
"Kita mau ke mana, Nis?" Pasangan yang akan segera menikah itu duduk berdampingan di kursi belakang mobil.
Parto asistennya sedang duduk di kursi kemudi, membawa mobil dengan kecepatan sedang.
"Kita mau ke rumah papi sama mami."
"Ngapain?" tanya Mike tidak tahu.
"Kamu lupa?"
"Lupa apanya?"
Manis berdecak, mengeluarkan sebuah hadiah kecil dengan pita merah muda yang menghiasinya dari dalam tas.
"Hadiah?" tanya Mike mengernyitkan dahi.
"Iya, hari ini mami ulang tahun."
Mike terdiam, mencoba mengingat hari ini tanggal berapa. "Jadi ini untuk—"
"Iya, hadiah ini buat mami. Kamu yang bakal ngasih ini sama mami." potong Manis menyodorkan hadiah yang sudah dia persiapkan untuk calon mertuanya itu.
"Kenapa harus gue, sih, Nis? Lo aja deh," tolak Mike malu.
"Kemarin katanya mau minta maaf sama mami? Ini kesempatan buat kamu ngomong sama mami, Mike...."
Pria blasteran itu terdiam lagi dengan hati yang ragu. Bagaimana nanti kalau Linda malah justru mengabaikan dia setelah apa yang dia lakukan selama ini padanya? Mike takut jika Linda tidak mau memaafkan dia untuk semua perbuatannya.
"Nggak usah mikir yang enggak-enggak lagi, ayo turun...." Manis membuka pintu mobil, keluar lebih dulu dari dalam sana.
Rumah mewah dengan desain Eropa yang kental itu terlihat cukup ramai di datangi keluarga besar Mike. Tidak ada lagi tatapan mata aneh yang mengarah pada Manis seperti saat dia menginjakkan kakinya pertama kali kesini.
Sepertinya tatapan aneh waktu lalu pada Manis, berasal dari keluarga Angela. Keluarganya memang sedikit sombong, dan selalu datang berkunjung ke rumah Moses jika pria itu berulang tahun seperti kemarin. Kali ini suasana rumah itu terlihat lebih hangat dan jauh lebih ceria lagi.
"Oma." Manis mendekati wanita yang tengah duduk di dekat taman.
"Mike mana?" tanyanya tidak mendapati cucu laki-lakinya disamping Manis.
"Dia lagi nyari seseorang Oma...."
"Nyari seseorang? Siapa?"
Manis tersenyum, sedikit membungkuk berbisik di telinga Jessie. Wanita itu sontak terkejut dan buru-buru berdiri dari kursi.
__ADS_1
"Ayo kita ke sana, Nis."
"Mau ngapain Oma?" tanya Manis polos.
"Kita harus jadi saksi gimana calon suami kamu yang nakal itu mau baikan sama Linda."
Manis mengangguk patuh, membantu Jessie pergi ke arah dapur. Pria bermanik mata abu-abu itu sedang duduk dengan gelisah berhadapan dengan Linda saat keduanya tiba di sana.
"Kamu kenapa Mike?" tanya Linda memecah keheningan diantara mereka.
Tidak biasanya Mike mau duduk bersama dengan dia disini, pria itu lebih banyak menghindarinya dan bahkan tidak ingin dekat-dekat dengan dia sejak dulu.
"Aku mau...." Mike menggantung ucapannya, bingung harus berkata apa.
Pikirannya langsung blenk dengan dada yang terasa sesak. Ternyata se sulit ini untuk minta maaf pada orang yang selama ini kita jelek-jelekkan, gumamnya.
"Kamu mau apa?" tanya Linda lagi.
"Aku mau minta dibuatin semur ayam, Ka Linda..." sahut Mike tertunduk, tidak berani menatap wanita di depannya.
Linda tersentak, kaget mendengar ucapan Mike barusan. "Ka-kamu bilang apa Mike?" tanyanya terbata.
"Aku mau semur ayam Ka, Kakak yang selama ini buatin buat aku, kan?" Mike mendongak ragu-ragu.
Linda sontak menutup mulutnya tidak percaya, sudah selama ini dia tidak pernah lagi mendengar Mike memanggilnya dengan sebutan itu.
Manik mata cokelat tua itu memanas dengan sudut mata yang mulai berair. Linda tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia di hatinya saat ini. Mike kecilnya sudah kembali, tatapan mata pria itu sudah kembali menatapnya dengan hangat dan penuh cinta.
Linda refleks beranjak dari kursi, dan memeluk Mike yang duduk diam di depannya. "Makasih, makasih udah mau percaya sama Ka Linda, Mike."
Pria blasteran itu membalas dekapan hangat Linda di pundaknya dan ikut menangis. Rasa bersalah yang teramat dalam justru membuat Mike tidak mampu berkata maaf untuk ibu tirinya. Mike takut Linda tidak akan memaafkannya jika dia berkata satu kata itu padanya.
"Aku menyayangimu Mike," ujar Linda bercucuran air mata.
Hati wanita itu begitu bahagia bisa kembali memeluk Mike setelah sekian lama. Linda bersyukur karena akhirnya hari ini bisa datang di waktu yang tepat.
"Aku juga menyayangimu Ka Linda...."
Dua orang yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan keduanya pun ikut menangis, Manis dan Jessie ikut bahagia melihat Mike akhirnya mau menerima Linda kembali.
...*********************...
"Jadi, kamu udah tahu semuanya?" tanya Moses duduk di belakang kursi ruang kerjanya.
__ADS_1
Mike mengangguk, diam membatu di depan pria yang sudah beruban itu.
"Lalu, sekarang? Apa yang kamu inginkan?" Moses melipat tangannya di atas meja, menatap manik mata abu-abu Mike dalam.
"Kapan kita ke taman?" tanya Mike yang sontak membuat Moses tertawa.
"Kamu pikir kamu umur berapa sekarang Mike? Pertanyaan kamu nggak cocok sama tubuh kamu yang udah gede ini...." cibir Moses menatap anak laki-lakinya dari atas ke bawah.
"Emangnya orang kalo mau ke taman harus liat umur dulu, gitu?"
"Ya, Papi heran aja kamu tiba-tiba nanya kayak gini sama Papi."
"Nggak usah heran, Papi cukup jawab aja kapan Papi mau bawa aku ke taman bareng sama Ka Linda."
Moses tersenyum dengan hati menghangat, ini adalah kali pertama mereka berbicara layaknya orang tua dan anak yang saling menyayangi.
Mike-nya sudah kembali, anaknya yang suka merengek minta dibawa ke taman itu kini berdiri di depannya dengan pandangan mata memohon, persis seperti waktu dulu.
Mike selalu datang ke ruang kerjanya dan menangis minta dibawa ke taman. Anaknya memang paling suka ke sana jauh sebelum dia mengenal Linda.
"Papi nggak punya waktu hari ini Mike, mungkin akhir pekan nanti kita bisa ke sana bareng sama Ka Linda kamu...."
Mike tertawa geli mendengar ucapan ayahnya. Pria yang dulu selalu berkata ingin membawanya ke taman bertemu dengan Linda, duduk menatap dia dengan hangat di depannya.
Mike jadi ingat bagaimana Moses selalu bertanya tentang baju yang dia pakai hari itu sebelum bertemu dengan ibu tirinya. Moses terlihat seperti pria muda labil yang baru saja merasakan cinta.
"Apa perlu aku pilihin baju buat Papi?" canda Mike masih tertawa geli.
Moses ikut tertawa bersama anaknya, keduanya langsung terlibat percakapan seru mengingat masa-masa dulu yang sudah lama berlalu.
Ayah dan anak itu berharap agar kebahagiaan keluarga mereka ini tidak akan pernah hilang lagi setelah ini.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Ikut bahagia untuk keluarga ini 🥰