Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Beda Rasa


__ADS_3

"Jadi aku sama Dira yang pergi besok, Pak?"


"Iya, aku nggak bisa pergi. Amanda nggak mau ditinggal soalnya. Besok siapin diri kamu berangkat bareng Dira ke Kalimantan."


Mawar menghembuskan nafas panjang mengingat pembicaraan kemarin dengan atasannya Richard. Pria blasteran itu tiba-tiba menghubunginya dan berkata kalau hari ini dia harus ke Kalimantan bersama Dira.


Mawar tidak mengerti kenapa harus dia yang pergi menemani Dira kesana. Memangnya pria itu anak kecil yang harus ditemani segala?


Mawar tidak habis pikir dengan keputusan Richard yang memintanya harus ikut dengan Dira. Padahal masih banyak yang bisa Richard suruh untuk pergi dengannya bukan? Lalu kenapa harus dia? Ah, Mawar kesal sendiri memikirkan ini semua.


"Sorry, gue telat. Dah lama, yah?" Dira baru saja tiba di bandara setelah terjebak macet cukup lama di jalan.


"Sebenernya yang punya urusan gue apa elo, sih?! Daritadi gue yang sibuk urusin keberangkatan kita!" sentak Mawar menatap kesal pria di depannya.


"Iya, sorry ... tadi malem gue lembur sampe larut makanya gue bangun kesiangan. Sorry, yah...? Jangan marah, nanti Lo makin cantik kalo marah-marah begitu," sahut Dira masih sempat-sempatnya menggoda wanita bertato di tangan itu.


"Terserah!" Mawar berlalu, masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan pesawat mereka.


Keduanya tiba di Kalimantan setelah melewati perjalanan udara selama satu jam tiga puluh menit. Mereka dijemput mobil perusahaan dan akan menginap di sebuah hotel selama hampir seminggu ke depan.


"Loh, kartu aksesnya kok cuma satu, Dir? Punya gue mana?"


"Kita satu kamar."


"Apa?!" kaget Mawar. "Lo becanda, yah?" sambung wanita itu tidak percaya.


"Nggak, Pak Richard emang cuma ngasih satu kamar aja buat kita. Lo kalo nggak mau, booking aja kamar sendiri buat Lo!" sahut Dira santai.


"Ck, jangan boong. Pak Richard nggak mungkin sewain satu kamar doang buat kita. Ini pasti cuma akal-akalan Lo doang, kan biar bisa sekamar sama gue!"


"Terserah elo kalo nggak mau percaya. Gue naik duluan!" Dira menarik kopernya, beranjak menuju lift dekat meja resepsionis.


Mawar tidak puas jika belum mengkonfirmasi sendiri ucapan pria bermata sipit itu pada resepsionis hotel. Dan benar saja kalau atasan mereka memang hanya membooking satu kamar untuk mereka berdua.


Entah Richard sengaja atau tidak, tapi Mawar merasa kalau dirinya tengah dikerjai oleh atasannya sendiri.


"Ikut juga Lo kesini?" Dira sengaja berlama-lama di depan lift menunggu Mawar mengikutinya.


"Gue nggak mau satu ranjang sama Lo! Pokoknya elo yang tidur di sofa!" Mawar lebih dulu masuk ke dalam lift yang terbuka dengan wajah cemberut.


Baru saja tiba di sana dia sudah sekesal ini, entah apalagi yang akan dia hadapi di hari-hari berikutnya, pikir Mawar.


Dira tersenyum menang dalam hati. Sebelum berangkat ke Kalimantan, Richard sudah menghubunginya kalau kamar yang bisa perusahaan pesankan untuk mereka berdua, hanya satu kamar saja.

__ADS_1


Dira sendiri bingung kenapa perusahaan hanya memberikan satu kamar untuk mereka. Tapi saat mendengar perkataan Richard ditelepon, Dira juga tidak menolaknya karena dia pun memang ingin bisa sekamar dengan wanita yang dia incar itu.


"Eh, Lo ngapain disini?! Gue, kan udah bilang Lo tidur di sofa, Dir!" Mawar tidak terima saat pria itu naik ke atas ranjang hotel.


"Sejak kapan gue iyain mau tidur di sofa? Lo kalo nggak mau seranjang sama gue yaudah, Lo aja yang tidur di sofa!"


"Dasar gila! Nyesel gue kesini sama Lo!"


"Jangan protes sama gue, War. Bukan gue yang minta Lo kesini, kan...," sahut Dira menang.


Mawar hanya bisa berdecak, memilih mengalah daripada makin stres menghadapi pria menyebalkan itu.


Siang ini mereka akan langsung pergi menemui rekan kerja perusahaan yang sudah membuat janji temu dengan mereka disebuah restoran.


Dira memutuskan membawa mobil perusahaan sendiri, menunggu Mawar yang gasrak gusruk mencari sesuatu ditasnya.


"Nyari apaan sih, War?" tanya Dira tidak sabar.


"Liptint gue. Kayaknya ketinggalan, deh dikamar. Bentar, yah gue ambil dulu liptint-nya."


"Eh tunggu...," tahan Dira. "Pake punya gue aja." Pria bertato dileher itu mengambil sebuah stick liptint rasa strawberry miliknya dari saku jas.


"Nih, rasanya sama kok kayak punya Lo." sambung Dira mengulurkan liptint itu kedepan Mawar.


"Nggak mau, jijik gue tuker-tukeran liptint sama orang!" tolak Mawar menjauhkan tangan Dira darinya.


"Ya itu, kan beda, Dir...."


Dira mengernyit. "Beda gimana maksud Lo?"


"I-itu karena...." Mawar tidak meneruskan ucapannya, merasa sudah salah berbicara dengan Dira.


"Apa? Karena apa, hah?"


"Nggak ada. Udah pokoknya Lo tunggu aja disini, gue nggak bakal lama."


Dira kembali menahan wanita yang memerah malu di depannya, menarik tangan Mawar hingga wajah mereka sangat dekat. "Mau lari?"


Aroma nafas mint langsung terasa di kulit wajah Mawar, detak jantungnya mulai menggila menatap manik mata coklat tua Dira.


"E-enggak, siapa yang mau lari?" sahut Mawar gugup.


"Terus kenapa nggak terusin ucapan Lo tadi, hm?" Dira menyentuh dagu Mawar, sengaja menggoda wanita itu.

__ADS_1


"Beda, yah rasanya kalo gue cium elo sama pake liptint itu ke bibir elo, War?" sambung Dira tersenyum nakal.


"A-apa, sih?! Asal nyeblak aja mulut Lo!"


"Nggak usah boong, bibir Lo berkedut kalo lagi boong, War...," kekeh Dira.


Wanita itu refleks mengulum bibirnya, mundur menjauh dari Dira. "Nggak lucu!" kesalnya merasa dikerjai.


"Sekarang Lo pilih aja, mau gue cium ato make liptint ini!" Dira menunjukkan liptint miliknya di tangan. "Kita udah telat kalo Lo masih mau naik ke kamar lagi."


Mawar mendengus tidak punya pilihan. Wanita itu akhirnya memilih mengambil liptint Dira dari tangannya, dan mengoleskannya ke bibir.


Dira kembali tersenyum menang menatap Mawar yang tampak seksi menggunakan liptint di sampingnya. Meski wajahnya menyiratkan kekesalan, tapi Mawar jauh terlihat lebih cantik saat ini.


"Mau gue tambahin nggak?" tanya Dira masih menatap Mawar, intens.


"Tambahin apaan maksud Lo?"


"Ini...." Dira menarik tengkuk Mawar, mendaratkan bibir basahnya ke bibir tipis wanita itu.


Rasa dan aroma strawberry langsung terasa di indera pengecapnya begitu merasai bibir Mawar yang tertutup rapat.


Dira berusaha menembus pertahanan Mawar yang kaget dengan kelakuannya yang selalu mencium dia seperti ini.


.


.


.


.


.


.


.


Astaga ...


Perkara liptint Mawar jadi keki sendiri 😆


Giveaway masih berlangsung, yah guys

__ADS_1


Yang belum komen, yuk ikutan di IG author @adamvanda


Terima kasih 🌹


__ADS_2