
"Kamu udah lama kerja disana?"
"Dimana Pak?"
"Di cafe lah, emang dimana lagi."
"Oh, itu kerjaan kelima saya selama seminggu di Jakarta."
"Hah? kamu punya lima pekerjaan?"
"Bukan Pak," sahut Manis menggeleng.
"Terus?"
"Itu kerjaan saya yang kelima setelah di pecat dibeberapa tempat, Pak."
"Astaga...." Mike geleng-geleng kepala mendengar ucapan Manis.
Melihat bagaimana tadi dia begitu teledor dalam bekerja, pantas saja wanita ini di pecat dari beberapa tempat yang dia masuki pikirnya.
"Kamu bilang tadi seminggu di Jakarta, emang kamu dari mana?"
"Saya dari Samosir, Pak. Dateng kesini karena mau merantau, nyari duit buat bantuin emak di kampung."
Mike sedikit terkejut mendengar pengakuan Manis, jujur sekali wanita ini pikirnya.
"Emang emak kamu tinggal sama siapa di kampung?" tanya Mike penasaran.
"Nggak ada Pak, bapak saya udah lama meninggal. Sementara kakak saya udah nikah dan ditinggal pergi sama suaminya yang gak balik-balik."
"Hah? Maksud kamu janda?"
"Iya Pak. Kenapa? Bapak tertarik sama kakak saya? Mau saya kenalin nggak? Mumpung dia janda tapi nggak punya anak, Pak. Bapak nggak punya tanggungan apa-apa nanti kalo nikah sama dia," sahut Manis panjang lebar.
"Astaga ... ngapain gue nikah sama kakak Lo yang janda, mending gue nikah sama Lo, kan!"
"Apa? Ish, ogah. Saya masih mau nyari duit di Jakarta."
"Kalo cuma duit gue bisa ngasih sama Lo, yang penting Lo mau nikah sama gue. Gimana?" tawar Mike.
"Nggak makasih Pak, saya nggak mau nikah muda!"
Mike tertawa di samping Manis, dia hanya asal bicara saja tadi. Sepertinya wanita ini malah menganggap serius ucapannya.
"Kenapa? Nikah muda enak loh, apalagi kalo kawin. Lo pasti bakal minta terus kalo udah ngerasainnya," goda Mike.
"Emang Bapak udah pernah kawin?" tanya Manis kaget.
"Udahlah, gue bukan cowok munafik. Malem ini aja kalo Lo mau gue kawin sama Lo."
Manis sontak menutup dadanya dengan dua tangan, menatap tajam ke arah Mike. "Jangan macem-macem yah Pak, saya teriak nanti!"
Tawa menggelegar semakin terdengar di dalam mobil, lucu sekali wanita ini pikir Mike.
"Gue kalo mau kawin sama Lo, nggak mungkin gue bawa Lo ke tempat rame kayak gini."
Manis membenarkan ucapan Mike dan perlahan menurunkan tangannya dari dada. Pria blasteran di depannya ini memang tampan, dan mungkin saja orang kaya. Melihat bagaimana dia sangat baik tadi menolongnya, Manis jadi senang mengenal sosok Mike.
"Ngomong-ngomong Lo nggak usah panggil gue, Pak. Panggil Mike aja, gue risih di panggil begitu sama cewek cantik kayak elo."
Mike masih menggoda wanita berambut panjang dengan hidung mancungnya itu.
__ADS_1
"Eh, saya yang jadi nggak enak nanti Pak."
"Ish, ngomong biasa aja sama gue. Gue mah orangnya nyantai."
Manis mengangguk patuh, duduk di samping Mike yang terus memandangnya dari tadi. Wanita ini memang cantik, sayangnya dia terlalu polos. Mike jadi ragu untuk coba-coba mendekati Manis pikirnya.
Dalam keterdiaman mereka, tiba-tiba perut Manis berbunyi sangat nyaring membuat Mike kembali tertawa geli.
"Lo laper, Nis?"
"I-iya Pak, tadi nggak sempat makan soalnya...." sahut Manis dengan wajah merona malu.
Mike masih tertawa menggelengkan kepala, entah sudah keberapa kalinya dia menggelengkan kepala hanya karena sikap polos namun menggemaskan yang ditunjukkan oleh Manis.
"Yaudah, Lo mau makan apa? Biar gue traktir Lo malam ini."
"Eh, nggak usah Pak. Aku-"
"Mike, panggil gue Mike, Nis...."
"Eh iya Pa ... maksud aku Mike. Beneran nggak usah," sahut Manis tidak enak.
"Udah diem aja disitu, tar aku beli dulu."
Mike keluar mendekati seorang penjual kaki lima yang malam itu sedang menjual nasi goreng ayam. Memesan dua bungkus untuk dirinya dan Manis, Mike datang membawa dua kantong kresek dengan dua botol air mineral di tangan.
"Ini, makan dulu." ujarnya menyodorkan satu bungkus nasi goreng beserta minumannya.
"Ya ampun Mike, aku jadi nggak enak."
"Udah makan aja, kalo laper nggak usah ngerasa gak enak. Itu manusiawi namanya!"
"Nis...," panggil Mike.
"Iya?"
"Kamu kok bisa manis gitu sih? Sering makan gulali yah dulu?" kekehnya.
Manis tertawa menunjukkan gigi putihnya yang rapi, jantung Mike semakin berdetak tidak karuan melihatnya.
"Astaga, Nis. Udah dong ... jangan senyum ato ketawa lagi kayak gitu. Gue udah nggak kuat ini."
Manis langsung terdiam menatap bingung pria di depannya. "Kenapa emangnya?"
Mike mengambil tangan Manis dan meletakkannya di dada bidang dia. "Nih, Lo bisa rasain, kan? Jantung gue lagi berdebar-debar ini."
Manis terdiam dan sontak jadi heboh sendiri. "Ya ampun Mike, kamu punya sakit jantung? Kita ke rumah sakit aja deh kalo gitu. Tunggu aku panggil orang dulu biar bisa bantuin kita."
Meletakkan nasi bungkus yang dia pegang ke atas dashboard mobil, Manis berbalik membuka pintu mobil.
"Bukan, bukan itu, Nis...." Mike menahan tangan kecil mungil Manis.
"Trus apa?"
"Jantung gue berdebar-debar kek gini tuh karena liat senyum Lo yang manis banget, Nis...."
Aduh, susah emang kalo temunya cewek se polos ini pikir Mike.
"Emang bisa begitu? Kok aku nggak pernah tahu kalo senyum aku bisa bikin jantung orang lain berdebar?"
"Astaga...." Mike memijit pelipisnya tidak habis pikir dengan Manis.
__ADS_1
Maksud hati ingin bergombal, apa daya wanita ini malah mengartikannya lain.
"Tapi kamu gak pa-pa, kan? Yakin kita gak perlu ke dokter?" tanya Manis lagi masih khawatir.
"Gue gak apa-apa Manis ... udah Lo makan aja sana." Mike menyerah, baru sekarang dia menggombali cewek dan tidak berhasil seperti ini.
Entah karena Manis yang polos atau bego, atau karena gombalan dia yang tidak mempan.
"Yaudah, nanti jangan tiba-tiba pingsan disini yah Mike ... aku nggak mau tanggung jawab kalo kamu kenapa-napa."
Mike mendengus mulai memakan nasi goreng yang dia beli, Manis malah membuatnya makin gemas ingin memakan dia sekarang juga.
"Nanti Lo nggak usah kerja disana lagi, Lo bisa kerja di kantor gue nanti."
"Hah? Di kantor, Pak?"
"Kok Pak lagi sih, Mike! Panggil gue Mike, Manis...." sahut pria berambut jibrak itu menekan suaranya.
"Eh iya, maaf. Kebiasaan Pak, eh Mike...."
"Udah besok dateng ke alamat ini." Mike menyodorkan kartu namanya ke depan Manis.
"Jam tujuh pagi, gak boleh telat!"
Manis mengangguk, membaca isi dalam kartu nama tersebut.
"Mana nomor hp Lo?!"
"Hah? Aku nggak apal, Mike. Aku baru beli hp dua hari yang lalu, jadi nggak begitu tau juga cara make HP-nya." jujur Manis merogoh benda pipih miliknya dari saku celana.
Aduh ... sepertinya hidup gue bakal lebih berwarna kek pelangi abis ini, gumam Mike dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kaget yah hari ini Up 2 sekaligus 🤭
Sengaja,, karena cerita part Mike emang agak terlambat...
Makanya author bikin cerita ini sehari biar gak ngegantung lagi yah...
Next part bakal ada part Donal yahh,,
Yang udah minta dari kemarin²
Sabar ... Si Donal Duck hadir besok hari... 😁
See you 🤗
__ADS_1