untuk berkata kalau dia menyukai Donal pikirnya.
"Kok diem, War?"
"Mmm, gue bingung harus bilang apa."
"Nggak usah bingung, gue cuma pengen bilang sama elo. Kalo emang bener Lo suka sama gue, mending sekarang jangan diterusin lagi, War."
Mawar mengernyit. "Kenapa emangnya?"
"Lo pasti udah tahu jawabannya tanpa perlu gue kasih tau."
"Karena Celin?"
"Iya."
Mawar terdengar mengembuskan nafas panjang. "Kenapa harus Celin sih, Nal? Gue juga bisa kasih apa yang dia kasih sama Lo, bahkan bisa lebih. Kenapa Lo nggak coba dulu sama gue, Nal?"
__ADS_1
"Mawar ... ini masalah hati, War. Untuk urusan yang satu itu, kita nggak bisa asal main coba-coba. Gue nggak mau nyakitin hati siapa-siapa lagi, War. Gue mau serius sekarang sama satu cewek, dan cewek itu Celin. Dia yang udah berhasil merebut hati gue dari awal. Hanya dia yang bisa bikin hati gue nyaman, War. Mungkin aja rasa di hati Lo buat gue itu cuman karena tertarik, dan bukan cinta. Lo bisa dapetin yang lebih baik dari gue, War," sahut Donal panjang lebar.
Akan lebih baik untuk Mawar tersakiti sekarang daripada nanti saat rasa dihatinya untuk dia semakin tumbuh, dan membuat Mawar semakin susah melupakan dirinya, pikir Donal.
"Tapi, Nal. Gimana kalo gue bilang ini cinta? Gue tau perbedaan dua rasa itu, Nal. Rasa gue ini untuk Lo bener-bener cinta, tulus dari hati gue yang paling dalam. Gue—"
"War...!" potong Donal cepat. "Kalo itu cinta, buang yang jauh sekarang juga. Kita nggak akan bisa bersama, War. Sampe kapanpun hati gue cuma untuk Celin!" Tegas, Donal bersuara.
Kalaupun hubungan dia dan Mawar tidak akan seperti dulu lagi, Donal tidak masalah. Yang paling penting untuknya adalah Mawar bisa melupakan rasa dihatinya untuk dia.
Donal tidak mau wanita ini berharap lebih padanya yang jelas-jelas mencintai wanita lain. Dia hanya mau Mawar sadar kalau cinta untuknya tidak akan pernah terbalaskan sampai kapanpun.
"Gue tutup telponnya yah, War? Jangan hubungin gue dulu sampe Lo bener-bener yakin kalo Lo udah lupain gue dihati elo. Bye, War...."
Bunyi panggilan telepon terputus mengakhiri pembicaraan itu. Mawar melempar ponselnya ke samping ranjang dengan hati yang perih.
Baru saja bunga itu tumbuh, tapi kini malah harus layu karena tak terbalaskan. Sesakit ini mencintai seseorang yang tidak mencintai kita, gumamnya.
Apa dia harus menyerah sebelum berjuang? Atau tetap berusaha sampai Donal mau menerimanya? Apa yang harus gue lakuin, Nal? Lo udah bikin hati gue porak poranda!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menurut kalian gimana nih, guys?
Mawar lanjut terus berjuang ato enggak?
Kelanjutan Donal dan Mawar kali ini bakal author kasih keputusannya sama kalian...
Tulis di kolom komentar apa pilihan kalian yah, guys 🤗🥰
__ADS_1