
Memakai dress selutut berwarna peach, Manis tampak lebih manis dan menawan malam ini. Wajah natural tanpa make up yang menempel, menambah kecantikan wanita itu tanpa perlu di poles sedikitpun.
Manis berjalan mendekati Mike yang duduk, sibuk dengan ponsel di tangan. Pria itu memakai kemeja berwarna abu-abu dengan celana panjang kain berwarna hitam.
"Mike," panggil Manis berdiri di depannya.
Bagai tayangan lambat, Mike mengalihkan pandangannya menatap Manis dari kaki, naik semakin ke atas dan berhenti pada wajah Manis yang sedang tersenyum menatapnya.
"Manis?"
"Iya. Jelek, yah?" tanya Manis tidak percaya diri.
Mike berdiri mendekati Manis. "Cantik kok, gue suka. Natural dan polos, cocok sama kepribadian elo."
Manis tersenyum malu dengan wajah merona, mendapatkan pujian dari seorang pria ternyata bisa membuat hatinya berbunga.
Apalagi pria ini baru saja menciumnya tadi pagi, jantung Manis seakan di pompa lebih kuat setiap kali membayangkan ciuman hangat Mike padanya.
"Kok brenti?" tanya Manis saat mereka berhenti di depan toko sepatu.
"Kita beli sepatu dulu buat elo."
"Kenapa, sepatu aku masih bagus kok."
"Udah turun aja!" Mike membuka pintu mobil, keluar lebih dulu diikuti Manis dari belakang.
Wanita itu diminta duduk di depan kaca besar sembari menunggu Mike memilihkan sepatu untuknya.
Menenteng dua buah sepatu heels berwarna putih dan cream, Mike berlutut di depan Manis. "Kita coba yang putih dulu, yah."
"Eh, biar aku aja Mike."
"Udah Lo diem aja." Mike menepis tangan Manis yang menahannya, membuka sepatu flat yang Manis pakai dan menggantikan dengan heels berwarna putih yang dia bawa tadi.
Manis jadi tidak enak melihat pria itu begitu telaten memakaikan sepatu untuknya.
"Ukurannya pas di kaki Lo. Coba Lo jalan, gue mau liat."
Heels dengan tinggi hanya lima centi itu, pasti bisa membuat penampilan Manis lebih elegan lagi pikir Mike.
Manis ragu-ragu berjalan di depan pria yang sedang menatapnya dengan seksama. Untung saja di kampung Manis sering memakai heels milik kakaknya yang bahkan lebih tinggi dari ini.
Iseng mencoba berjalan bak model kesana kemari dalam rumah, Manis pun terbiasa memakai sepatu dengan hak tinggi.
"Cantik," puji Mike tersenyum puas.
Pria blasteran itu memilih heels yang tengah Manis pakai dan langsung membayarnya di kasir.
"Berapa harganya Mike?" tanya Manis tidak enak.
"Nggak usah tanyain harga, anggap aja gue yang traktir."
"Pasti mahal, yah?"
"Enggak, ini bahkan jauh lebih murah dari heels yang biasa dipake model-model papan atas."
"Kamu kok bisa tahu?" tanya Manis ingin tahu.
__ADS_1
"Karena gue basic-nya juga model, Nis. Semua klien yang ketemu sama gue, mereka semua dari perusahaan pakaian ternama sama sepatu juga. Jadi sedikit banyak gue tahu, lah harga-harga semua barang-barang itu...," sahut Mike panjang lebar.
Manis manggut-manggut mengerti, pantas saja tempo hari Mike dengan entengnya memberikan baju yang katanya limited edition itu pada wanita yang marah-marah padanya di cafe tempo hari.
Mungkin saja Mike mendapatkan baju-baju itu dari klien yang mensponsorinya, pikir Manis.
"Oh yah, nanti kalo ketemu keluarga gue. Lo diem aja, nggak usah jawab kalo mereka tanya-tanya hal mendalam tentang Lo. Dan ingat jangan jauh-jauh dari gue, ok?" Manis mengangguk patuh.
Berpura-pura menjadi pacar bohongan ternyata sangat tidak enak, terbukti dari pandangan mata keluarga Mike yang sejak dia masuk ke dalam rumah bak istana itu, terus memandangnya dan terkadang berbisik-bisik di depannya.
Manis jadi malu dan rendah diri sendiri dibuatnya. Apa mungkin karena dress yang aku pakai tidak sebanding dengan yang mereka pakai yah, sampai mereka memandang aku seperti itu?
Manis tidak menyangka kalau keluarga Mike ternyata sangat kaya.
"Ka Manis...," panggil Lila mendekati wanita dengan rambut yang digerai bebas itu.
"Aku pikir Kakak nggak bakal dateng," sambung Lila merangkul lengan Manis.
"Jangan deket-deket cewek aku!" sentak Mike mendorong adik tirinya menjauh.
"Ish, dasar bucin!" sindir Lila.
"Bodo!"
Kakak beradik itu malah bertengkar di depan Manis yang bingung sendiri menghadapi mereka, sambil merasa geli dalam hati melihat Mike yang ternyata bisa juga bersikap kekanak-kanakan jika sedang bersama Lila, adiknya.
"Kapan datang Mike?" sapa seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat muda.
Mike sontak diam, menatap dingin wanita yang memakai gaun biru tua itu.
"Pacar?"
"Iya, Mi. Ini pacar ka Mike, namanya Manis."
Wanita itu terlihat menatap Manis dari atas ke bawah. Polos dan sederhana, dua kata itu langsung terlintas di pikirannya begitu melihat Manis yang tersenyum kikuk memandangnya.
"Halo Manis, saya Linda. Ibunya Mike dan Lila."
"Ibu tiri lebih tepatnya!" potong Mike menarik Manis mendekat padanya.
"Ka...." tegur Lila.
Kakak tirinya ini memang tidak menyukai ibunya sejak lama. Berawal dari kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu, sampai sekarang Mike masih membenci Linda yang dianggapnya menjadi penyebab ibu kandungnya meninggal dulu.
Linda tampak muram mendengar ucapan Mike. Dia pun menarik kembali tangannya, tidak jadi menyalami Manis.
"Papi mana, Li? Aku nggak bisa lama-lama disini soalnya!" tanya Mike sedikit menyindir ibu tirinya.
"Papi lagi di dalem, dia katanya mau bicara sama kamu," jawab Linda lebih dulu.
Mike berdecih menarik Manis ikut dengannya. Wanita itu hanya bisa pasrah saat Mike menyeretnya tanpa sempat berpamitan pada Linda.
"Kenapa sih Mike?" tanya Manis begitu mereka naik ke lantai dua rumah orang tua pria itu.
"Lo jangan deket-deket sama ibu tiri gue. Dia orang yang nggak baik, gue keluar dari rumah ini tuh, karena dia!"
"Emang apa yang terjadi?" tanya Manis ingin tahu.
__ADS_1
"Tar aja kapan-kapan gue cerita."
Mike membawa Manis masuk ke dalam ruang kerja ayahnya yang bernama Moses. Pria keturunan Jerman itu sedang duduk sembari memeriksa berkas-berkas di atas meja.
"Kenapa Papi nyariin aku?" tanya Mike tanpa basa basi.
"Masih hidup kamu?" tanya pria dengan uban di kepala, tanpa melihat kearah Mike dan Manis.
"Masihlah, emang Papi pikir aku nggak bisa hidup walau cuma jadi model?!" sinis Mike.
Moses mendongak, kaget melihat ada orang lain juga di sana.
"Ini siapa?" tanyanya menatap Manis.
"Nggak usah nanya-nanya dia siapa. Bilang aja apa mau Papi manggil aku kesini!" sahut Mike.
Moses mendengus, bangkit berdiri dari kursi kerjanya. "Besok kamu ke perusahaan, udah waktunya kamu kerja dan berhenti main-main di luar sana!"
"Main-main? Ini passion aku, Papi. Jangan sekali-kali Papi ngomong begitu sama aku!" bentak Mike tidak terima.
"Kurang ajar!" Moses menggebrak meja dengan kuat hingga Manis refleks memekik kaget.
Pandangan mata pria berumur sekitar enam puluh tahun itu sontak beralih padanya, membuat Manis menelan salivanya kasar.
"Apa perlu kamu bawa orang lain untuk bicara sama papi?" tunjuk Moses pada Manis.
"Dia bukan orang lain, dia pacar aku! Dia yang bakal nikah sama aku, jadi dia berhak tau gimana hancurnya keluarga aku!"
Mike meremas tangan Manis setelah berucap demikian. Pria itu sedang berusaha terlihat kuat di depan ayahnya.
Mike tidak mau sedikit saja menunjukkan kelemahannya pada pria yang dianggapnya sangat egois itu.
Manis beralih menatap Mike kaget, drama apalagi ini pikirnya. Kenapa Mike makin asal bicara seperti itu pada papinya?
Suasana mendadak terasa dingin dan mencekam, dengan pandangan mata yang tajam antara Mike dan Moses.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kisah Mike akan pelan-pelan di ceritain yah, guys...
Nanti kita sambung lagi, ok? 😁
__ADS_1