Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Embat Mengembat


__ADS_3

"Ada lagi nggak yang kurang?"


"Udah semuanya, deh kayaknya...." Celin sedang menyortir semua perlengkapan nikah mereka lusa.


Undangan yang sudah dijalankan dari Minggu lalu sudah selesai dibagikan. Sovenir pernikahan mereka pun sudah dikemas rapi dan siap dibawa ke tempat resepsi mereka. Donal sedang membantu calon istrinya bersiap-siap dirumahnya.


"Yaudah, makan dulu gih ... Lo dari tadi belum makan, kan?" Donal menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Celin.


Dia tahu kalau wanitanya ini sangat sibuk sampai tidak sempat makan sejak tadi siang.


"Makasih, Nal."


"Iya, telan dulu makanannya baru ngomong." Celin tersenyum mengangguk.


Donal semakin hari makin perhatian padanya. Celin senang karena pria itu tidak ikut-ikutan stress mempersiapkan pernikahan mereka.


Setidaknya dikala dia lelah dan pusing dengan semua persiapan yang ada, Donal selalu berusaha menenangkan dia dan tidak lupa mengingatkan akan semua kebutuhan mereka menjelang hari H nanti.


"Lo nggak makan, Nal?"


"Nanti aja, gue masih kenyang...."


Celin berdecak, menarik sendok dari tangan calon suaminya. "Lo juga mesti makan, gue nggak mau pas hari nikahan kita Lo malah sakit! Buka mulut...."


Donal patuh mengikuti ucapan wanitanya dan membuka mulut lebar. Pria itu tersenyum sembari mengunyah makanan.


"Emang kalo gue sakit, kenapa? Takut nggak dapet jatah, yah?" goda Donal.


"Ish, itu aja dipikiran elo!"


"Lah emang orang nikah selain mau nyari keturunan apalagi, Cel kalo bukan itu?"


"Bukan cuma itu doang, Nal. Nikah itu tentang komitmen seumur hidup setia sama satu pasangan, berbagi diwaktu susah dan senang, juga mau terima kelebihan sama kekurangan pasangan Lo. Lo harusnya tahu kalo nikah nggak cuma tentang ranjang, goyang, trus ******, udah selesai...." sahut Celin mengingatkan.


"Iya, iya ... gue tahu. Gue becanda kali tadi, Cel. Gue juga sadar tanggung jawab gue setelah nikah itu lebih gede. Gue belajar banyak dari Richard yang sekarang makin dewasa abis nikah."


"Baguslah kalo Lo mikirnya kayak gitu, semoga aja Lo beneran pegang komitmen Lo sama gue sampe tua!" sahut Celin berharap banyak pada Donal.


"Pasti, gue pasti bakal selalu pegang komitmen sama janji gue sama elo, Cel. Buat gue, apa yang udah dikasih sama Tuhan, harus gue jaga dan lindungi dengan baik. Lo cukup percaya dan yakin aja sama gue." Donal menatap Celin dalam, baginya mencintai satu orang di seumur hidupnya itu mahal harganya.


Kesetiaan dan rasa cinta yang akan selalu dia jaga sampai nanti, haruslah selalu ada untuk wanita yang dia pilih yaitu Celin.


"Udah makin jago ngomong, yah sekarang...," goda Celin tertawa geli.


"Ish, Lo emang nggak bisa diseriusin dikit!" kesal Donal mencubit pipi Celin gemas.


"Sakit, Nal...."

__ADS_1


"Bodo!"


Celin menepis tangan Donal, mengusap pipinya yang berdenyut. "Iya, gue percaya Lo nggak bakal macem-macem sama gue. Biji Lo bisa abis gue embat kalo Lo berani ngelakuinnya!"


"Eh, embat gimana maksud Lo?" tanya Donal penasaran.


"Embat di jilatt sama di gigit!" Tawa menggelegar langsung keluar dari bibir Celin, wanita itu memang senang menggoda calon suaminya akhir-akhir ini.


"Ish, bikin ngilu aja Lo, Cel!" sahut Donal ikut tertawa.


Buru-buru pria itu bangkit berdiri dari kursi sofa kamar Celin, pergi mengunci pintu kamarnya.


"Kok dikunci?" tanya Celin merasa perasaanya tidak enak.


"Katanya tadi mau diembat?"


"Hah? Maksud Lo?"


Donal berdecak, menarik Celin mendekat. "Sini, mumpung mama sama papa nggak ada."


"I-ini...." Celin tidak meneruskan ucapannya kaget melihat Donal sudah menarik turun celana pendek yang dia pakai.


"Nih, embat...." tunjuknya pada benda tumpul yang mulai menegang itu.


"Dasar gila! Nggak, gue nggak mau!"


"Eh, jangan lari Lo!" tahan Donal menarik Celin kembali ke posisinya tadi.


"Ya ampun, Nal. Gue, kan cuma becanda. Emang kapan gue bilang mau embat punya Lo sekarang, hah?!" protes Celin tidak terima.


"Udah nggak usah banyak alesan! Cepet, sebelum mama sama papa pulang!" Donal mendorong kepala Celin tidak sabar.


Mau tidak mau Celin membuka mulutnya, mengarahkan kejantanann Donal padanya. Pria itu bahkan memaksa Celin memasukkan seluruh benda panjang itu, hingga hampir ke tenggorokannya. Celin sampai terbatuk-batuk, tersedak dengan keperkasaan calon suaminya.


"Enak, Cel...." desahh Donal masih mendorong kepala wanitanya di bawah sana.


Ingin sekali Celin protes tapi Donal makin kuat mendorong miliknya hingga pria itu ikut bergerak mengikuti irama permainan mulutnya. Donal memang benar-benar tidak waras, kesal Celin dalam hati.


"Aduh, Cel. Mana punya Lo, gue udah nggak tahan!" Donal menyingkap terusan yang dipakai Celin, menarik turun celana berenda merahnya dan menerobos dengan cepat ke kelembutan wanitanya.


Celin yang tidak siap sampai berjengkit dengan pekikan suara yang cukup kuat saat Donal menusuknya dari belakang.


"Ssttt ... jangan berisik, Cel. Nanti mbok Lo denger," bisik Donal mulai memaju mundurkan tubuhnya.


Celin berdecak, pasrah dengan kelakuan Donal. Pria itu terus menghentakknya memberi permainan nikmat di bawah sana.


Tangan kekar Donal bahkan tidak membiarkan dua benda kenyal Celin terbebas begitu saja. Jari-jarinya memutar dan memainkan ujung puncak Celin, diikuti hentakann yang tidak ada habisnya.

__ADS_1


Saat gejolak itu akan datang, bunyi ketukan di pintu kamar Celin terdengar.


"Cel ... udah makan belum?" Suara wanita paruh baya terdengar dari balik pintu.


Donal sejenak menghentikan permainannya, kaget mendengar suara calon mertuanya dari arah pintu.


"Nal, itu mama...!" bisik Celin khawatir.


"Iya, tunggu bentar lagi. Udah mau keluar ini, Cel."


"Tapi, Nalโ€”"


"Tunggu, bentar lagi." Donal kembali menggoyangkan pinggulnya, mempercepat laju permainannya.


Bunyi ketukan dan suara Cut tidak membuat pria itu berhenti, dia masih menghentakk kuat diatas tubuh Celin hingga apa yang ditunggu-tunggu oleh Donal akhirnya bisa keluar.


"Ke kamar mandi sana cepet!" Celin langsung menarik diri dari tautan mereka, mengambil tisue untuk membersihkan sisa-sisa milik calon suaminya.


Donal tertawa geli dan beranjak cepat masuk ke kamar mandi. Celin berusaha menetralkan detak jantungnya yang masih gugup antara menikmati dan takut ketahuan ibunya.


"Iya, Ma." sahut Celin berpura-pura mengambil headset. Wanita itu membuka pintu kamarnya lebar agar Cut tidak curiga.


"Dari tadi Mama manggil kok nggak nyahut, Cel?"


"Sorry, Ma. Tadi aku lagi denger lagu buat resepsi nanti. WO-nya barusan kirim," sahut Celin berusaha terlihat biasa.


"Oh ... kamu udah makan belum?"


"Udah, aku udah makan sama Donal."


"Yaudah, Donal nya mana?" tanya Cut menengok ke dalam kamar.


"Lagi di kamar mandi, Ma." Wanita paruh baya itu mengangguk dan berlalu dari sana setelah puas bertanya pada anaknya.


Celin menutup pintu dan membuang nafas panjang, menatap kesal Donal yang baru keluar dari kamar mandi sambil bersiul rendah.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Kesel nggak, sih sama Biji satu ini ๐Ÿ˜†


__ADS_2