Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Belajar Merelakan


__ADS_3

"War..." panggil Amanda.


Wanita itu mendongak, tidak jadi menyuapkan makan siangnya di mulut. "Kenapa?"


"Mmm ... nggak jadi, deh."


"Apa sih? Bikin orang kepo aja!"


Amanda tersenyum, melanjutkan makan siangnya bersama Mawar. Mereka masih berada di ruangannya setelah membahas banyak hal mengenai perkembangan butiknya.


"Nanti abis ini kamu mau pulang?" tanya Mawar membersihkan mulutnya dengan tissue.


"Belum, Richard minta tungguin dia disini. Katanya dia mau jemput gue sekalian pulang bareng."


"Oh yaudah, kalo gitu gue teminin Lo aja sampe Pak Richard dateng."


"Lo mau barengan sama Dira juga, yah?" tanya Amanda mulai mencari tahu.


"Dira?" Amanda menggangguk.


"Kenapa jadi bawa-bawa nama Dira?" bingung Mawar.


"Eh, enggak yah? Gue pikir Lo punya hubungan sama dia," goda Amanda.


"Ish, siapa bilang ... gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia!" sahut Mawar terlihat gugup.


"Beneran kalian nggak punya hubungan apa-apa?" Mawar mengangguk.


"Kalo gitu kenapa tadi dia juga ikut-ikutan cium pipi Lo pas mau pergi sama Richard?"


"A-apa? Itu, itu karena...." Mawar menggantung ucapannya, bingung harus menjelaskan bagaimana pada istri atasannya.


Mawar sendiri tidak tahu hubungan sebenarnya diantara mereka saat ini setelah pembicaraan terakhir mereka di mobil tempo hari.


Dira memang semakin sering menunjukkan perhatiannya dan tidak segan-segan mencium dirinya di depan umum. Mawar merasa kalau pria itu tengah berusaha mendekati dia dengan berbagai cara.


"Apa? Karena apa, hah?!" Amanda menepuk punggung tangan Mawar yang malah melamun di depannya.


"Karena ... karena emang nggak ada apa-apa, Manda," sahut Mawar apa adanya.


Amanda memicingkan mata, menatap menyelidik bodyguard-nya. "Jangan boong, Dira nggak mungkin berani cium elo kalo emang bener kalian nggak punya hubungan apa-apa. Gue tau gimana elo, War. Lo bukan cewek yang bisa disosor gitu aja sama cowok! Gue yakin kalo ini bukan yang pertama kali Dira cium elo!" ucapnya penuh keyakinan.


Mawar mendengus membuang nafas panjang, ternyata Amanda seorang pengamat yang sangat baik, pikirnya.


"Udah nggak usah boong. Kalian pacaran, kan?" tanya Amanda lagi.


"Nggak."


"TTM?"


"Nggak juga."

__ADS_1


"Pedekate?" Mawar diam. Mungkin bisa dibilang begitu, gumamnya dalam hati.


"Jadi bener, nih masih pedekate?" sambung Amanda tersenyum menang.


"Gue juga nggak tahu, Manda. Dira cuma bilang lupain Donal pas pulang dari rumah elo waktu itu. Dia juga ngomong untuk belajar buka hati gue buat dia, gue sendiri bingung kenapa Dira ngomong begitu."


"Ya ampun, War. Itu tandanya dia mau deketin elo, lah. Dia berarti suka sama Lo kali...."


Mawar diam lagi, kalau memang benar suka lantas dia harus apa? Dira jelas-jelas tahu siapa yang ada dihatinya. Kenapa juga dia mesti memaksa membuka hatinya untuk pria itu?


Mawar belum berani memberikan jawaban apa-apa saat Dira berkata begitu padanya malam itu. Mereka hanya diam sampai Dira mengantarkannya pulang ke rumah.


"Tapi tadi Lo bilang Donal ... emang Dira tahu Lo cinta sama Donal?" sambung Amanda.


"Awalnya dia emang nggak tahu, tapi waktu gue kerumah elo malam itu. Dira jadi curiga kalo gue cinta sama sepupunya."


Amanda mengangguk mengerti. "Trus gimana?"


"Gimana apanya?"


"Ya, gimana sama hati Lo, War? Lo, kan tahu Donal lusa udah nikah. Masa Lo masih nyimpen perasaan sama lakik orang?"


"Gue juga gak tahu, Manda...." Mawar membuang nafas berat.


"Jujur gue emang masih nyimpen perasaan sama Donal, tapi gue juga sadar diri. Gue tahu dia nggak akan pernah milih gue sampe kapanpun, dan begonya ... gue malah nggak bisa ngelupain dia." Mawar tertawa miris meratapi hatinya yang terlalu bodoh, sampai tidak bisa memilih menyukai pada seorang yang tepat.


Takdir memang kadang suka bercanda dan terus mempermainkan hidupnya, pikir Mawar.


"Apa?"


"Belajar merelakan," jawab Amanda tersenyum lembut.


"Lo tahu, kesembuhan terbaik untuk seorang yang pernah patah hati adalah merelakan semua yang udah terjadi dalam hidupnya. Merelakan kebersamaan yang udah Lo lewatin bersama orang itu, dan merelakan waktu yang udah terbuang sia-sia dengan mimpi yang hanya sampai di angan. Gue belajar dari semua itu, War. Emang sulit, tapi nyatanya gue bisa, kan? Lo kadang cuma nggak berani aja mencobanya...." sambung Amanda bijak.


Pernah merasakan sakitnya patah hati bahkan dihina oleh pria yang dia cinta, sedikit banyak sudah membuat Amanda menjadi lebih kuat dan dewasa dalam menghadapi hidup.


Amanda merasa hidupnya tidak akan sebaik sekarang jika dia masih diam ditempat yang tidak seharusnya ditakdirkan untuknya.


Pengalaman hiduplah yang akan kelak membuat kita tahu kalau jodoh, hidup dan mati hanyalah milik Yang Empunya Kehidupan.


"Jadi, sebelum Lo belajar buka hati buat orang lain. Lo harus belajar merelakan dulu semuanya dengan lapang dada." Amanda masih tersenyum, mengusap punggung tangan Mawar untuk memberikan semangat pada wanita bertato itu.


"Gue yakin Lo pasti bisa lewatin semuanya dengan baik."


...******************************...


"Chad...."


"Iya? Kenapa?"


"Kasian, yah Mawar."

__ADS_1


Richard mengernyit. "Kenapa emang sama dia?"


Pasangan suami istri itu sedang berada di atas ranjang, memeluk satu sama lain.


"Patah hati," sahut Amanda singkat.


"Patah hati? Emang dia udah punya pacar?"


"Bukan pacar, Chad. Tapi cinta nggak kesampean."


"Oh, yah? Sama siapa?" tanya Richard penasaran.


"Sahabat kamu, si Donal!"


"Hah? Donal?" kaget Richard. "Kok bisa? Donal nggak ngapa-ngapain dia, kan?" tanyanya was was.


"Ish, nggaklah! Tapi temen biji Lo kayaknya, deh yang seneng bikin cewek baper sampe Mawar nggak bisa move on sama dia!" kesal Amanda mengingat kelakuan pria itu yang senang tebar pesona pada kaum hawa sejak dia mengenalnya.


"Yah ini juga nggak sepenuhnya salah Donal, Beby ... kamu, kan tahu sendiri gimana Donal kalo deket-deket cewek. Mawar pasti yang baper sama perhatian dan candaan Donal selama ini," bela Richard pada sahabatnya.


"Jadi kamu mau bilang kalo Mawar yang salah disini? Kalian emang kaum biji selalu kayak gitu, yah?! Abis bikin cewek baper sama perhatian kalian, eh malah ngilang nggak jelas! Trus masih ngomong juga kalo kita cewek yang gampang baper, dasar biji nggak ada akhlak!" sahut Amanda dengan suara meninggi. Wanita itu tidak terima disebut-sebut suaminya sebagai makhluk yang gampang baper.


"Astaga ... kamu kok jadi marah-marah sama aku, sih Beby? Kita, kan lagi bahas Mawar sama Donal."


"Ck, mau Donal atau kamu, tetep aja kalian sama! Sama-sama biji nggak ada akhlak!" kesal Amanda menepis tangan Richard di pinggangnya.


"Pokoknya kamu harus bikin Dira sama Mawar jadian!"


"Apa? Dira? Kenapa sekarang malah pindah ke asisten aku, By?" tanya Richard tidak mengerti.


"Udah pokoknya kamu ikutin aja apa kata aku! Minggu depan, kan kalian ada rencana mau ke Kalimantan. Suruh Dira sama Mawar aja yang pergi, aku pengen bikin mereka lebih deket."


Richard hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan istrinya, entah apa yang direncanakan Amanda sampai bertingkah seperti mak comblang, pikirnya.


.


.


.


.


.


.


.


Semoga ini bisa membuka awal hubungan mereka, yah guys 😁


Besok bakal ada pengumuman Giveaway di IG author @adamvanda

__ADS_1


Jangan lupa kepoin 🤭🥰


__ADS_2