
"Sampe kapan kamu mau tidur disitu Mike?" tanya Manis melihat pria blasteran itu beranjak menuju sofa kamarnya.
"Sampe Lo brenti nendang gue kayak kemaren!"
"Emang kapan aku pernah nendang kamu?" tanya Manis tidak sadar.
"Udahlah, gue masih sayang bokong gue, Nis. Tar kalo kenapa-napa Lo juga yang susah nggak bisa dienakin...," sahut Mike pasrah.
"Dienakin gimana, sih maksud kamu?"
Mike berdecak malas menarik selimut. "Udah nggak usah banyak tanya, nanti juga Lo bakal tau kalo kita udah nikah. Gue mau tidur, udah ngantuk!"
Manis menggerutu ikut merebahkan diri di atas ranjang besar milik atasannya. Kalo kayak gini mending dia tidur di kamarnya sendiri saja di bawah.
Manis merasa seperti anak kecil yang minta ditemani saat tidur, pikirnya.
Bunyi bel pintu depan, berbunyi nyaring di dalam kamar Mike. Wanita yang masih sangat mengantuk itu, berjengkit bangun dari tidurnya.
Manis menatap Mike yang masih tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu sedikit pun, dengan bunyi bel yang makin kuat berbunyi.
Astaga ... siapa, sih yang bertamu pagi-pagi kayak gini? Manis mengusap matanya sembari menguap membuka pintu.
"Siapa?"
Seorang wanita dengan sebuah tongkat di tangan kanannya dan rambut yang di konde, mengernyit menatap kaget Manis.
"Kamu yang siapa? Ngapain di rumah cucu saya?" sentak wanita itu memukul lutut Manis dengan tongkatnya.
"Aduh...." Manis meringis mengusap lututnya. "Kok main pukul-pukul, sih Oma?"
"Oma? Siapa yang kamu panggil Oma?! Saya bukan Oma kamu!" sahutnya tidak terima.
"Iya, maaf. Oma mau cari siapa?" sahut Manis, kembali membuat wanita tua itu kesal.
"Mike...!" Wanita itu masuk ke dalam rumah dan mulai berteriak memanggil nama cucu laki-lakinya.
"Eh, Oma mau apa cari Mike?" tanya Manis masih tidak tahu dengan siapa dia berhadapan.
Wanita itu tidak memusingkan pertanyaan Manis dan terus berteriak memanggil nama Mike.
Pria dengan rambut yang masih berantakan dan tanpa menggunakan baju itu, turun tergesa-gesa dari lantai dua kamarnya.
"Grandma?" pekik Mike kaget.
"Kamu kenapa nggak pake baju Mike?!"
"Kenapa apanya Grandma? Kan, aku emang begini kalo mau tidur dari kecil...," sahut Mike tanpa merasa bersalah.
"Jangan boong, wanita ini siapa? Kenapa dia bisa serumah sama kamu?!" tunjuk Jessie pada Manis.
"Oh, dia calon istri aku Grandma...," sahut Mike enteng.
"Hah? Calon istri?" kaget Jessie.
"Iya." Mike mendekati Manis, merangkul pundak wanita itu yang bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi disini.
"Kita udah mau nikah, makanya aku ajak dia tinggal disini sama aku Grandma."
__ADS_1
Jessie terdiam menatap menyelidik dua orang di depannya. "Bener kamu mau nikah sama cucu saya?"
Mike meremas pundak Manis memberi kode untuk mengiyakan ucapan omanya. Bisa gawat kalo Manis malah bilang enggak, gumamnya dalam hati.
Ibu dari ayahnya ini memang paling cerewet untuk urusan jodoh, sepertinya Moses yang menyuruh Jessie kesini pikir Mike. Setau dia omanya ini masih berada di Jerman sampai sekarang.
"Eh, i-iya Oma," sahut Manis terbata.
"Sini, deket sini kamu!" panggil Jessie pada Manis.
Takut-takut wanita berhidung mancung itu mendekati wanita yang memukulnya tadi dengan tongkat, hingga Manis duduk di sampingnya.
"Siapa nama kamu?"
"Manis, Oma...."
"Umur berapa?"
"Dua puluh dua, Oma."
"Tinggal di mana sebelumnya?"
"Aku dari Samosir, Oma. Dateng kesini merantau cari kerja."
Jessie memicingkan mata menatap menyelidik Manis dari atas sampai ke bawah.
Mike menelan saliva kasar, menunggu omanya kembali bersuara. Dia tahu kalau Jessie pasti sedang menilai Manis saat ini.
Jessie memang sering menilai orang dari awal pertemuan pertama, dan biasanya penilaian dia selalu benar. Jessie bisa menilai seseorang hanya dari penampilan dan cara bicaranya saja. Ini seperti sebuah tes untuk siapapun yang mau masuk ke dalam keluarga mereka.
"Mike," panggil Jessie tanpa melepaskan pandangannya dari Manis.
"Kamu udah ketemu keluarga Manis?"
"Belum Oma."
"Kenapa?"
"Belum sempat Oma."
Jessie berdecak meletakkan tongkatnya di dekat sofa di mana dia duduk. "Sampe kapan kontrak kamu abis?"
"Masih sebulan lagi Oma."
"Tanya sama, Pak Parto berapa pinalti yang harus kamu bayar kalo mau akhiri kontrak!"
Mike mengernyit tidak mengerti. "Kenapa memangnya?"
"Katanya tadi kamu udah mau nikah? Oma nggak mau kamu ngulur waktu lagi, nggak baik kamu nyimpen anak perawan lama-lama di rumah kamu Mike!"
"Eh, jadi Oma ngizinin aku nikah sama Manis?" tanya Mike senang.
Jessie mengangkat kacamatanya dan menyentuh dagu Manis. "Dia udah cocok sama kamu, polos dan sederhana."
Mike tersenyum sumringah, mengepalkan tangannya tinggi ke udara. Untuk meyakinkan omanya ini memang tidak mudah, ternyata Manis bisa membuat hati wanita tua itu tergugah juga pikir Mike.
"Tu-tunggu, Oma. Aku belum siap kalo mau nikah sama Mike!" sela Manis yang sejak tadi hanya diam. Mike sontak terdiam duduk di belakang Manis.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Jessie.
"Aku belum cinta sama dia, Oma...." Jujur, Manis bersuara.
Jessie mengatur kembali kacamatanya sedikit melirik pada cucunya Mike.
"Selama ini Mike selalu perlakuin kamu gimana? Maksud Oma ... apa dia pernah kasar sama kamu ato enggak?" tanya Jessie berubah seratus delapan puluh derajat dengan suara lembutnya.
Jessie tidak mau kehilangan wanita langka seperti Manis pikirnya. Manis pasti bisa membuat hidup cucunya lebih bahagia dan berwarna dari sebelumnya, setelah memutuskan pindah dari rumah mereka.
"Nggak pernah, sih Oma. Mike baik kok selama ini sama aku, sopan juga orangnya."
"Trus kalo kalian lagi berduaan, kamu sering ngerasa salah tingkah nggak?"
Manis terdiam tampak berpikir. "Ada, Oma."
Jessie tersenyum tipis, polos sekali wanita ini gumamnya.
"Mungkin kamu udah jatuh cinta sama Mike tapi belum sadar aja, Nis. Oma yakin perasaan kamu sama Mike makin lama akan makin besar, dan kamu bisa menyadari itu nanti."
"Masa, sih Oma?" tanya Manis tidak yakin.
"Iya, percaya aja sama Oma."
Mike tersenyum puas menujukkan ibu jarinya pada Jessie. Wanita tua itu sepertinya mau membantu Mike meyakinkan Manis untuk menikah dengannya.
Kalau sudah begini, Mike yakin Manis tidak akan bisa menolak ajakannya lagi seperti kemarin.
"Jangan senyum-senyum aja kamu Mike! Kamu sendiri gimana, udah yakin belum sama hati kamu buat Manis?!" sentak Jessie setelah Manis pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk mereka.
"Apa sih, Oma ... ngagetin aja."
"Jangan coba main-main sama Manis, Mike. Dia wanita yang paling tepat buat kamu, dibanding wanita yang kamu bawa dua tahun lalu sama Oma!"
"Iya, tahu! Nggak usah diingetin juga kali Oma."
Mike mendengus mengingat Carmela, wanita yang sempat berhubungan serius dengannya dua tahun lalu. Hubungan mereka harus berakhir karena Carmela lebih memilih karirnya sebagai model waktu itu.
Wanita itu juga berkata kalau dia tidak akan pernah menikah dengan pria manapun karena tidak ingin terikat hubungan apa-apa.
Mike memilih mundur tidak ingin berjuang untuk Carmela, ditambah Omanya yang tidak menyukai sosoknya sebagai wanita modern yang senang ke club malam sepertinya.
"Minggu depan kita ke kampung Manis buat melamar dia. Kamu siapin aja diri kamu sebaik mungkin, Oma nggak mau kalian terlalu lama berdua-duaan dirumah seperti ini!"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Ok, siap-siap aja untuk Mike dan Manis, yah 🤭😁