
"Welcome back Miss...!" Teriakan penyambutan dari pegawai butik milik Amanda, terdengar ditelinga wanita bermata sipit itu, ketika dia baru saja masuk ke dalam.
Ditemani suaminya Richard, Amanda berjalan tanpa bantuan kursi roda lagi. Matanya sontak berkaca-kaca melihat seluruh pegawainya berdiri di depan dia dengan sebuah buket bunga, dan spanduk bertuliskan ucapan selamat datang.
"Selamat datang kembali Miss...." Vania maju mendekati atasannya penuh haru.
Wanita yang selama ini mereka doakan agar bisa segera sadar, kini sudah berkumpul lagi bersama mereka.
Vania memeluk Amanda dengan rasa rindu dan airmata yang berlinang. Dia masih tidak percaya kalau atasannya yang sangat baik ini berdiri dengan sehat di depannya.
"Makasih udah kembali Miss ... kita semua kangen sama Miss," ucap Vania setengah merengek.
"Aku juga kangen banget sama kamu dan semua yang ada disini, Va. Makasih udah bantu aku jagain butik ini...," sahut Amanda tulus.
"Iya, Miss. Aku tahu Miss pasti sadar dan kembali sama kita. Butik ini jadi nggak rame semenjak Miss kecelakaan." Amanda mengangguk, dengan hati penuh syukur.
Melihat pegawainya bergantian memberi ucapan selamat dan memeluk dirinya sambil menangis, hati Amanda semakin terenyuh dibuatnya. Ternyata kehadiran dia begitu dirindukan oleh semua orang, pikir Amanda.
"Sehat selalu, yah Miss ... kami semua selalu mendukungmu...," ujar salah satu pegawai dibutik Amanda.
Mereka sudah selesai memberikan pelukan kerinduan dan kembali ke tempat masing-masing, sembari menunggu satu dua kata dari pemimpin mereka.
"Terima kasih semuanya. Aku sangat berterima kasih untuk kerja keras kalian selama aku nggak ada. Hari ini aku akan mentraktir makan siang kalian dan menambah bonus untuk bulan ini!"
Sahutan kebahagiaan terdengar dari mulut semua pegawai butik Amanda, begitu mendengar penuturan bos mereka.
Amanda ingin membagikan rasa syukurnya bersama pegawai-pegawai yang sudah luar biasa bekerja demi butiknya.
Beruntung selama dia dirawat di rumah sakit dan tidak sadar, butik miliknya masih beroperasi dengan sangat baik dan tidak ada kerugian signifikan yang terjadi.
Meski ada beberapa pelanggan yang sempat mengeluh karena pesanan mereka yang terkendala, namun semua masih bisa terselesaikan dengan baik.
Amanda benar-benar salut dengan semua pegawainya yang bekerja dengan baik, walau tanpa ada pemimpin mereka disini.
"Gimana perasaan kamu, By?" Pasangan suami istri sudah masuk ke dalam ruang pribadi Amanda dalam butik.
Suasana di sana masih sama saat wanita itu terakhir kali duduk di kursi kebesarannya menyelesaikan desain-desain baju atau dress pelanggannya.
"Aku bahagia sekaligus bersyukur, Chad. Aku seneng akhirnya bisa kembali ke rumah impian aku."
Richard tersenyum, menarik istrinya mendekat. Pria blasteran itu duduk di pinggir meja kerja Amanda, dan merangkul pinggang rampingnya posesif.
__ADS_1
"Bagus deh, kalo kamu bahagia, By. Hati aku udah makin tenang liat kamu sekarang."
Amanda mengernyit, bingung mendengar ucapan suaminya. "Emang selama ini hati kamu kenapa?"
"Sebenernya aku masih khawatir sama keadaan kamu, By. Aku takut kamu masih mikirin kejadian waktu lalu, dan terus bikin kamu sedih. Aku cuma—"
"Aku udah nggak apa-apa, Chad." potong Amanda menutup bibir suaminya dengan jari telunjuk.
"Aku udah lebih baik sekarang. Aku udah bisa nerima semuanya, Chad. Kamu nggak perlu khawatirin aku lagi. Masih diberi kesempatan untuk ketemu sama kamu, aku udah bersyukur banget, Chad. Tuhan ternyata masih ngizinin kita berdua buat terus sama-sama." Amanda menarik jarinya, mencium bibir Richard sekilas.
Bagi wanita itu, masih diberi kesempatan untuk hidup adalah sesuatu hal yang sangat patut disyukuri. Meski harus kehilangan buah cinta mereka, tapi Amanda yakin kalau Yang Empunya Hidup akan menggantinya dengan berkali-kali lipat lebih indah.
Amanda hanya ingin melepaskan semuanya, dan mulai menjalani hidup seperti biasa. Hidup bahagia bersama orang-orang yang dia cinta dan mencintainya.
"Makasih selalu setia disamping aku yah, Sayang...." Amanda tersenyum, menatap penuh cinta pria di depannya.
Richard mengangguk, dan kembali mencumbu bibir tipis Amanda. Dia juga berharap kebahagiaan akan terus menghiasi keluarga kecil mereka sampai nanti. Richard akan terus berdiri, menemani Amanda sampai takdir hidup memisahkan mereka.
Ditengah cumbuan yang semakin panas itu, keduanya dikejutkan dengan kedatangan Mawar dan Dira yang ikut kaget melihat atasan mereka tengah asik bercumbu dengan mesra di depan sana.
"Astaga...." Dira lebih dulu bersuara, menutup mata Mawar yang membola.
Amanda langsung mendorong Richard menjauh, melepaskan pelukan pria itu ditubuhnya.
Richard berdecak, bangkit dari atas meja kerja istrinya dengan wajah kesal. "Ganggu aja, sih kalian!" sentaknya.
"Ya kita mana tahu kalau Bapak lagi enak-enakan sama ibu Amanda disini. Tahu gitu, aku belum ngajak Mawar naik keatas tadi!" sahut Dira tidak mau disalahkan.
"Udah, Chad. Kita juga yang salah karena nggak tutup pintu...," sela Amanda malu. Dipergoki sepertinya sudah menjadi bagian dari hubungan dia dan Richard, pikirnya.
"Mau apa, sih kesini?! Emang gue udah suruh Lo kemari?!" tanya Richard masih kesal kegiatan kesukaannya diganggu.
Pria itu sudah duduk dikursi sofa empuk dalam ruangan, dengan Amanda yang duduk dikursi kebesarannya dibelakang meja kerja.
"Maaf, Pak. Tapi kita ada meeting satu jam lagi, Pak Tommy minta Bapak yang pergi hari ini. Beliau sudah selesai katanya bantuin Bapak di kantor," sahut Dira memberitahukan informasi yang dia dapatkan tadi pagi dari ayah atasannya.
Richard terlihat membuang nafas panjang, dia lupa kalau hari ini dia sudah kembali resmi bekerja di perusahaan lagi.
Padahal hari ini Richard ingin sekali menemani Amanda dibutik dan sedikit bermain disini. Richard bahkan sudah memikirkan akan melakukan gaya apa nanti saat mereka berada di sofa empuk yang tengah dia duduki itu.
"Pergi aja, Chad. Daddy udah bilang kemarin, kan sama kamu...," timpal Amanda ikut mengingatkan suaminya.
__ADS_1
Mau tidak mau pria itu beranjak dari sofa, melangkah malas mendekati istrinya. "Bisa nggak diundur dulu meeting-nya, By? Aku masih pengen...," sahut Richard memelas penuh arti.
Dira dan Mawar sampai cekikikan dibelakangnya melihat tingkah Richard yang memang selalu bersikap manja setiap kali bersama Amanda.
"Ish, tar malem aja, Chad! Aku juga mau bahas sesuatu sama Mawar."
"Bentar doang emang nggak bisa, By?" bujuk Richard lagi berusaha bernegosiasi.
"Bentar kamu nggak pernah bentar doang, Chad. Udah sana pergi, jalanan pasti macet siang-siang begini!"
Richard mendengus, masih sempat mencium pipi wanitanya. "Iya, aku pergi. Nanti telepon aku kalau udah mau pulang."
Amanda mengangguk, tersenyum menatap Richard yang berjalan malas keluar dari ruangannya diikuti Dira dari belakang.
Sekretaris suaminya itu pun ikut memberikan kecupan sekilas di pipi Mawar yang sempat dilihat oleh Amanda.
Amanda merasa kalau bodyguard-nya itu pasti punya hubungan yang spesial dengan Dira.
.
.
.
.
.
.
.
Namanya juga biji 🤭😆
Kaget, yah author up siang-siang begini?
Hehehe
Sengaja, yah guys...
Nikmatin aja part-part terakhir kita
__ADS_1
Terima Kasih 🌹