
Hari yang ditunggu pun tiba, Amanda duduk menghadap meja rias dalam kamarnya bersama seorang make up artist ternama yang dipesan Tari khusus untuk merias wajah calon menantunya.
Dari jam enam pagi Amanda sudah bersiap dan sempat mandi kembang agar tubuhnya lebih segar. Richard pasti akan lebih senang nanti mencium wangi aroma tubuhnya, pikir Amanda.
Rumah berukuran sedang dengan dua lantai dan sangat nyaman itu sudah ramai dari semalam. Di depan rumah juga di pasang tenda setengah bulat serta dekorasi yang mewah, kental dengan suasana putih.
Semua di atur oleh Tari, wanita paruh baya yang tidak mau kalah itu benar-benar memastikan semuanya berjalan dengan sangat baik. Bahkan dia rela harus kesana kemari demi untuk mengatur semuanya sendiri.
Amanda kagum dengan kecekatan calon mama mertuanya itu.
Sama seperti Tari, Amel ibu kandung Amanda pun sama sibuknya hari ini. Dia bertugas mengatur catering yang datang dirumah mereka untuk menjamu beberapa tamu dan keluarga jauh Amanda yang datang dari luar kota.
Sebuah gaun putih dengan payet rumit di dada sampai ke perut, menempel sempurna di tubuh langsing Amanda. Bahunya yang putih tampak sempurna dengan gaun yang dia pakai.
Gaun ini dia rancang sendiri jauh sebelum mengenal Richard. Sempat berpikir akan memakainya bersama Ardi, siapa yang sangka kalau hari ini Amanda justru memakainya bersama pria lain.
Pria yang tiba-tiba hadir di hidupnya dengan tingkah yang menyebalkan namun begitu tulus menunjukkan rasa dihatinya untuk Amanda.
"Kamu cantik banget Miss...." ujar make up artist setelah selesai mengerjakan tugasnya.
"Makasih...." sahut Amanda menatap pantulan wajahnya di depan cermin.
Make up natural dengan pewarna bibir peach yang sangat cocok dengan warna kulit Amanda, membuat wanita itu terlihat sangat memesona.
Belum lagi dengan tiara berlian diatas kepalanya yang diberikan Amel untuk putri tercintanya, menambah keanggunan Amanda hari ini.
"Sepuluh menit lagi akad nikahnya mau dimulai Miss...." Vania masuk dan ikut terkesima menatap perubahan atasannya yang memang sudah cantik sejak lahir.
"Wah ... Miss cantik banget," puji Vania mendekati Amanda.
"Pak Richard pasti makin cinta liat Miss udah cantik begini," sambung Vania menatap Amanda dari pantulan kaca.
"Bisa aja kamu Va...." jawab Amanda malu-malu. "Keluarga Richard udah dateng?"
"Udah, mereka baru aja nyampe. Nanti Miss mau ditemenin turun ato gimana?"
Amanda sedikit berpikir baiknya bagaimana, tidak punya kakak ataupun adik membuat dia bingung. Tidak enak kalau dia harus memaksa Vania ikut dengannya.
"Nggak apa-apa, aku turun sendiri aja."
"Yaudah, aku tunggu di bawah yah Miss ... semoga semuanya lancar yah," sahut Vania tulus.
"Iya, makasih Va...."
Vania pun keluar diikuti make up artist tadi meninggalkan Amanda sendirian di kamar. Dia semakin gugup sekarang, telapak tangannya ikut basah dengan detak jantung yang berdetak lebih cepat.
Sebentar lagi Amanda akan resmi menjadi nyonya Klose. Dia akan dikenal sebagai istri seorang pengusaha batu bara terkenal di negara ini.
Amanda masih tidak menyangka kalau dia akhirnya bisa merasakan kebahagiaan menikah dengan orang yang dia cinta.
Beberapa bulan lalu masih jelas di ingatan Amanda bagaimana Ardi meninggalkan dia dan juga menghinanya dulu. Rasa sakit kehilangan cinta dihidupnya membuat Amanda belajar membuka hati untuk orang yang tepat, hingga dia dipertemukan dengan Richard.
__ADS_1
Bagai oase di tengah gurun, Richard memberikan kesegaran di hatinya yang tandus. Amanda bersyukur mereka bisa bersama hingga hari bahagia ini bisa mereka rasakan.
"Kok bengong, Nak?" Amel masuk mendapati Amanda melamun duduk di atas ranjangnya.
Wanita cantik itu sudah pindah duduk disana setelah Vania dan make up artist tadi keluar.
"Nggak pa-pa, Ma. Mama ngagetin aku aja deh."
Amel tersenyum dan duduk di samping anak semata wayangnya. "Kenapa? gugup yah?"
Amanda mengangguk menunjukkan gigi putihnya.
"Wajar kok itu, mama juga dulu begitu waktu mau nikah sama papa kamu."
"Aku jadi kangen papa denger mama ngomong begini."
Amel mengambil tangan Amanda dan mengusap punggung tangannya. "Mama juga kangen sama papa kamu sayang. Kalau papa masih ada, dia pasti bahagia banget liat anak perempuannya mau nikah hari ini."
Amanda memang kehilangan sosok seorang ayah sejak dia masih kecil. Ayahnya meninggal karena serangan jantung.
Sejak saat itu Amel tidak menikah lagi, dengan uang usaha peninggalan ayahnya dulu. Mereka bisa hidup berkecukupan sampai sekarang, hingga Amanda mengambil sekolah desainer di luar negeri dan dikenal di negara mereka.
"Nanti setelah kalian nikah, jangan lupa nyekar di makam papa yah sayang. Bawa Richard dan kenalin sama papa, kalian belum pernah kesana, kan?"
Amanda menggeleng. "Belum Ma, aku sengaja belum bawa Richard ke makam papa. Rencananya setelah aku nikah, baru aku bakal kenalin suami aku ke papa."
"Iya, nggak pa-pa. Kalau gitu kamu siap-siap gih. Tadi mama denger Richard udah mau ijab kabul dibawah."
Amel meninggalkan Amanda dengan hati luar biasa bahagia. Bersyukur akhirnya anak perempuan dia bisa hidup bahagia dengan pria baik seperti Richard.
Amel bisa tenang menitipkan Amanda pada pria itu. Richard sosok pria yang jauh lebih bertanggung jawab dibanding kekasih anaknya dulu.
"Kamu bisa tenang sekarang pa," ujarnya menatap frame foto suaminya di atas meja dekat kamar Amanda.
Sekitar sepuluh menit setelah percakapan antar ibu dan anak tadi, Amanda keluar setelah dipanggil seorang staff wo yang dipercayakan mereka untuk mengatur jalannya ijab kabul hari ini.
Dengan langkah yang anggun Amanda turun menuruni tangga, hingga semua pandangan terpaku padanya.
Jantung Amanda semakin berpacu, apalagi melihat Richard yang duduk di depan penghulu dan tengah menatapnya berbinar, membuat Amanda makin gugup.
Tiba di pijakan terakhir anak tangga, dua orang wanita cantik datang menyambutnya dan merangkul lengan Amanda.
"Kamu cantik banget sayang...." puji Tari ikut berjalan anggun di samping Amanda.
"Makasih Mom...."
Disamping kanan Amanda berdiri Amel yang mengusap pipi tirus anak perempuannya. "Bahagia selalu yah, Nak...."
Amanda mengangguk dan tersenyum dengan mata yang mulai memerah. Ah, kenapa di momen seperti ini air matanya seakan tidak terkunci dan bisa kapan saja merembes?
Tari dan Amel membawa Amanda duduk di dekat Richard yang tersenyum terpesona dengan kecantikan wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
Iya, Richard sudah selesai mengucapkan ikrar janji sucinya untuk Amanda di depan penghulu dan para saksi serta undangan.
Richard telah menjadi suami seorang Amanda Ninda, wanita cantik yang dikenalnya baik dan ramah pada orang lain.
Seperti sedang bermimpi dia bisa mendapatkan wanita secantik dan sehebat Amanda, Richard bersyukur mereka bertemu dalam keadaan wanita itu tengah patah hati dan mabuk.
Usahanya ternyata tidak sia-sia, dia akhirnya bisa meyakinkan Amanda agar mau menikah dan menerima cinta tulusnya.
Setelah mendudukkan Amanda, ibu dan ibu mertua wanita itu pergi meninggalkan dua pasangan pengantin yang saling bertatapan malu-malu.
"Silahkan di salim dulu suaminya Nona Amanda...." ujar seorang penghulu di depan mereka.
Richard menyodorkan tangan kanannya yang disambut Amanda, dan mencium punggung tangan pria yang akan menjadi imam di keluarga baru mereka.
"Pak Richard juga bisa mencium dahi Nona Amanda," sambung penghulu itu lagi setelah Amanda selesai menyalim tangan suaminya.
"Eh, nggak bisa bibir yah Pak?" ceplos Richard tanpa sadar.
"Hah?" Penghulu yang ada di depan keduanya hanya bisa terperangah mendengarkan pertanyaaan absurd Richard.
"Banyak orang woi! Sadar...!" teriak dua orang sahabatnya Mike dan Donal yang langsung diikuti tawa dari para undangan yang hadir.
"Berisik Lo!" sentak Richard menarik tengkuk Amanda dan menyatukan bibir keduanya.
Melihat bibir tipis wanitanya yang dipakaikan pewarna merah muda, membuat Richard ingin sekali mencicipinya sejak tadi.
Tingkah Richard ini sontak disambut suara teriakan heboh dari semua yang hadir di dalam ruang tengah rumah Amanda.
Tari hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak laki-lakinya yang sangat persis dengan suaminya dulu.
"Terus, Chad! Isepp lagi Chad!" Dua sahabat bijinya pun ikut memanas manasi tingkah Richard yang makin berani menyesapp bibir tipis Amanda.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aduh,, ada-ada aja emang nih burung 🙄😆
Cek Story IG author @adamvanda yuk untuk video pendek nikahan Amanda dan Richard 🤗
__ADS_1