Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Melepas Rindu


__ADS_3

"Mommy marah sama Mawar yah, Chad?" Pasangan suami istri itu sudah berada di dalam kamar mereka setelah seluruh keluarga dan teman keduanya pulang.


"Kenapa emangnya?"


"Tadi mommy usir Mawar waktu liat dia dateng kesini."


Richard menghembuskan nafas panjang, duduk di samping Amanda di atas ranjang. "Kayaknya, sih begitu. Tapi kamu nggak usah khawatir, nanti juga marah mommy bakal reda sendiri."


"Emang kenapa mommy musti marah sama Mawar, Chad? Mawar, kan nggak salah apa-apa. Dia bawa mobil pelan kok waktu itu, justru mobil yang nabrak kita yang kenceng banget dari jalur sebelah. Harusnya mommy nggak nyalahin Mawar karena kejadian ini."


"Iya, iya ... aku tahu. Nanti aku bakal coba ngomong sama mommy, deh. Kamu nggak usah mikir macem-macem lagi, ok?" sahut Richard menenangkan istrinya.


Dia tidak mau Amanda memikirkan hal yang akan membuat wanitanya sedih lagi. Mungkin dia memang harus berbicara dengan Tari secepatnya, pikir Richard.


"Kita mandi dulu, yah? Airnya udah penuh di bathtub," sambung Richard mengalihkan pembicaraan.


Amanda mengangguk dan dibantu Richard ke dalam kamar mandi. Wanita itu tidak mau digendong dan ingin berjalan sampai ke dalam sana.


Mendudukkan istrinya ke closet duduk yang sudah ditutup, Richard membantu Amanda membuka bajunya perlahan.


"Aku bisa sendiri, Chad. Aku nggak lumpuh!" protes wanita itu tidak ingin dimanjakan oleh suaminya.


Richard mengangguk pasrah dan mengangkat tangannya tinggi, berhenti membantu Amanda. Mungkin dia memang terlalu berlebihan memperlakukan istrinya saat ini.


Ketika pakaian yang Amanda pakai sudah berhasil dilepaskan, wanita itu meminta Richard keluar dari dalam sana.


"Kok keluar, sih Beby? Aku disini aja temenin kamu," tolak Richard tidak rela.


"Ngapain? Aku bisa mandi sendiri. Nanti kalo aku udah selesai aku panggil kamu lagi, Chad."


"Nggak, pokoknya aku mau temenin kamu disini!" sahut Richard bersikeras.


"Dasar! Bilang aja kalo mau nyari kesempatan!" cibir Amanda yang selalu tahu pikiran mesumm suaminya.


Pria blasteran itu tersenyum menang saat Amanda tidak lagi memaksa dia keluar dari dalam kamar mandi.


"Sini aku bantu...." Richard mengambil showerpuff dari tangan Amanda, membalurkan sabun cair dan mulai menyabuni tubuh polos istrinya.


"Kamu tahu nggak, sih? Ini tuh kerjaan aku setiap hari waktu kamu belum sadar, By. Aku selalu bersihin badan kamu pakai kain basah, trus ngomong banyak hal. Aku berasa jadi suami yang bener-bener siaga disamping kamu saat kamu koma."


Amanda tersenyum duduk membelakangi Richard. "Makasih Sayang ... makasih udah setia dan sabar nungguin aku. Makasih juga karena udah ngerawat aku dengan sangat baik."


"Nggak usah bilang makasih, itu udah tugas aku sebagai suami kamu, By. Kita udah janji bakal selalu setia, kan saat susah dan senang? Aku mau buktiin kalo aku bisa nepatin janji aku sama kamu...."

__ADS_1


Amanda merasa hatinya semakin bersyukur mendapatkan pria sebaik Richard. Ternyata dia tidak salah memilih, Richard adalah pria yang paling tepat untuknya.


Mandi malam itu berlangsung tidak lama, Richard membawa Amanda ke dalam walk in closet di mana lukisan dirinya waktu lalu masih terpajang di sana.


"Chad...!" panggil Amanda.


"Kenapa?" Pria itu sedang mengambil pakaian untuk wanitanya dari dalam lemari.


"Kamu masih pajang lukisan aku disini?"


"Iya. Kan, aku bilang mau lukisan kamu tetep ada di sana." Richard datang membawa baju tidur berbahan satin di tangan, lengkap dengan pakaiann dalam Amanda.


"Tapi aku nggak mau, Chad. Aku takut ada yang liat!"


"Nggak ada. Nggak ada orang yang bakal masuk kesini, kamu tenang aja, By. Aku juga nggak mau tubuh istri aku diliatin orang lain!"


"Yakin banget kamu! Kalo ada yang masuk gimana?" sahut Amanda masih risih dengan keberadaan lukisannya sendiri di sana.


"Nggak ada, yang bisa masuk ke kamar kita cuma kita berdua. Aku udah atur semuanya, pokoknya kamu tenang aja." Richard mulai membantu Amanda memakai pakaiannya.


Pria itu sejak tadi berusaha menahan diri, tidak ingin berpikiran macam-macam saat melihat tubuh polos wanitanya. Dia masih takut dan tidak berani menyentuh Amanda karena kondisinya yang masih belum pulih benar.


Amanda hanya bisa pasrah mengikuti ucapan Richard. Pria itu memang keras kepala jika mengenai hal seperti ini.


"Chad?"


"Kamu kangen nggak sama aku?"


Richard mendongak, menghentikan kegiatannya. "Kok nanyanya begitu?"


"Abisnya kamu kayak nggak terganggu gitu sama aku yang udah bugill dari tadi di depan kamu!" kekeh Amanda menggoda suaminya.


"Ya ampun Beby ... jangan mancing-mancing aku, yah? Aku juga dari tadi lagi berusaha nahan diri tahu!" sahut Richard kesal sendiri dalam hati.


"Nahan diri? Ngapain?"


"Ya biar nggak makan kamu sekarang lah, apalagi...!"


Amanda tertawa, menarik tangan Richard yang baru saja mengaitkan penutup dadanya. "Kamu kalo mau, ayo ... nggak usah ditahan-tahan lagi. Kasian biji kamu nanti pecah gegara penuh."


Amanda tidak berhenti menggoda suaminya yang dia tahu pasti kesulitan menahan diri selama ini. Apalagi mengingat pria itu yang dulu sedikit-sedikit meminta jatah padanya, membuat Amanda yakin kalau Richard pasti sudah sangat merindukan dirinya saat ini.


"Emang kamu udah sehat, By? Aku nggak mau maksa kalo kamu masih belum sehat bener," sahut Richard terdengar bijak.

__ADS_1


Meski sudah sangat merindukan wanitanya, Richard tidak mau egois. Kesehatan Amanda yang paling penting untuknya sekarang.


"Iya, aku udah jauh lebih sehat. Aku udah bisa layanin suami aku."


"Bener?"


"Iya."


"Yaudah...."


"Kok yaudah?"


"Yaudah, aku udah tahu."


Amanda berdecak menahan pipi Richard dan mencumbu lebih dulu bibir tipis prianya. Lebih dulu memainkan bibirnya, Richard akhirnya mau membalas ciuman panas Amanda.


Richard memang masih ragu ingin melanjutkan permainan mereka atau tidak. Tapi melihat Amanda yang terus menerus menantang jiwa lelakinya, Richard akhirnya menyerah dan hanyut dalam pertukaran saliva tersebut.


Richard membawa Amanda ke atas ranjang, membaringkan dia dengan lembut tanpa melepaskan pagutann bibir mereka.


Masih dengan penutup dada berwarna nude yang Amanda pakai, Richard menarik itu keluar menyingkirkan setiap helaian benang yang menutup tubuh mulus istrinya.


Sudah sekian lama merindukan tubuh Amanda, Richard menelusuri setiap jengkalnya dengan tidak sabar. Wangi harum dari sabun yang Amanda pakai tadi, makin membangkitkan gairahh pria yang butuh pelepasan segera itu.


Richard mulai dari dada merah muda Amanda, meninggalkan jejak yang cukup banyak hingga memutari inti puncak tersebut dengan lidahnya.


Amanda merasakan tubuhnya menegang dengan sesuatu dibawah sana yang terasa sesak. Richard ternyata sudah masuk saat dia tengah hanyut dalam permainan bibir dan lidah pria itu di dadanya.


Dalam sekali hentakann kuat, Richard membawa tubuh mereka melayang menikmati puncak yang sama-sama dirindukan keduanya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Segitu aja, yah acara kangen-kangenannya


Jangan minta lagi ok? 🤭😆


__ADS_2