
"Lo mau kemana malem-malem begini, Nis?" Mike baru saja pulang setelah menyelesaikan pemotretan terakhirnya hari ini.
Pria itu memutuskan untuk berhenti dari dunia permodelan dan fokus mengurus bisnis serta perusahaan milik ayahnya, setelah hubungan dia dengan Moses membaik.
"Aku dipanggil mami ke rumah. Kamu udah makan?"
"Udah tadi. Ngapain Lo mau kesana?"
"Mami bilang aku tidur di sana aja sampe kita nikah lusa Mike."
"Apa? Kok begitu, sih? Kenapa nggak ngasih tau dulu sama gue, Nis?" protes Mike tidak senang.
"Ini juga, kan udah dikasih tau."
"Nggak, kamu nggak boleh tidur di sana! Aku nggak izinin kamu tinggal di sana sampe kita nikah!" larang pria blasteran itu tidak ingin ditinggal oleh wanitanya.
"Tapi Mike, kata mami aku harus dipingit dulu sebelum nikah sama kamu."
"Dipingit, kan bisa juga disini. Ngapain harus kerumah mami segala, sih?! Pokoknya Lo nggak boleh kemana-mana!" sahut Mike bersikukuh.
"Ngapain kamu larang-larang cucu menantu Oma, Mike?!" Jessie datang memukulkan tongkatnya ke betis cucu laki-lakinya.
"Aww ... sakit Oma." ringis Mike memegang betisnya.
"Baru mau jadi calon lakik aja udah berani, yah kamu atur-atur Manis-nya Oma?!" sentak wanita berumur itu menarik Manis menjauh dari Mike.
"Apa, sih? Dia itu Manis-nya aku Oma, bukan punya Oma!" sahut Mike tidak mau kalah.
"Punya Oma juga! Dia, kan mau nikah sama kamu! Jadi Manis bakal punya Oma juga!"
"Enak aja ... dia punya aku bukan punya Oma, titik!"
"Terserah! Yang pasti malam ini Manis akan ikut Oma pulang kerumah. Ayo Manis...." Jessie menarik tangan Manis berjalan menuju pintu depan rumah cucunya.
"Eh, nggak! Nggak boleh pokoknya! Manis nggak boleh kemana-mana Oma...." protes pria berhidung mancung itu mengikuti keduanya dari belakang.
Jessie seketika menghentikan langkah kakinya, berbalik menatap Mike. "Kamu udah berani ngatur-ngatur Oma sekarang?"
Tatapan mata elang ala Jessie membuat Mike menelan salivanya kasar. Dia tahu jika omanya sudah menatap dia seperti itu, pasti akan ada sesuatu hal yang terjadi padanya.
"Ng-nggak Oma, bukan gitu. Aku cuma—"
"Cuma apa? Cuma mau ngebantah Oma? Udah gede sekarang jadi udah makin berani sama Oma?" potong Jessie cepat.
Buru-buru Mike mengangkat dua tangannya ke depan dada dan melambaikannya. "Nggak Oma, aku mana berani."
__ADS_1
"Yaudah, sekarang kamu diem aja di rumah, tunggu sampe lusa. Kamu udah mau nikah, nggak baik bolak balik di jalan." Jessie kembali berbalik melanjutkan langkah kakinya keluar rumah Mike.
"Trus Manis gimana Oma?" tahan pria itu tidak rela.
Bagaimana mungkin dia menghabiskan dua malamnya tanpa kehadiran wanita itu disampingnya? Mike sudah terbiasa ada Manis disini, tidur sambil memeluk Manis-nya sampai pagi. Lalu sekarang dia harus memeluk guling? Tidak, Mike tidak mau.
"Gimana apanya? Tadi, kan Oma udah bilang dia mau Oma bawa kerumah."
Mike berjalan berdiri di depan Jessie. "Kenapa nggak disini aja, sih Oma? Aku nggak bisa sendirian...," keluh pria itu memelas.
"Ck, alesan aja kamu! Dulu juga sebelum ada Manis, kan kamu emang selalu sendiri. Nggak usah sok-sokan takut kayak anak kecil! Minggir, Oma nggak mau kemaleman dijalan!" Jessie mendorong tubuh kekar Mike yang masih menatapnya memelas.
"Nis...." lirih pria itu bersuara, menahan Manis sebelum pergi.
"Cuma sampe lusa Mike, setelah kita nikah aku nggak akan kemana-mana lagi," sahut Manis mencoba memberi pengertian untuk calon suaminya.
"Lama, Nis...."
"Nggak lama, cuma dua hari, kok. Sabar, yah...?" bujuk Manis mengusap pipi Mike lembut.
"Manis...!" Jessie berteriak dari dalam mobilnya yang telah siap terparkir di depan pintu depan rumah Mike.
"Aku pergi, yah? Nanti kalo udah sampe, aku telpon, ok?"
Itu terakhir kali mereka berbicara dan bertemu setelah lewat tiga jam dari kepergian Manis kerumah orang tuanya.
Setiap kali Mike telepon, nomor calon istrinya tidak pernah aktif. Begitu juga dengan nomor telepon rumahnya, tidak ada yang mengangkat panggilan tersebut sejak tadi, membuat pria itu semakin galau karenanya.
"Parto!" Mike keluar memanggil asisten sekaligus supir pribadinya.
Tergopoh-gopoh pria paruh baya itu berlari menuju atasannya. "Iya, Pak?"
"Siapin mobil, aku mau kerumah papi!" perintah Mike dari atas lantai dua.
"Mau ngapain, Pak kesana?"
Mike mengernyitkan dahi. "Sejak kapan kamu jadi peduli sama urusan bos kamu?!" sentaknya mulai kesal dengan tingkah Parto.
"Bu-bukan gitu, Pak. Saya cuma diminta Ibu Jessie untuk tidak membawa Pak Mike keluar rumah dulu sampe hari nikahan Bapak tiba."
"Oh ... jadi sekarang Oma aku yang jadi bos kamu?! Dia yang ngasih kamu gaji?!"
"Maaf, Pak. Tapi saya hanya diperintahkan begitu sama Ibu Jessie. Pak Mike tidak boleh keluar rumah sampai lusa." Parto bergegas berlalu dari lantai satu rumah atasannya sebelum pria yang dikenal suka marah-marah itu, mencerca dia dengan beribu ucapan tajam dan menyayat hati dari mulutnya.
Dia tahu kalau Mike pasti akan berteriak marah setelah dia pergi dari sana.
__ADS_1
"Taii...! Awas Lo Parto!" pekik pria itu kesal.
Mike tidak menyangka bahkan Parto saja berani membantah ucapannya yang adalah atasan dia disini.
Omanya benar-benar sudah menyiapkan masa pingit yang dikatakan orang sini sebagai persiapan untuk menikah dengan sangat detail pikir Mike.
Mau tidak mau, Mike pun kembali masuk ke dalam kamarnya menjatuhkan dirinya ke atas ranjang.
Pria itu menarik bantal yang biasa Manis pakai, membaui bantal itu penuh kerinduan. Baru beberapa jam saja berpisah sudah membuat hatinya gundah gulana, apalagi masih harus menunggu sampai lusa.
Mike tidak bisa membayangkan seharian besok dia hanya akan diam di rumah, tidak melakukan apapun tanpa ada Manis menemaninya.
"Lo kemana aja sih, Nis?"
"Maaf, kemarin Oma ngajak ke salon dulu sebelum pulang. Kita sampe dirumah udah tengah malem. Aku nggak enak kalo mau ganggu kamu malem-malem begitu," sahut Manis dari ujung teleponnya.
"Trus kenapa nomor Lo nggak aktif-aktif? Gue udah kayak orang bego tahu nggak nelpon elo semaleman!" Suara Mike terdengar meninggi, menahan rasa kesal dihatinya.
"Handphone aku lowbat Mike, aku lupa bawa charger. Ini aja cuma pinjem punya Lila, jangan marah, yah?" bujuk Manis dengan suara lembutnya.
Mike berdecak, masih memeluk guling di atas ranjang. "Pokoknya hari ini Lo harus temenin gue di telpon, jangan di matiin telponnya ato alesan bilang lowbat lagi. Nanti gue suruh Parto kesana bawa charger elo!"
"Yaudah, boleh ... mau minta cium juga boleh kok," sahut Manis menggoda calon suaminya.
"Eh, udah mulai nakal, yah?" kaget Mike menggigit ujung gulingnya gemas.
"Kan, belajar dari ahlinya...," kekeh Manis.
"Iya, nanti aku kasih pelajaran yang lebih mantep lagi kalo udah nikah."
.
.
.
.
.
.
.
Tungguin part nikahan mereka yah, guys...
__ADS_1
Cerita ini udah mau menuju ending guys, siap-siap sama Giveaway yang bakal author adain, yah?
Stay tuned 🤗