Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Cuma Milik Gue!


__ADS_3

"Turun!"


"Nggak!"


"Turun gak gue bilang?!"


"Enggak!"


Donal berdecak menarik Celin keluar dari mobilnya.


"Gue nggak mau, Lo apa-apaan sih?!"


Kesal dengan tingkah Celin yang terus berontak di sampingnya, Donal terpaksa menggendong tubuh seksinya ke atas bahu.


"Aaaa...." pekik Celin kaget.


"Diem...!" Donal memukul bokong Celin kuat, membawanya masuk ke dalam lift.


"Turunin gue Donal...!"


"Jangan harep!"


Bunyi denting pintu lift yang tertutup membawa mereka ke lantai paling atas dimana kamar apartemen Donal berada.


Wanita itu terus berteriak memaksa Donal melepaskannya, untung saja tidak ada siapa-siapa di dalam lift itu. Hingga Donal tidak terlalu memusingkan suara pekikan nyaring dari mulut Celin.


Berjalan cepat menuju pintu kamar apartemennya, Donal menekan password dan masuk ke dalam.


"Lo mau apa bawa gue kesini?!" Celin masih heboh berteriak hingga pria itu melemparnya ke atas ranjang.


Donal ikut naik dan mengunci pergerakan Celin diatas tubuhnya.


"Kenapa? Lo mau cowok brengsek tadi yang bawa Lo ke apartemennya?!"


"Trus kenapa emangnya kalo gue ikut dia kesana, apa hubungannya sama Lo, hah?!"


"Hubungannya? Lo mau tau hubungannya apa?" Donal mendekatkan wajahnya ke telinga Celin dan berbisik.


"Karena Lo cuma milik gue...!" Donal menarik baju yang dipakai Celin hingga robek, dan mendaratkan gigitan-gigitan kecil di atas dadanya yang menyembul.


Celin berusaha mendorong tubuh berat Donal diatasnya saat pria itu semakin kuat mengigit dadanya.


"Brengsek! Minggir...!" pekik Celin lagi mulai kesakitan dibuatnya.


Donal malah tambah menggigit dadanya dan pindah ke leher Celin. Meninggalkan jejak yang cukup banyak disana, tangan nakalnya mulai meremass benda kenyal yang masih tertutup itu.


Donal menahan dua kaki Celin dan memaksa wanita itu membuka kakinya lebar. Dengan satu tangan menarik turun resleting celana yang dia pakai, Donal bersiap memasuki kelembutan Celin.


Baju dan pakaian dalamm yang dipakai Celin sudah robek, Donal bersikap gila dan mulai menyodoknyaa dengan kasar.


Donal membekap mulut Celin dengan bibirnya saat wanita itu terus berteriak, merintih dibuatnya.


Dalam kegiatan panass dengan hati yang sama-sama panas, Donal tidak mempedulikan Celin yang mulai menangis dibawahnya.


Dia hanya ingin memberi pelajaran pada wanita ini karena sudah membuat hatinya tidak nyaman. Entah apa dia cemburu atau tidak, Donal hanya ingin melepaskan emosi yang dia rasakan.


Dalam waktu lima belas menit menggempur Celin yang menangis sakit hati karena perlakuannya, Donal menyemburkan miliknya di dalam sana tanpa pengaman.

__ADS_1


Dia lupa kalau ternyata dia tidak memakai apapun untuk membungkus keperkasaannya itu.


Donal baru sadar, saat dia menarik diri dari kelembutan Celin setelah hampir lima menit berdiam diri diatas tubuh polos wanitanya.


"Jangan nangis," bujuk Donal berbaring di samping Celin.


Wanita itu malah berbalik dan terus menangis sesenggukan. Celin tidak terima diperlakukan begitu oleh Donal, pria ini dengan seenaknya memperlakukan dia semau hatinya.


"Kita nikah aja mau nggak?"


Celin terdiam namun tidak mau berbalik menatap Donal.


"Gue serius Cel ... gue lupa pake pengaman tadi, gimana kalo Lo hamil?"


"Nggak perlu! Gue nggak butuh apa-apa dari Lo?!" tolak Celin tegas.


"Kalo gue bilang, gue yang butuh dari Lo gimana?"


"Maksud Lo?"


Donal menarik tubuh Celin menghadap padanya. Tanda-tanda bekas gigitan dia langsung terpampang nyata di depannya. Bahkan ada yang terlihat berdarah, Donal sampai ngeri sendiri tidak menyangka kalau dia bisa berbuat sejauh itu, hanya karena kesal dengan kejadian tadi.


"Gue butuh Lo Cel, tapi gue nggak tau kalo gue udah cinta sama Lo apa enggak. Yang pasti gue mau Lo ada disisi gue saat ini!"


Celin diam menatap dalam pria di depannya, dia juga sama halnya dengan Donal. Entah ini cinta atau bukan, tapi dia juga kesal dan tidak rela melihat Donal dekat-dekat dengan Mawar.


"Sayangnya gue enggak, gue nggak bisa ada di dekat Lo!" sahut Celin pada akhirnya.


"Kenapa?"


"Gue nggak bisa, gue udah di jodohin sama seseorang."


"Jangan boong Cel, ini udah jaman modern bukan jaman siti nurbaya lagi. Lo kalo mau nyari alasan, cari alasan yang masuk akal!" sambungnya lagi tidak percaya.


"Terserah Lo mau ngomong apa, yang penting gue udah kasih alasan yang jujur sama Lo!"


Donal terdiam masih menatap manik mata cokelat tua Celin. Ada perasaan tidak rela jika apa yang dikatakan wanita ini benar. Membayangkan Celin berada di bawah tubuh pria lain, seketika membuat hatinya panas.


"Nggak, gue nggak percaya sama Lo!" sahut Donal bersikukuh.


"Terserah, gue juga nggak maksa Lo mau percaya apa enggak!"


Celin kembali ingin berbalik membelakangi Donal, namun pria itu malah menariknya mendekat padanya. Mereka kini sudah sama-sama berbaring di atas ranjang.


"Jangan jauh-jauh, gue nggak mau Lo jauh-jauh dari gue!"


Celin berdecih geli. "Abis Lo nyiksa gue kayak tadi, sekarang Lo malah mau gombalin gue? Sakit jiwa yah Lo?!"


"Iya, gue udah sakit jiwa karena Lo! Harusnya Lo tanggung jawab sama gue. Gue jadi begini juga karena elo, Cel!"


Donal makin mempererat pelukan mereka, dia tahu kalau dia juga sudah kelewatan tadi.


Emosi yang meledak-ledak dengan penolakan yang diberikan Celin dan melihat dia tengah bersama dengan pria lain, membuat Donal tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Sorry...."


"Apa?"

__ADS_1


"Sorry, gue minta maaf udah nyakitin Lo tadi, Cel...," sahut Donal menyesal.


"Tau minta maaf juga yah, Lo?!"


"Iya, gue emang salah. Harusnya gue gak kasar begitu sama Lo."


Celin berdecak di balik dekapan hangat Donal, berada sedekat ini dengan pria itu cukup membuat hatinya membaik.


"Tapi siapa sih cowok yang tadi?! Dia yang Lo bilang mau dijodohin sama lo?"


"Bukan."


"Trus dia siapa? Biji baru elo?!" sahut Donal kembali kesal.


"Biji aja di otak Lo!" sergah Celin.


"Trus dia siapa?"


"Dia kakak sepupu gue."


"Hah? Kakak sepupu?" Celin mengangguk. "Kakak sepupu kok manggilnya beb sih?!"


"Namanya Bernard, gue sering manggil dia dengan sebutan Beb!"


"Astaga...." Donal menghembuskan nafas panjang, merasa malu dengan kelakuannya sendiri tadi.


"Makanya kalo nggak tau apa-apa, jangan sok tau!" sahut Celin tertawa miris.


"Iya, sorry. Gue nggak terima aja Lo jalan sama cowok lain di belakang gue, Cel."


"Lagak Lo udah kayak cowok gue aja!"


"Udah, gue udah jadi cowok Lo sekarang. Kita resmi jadian malam ini!"


"Apa?" kaget Celin mendongak menatap Donal.


"Iya, gue pacar Lo sekarang. Gue nggak akan deketin cewek lain lagi. Tenang aja, gue cuma milik Lo sekarang!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Aduhh,, kalo udah begini gimana yah?


Riweh cuyy 🤭


__ADS_2