Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Lukisan


__ADS_3

"Kita ngapain kesini Chad?"


"Tunggu disini bentar yah, gue nyalain lampu dulu."


Richard berjalan mendekati saklar lampu di dekat pintu masuk dalam studio tempatnya melukis selama ini.


Begitu lampu menyala, Amanda langsung kaget mendapati banyaknya lukisan dirinya tergantung hampir di setiap sudut studio.


"I-ini...."


"Bagus nggak?" tanya Richard memeluk Amanda dari belakang. Kepalanya dia sandarkan di bahu tunangannya.


"Ini ... kamu yang lukis?"


"Iya, aku sekarang jadi seneng ngelukis kamu By. Suka nggak?"


"Suka banget Chad, semuanya bagus. Aku nggak tau kalo kamu suka ngelukis."


Richard tersenyum puas mendengar pujian Amanda untuknya. "Hobby Manda, tapi sayangnya gak disukai sama bokap!"


"Hah? Maksudnya daddy Tommy nggak suka kamu ngelukis?"


"Iya, ceritanya panjang. Intinya dia nggak suka liat aku ngelukis, dia paling benci kalo aku udah main cat di kamar."


Amanda mengusap punggung tangan Richard yang masih menempel di perut ratanya. Tidak pernah mengenal sosok ayah sejak masih lima tahun, membuat Amanda bingung harus berkata apa.


Dalam pikirannya seorang ayah akan selalu menjaga dan melindungi anak mereka bukan? Lalu kenapa daddy Tommy berbeda? Apa ada satu alasan sampai pria itu begitu menentang anak laki-lakinya melakukan hobi main cat-nya?


"Udah, nggak usah mikirin itu. Kita kesini bukan untuk mikirin hal yang nggak enak, ayo ... aku tunjukin lukisan yang aku rasa paling bagus yang aku bikin."


Richard melepaskan pelukannya dan membawa Amanda mendekat ke sebuah lukisan yang sengaja dia tutup dengan kain putih di tengah studio.


Menarik kain putih tersebut, Amanda lagi-lagi dibuat terkejut mendapati gambar dirinya tengah memakai gaun merah yang pernah dia pakai saat pulang dari peragaan busana salah satu fashion ternama dulu.


Iya, Amanda ingat dia pernah memakainya. Bahkan Richard ikut melukis rambutnya yang digerai bebas dengan tiara berlian diatasnya.


"Cantik nggak?" Richard kembali memeluk wanitanya dari belakang.


"Ini bagus banget Chad. Kamu masih inget aku pake gaun ini?" sahut Amanda menatap berbinar gambar dirinya di depan.


"Ingatlah, aku selalu ingat semua tentang kamu By. Itu yang sana...." tunjuk Richard di belakang lukisan besar yang tengah mereka lihat.


"Itu waktu aku pertama ketemu kamu di butik anterin ka Rena, yang sana...." tunjuk Richard lagi di samping kanan lukisan tadi.


"Itu waktu kita ketemu di club dan kamu lagi mabuk!" kekehnya mengingat bagaimana pertemuan kedua mereka dan malah berakhir di ranjang.


Amanda ikut tertawa melihat semua lukisan yang ditunjuk Richard. Dia ingat saat Richard datang ke butik ikut mengantarkan Rena, salah satu klien VVIP-nya.


Amanda tidak terlalu memperhatikan karena memang waktu itu dia sedang sibuk, apalagi dia sedang menjalin hubungan dengan Ardi. Amanda tidak pernah memperhatikan pria lain dan terkesan cuek dengan kaum mereka.

__ADS_1


"Aku jadi inget gimana dulu mommy pergokin kita di apartemen kamu Chad...." sahutnya masih tertawa.


"Iya, aku juga inget By. Aku inget gimana wajah mommy sama ka Rena dulu. Mereka kayak mau makan aku bulat-bulat waktu itu...."


"Iya bener, keliatan banget gimana marahnya mommy sama kamu."


Dua orang itu tertawa geli bersama mengingat peristiwa dipergokinya mereka, hingga berakhir dengan kesepakatan yang membuat mereka terikat satu sama lain.


"Tapi aku bersyukur Manda, aku bersyukur banget mommy pergokin kita pagi itu."


"Oh yah, kenapa?"


"Karena gue bisa nahan kamu disisi aku By ... aku juga bisa milikin kamu sampe kita mau nikah. Aku bersyukur banget untuk itu!"


Amanda tersenyum malu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Richard. Mereka masih saling memeluk dengan pria blasteran itu berada di belakangnya.


"Makasih karena udah nahan aku yah, Chad. Aku nggak tau bakal jadi apa hidup aku nantinya kalo kita nggak ketemu dan kamu nggak nahan aku waktu itu."


"Itu yang namanya jodoh By. Kita nggak tau kapan dan bagaimana kita bakal ketemu sama jodoh kita. Yah walaupun kita ketemunya kamu lagi mabuk, tapi gue yakin itu juga rencana dari yang Di Atas. Dia sengaja bikin kita berakhir di kamar dan di pergokin sama mommy," kekeh Richard merasa bersyukur dalam hati.


"Iya, Sang Pencipta emang ada-ada aja yah ceritanya mau temuin kita sama jodoh kita."


"Bener, dan aku bersyukur jodoh aku itu kamu...."


Richard memutar tubuh Amanda menghadap padanya dan mendaratkan bibir basahnya ke bibir tipis merah muda Amanda. Keduanya larut dalam pertukaran Saliva dengan hati membuncah bahagia.


Hanyut dalam permainan bibir satu sama lain, Richard membawa Amanda duduk di kursi sofa malas dan membaringkannya disana.


"Kamu mau nggak aku lukis By?" tanya Richard mengusap bibir Amanda yang sedikit bengkak karena gigitannya.


"Mau banget, kamu mau lukis aku dimana?"


"Disini." tunjuk Richard pada kursi sofa.


"Trus aku harus gimana? Senyum ato gimana gitu?"


"Nggak usah senyum diem aja. Tapi, aku mau kamu...." Richard menggantung ucapannya memandang Amanda penuh arti.


"Apa sih, nggak jelas banget ngomongnya!" gemas Amanda mencubit pipi Richard.


"Aku mau kamu buka ini, sama ini...." tunjuk Richard pada kemeja dan celana kain panjang hitam Amanda.


"Hah? Lo mau gue nggak pake baju?" kagetnya tidak percaya.


"Iya, aku mau bikin kek film Titanic itu loh. Aku jadi Jack dan kamu Rose-nya. Gimana? Mau yah By?" pinta Richard memohon.


"Ish, ogah! Yang ada nanti otak kamu yang ngeres!"


"Enggak By, aku janji nggak bakal apa-apain kamu. Kita disini murni cuma mau melukis, kamu jadi model dan aku jadi pelukisnya. Ok?"

__ADS_1


Amanda menggeleng. "Nggak, aku nggak mau!"


"Ya udah kalo kamu nggak mau, aku cari model cewek lain aja nanti!" goda Richard sengaja membuat Amanda cemburu.


"Eh, mau aku potong biji kamu, hah?! Coba aja kalo berani!" ancam Amanda tidak terima.


"Nah makanya kalo nggak mau aku cari model lain, kamu aja yang jadi model aku By ... aku udah lama pengen ngelukis model cewek kayak Rose di film Titanic. Itu salah satu impian aku dari dulu."


Amanda berdecak. "Alesan aja kamu! Bilang aja emang mau liatin cewek telanjangg!" cibirnya bersedekap dada.


Entah kenapa membayangkan Richard akan duduk berjam-jam dan menatap wanita lain dalam keadaan tubuh tanpa busana, membuat hati Amanda panas.


Dia tidak akan terima jika Richard sampai coba-coba melakukannya dengan wanita lain.


"Yang namanya seniman, kan emang harus gitu By." kekeh Richard terus menggoda wanitanya.


"Yaudah, sana. Siapin aja alat-alatnya!"


"Eh, kamu beneran mau By?"


"Iya. Sana cepet, sebelum aku berubah pikiran!"


Richard tersenyum menang dan segera menyiapkan peralatan tempurnya untuk bermain cat.


Amanda mulai melepaskan semua yang menempel padanya dan tidur menyamping seperti yang diminta Richard di atas sofa.


Pria berhidung mancung itu akhirnya bisa mewujudkan apa yang selama ini hanya menjadi impiannya saja.


Melukis wanita yang dia cintai dan dalam keadaan tubuhnya yang polos, adalah salah satu dari sekian banyak pikiran nakal Richard pada Amanda.


.


.


.


.


.


.


.


Jadi pengen punya cowok pelukis deh kalo kek gini 🤔


eh Tapi, udah punya lakik astagaaaaaaaa 🤣


canda pelukis 🤭😆

__ADS_1


__ADS_2