Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Akhir Perjodohan


__ADS_3

"Apa yang terjadi, Nal?" Dena datang mendekati anaknya dan seorang wanita yang tengah menangis di depan Donal.


Celin buru-buru melepaskan tangan Donal saat genggamannya terasa mengendor, dan berlalu meninggalkan pria itu dengan cepat.


"Cel, tunggu." Donal berusaha mengejar wanitanya yang langsung di tahan oleh Dena.


"Kamu mau ke mana? Siapa Cewek tadi?"


"Bentar, Bu. Dia itu pacar aku. Aku harus ngejar dia dulu."


"Eh, tunggu. Kamu mau ke mana lagi?" Dena kembali menahan tangan anaknya. "Ikut Ibu cepet, daritadi mereka nungguin kamu di dalem!"


"Tapi, Bu. Aku harus kejar Celin, aku udah janji mau ngelamar dan nikahin dia sama keluarganya. Aku mohon, Bu. Jangan paksa aku lagi buat ikut perjodohan itu...."


"Ibu tahu, makanya kamu cepet ikut Ibu ke dalem!"


Donal mengernyit. "Maksud Ibu?"


"Udah ikut aja Ibu ke dalem! Kelamaan kalo mau jelasinnya sama kamu disini!" Dena menyeret anak laki-lakinya kembali ke ruang pribadi restoran, di mana calon besannya sedang menunggu mereka.


"Tunggu, Bu. Maksud Ibu apa ngomong begitu sama aku tadi? Aku nggak mau masuk kalo Ibu nggak mau jelasin dulu!" Donal menahan tangan ibunya sebelum wanita itu sempat mendorong pintu ruang pribadi tersebut.


"Makanya kamu masuk dulu biar jelas, Nal!" pinta Dena.


"Nggak, aku nggak mau! Pokoknya Ibu jelasin dulu ada apa, baru aku masuk!" sahut Donal bersikukuh.


Wanita bermata sipit itu mendengus, membuang nafas panjang. Dalam sekali tarikan kuat, Dena mendorong pintu ruangan tersebut hingga terbuka lebar.


"Itu ... itu wanita yang kamu cinta, kan?!" tunjuknya pada seseorang di depan mereka.


Semua yang ada di sana sontak mengarahkan pandangannya pada Dena dan Donal yang ternganga, menatap wanita berambut blonde di depannya.


"Ce-celin," ujar Donal terbata.


Wanita itu seketika beranjak dari kursi, masih dengan mata dan hidung yang memerah.


Donal melangkah cepat masuk ke dalam mendekati Celin. "Jadi, elo yang dijodohin sama gue?" tanyanya tidak percaya.


"Ki-kita yang—"


"Iya, kalian yang dijodohin dari awal, Nal." potong Dena ikut masuk ke dalam ruang pribadi restoran itu.


"A-apa maksud Ibu?" tanya Donal beralih menatap Dena.


"Ibu juga awalnya gak tahu kalo kalian itu saling kenal dan saling suka. Tapi pas kemaren sebelum kamu boongin Ibu berangkat ke Paris temuin Celin, Ibu nggak sengaja liat layar ponsel kamu fotonya calon yang pengen Ibu jodohin sama kamu waktu lalu." Dena duduk dengan nyaman di samping calon besannya yang ikut kaget mendengar penjelasan wanita paruh baya itu.


"Jadi Ibu udah tahu dari awal kalo aku punya hubungan sama Celin?" tanya Donal tidak percaya.


"Nggak dari awal, Nal. Ibu juga baru tahu waktu kamu boongin Ibu dan malah berangkat diam-diam ke Paris hari itu!" sahut Dena membela diri.

__ADS_1


"Astaga...." Donal mengusap wajahnya kasar. Sepertinya Ibunya sengaja mengerjai dia selama beberapa hari ini, pikir pria berhidung mancung itu.


"Jadi Jeng, anak kita udah saling kenal?" tanya Cut masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini.


"Iya Jeng, mereka bahkan udah pacaran lama. Yang bilang mau dateng kerumah kalian juga tempo hari pengen ngelamar Celin, itu anak aku sebenernya!"


"Apa?!" Cut dan juga Doddy suaminya kompak bersuara. Mereka sama sekali tidak menyangka hal ini.


"Iya, aku yang sengaja larang Donal ke sana temuin kalian. Aku pengen ngasih pelajaran sama anak nakal aku itu!" tunjuk Dena masih kesal setiap kali mengingat apa yang dilakukan Donal padanya.


"Salahnya juga waktu itu nggak mau liat dulu foto Celin yang aku tunjukin sebagai wanita yang bakal dijodohin sama dia!" sambung Dena tersenyum jahat.


"Ibu ... Ibu kok tega banget, sih sama aku? Aku hampir aja mati gegara putus cinta, Bu...?" keluh Donal setengah merengek.


Dena berdecak, memutar bola mata malas mendengar perkataan anaknya. "Nggak usah lebay! Itu akibatnya kalo sering boongin orang tua! Rasain...!"


Dena dan suaminya Doni seketika tertawa puas melihat wajah nelangsa anak tunggal mereka. Tampaknya rencana ini bisa sukses karena campur tangan pria paruh baya bertubuh tambun itu juga, pikir Donal.


"Ayah juga tahu masalah ini?" Doddy mengangguk, masih tertawa bersama Dena.


"Ck, orang tua kejam!" sambung Donal kesal.


"Ayo, Cel. Ikut gue!"


"Eh, mau kemana lagi kalian?" tanya Dena menghentikan langkah kaki anaknya.


"Ya itu, sih derita kamu! Siapa suruh boongin orang tua!" ejek Dena tertawa geli.


"Ish, Ibu sama ayah atur aja kapan kita mau nikah. Kalo bisa Minggu depan aja, jangan dilama-lamain lagi!"


"Eh, kamu pikir orang nikah segampang itu?!" protes Dena melihat anaknya sudah kembali berjalan keluar ruang pribadi restoran.


"Itu urusannya Ibu sama ayah, pokoknya aku mau Minggu depan, titik!" Donal tidak lagi mendengar apa jawaban dari ibunya yang pasti akan terus memprotes dirinya karena meminta menikah secepat ini.


Bahkan sebenarnya seminggu itu waktu yang cukup lama pikir Donal. Dia sudah tidak sabar menjadikan Celin sebagai istrinya setelah perbuatan ibunya yang sengaja membuat mereka terpisah selama beberapa hari.


"Lo masih marah?" Donal duduk di kursi belakang dalam mobil mereka bersama Celin.


"Nggak tau...."


"Kok nggak tau?"


"Gue juga bingung mau marah ama kesel sama siapa."


Donal tertawa mendengar jawaban calon istrinya. "Yaudah, nggak usah marah sama kesel kalo gitu. Anggap aja ini cobaan buat kita sebelum nikah," sahut pria berkulit sawo matang itu bijak.


"Kangen gak sama aku?" tanya Donal lagi.


"Kangen...," sahut Celin setengah berbisik.

__ADS_1


"Bener?"


"Iya."


"Kalo kangen mau apa dong?" goda Donal menaik turunkan alisnya.


"Ish, jangan aneh-aneh. Kita lagi diluar!"


"Di luar mana? Kita, kan lagi di dalem mobil ini...." elak Donal mulai mendekati wanitanya.


Dia juga sudah sangat rindu dengan Celin, hingga tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh wanita yang dia cinta ini.


"Tetep aja. Gue nggak mau!" tolak Celin menahan dada Donal yang membusung kearahnya.


"Nggak mau apanya? Gue cuma mau cium doang, kok."


"Bener, yah?"


"Iya. Nggak percayaan amat, sih sama calon suami sendiri...."


Celin merona mendengar kata calon suami dari mulut Donal. Belum lama dia galau ingin melupakan pria ini, namun sekarang Donal malah sudah berada di depannya, bersiap mencium dia seperti biasa.


"I love you, Cel...."


"I love you too my duck...."


.


.


.


.


.


.


.


.


Ok selesai, yah


setiap part biji udah bahagia semua 🤭


Lanjut lagi gak nih?


Tulis di kolom komentar cepettt 😆

__ADS_1


__ADS_2