
"Jadi maksud Lo, Lo sama desainer cantik itu ... tunangan hanya untuk menguntungkan satu sama lain?"
"Iya."
"Gila Lo men ... seneng banget hidup Lo! Udah dapet status, dapet tubuhnya juga. Kurang apa coba hidup Lo, ngiri gue sama Lo!"
Richard menghembuskan nafas panjang, bukan itu yang dia pikirkan sekarang. Lebih kepada harga dirinya sebagai lelaki, Richard merasa kalau ketampanan dan kekayaannya bahkan tidak bisa membuat hati wanita itu tersentuh.
Sesakit dan sesedih apa sih hati Lo, Manda? Apa gue nggak bisa yah sembuhin itu semua? Pikiran-pikiran itu yang terus mengganggunya sampai hari ini.
Terhitung sudah seminggu sejak mereka bertunangan dan Amanda belum menghubunginya sampai sekarang.
Bahkan Tari ibunya sejak kemarin memberondongi dia dengan pertanyaan dimana Amanda berada, kenapa tidak pernah membawanya ke rumah setelah mereka resmi bertunangan.
Tari justru menuduh kalau Richard sengaja mengurung wanita itu di apartemennya dan berbuat hal mesum seperti tempo hari.
"Woi...! Diem aja lo Chad!" sentak Donal sahabatnya. "Udah, nggak usah galau begitu. Lo nikmatin aja apa yang ada sekarang, lagipula dia kan yang minta sama Lo soal itu. Nggak usah mikir yang nggak penting lagi!"
"Yo'i ... bener yang Donal bilang, Lo nikmatin aja masa-masa indah ini. Kan lumayan setiap Minggu Lo nyetor, punya Lo bakal basi kalo nggak sering-sering di keluarin," goda Mike sahabatnya yang lain.
"Nikmatin yah?" gumam Richard masih terdengar Donal dan Mike.
"Iya, lagipula tubuh mulus begitu ... sayang tau kalo di anggurin!" sahut Mike terkekeh geli.
"Ish ... otak Lo yah, nggak pernah jauh-jauh dari ranjang!" sinis Richard menatap kesal Mike.
"Kayak Lo aja nggak begitu!"
"Udah, intinya kita bertiga sama aja!" sela Donal meneguk minuman beralkohol yang mereka pesan tadi.
Ketiga sahabat itu sedang berada di salah satu club ternama di kota ini, untuk mencari wanita kesepian yang biasa mereka namai sebagai angsa berbau pandan.
Kenapa pandan? Karena menurut Mike, punya mereka wangi aroma itu. Dan wanita senang bermandikan cairan beraroma tersebut.
"Eh, ada cewek cantik tuh baru masuk dibawah!" tunjuk Mike dari ruang private lantai dua tempat biasa mereka berkumpul.
Dari atas sini, siapapun yang baru masuk akan langsung terlihat dari sana.
"Mana?" tanya Donal penasaran, mendongak menatap ke arah yang Mike tunjuk.
"Itu ... yang pake baju merah. Eh, dia lagi liatin kita guys," sahut Mike menyenggol dua sahabatnya.
Richard yang tampak tidak tertarik dengan ucapan Mike barusan, hanya menatap sekilas ke arah yang ditunjuk olehnya.
Wanita dengan sebuah dress berbahan satin berwarna merah, berjalan naik ke lantai dua dimana ketiga sahabat itu sedang duduk menikmati malam di club ini.
Ruangan dengan dinding kaca transparan yang menutupinya, bisa dengan jelas memperlihatkan apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana.
"Eh Chad, itu kan Manda...," ujar Donal menyadari siapa wanita cantik yang menarik perhatian mereka itu.
__ADS_1
"Ya ampun, iya bener Chad. Itu Manda, astaga ... bening banget dia."
Mendengar dua sahabatnya sudah heboh di sampingnya, Richard mendongak dan memusatkan perhatian dia pada wanita dengan rambut yang digerai bebas itu, sedang melangkah dengan anggun menaiki tangga berjalan menuju ruangan mereka.
"Jaga sikap Lo berdua yah kalo dia ada disini!" ujar Richard mengingatkan.
"Jaga gimana sih maksud Lo, Chad? Kitakan emang udah begini dari sononya...," kekeh Mike tanpa melepaskan pandangan matanya dari Amanda.
Jika tidak mengingat wanita ini adalah tunangan sahabatnya, mungkin sekarang juga sudah Mike bawa ke hotel pikirnya.
"Pokoknya jangan bikin dia ilfeel aja, Lo nggak tau gimana jutek dan galaknya dia kalo lagi marah dan gak suka!"
Ceklekk.... Bunyi pintu di buka.
Amanda masuk ke dalam ruang private dalam club, dimana ketiga lelaki tengah menatapnya penuh damba. Dasar pria pikirnya.
Wangi parfum mahal yang khusus Amanda pesan hanya untuk dirinya seorang, tercium di indera penciuman para sahabat itu.
"Ayo ikut aku!"
"Kemana?"
"Menuntaskan syarat yang kita buat!" sahut Amanda santai.
"Apa?" kaget ketiga pria itu.
Semua terlihat kaya dengan segala yang menempel di tubuh mereka dari merek ternama.
Mike dan Donal seketika langsung berdehem, sadar kalau mereka tidak pantas untuk terkejut seperti itu.
"Hai ... Lo pasti Amanda. Gue Donal, temennya Richard...," sapa lelaki keturunan negara kelahiran Amanda asli.
"Gue kesini bukan untuk kenalan sama Lo, ataupun dia!" tunjuk Amanda pada Mike. "Ayo cepet, waktu gue nggak banyak!" panggilnya lagi menatap kembali pada Richard.
Donal langsung menarik tangan kanannya yang terlanjur terulur ke depan untuk bersalaman dengan Amanda, dan kembali duduk di dekat Mike.
"Mampus Lo!" bisik Mike terkekeh meledek.
"Gue duluan yah guys, maaf nggak bisa temenin kalian lagi disini!" ujar Richard bangkit berdiri dari kursinya.
"Udah nggak apa-apa men ... santai aja, nikmatin waktu Lo!" sahut Mike menatap penuh arti sahabatnya itu.
"Ok, gue pergi yah ... bye." sahut Richard berjalan mengejar Amanda yang sudah lebih dulu keluar
"Jangan lupa gempur sampe kering punya Lo, Chad!" teriak Donal sebelum lelaki itu menghilang di balik pintu.
"Ngomongin apa aja kalian disana?" tanya Amanda begitu mereka sudah naik ke dalam mobilnya.
"Nggak ngomongin apa-apa kok, mereka cuma ngasih ucapan aja sama pertunangan kita...," jawab Richard berusaha bersikap biasa.
__ADS_1
"Awas yah Lo berani ngomong macem-macem ke mereka tentang kita! Gue sunat punya Lo!"
Glekk....
Richard menelan salivanya susah, Amanda terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan.
"Cepet jalan! Kita ke apartemen Lo!" sambung wanita itu lagi.
"Loh ... kok pindah di belakang sih Manda?"
"Berisik! Gue mau ganti baju, gerah gue pake begini daritadi!"
"Eh, Lo mau ganti disini? Kita berhenti dulu gimana?" tanya Richard tidak enak.
Bukan apa-apa, tapi tubuh putih mulus Amanda bisa bikin sesuatu di balik celananya menggila karenanya.
"Nggak usah, kelamaan nanti kita sampe di apartemen. Fokus aja Lo bawa mobil, dan jangan ngintip! Tar aja kalo mau ngintip, sekalian Lo masukin!"
Richard jadi salah tingkah mendengar ucapan Amanda, astaga ... pikiran nakalnya langsung melalang buana kesana kemari sekarang.
Amanda mulai membuka resleting dress-nya hingga punggung putih mulus sampai ke bokongnya yang padat, terpampang nyata di kaca spion samping kemudi.
Richard kembali menelan salivanya kasar, menikmati pemandangan menggiurkan di belakang sana. Ah sial ... dia ingin sekali menghentikan mobil dan bergelut dengan wanita itu di belakang sana, pikirnya.
Tidak mau kehilangan momen yang tidak bisa dia lihat setiap hari itu, Richard sengaja memelankan laju mobil dan menatap bergantian antara kaca depan dan kaca spion di sampingnya.
Sebentar lagi Chad ... sebentar lagi, sabar. Lo bakal menjelajah di semua bagian-bagian itu nanti. Batinnya mencoba menguatkan iman lelakinya yang diganggu tubuh yang hampir tertutupi pakaian itu.
.
.
.
.
.
.
.
Mulai hari ini Up hanya akan ada satu hari satu yahh guys...
Karena author sibuk juga di lapak sebelah sama kegiatan sehari-hari author,, hehehe
Jangan lupa jejak-jejak cinta kalian
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹
__ADS_1