
"Keluar Lo!" teriak seorang pria membuka paksa pintu mobil Ardi.
"Bangsaat! Cari mati ya Lo!" teriaknya lagi menyeret keluar Ardi dari dalam mobil.
Bukkk....
Pria itu melayangkan pukulan ke wajah Ardi membabi buta.
"Chad! Udah...." Amanda turun dari mobil dan berusaha melerai perkelahian keduanya.
"Brengsek! Bener-bener cari mati nih orang!"
Richard semakin marah dan menendang perut Ardi yang tergeletak tak berdaya di atas tanah, saat melihat tangan Amanda masih terikat kuat dengan dasinya.
"Udah, Chad. Berhenti. Lo bisa masuk penjara karena ini, gue mohon berhenti Chad...." pinta Amanda mulai menangis.
"Jangan berani-berani ganggu tunangan gue lagi kalo Lo masih mau hidup! Gue bisa habisin Lo kalo gue mau!" ancam Richard menarik Amanda masuk ke dalam mobilnya.
"Tas gue masih di mobilnya, Chad...."
"Tunggu sini!"
Richard berlari memutari mobil dan pergi mengambil tas Amanda di mobil Ardi. Pria malang itu masih terbatuk-batuk di atas tanah sembari merintih kesakitan.
"Sialan! Harusnya gue patahin tangannya tadi!" kesal Richard membuka ikatan di tangan tunangannya.
"Kenapa Lo bisa sama dia sih, Manda? Kalo gue nggak balik dan liat lo di bawa pergi tadi sama dia, nggak tau dia udah bawa kemana Lo sekarang!"
Richard melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan tempat itu. Amarah dihatinya sedang menggebu-gebu saat ini. Kesal iya, marah apalagi.
Pria brengsek itu masih saja terus mengganggu wanita yang kini sedang menangis sesenggukan di sampingnya.
Richard memberhentikan mobilnya di dekat sebuah taman sepi. Keluar dari dalam mobil untuk meredakan amarah di hatinya, Richard membiarkan Amanda sendirian di dalam.
Butuh waktu setidaknya sepuluh menit bagi Richard untuk bisa menetralisir apa yang tengah dia rasakan.
Dia tidak mau Amanda menjadi korban kemarahannya jika hatinya sedang tidak enak seperti ini.
__ADS_1
"Udah, jangan nangis lagi Manda. Gue udah bilang, kan gue gak mau Lo nangis lagi karena si bangsaat itu...." bujuk Richard mengusap airmata di pipi Amanda.
"Gue bukan nangis karena itu," sahutnya masih sesenggukan.
"Trus kenapa?"
"Gue takut Ardi laporin Lo dan Lo masuk penjara, Chad!"
Richard tersenyum dan menarik wanita bermata sipit itu ke dalam dekapannya. "Makasih By, makasih karena udah khawatirin gue. Dia nggak bakal berani laporin gue, tenang aja...."
"Tapi gue takut Chad...."
"Nggak ada yang perlu Lo takutin. Gue nggak bakal kemana-mana, kalo dia laporin gue. Gue bisa tuntut balik dia dengan kasus penculikan dan penganiyaan sama Lo."
Amanda terdiam, melihat bagaimana tadi Richard begitu membelanya membuat hati Amanda menghangat bahagia.
Rasa dicintai dan dilindungi olehnya sontak membuat Amanda takut jika Richard harus masuk penjara hanya karena membelanya saja tadi.
Dia tidak mau itu terjadi, itu sebabnya Amanda menangis dan memohon agar Richard berhenti memukuli Ardi bukan karena dia masih cinta pada pria tidak tahu malu itu.
Richard mengambil kotak P3K di dalam laci mobilnya dan mengusapkan sebuah salep ke kedua pergelangan tangan Amanda.
"Kenapa Lo bisa sama dia tadi?" tanyanya masih penasaran bagaimana Amanda bisa berada di mobil mantan tunangannya.
"Gue dipaksa Ardi masuk ke mobilnya setelah Lo pergi tadi. Dia gila, Chad. Dia mau bawa gue pergi katanya dari sini. Dia bahkan bilang kalo gue nggak boleh di milikin siapapun. Gue takut, Chad. Takut dia bikin hal yang enggak-enggak dan celakain elo nanti."
"Nggak ada. Dia nggak bakal berani, Lo tenang aja. Gue nggak akan ngebiarin dia macam-macam mulai sekarang!"
"Gimana caranya?"
"Udah, sekarang pokoknya elo tenang aja. Serahin semuanya sama gue," sahut Richard berusaha menenangkan wanitanya ini.
"Sakit nggak?" Amanda mengangguk. "Mulai sekarang jangan kemana-mana lagi tanpa gue, dan kalo ada apa-apa langsung telpon gue yah?" Amanda menggangguk lagi.
"Good girl."
Richard kembali mendekap tubuh kekasihnya dan berjanji dalam hati akan memberi perhitungan pada pria brengsek itu. Liat aja nanti apa yang bakal gue lakuin sama Lo bangsaat! Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Chad...."
"Iya?"
"I love you...."
"Apa? Lo ngomong apa tadi?" tanyanya melepaskan pelukan mereka.
Amanda tersenyum malu tidak berani menatap Richard. "I love you...."
"Ya ampun Manda ... gue seneng banget denger ini dari mulut Lo yang kecil mungil ini." sahutnya bahagia menyambar bibir Amanda.
Pagutan bibir keduanya kali ini dilakukan dengan perasaan berbeda, ada rasa yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata sedang menari indah di hati mereka.
Amanda yakin kalau dia memang sudah jatuh cinta dengan Richard, sosok pria cinta satu malamnya yang berakhir dengan sosok pria yang akan menjadi suaminya.
Kejadian hari ini telah meyakinkan hati Amanda kalau dia membutuhkan Richard disisinya. Kehadiran Richard mampu mengusir rasa yang dulu begitu susah dia lepaskan, dan begitu sulit dia jalani.
Amanda siap, dia siap menerima Richard sebagai pelabuhan terakhirnya menjemput kebahagiaan bersama.
Richard dengan sigap menyentuh tombol di samping kursinya hingga kursi itu mundur kebelakang, diikuti sandarannya.
Menarik Amanda untuk duduk di atasnya, Richard mulai menyingkap kemeja yang dipakai tunangannya itu.
Sedikit terburu-buru saat keduanya asik menjelajah tubuh masing-masing, Richard menurunkan resleting celana dan bersiap memasuki sarangnya.
Amanda menduduki keperkasaan Richard yang begitu sempurna dimatanya, ujungnya menembus kedalaman miliknya dengan hentakan kuat dari prianya.
Amanda mulai memimpin permainan mereka dengan menggoyangkan pinggulnya membuat Richard mendesahh menggumamkan nama Amanda berulang kali.
Dua buah benda kenyal ikut naik turun mengikuti gerakan tuannya, membuat Richard gemas sendiri.
Menangkup dengan satu tangan dengan mulut yang berada di benda kenyal satunya, Amanda makin gila membawa permainan mereka hingga mencapai puncak kenikmatan bersama.
Richard menyemburkan miliknya di dalam sana tanpa pengaman yang biasa dia pakai. Tak apalah, sebentar lagi Amanda akan menjadi miliknya seutuhnya. Percintaan pertama dengan rasa cinta dihati mereka berdua hari ini harus membuahkan hasil pikirnya.
"Thank you Beby, you always yummy for me." (Terima kasih Beby, kamu selalu enak bagiku), goda Richard kembali menghentak miliknya di dalam sana.
__ADS_1