Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Lamaran Double M


__ADS_3

Tetua adat setempat datang ke rumah Manis tepat jam dua belas siang. Bersama beberapa orang-orang berpengaruh di kampungnya, mereka duduk beralaskan tikar di lantai rumah tradisional itu.


Mike duduk di dekat jendela dengan Parto berada di sampingnya. Di dekat dia juga tengah menyala sebuah laptop yang tersambung langsung dengan Oma dan ibu tirinya, yang ingin melihat acara lamaran Mike dan Manis siang ini.


Pria blasteran itu memakai kemeja tangan panjang berwarna putih, yang dipadukan dengan celana kain berwarna navy. Mike duduk dengan gelisah, sambil sesekali melihat ke arah di mana Manis akan keluar sebentar lagi.


Perlahan, Manis keluar berjalan anggun mendekati ibunya Badia. Wanita berambut panjang itu memakai baju adat daerahnya yang terlihat sangat cantik dan pas di badannya siang itu.


Manis ikut duduk di samping Badia yang tepat berhadapan langsung dengan Mike. Pria itu tidak berkedip melihat calon istrinya sangat cantik dan berbeda dengan balutan baju adat tersebut.


Suara pujian juga terdengar dari arah laptop, di mana Jessie dan Linda tengah menonton dari ujung sana. Mereka ikut terpukau melihat calon menantu di keluarga mereka sangat cantik dan anggun.


Mike terus menatap Manis hingga pandangan mata keduanya bertemu, dengan detak jantung yang sama-sama tidak karuan. Manis tersipu saat Mike mengedipkan mata sebelahnya yang sempat dilihat Malo.


"Mata kau kenapa Mike? Kelilipan?" Sontak semua pandangan mata yang tadinya ada pada Manis, kini berpindah menghadap kearah Mike.


Pria itu dibuat salah tingkah dan gelagapan dengan pandangan mata antara geli dan penasaran semua yang ada di sana. Calon kakak iparnya itu memang paling tahu bagaimana membuat orang malu, kesal Mike dalam hati.


"Baiklah, karena calon istri sudah hadir. Mari kita mulaikan acara lamarannya." Tetua adat mengalihkan perhatian semua orang dan mulai membacakan doa-doa dengan bahasa daerah mereka selama beberapa menit.


Dia juga menanyakan apa saja yang di bawa Mike untuk seserahan, karena akan diumumkan oleh salah seorang berpengaruh yang hadir di sana.


Parto dengan sigap mulai memindahkan satu per satu barang yang mereka bawa jauh-jauh dari Jakarta, ke tengah ruangan. Di atas barang-barang tersebut, ada juga dua buah dokumen kepemilikan atas nama Mike, yang akan dia berikan untuk Manis sebagai mahar pernikahan mereka nanti.


Semua orang tengah serius memperhatikan banyaknya barang yang ada, hingga Malo mendekat dan berbisik di telinga adik perempuannya.


"Kau beruntung dikasih banyak barang begini sama calon laki kau, Nis. Kakak dulu mana ada Simbolon kasih begini, dia cuma bawa biji sama duit satu juta saja!"


Manis hanya tersenyum menanggapi ucapan kakaknya. Bukan ini sebenarnya yang dia cari, tapi justru kebahagiaan mereka kelak dalam berumah tangga.


Manis berharap keluarga mereka akan selalu rukun dan dihindarkan dari sesuatu yang tidak baik, pikirnya.


Acara lamaran itu berlangsung dengan khusyuk diikuti doa-doa dari semua yang berkumpul di sana. Setelah memasangkan cincin satu sama lain, Mike menarik Manis duduk di dekatnya.


"Cantik banget, sih calon istri gue...," goda pria berambut jabrik itu.


"Apa, sih...." Malu-malu Manis menjawab.

__ADS_1


"Selamat, yah, Nis." Suara dari arah laptop terdengar, sambungan telepon ternyata masih tersambung di ujung sana.


"Makasih Oma, Tante...."


"Kok manggilnya masih Tante, sih? Kan, udah bentar lagi udah mau nikah sama Mike, panggil Mami dong, Nis...," sahut Linda tersenyum hangat.


"Nggak usah, Lo nggak perlu panggil dia begitu!" sela Mike tidak suka.


"Udah, nanti gue telpon lagi Oma, bye!" Mike menutup layar laptopnya tanpa mendengar jawaban dari mereka.


"Kok dimatiin Mike?"


"Males! Lagipula acaranya, kan udah kelar. Nanti aja kalo Lo mau telpon Oma," sahut Mike mendengus kesal.


Manis diam, memperhatikan calon suaminya yang begitu membenci ibu tirinya. Mungkin setelah mereka kembali ke Jakarta, Mike bisa memaafkan Linda setelah dia tahu yang sebenarnya, pikir Manis.


"Eh, nanti sore kita jalan-jalan, yuk? Lo belum bawa gue keliling kampung elo, Nis...," ajak Mike mengalihkan pembicaraan.


"Boleh, tapi kampung aku cukup besar. Takutnya kaki kamu nggak kuat kalo jalan Mike."


"Ya ampun ... Lo minta sepuluh ronde juga, dengkul gue masih kuat kali, Nis!"


"Ronde di ranjang," bisik Mike tertawa geli.


Wajah wanita itu sontak memerah dan memukul lengan Mike karena malu. Pria itu masih sempat-sempatnya menggoda dia disaat sedang banyak orang seperti ini, pikir Manis.


"Mesra kali kalian...." Malo menerobos masuk diantara dua pasangan yang baru saja bertukar cincin itu.


"Aku kasih tau sama kau Mike. Jangan kali-kali kau mainin hati adik aku, apalagi sampai bikin dia nangis. Kalau kau masih sayang sama kepala atas bawah kau, dengarkan apa kata kakak kau ini!"


Mike mengangguk patuh merasakan pundaknya berdenyut ditepuk-tepuk oleh Malo. Wanita yang sebenarnya jauh berumur di bawahnya itu sedang menujukkan senioritasnya pada Mike.


Malo hanya ingin adiknya yang manis ini bisa hidup dengan aman dan bahagia, kelak jika mereka menikah dan tinggal bersama dengan Mike.


"Dan kau Manis...," sambung Malo menatap adiknya.


"Jadi istri yang berbakti sama suami kau nanti. Kalau dia pergi, kau harus ikut kemana dia pergi! Jangan mau ditinggal dengan alasan kerja, jangan percaya sama mulut laki-laki buntung. Kakakmu ini sudah pengalaman dengan hal begitu!" Malo berganti menepuk dadanya, menunjukkan bagaimana tegarnya dia setelah ditinggal Simbolon yang tidak balik-balik dengan alasan pergi mencari kerja.

__ADS_1


"Kakak tenang saja, Mike nggak begitu orangnya. Dia setia dan jujur selama ini, Manis udah cukup mengenal Mike dengan baik," sahut Manis memuji calon suaminya itu.


Dia tahu kalau Mike pasti tidak akan mengkhianati kepercayaannya. Meski terlihat tidak pernah serius padanya, tapi Manis tahu kalau Mike selalu sungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan, dan bertanggung jawab dengan semua yang dia lakukan.


"Bagus kalau begitu, tapi kalau dia macam-macam ... bilang sama kakak. Dia harus rasain gimana tangan kakak yang besar ini tumbuk bijinya!"


Mike sontak menelan salivanya kasar mendengar ucapan Malo. Bukan apa-apa, tapi tubuh tambun dengan kepalan tangan yang cukup besar itu bisa membuat benda kebanggaannya pecah dalam sekejap jika sampai Malo benar-benar melakukannya, pikir Mike.


"Jangan ganggu mereka Malo! Sini, bantu ibu dibelakang!" panggil Badia dari arah dapur.


Malo berdecak dan bangkit berdiri menuju dapur, dia tidak ingin sendal kembali melayang di kepalanya kalau dia tidak kesana mengikuti perintah Badia.


"Kakak Lo nggak serius, kan, Nis?" bisik Mike setelah Malo pergi.


"Dia serius kalo kamu emang beneran bikin hal yang dia bilang tadi...."


"Ish, nggaklah. Gue cowok setia, Nis. Kalo mau main belakang, paling pas main sama elo aja," kekeh Mike menaik turunkan alisnya.


"Main belakang itu apa?" tanya Manis polos.


"Astaga...." Mike menepuk dahinya, lupa kalau Manis bahkan tidak tahu apa maksud pembicaraan dia.


"Udah, nanti setelah kita nikah ... Lo bakal tau apa itu main belakang dan main-main lainnya!"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Asikk,, tinggal selangkah lagi yah Mike.... 🤭😆


__ADS_2