Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Firasat


__ADS_3

Pesta kejutan untuk menyambut kedatangan Richard pagi itu sudah di mulai. Tari mondar mandir mempersiapkan semuanya dengan penuh semangat.


Dia bersama Tommy bahkan menginap di rumah yang sebentar lagi akan resmi di tempati oleh anak dan menantunya, Amanda.


Pesta yang berfokus di taman belakang dekat kolam, hanya akan dihadiri oleh keluarga besar mereka saja. Balon-balon berwarna warni dengan hiasan bunga-bunga segar, menghiasi hampir sudut taman itu.


Di depan pintu masuk keluar kolam, dibentangkan juga spanduk bertuliskan 'welcome home Daddy to be'.


Tari sampai memesan party planner untuk kesuksesan kejutan hari ini. Dia ingin semuanya sempurna, dan tentu bahagia. Wanita paruh baya itu semakin tidak sabar menunggu Richard sampai kerumah baru mereka.


"Semuanya udah siap, kita tinggal tunggu Richard sampe di bandara." Tari masuk ke kamar menantunya, memperhatikan wanita yang tampak berseri-seri itu.


"Makasih, Mom. Ini pesta penyambutan yang luar biasa. Richard pasti bakal kaget dan bahagia banget...."


Tari tersenyum mengelus lembut pundak Amanda. "Sama-sama sayang, mommy bahagia kalo kalian juga bahagia. Sehat selalu yah, sayang."


Amanda mengangguk, menyapukan pewarna bibir sebagai tahap akhir dia merias wajahnya.


"Turun yuk, semua keluarga udah dibawah." ajak Tari merangkul lengan Amanda.


"Mama udah nyampe belum?"


"Udah, dia tadi langsung sibuk di dapur. Katanya mau bikin kue kesukaan kamu."


Keduanya turun menemui keluarga besar Klose dan Ninda. Amanda memakai terusan putih dengan rambut yang digerai bebas dan tiara yang menempel di sana.


"Cantik sekali calon ibu ini," puji beberapa wanita, sepupu Richard.


"Makasih ... makasih juga udah nyempetin hadir, yah?" sahut Amanda tersenyum manis.


Keith datang memeluk Amanda yang baru saja duduk di kursi sofa ruang tamu rumahnya. Anak kecil berusia lima tahun itu ikut mendaratkan kecupan hangat dipipi Amanda.


"Selamat Auntie," ujarnya tulus.


"Makasih Keith."


"Nanti aku bakal punya dua adik yah, Auntie?"


"Iya, Keith nanti bantuin Auntie sama mommy jagain adik-adik, yah?"


Anak laki-laki itu mengangguk. "Pasti Auntie, aku udah nggak sabar mau main sama mereka nanti."


Amanda mengusap kepala Keith lembut, dengan hati membuncah bahagia.


"Jam berapa kamu mau ke bandara, Manda?" tanya Rena duduk di dekat adik iparnya.


"Sebentar lagi, Mawar masih di jalan kesini. Boleh aku peluk Amore?" izin Amanda mengusap pipi ponakannya.


"Boleh, kamu udah bisa belajar dari sekarang gendong anak, Manda." goda Rena memberikan Amore ke tangan Amanda.

__ADS_1


"Rasanya udah nggak sabar gendong anak kayak begini, aku jadi penasaran nanti anak aku bakal mirip siapa." sahut Amanda menatap bayi kecil mungil di tangannya.


Membayangkan sebentar lagi rumahnya akan berisik dengan tangisan bayi, sungguh membuat hati Amanda bahagia.


Keluarganya akan lebih sempurna, Amanda tidak sabar memulai lembaran yang baru bersama Richard dan anak-anak mereka kelak.


"Iya, bentar lagi kamu bakal liat anak kalian bakal mirip siapa. Sembilan bulan itu nggak lama kok," kekeh Rena.


Dia juga sama tidak sabarnya melihat keluarga adik laki-lakinya ini bertambah satu anggota baru. Keluarga mereka pasti akan jauh lebih ramai lagi, pikirnya.


"Amanda, Mawar udah di depan tuh," sela Amel baru saja keluar dari dapur rumahnya.


"Mama bawa apa?" Pandangan mata Amanda teralihkan dengan kue yang masih mengepul di tangan Amel.


"Kue kesukaan kamu sayang, mama baru selesai buatinnya."


"Aku mau dong, Ma...," pinta Amanda memelas.


"Tapi ini masih panas, Nak. Nanti aja kalo kamu udah balik dari bandara."


"Kelamaan, Ma. Aku udah pengen banget ini."


Amel menggelengkan kepala meletakkan kue itu ke atas meja. Padahal dia berencana akan membawanya ke taman belakang tempat pesta kejutan akan diadakan.


"Yaudah, mama ambil pisau dulu buat motong kuenya." Amel berlalu kembali ke dapur mengambil pisau.


Membayangkan rasa manis dan lembut dari kue kesukaannya, Amanda sontak menelan salivanya kasar. Ah, bawaan ibu hamil memang susah untuk ditolak saat melihat makanan seenak ini, gumamnya.


Menyerahkan ponakannya kembali pada Rena, Amanda menyambut sepotong kue yang diberikan Amel padanya.


"Pelan-pelan aja makannya, Manda." Amel tersenyum hangat menatap anak satu-satunya itu.


"Makasih, Ma. Ini enak banget," sahut Amanda dengan mulut penuhnya.


"Iya, di telan dulu kuenya baru ngomong."


Rena dan beberapa sepupu Richard yang ada di sana tertawa geli melihat Amanda makan dengan lahap.


Dia hampir menghabiskan satu bola kue yang masih panas itu, jika saja Tari tidak datang mengingatkannya kalau dia sudah harus pergi ke bandara.


"Makasih, Ma. Makasih semuanya. Aku bahagia bisa liat kalian semua hadir disini hari ini. Aku pergi dulu, jangan merindukan aku nanti, yah?" Amanda menatap satu per satu keluarga besarnya.


Hatinya sejak tadi terus gelisah, dalam bayangannya semua yang ada disini akan lenyap dalam pandangannya.


Amanda terus berusaha menepis pikiran dan perasaan aneh itu sambil bergumam kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Ngomong apa sih, kamu sayang. Jangan bicara cara yang aneh-aneh begitu, nggak baik!" Amel berdiri mengantarkan anaknya ke depan pintu rumah.


"Nggak aneh-aneh kok, Ma. Aku cuma mau ucapin makasih aja. Mama jaga rumah dulu, yah? Aku pergi...." pamit Amanda masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Amanda melambaikan tangan dan tersenyum hangat sembari menutup jendela kaca mobil. Entah kenapa Amel merasa hatinya tidak enak melihat mobil yang membawa anaknya perlahan meninggalkan halaman rumah, menghilang di balik pintu pagar.


"Nggak mau duduk di depan, Manda?" tanya Mawar sembari melajukan mobil menuju bandara.


"Nggak usah, disini aja. Gue lagi pengen duduk di belakang," tolak Amanda menikmati pemandangan di luar.


"Oh yah, War...." Amanda menggantung ucapannya.


"Iya, kenapa?"


"Kalo gue pergi, Lo tolong liatin butik gue, yah? Cuma elo yang bisa gue percaya untuk urus butik itu."


Mawar mengernyit. "Emang Lo mau kemana?"


"Nggak kemana-mana, gue cuma mau bilang itu aja sama elo. Takutnya gue nggak punya waktu."


Dua alis Mawar makin bergulung mendengar ucapan istri bosnya itu. Tidak biasanya Amanda akan berkata seperti ini padanya, perasaanya ikut merasa tidak enak karenanya.


Baru saja akan bersuara, tiba-tiba datang mobil dari arah seberang dengan kecepatan tinggi. Mobil itu melayang, menerobos pembatas jalan mengarah pada mereka seperti batu besar yang siap menghancurkan apapun.


"War!" Amanda memekik kaget melihat mobil itu semakin cepat mendekati mereka.


Hantaman keras dari arah kanan membuat Amanda terkesiap saat mobil itu terguling dan menghantam aspal dengan kuat. Tangannya dengan cepat melindungi perutnya yang membuncit, melindungi dari apapun yang bisa mencelakai anak mereka.


Amanda berusaha menahan rasa nyeri di bagian kepala dan punggung belakangnya yang terasa panas dan seperti teriris.


Pandangannya sontak mengabur dengan telinga yang berdengung hebat. Tangan Amanda masih merangkul perutnya, mencoba melindungi bayinya di dalam sana. Berusaha merapalkan doa agar terhindar dari maut yang berada di depan mata.


Amanda tidak dapat menggerakkan tubuhnya, sedikit saja bergerak dentuman di kepala dirasakan seperti kilat yang menyambar di kegelapan. Bau darah mulai tercium yang mengalir dari pelipis.


Sebelum semuanya benar-benar gelap, Amanda hanya sempat berujar nama Richard dan setelahnya dia sudah tidak merasakan apapun lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2