
"Lo belum mau pulang, War?" tanya Vania dari depan pintu ruangan atasan mereka.
"Bentar lagi, gue selesein laporan ini dulu. Pak Richard mau besok laporannya udah ada sama dia."
"Yaudah, gue duluan, yah...." Mawar mengangguk melambaikan tangan pada asisten Amanda itu.
Mengingat nama Amanda, hati Mawar sontak berdenyut. Sejak tadi pandangannya tidak berhenti melihat foto frame istri atasannya itu di atas meja.
Perkataan mertua Amanda tadi siang, pun masih terus terngiang-ngiang di telinganya. Benarkah, kalau dirinya adalah pembawa sial? Mawar masih ingat bagaimana salah satu rekan timnya wafat saat menyelamatkannya dari tembakan musuh yang tidak sempat dia lihat waktu itu.
Bahkan ada juga rekannya yang harus terluka karena Mawar yang tidak berhati-hati saat dia tidak sengaja menginjak ranjau bom, yang di pasang oleh pihak musuh.
Sudah selama itu dia selalu berhasil lolos dari maut, entah karena beruntung atau malah menjadi pembawa sial untuk orang lain. Mawar merasa lebih baik untuknya jika dia saja yang mati dan terluka daripada orang lain.
Bulir kristal berhasil lolos dari pelupuk mata Mawar, wanita itu tidak bisa menyembunyikan lagi kesedihan di hatinya. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri, dan tidak sadar ada seorang pria yang tengah menatapnya sejak tadi dari depan meja.
"Ini...." ujarnya memberikan selembar tissue pada Mawar.
Wanita bertato di tangan itu refleks terkejut dan berdiri dari kursinya. Tidak sengaja kepalanya mengenai dagu pria itu yang sedikit condong mengarah pada Mawar.
"Aww...." kompak dua orang itu meringis memegang kepala dan dagu.
"Lo, siapa?!" sentak Mawar masih dengan mata sembab dan hidung yang berair.
"Mending Lo lapin dulu, deh muka Lo!" sahut pria itu tersenyum geli.
Sadar dirinya pasti sedang jelek sekali saat ini, Mawar buru-buru berlari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Wanita itu jadi malu sendiri melihat tampilannya di depan kaca. Astaga ... malu-maluin banget, sih gue!
Butuh setidaknya selama sepuluh menit untuk Mawar mempersiapkan diri dan hatinya dengan baik di dalam sana. Di pergoki tengah berada dalam wajah paling jelek, Mawar jadi malu untuk bertemu dengan pria bermata sipit tadi.
"Lo ngapain sembunyi di sana?" tanya pria itu melihat Mawar hanya membuka pintu kamar mandi sedikit.
Mawar sedang mengintip apa pria yang tadi masih ada di sana atau tidak. Wanita itupun akhirnya keluar dengan wajah yang merona.
"Nggak usah malu, Lo bukan cewek pertama yang gue liat pas lagi jelek-jeleknya kayak tadi!" kekeh pria itu.
"Lo siapa, sih? Ngapain ada di ruangan pemilik butik ini?" tanya Mawar tidak mau menggubris ucapannya.
Pria itu beranjak dari kursi sofa tamu, mendekati Mawar yang perlahan mundur ke belakang hingga terhenti di dinding.
"Ngapain mundur? Gue bukan zombie yang suka makan orang," godanya menarik Mawar mendekat padanya.
"Kenalin gue Dira, sekretaris baru Pak Richard." sambung pria itu tersenyum manis seperti gula.
"Ish, jangan pegang-pegang!" sentak Mawar menepis tangan Dira dari lengannya.
__ADS_1
"Galak amat, sih." goda Dira lagi berganti menyentuh dagu runcing Mawar.
"Sekali lagi Lo pegang-pegang gue, gue patahin tangan Lo!" kesal Mawar kembali menepis tangan Dira.
Pria dengan rambut yang dibelah tengah itu tersenyum, menyibak rambut Mawar. "Gue seneng punya rekan kerja yang galak. Hidup gue bakal lebih enak kayaknya abis ini...."
Dira mundur kembali duduk di kursi sofa. "Sini, gue mau ngomong sama Lo," panggilnya menepuk kursi di sampingnya.
"Ish, ogah! Gue alergi duduk sama cowok yang suka pake liptint kayak Lo!" sindir Mawar duduk di depan Dira.
"Ini, tuh berguna tau! Rasanya juga enak, Lo mau coba nggak?" tunjuk Dira pada bibir tipisnya.
"Nggak, makasih!" sahut Mawar tegas. Pria ini sudah seperti cewek jadi-jadian, pikirnya.
"Lo ngapain kesini?" tanya Mawar mengalihkan pembicaraan.
Dira menjentikkan jari teringat sesuatu. "Gue diminta Pak Richard kesini buat ngerjain ini sama Lo."
Pria itu mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tas yang dia bawa. "Ini laporan bulan lalu yang dibikin sepupu gue sama Lo."
"Sepupu? Siapa sepupu Lo?" tanya Mawar bingung.
"Donal, mantan sekretarisnya Pak Richard."
"Hah? Beneran Lo sepupuan sama dia?" tanya Mawar lagi tidak percaya.
"Iya, gue tahu kalo gue lebih ganteng dari Donal. Itu makanya Lo nggak yakin, kan?" sahut Dira percaya diri.
"What? (apa?) nggak salah Lo, War? Mata Lo nggak rabun, kan? Baru Lo doang, loh yang ngomong begitu sama gue. Biasanya cewek-cewek bakal lebih muji gue dibanding Donal."
"Ya itu cewek yang lain, bukan gue!" sahut Mawar apa adanya.
Dira seketika terdiam memperhatikan wanita di depannya dengan seksama. Mawar wanita yang luar biasa cantik, apa iya tipenya hanya sekelas Donal yang punya wajah standard dibanding sahabat-sahabat biji sepupunya?
"Nggak usah ngeliatin gue begitu, jatuh cinta baru nyaho Lo!" sentak Mawar menunjuk wajah Dira.
"Eh, emang nggak boleh, yah?"
"Nggak boleh, hati gue udah ada yang punya!"
"Hah? Siapa?" tanya Dira penasaran.
"Ada, dong. Ngapain juga gue kasih tau sama Lo!"
Dira tersenyum tipis, sedikit maju mendekati Mawar yang duduk di depannya. "Kasih gue aja mau nggak? Gue lagi nyari hati baru, nih buat sembuhin hati lama gue dari penyakit."
"Penyakit? Lo sakit?" Dira mengangguk.
__ADS_1
"Sakit apa?" tanya Mawar khawatir.
"Namanya sindrom berdebar. Jadi setiap kali gue liat cewek bening kayak elo, hati gue refleks berdebar kayak gini." Dira menarik tangan Mawar, meletakkannya di dada kiri pria bertato di leher itu.
Kaget dengan kelakukan Dira yang tiba-tiba menariknya, Mawar seketika melayangkan satu pukulan ke wajah pria berwajah oriental itu kuat.
"Aduh...." ringis Dira menutup wajahnya yang berdenyut.
"Ya ampun ... sorry, sorry, Dir. Gue nggak sengaja." Mawar bangkit mendekati pria yang masih merintih di sampingnya.
"Lo makan apaan, sih, War? Tonjokan Lo sakit banget tau nggak...." keluh Dira masih menutup wajahnya.
"Ya abis, Lo ngagetin gue, sih! Gue refleks aja tadi itu, Dir...," sahut Mawar tidak enak.
"Mana, coba gue mau liat." Mawar memaksa Dira mengeluarkan tangannya dari wajah pria itu.
Matanya langsung membola sempurna, melihat bawah mata Dira yang membiru. "Astaga...." ujarnya menutup mulut kaget.
"Kenapa?"
"I-itu, Dir. Mata kamu...." Mawar tidak sanggup meneruskan ucapannya.
"Kenapa, sih?" tanya Dira masih mengelus wajahnya yang berdenyut.
"Mending Lo liat aja sendiri."
Dira menggerutu, bangkit dari kursi mendekati kaca berdiri di dekat mereka. Melihat wajahnya yang sudah membiru, pria itu sontak berteriak heboh.
"Astaga Mawar ... Lo apain muka gue?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Nah, yang bilang Dira itu jodohnya Mawar ... udah mulai, yah ini 🤭😆
__ADS_1
Doain aja biar nggak patah hati lagi
si Mawar 😂