
"Ngapain kamu kesini?!" Tari ikut bersuara menatap tidak suka wanita yang dianggapnya pembawa sial. "Saya sudah bilang jangan deket-deket sama keluarga saya lagi, kan? Berani sekali kamu dateng kemari?!"
"Mom ... kok Mommy gitu, sih?" sela Amanda malu mendengar ucapan ibu mertuanya pada Mawar.
"Maaf Tante, aku kesini cuma mau minta maaf sama Amanda...," sahut Mawar takut-takut. Dia terlalu takut jika Tari akan mengusir dan mempermalukan dirinya di depan semua yang ada di sana.
"Ayo masuk, Keith." Tari berlalu, tidak memperdulikan ucapan Mawar.
Wanita itu tidak mau semakin kesal jika masih berada di dekat Mawar. Dia masih butuh waktu untuk memaafkan bodyguard Amanda tersebut.
"Nggak usah didengerin apa kata mommy gue, War." Amanda berucap setelah Tari pergi meninggalkan mereka.
Dia jadi tidak enak hati pada wanita yang dianggapnya sangat baik pada dia dan Richard selama ini.
"Nggak pa-pa, Manda. Gue ngerti kenapa sampe sekarang tante Tari masih marah sama gue." sahut Mawar berusaha lapang dada.
Jika tidak mengingat rasa bersalah yang terus menghantui hatinya, Mawar tidak akan mau datang kesini dan merusak suasana pesta penyambutan istri bosnya. Tari pasti semakin membenci dia karena ini, pikir Mawar.
"Nggak, mommy nggak marah sama Lo. Gue kenal siapa mommy. Dia bukan orang yang suka nyimpen amarah apalagi dendam sama orang lain. Dia mungkin cuma kaget aja liat Lo disini," sahut Amanda mencoba membuat Mawar tenang dan nyaman.
Mawar hanya mengangguk mengiyakan ucapan Amanda. Dia tidak tahu saja bagaimana pertemuan pertama mereka setelah kecelakaan waktu itu gumamnya.
"Tapi Lo nggak pa-pa, kan?" tanya Amanda khawatir dengan keadaan wanita yang selalu menemaninya saat Richard tidak ada.
"Nggak pa-pa, gue cuma geger otak ringan aja waktu itu. Maafin gue karena nggak hati-hati yah, Manda. Gue udah bikin lo—"
"Nggak usah diterusin, War," potong Amanda cepat. "Lo nggak salah apa-apa, orang yang nabrak kita yang salah. Lo udah berusaha bawa mobil dengan baik, jadi nggak usah minta maaf ato nyalahin diri Lo lagi. Ini cuma musibah buat kita berdua, gue bersyukur Lo nggak kenapa-napa karena kecelakaan itu."
Hati Mawar menghangat mendengar ucapan Amanda. Wanita ini memang baik, bukan hanya dia saja. Tapi juga Richard, pasangan suami istri itu benar-benar pasangan yang baik dan cocok satu sama lain. Mawar merasa beruntung bisa mengenal dan bekerja bersama mereka.
"Lo disini, War?" Richard baru saja datang setelah puas berdebat dengan Rena kakaknya.
"Eh, iya Pak." sahut Mawar salah tingkah.
"Ama siapa?"
"Sama Dira, Pak."
"Dira?" Mawar mengangguk.
"Trus Dira-nya mana?" tanya Richard tidak melihat keberadaan sepupu sahabatnya itu.
"Mungkin masih diluar, Pak. Nggak tau juga," sahut Mawar apa adanya.
Dia memang tidak menunggu pria itu saat tiba dihalaman rumah Richard yang penuh dengan kendaraan. Mawar terlalu malas jika harus menunggu dan masuk ke dalam bersama Dira.
__ADS_1
"Dira siapa, sih?" tanya Amanda tidak tahu.
"Dia sekretaris baru aku, By. Dia sepupunya Donal."
"Ngapain Lo sebut-sebut nama gue?!" Donal baru saja datang menggandeng Celin disampingnya. Dua pasangan yang akan segera menikah itu tampak serasi dengan baju yang berwarna senada.
Melihat kehadiran mereka yang begitu tiba-tiba, Mawar refleks mundur tidak ingin melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh keduanya.
"Dateng juga Lo? Gue kira Lo masih dihukum," kekeh Richard teringat bagaimana pria itu diberi hukuman oleh Dena.
"Udah enggak, dong. Kan, bentar lagi udah mau nikah...," sahut Donal membanggakan diri.
"Nikah? Nikah sama siapa?" sela Amanda.
"Celin lah, emang sama siapa lagi...." tunjuk Donal pada kekasih hatinya. Wanita yang ditunjuk pun tersenyum malu-malu disamping Donal.
"Wah ... selamat, yah. Akhirnya Lo ikutin jejak Mike juga," sahut Amanda tulus.
Mendengar perkataan Donal yang akan menikah, hati Mawar seketika berdenyut sakit. Meski dia sudah menjaga jarak dengan dua orang yang baru datang itu, Mawar masih bisa mendengar pembicaraan mereka. Ternyata dia benar-benar sudah tidak punya harapan lagi, gumamnya sedih dalam hati.
"Makasih, Manda. Gue kesini juga mau ngundang kalian, sekalian sama...." Donal menggantung ucapannya menatap ke arah Mawar.
"Sama Lo juga, War." sambung Donal menyodorkan undangan berwarna peach ke tangan wanita itu.
"Iya ... dateng, yah?" Celin menyela, tersenyum hangat menatap Mawar.
Tidak ada pandangan mata meremehkan atau menganggap Mawar sebagai saingannya lagi di sana. Celin tahu kalau Donal sudah memilih dia, tidak ada lagi alasan untuk Celin membenci atau tidak suka pada sosok wanita bertato di tangan itu.
"I-iya." Ragu-ragu Mawar menerima undangan pernikahan pria yang masih dia cinta sampai saat ini.
Melihat itu saja sudah membuat hati Mawar tercabik, apalagi harus datang ke pesta pernikahan mereka. Entah apa dia mampu atau tidak untuk pergi pikirnya.
"Mawar bakal dateng sama gue!" Dira baru saja masuk ke dalam rumah atasannya dan melihat sepupunya juga ada di sana.
Pria itu merangkul pundak Mawar yang terdiam, berdiri disamping dia.
"Nah, pas kalo gitu. Biar Lo ada temennya juga di sana," sahut Donal menatap bergantian Dira dan Mawar.
"Iya, gue nggak mau kesana sendirian!"
Mawar masih diam, larut dalam pikirannya sendiri. Sama sekali tidak ada keberanian untuknya datang ke pernikahan Donal dan Celin.
Melihat pria yang dia cinta bersanding bahagia dengan orang lain, dia mana mampu? Bahkan hatinya saja belum sembuh dengan penolakan yang diberikan Donal padanya tempo hari.
Lalu sekarang dia harus terluka lagi mendengar pria itu akan menikah? Sungguh takdir sangat kejam mempermainkan perasaannya gumam Mawar.
__ADS_1
"Lo kenapa diem aja daritadi?" Dira duduk dibelakang kursi kemudi, mengantar Mawar pulang.
"Nggak kenapa-napa."
"Jangan boong, gue tau ada yang lagi Lo pikirin." Mawar diam.
Dira mengalihkan pandangannya sekilas ke arah Mawar, melihat wanita itu masih memegang sesuatu ditangannya.
"Daritadi Lo nggak brenti megang undangannya Donal. Kenapa? Lo masih cinta sama dia?" Telak, Dira bersuara.
"Ma-maksud Lo apa ngomong begitu? Siapa juga yang cinta sama dia?" elak Mawar.
Dira tersenyum, memberhentikan mobilnya ditepi jalan. Pria itu membuka seatbelt yang dia pakai, dan berputar menatap Mawar yang duduk disamping dia.
"Gue tau kalo Lo cinta sama sepupu gue, War."
Mawar tertawa miris. "Tau dari mana Lo?! Udah kayak dukun aja Lo!"
Dira menarik dagu Mawar menghadap padanya. "Gue tahu, gue bisa liat dari cara Lo natap sepupu gue tadi!
"Apa, sih?! Nggak usah sok tahu!" Mawar berusaha menarik wajahnya namun ditahan oleh Dira.
"Kalo gue minta Lo lupain Donal, mau nggak?" Manik mata cokelat tua Dira menatap dalam wanita di depannya.
Entah apa maksud ucapan Dira, tapi Mawar merasa kalau jantungnya sedang berdebar saat ditatap seperti itu oleh pria berhidung mancung ini.
"Gimana kalo sekarang Lo belajar buka hati Lo buat orang lain? Gue contohnya...."
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang mau Mawar bahagia, tunjuk biji 🤣
__ADS_1