Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Bau...!


__ADS_3

"Cel...." Donal mendekati istrinya yang sedang berbaring di atas ranjang rumah baru mereka.


Pasangan suami istri itu memutuskan membeli rumah yang cukup dekat dengan rumah Richard, setelah beberapa bulan tinggal di apartemen milik Donal.


"Hmm...," sahut Celin malas.


"Udah bisa, kan?"


"Apanya?"


"Main."


Celin mengernyit. "Emang sekarang udah berapa Minggu?"


"Udah jalan tiga belas Minggu, kata dokter udah bisa, kan kemarin? Kandungannya udah kuat katanya." Celin diam mengingat apa kata dokter kandungannya saat mereka pergi check up kemarin.


Wanita yang sempat memiliki gangguan di awal kehamilannya beberapa Minggu yang lalu, disarankan dokter untuk jangan dulu melakukan hubungan suami istri sampai kandungannya bisa lebih kuat. Dan hari ini, hari yang ditunggu-tunggu oleh pria berkulit sawo matang itu akhirnya tiba juga.


Donal sudah memendam hasratnya selama beberapa Minggu ini untuk bisa memuaskan kebutuhan dirinya sebagai seorang pria.


"Gimana ... udah bisa, kan?" tanya Donal lagi.


"Tapi pelan-pelan yah, Nal. Gue takut anak kita kenapa-napa di dalem."


"Iya tenang aja, gue bakalan pelan, se pelan siput!" canda Donal tersenyum sumringah.


Pria itu buru-buru beranjak dari ranjang, membuka seluruh pakaiannya penuh semangat.


"Eh, nggak usah, Nal. Gue mau pake baju aja." Celin menahan tangan Donal sebelum pria itu sempat menarik pakaian tipis yang dia pakai.


"Yah, kok nggak dibuka sih, Cel? Biasa juga, kan selalu dibuka tiap kita mau enak-enak...." protes Donal.


"Nggak, gue nggak mau! Gue maunya pake baju aja, nggak usah protes kalo masih mau dapet jatah!" sahut Celin setengah mengancam.


"Eh, iya, ok ... udah nggak usah dibuka aja." Donal menarik kembali tangannya dari baju istrinya.


"Jangan marah, yah?" sambungnya tersenyum manis membujuk Celin.


Celin berdecak memutar bola mata malas dan pasrah saat pria itu membuka pakaian bawahnya, lalu membuangnya ke sembarang arah.


"Ih, ngapain Lo dibawah, Nal?!" protes Celin saat pria itu sudah bersiap di area pangkal pahanya.


"Kenapa? Biasanya juga gue main-main dibawah, kan sebelumnya?"


"Nggak, gue nggak mau. Di dada aja kalo Lo mau!" tolak Celin lagi.


"Tapi, Cel—"


"Mau main apa enggak?!" potong Celin cepat.


"Ok, fine." Donal mengalah dan perlahan naik ke atas tubuh wanitanya.


Semenjak hamil Celin memang sering marah-marah dan tidak bisa dibantah. Donal tidak ingin kegiatan enaknya malam ini akan gagal, jika dia masih membantah apa perkataan istrinya.

__ADS_1


"Eh, jangan gitu, Nal...!" protes Celin.


Donal mendongak, menghentikan kegiatan memainkan ujung benda kenyal wanitanya. "Gitu gimana, sih maksud Lo?"


"Gue nggak mau Lo gigit-gigit begitu! Sakit tahu...!"


"Lah, biasanya juga, kan gue sering begitu sama Lo. Masa sekarang Lo baru bilang sakit, sih? Ada-ada aja Lo!" sahut Donal mulai frustasi.


"Emang elo yang rasain? Enggak, kan? Jadi nggak usah protes!" sahut Celin mulai emosi.


Donal menghembuskan nafas, mencoba bersabar dengan tingkah istrinya. Ternyata untuk melepaskan hasratnya saja bisa sesulit ini, sekarang.


"Yaudah, gue remass-remass aja gimana?" Celin mengangguk. "Kalo gitu gue remass, yah ... jangan protes lagi bilang sakit."


"Yaudah."


Donal menumpu badannya dengan satu tangan dan tangan yang lain asik memainkan ujung puncak Celin, sambil sesekali meremassnya.


Pria itu perlahan naik, ingin mencium bibir penuh Celin untuk memulai pergulatann mereka sebentar lagi.


"Nal...!" tahan Celin sebelum suaminya sempat mencumbunya.


"Kenapa lagi?"


"Lo, kok bau, sih?! Lo nggak sikat gigi dulu, yah tadi?!"


"Ada, kok." Donal menghembuskan nafasnya ke telapak tangan, mencium aroma nafasnya sendiri.


"Wangi kok ini. Gue, kan udah sikat gigi tadi, Cel."


"Astaga ... jadi gue harus sikat gigi lagi, nih?"


"Iya, sana cepetan! Gue mual lama-lama sama Lo!" Donal mendengus, beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Pria itu sampai dua kali menyikat giginya di dalam sana, dan berkumur sebanyak lima kali dengan penyegar mulut, sebelum keluar kembali ke ranjang bersama Celin.


"Udah, Cel. Udah wangi ... coba Lo cium." Donal menghembuskan nafasnya di depan wajah Celin, percaya diri.


Kali ini wanita itu tidak akan protes lagi dan mengatakan kalau dia masih bau mulut, tidak menyikat giginya sebelum tidur.


"Yaudah, cepetan kalo mau main. Gue udah ngantuk!"


"Ok." Donal kembali naik ke atas tubuh Celin, mengulang kegiatan yang sebelumnya dia lakukan tadi dengan tidak sabar.


Celin sudah beberapa kali menguap dibawahnya, Donal tidak mau istrinya tiba-tiba berkata berhenti melakukan kegiatan mereka karena sudah mengantuk.


Ditengah konsentrasinya melaksanakan kegiatan mengasyikkan di atas tubuh Celin, wanita itu kembali memanggil Donal.


"Nal...!" Pria itu tidak menggubris panggilan istrinya hingga beberapa kali.


"Nal, ini kok bau begini?"


"Donal...!" Suara Celin terdengar meninggi, kesal karena ucapannya tidak diindahkan pria yang tengah bersiap memasukinya itu.

__ADS_1


"Ya ampun Celin ... bau apa lagi? Nggak ada bau-bauan lagi di sini!" sahut Donal akhirnya ikut kesal.


"Ck, bau Donal! Badan elo yang bau!"


"Astaga ... tadi, kan gue barusan mandi pas pulang dari kantor, Cel. Lo sendiri liat, kan tadi?"


"Iya gue liat, tapi badan elo bau sekarang. Gue nggak tahan beneran, deh...." Celin kembali menutup hidungnya dengan wajah yang menahan rasa mual.


Hamil membuat hidung Celin lebih peka dengan bau disekitarnya yang kadang membuat dia sampai muntah karenanya.


Donal mengusap wajahnya frustasi, entah wanita ini sedang mengerjainya atau tidak, tapi Donal benar-benar dibuat kesal saat ini.


"Kamu mandi, gih. Gue nggak tahan sama bau badan Lo!" sambung Celin mengibas-ngibaskan tangannya ke kanan dan ke kiri.


"Ya ampun, Cel. Ini, kan udah jam sepuluh malem. Masa gue musti mandi lagi, sih?"


"Pokoknya Lo harus mandi, kalo nggak tidur aja diluar. Gue nggak mau Lo tidur disini kalo masih bau!"


Mau tidak mau, Donal akhirnya mengalah lagi.


Pria dengan tubuhnya yang polos itu kembali masuk ke kamar mandi, menyambar handuk dan mandi kedua kalinya malam ini. Donal ingin menggerutu dan marah namun tidak bisa, nasib suami yang ingin hasratnya segera tersalurkan itu, harus dia terima demi untuk bisa bercintaa dengan istrinya.


Donal menggosok seluruh tubuhnya, menghabiskan hampir satu botol sabun cair, memastikan kalau badannya tidak bau lagi. Dia tidak mau disuruh mandi ketiga kalinya jika Celin masih menganggap tubuhnya bau.


Keluar dari kamar mandi, Donal semakin kesal mendapati Celin sudah tertidur dengan pakaian lengkap, dan tengah memeluk bantal di atas ranjang.


Pria itu ingin sekali berteriak, membanting diri atas lantai melihat pemandangan di depan matanya. Sudah harus sikat gigi hingga berkali-kali dan mandi sampai dua kali, dia malah tidak mendapatkan apa yang diinginkannya berminggu-minggu ini.


Donal hanya bisa mengusap bijinyaa dan berkata, "Sabar, yah biji. Cuma beberapa bulan lagi Lo digini'in sama sarang Lo!"


.


.


.


.


.


.


.


Yah, nggak bisa maksa karena bini lagi hamil 🤭😆


Kemarin author sempat liat ada yang komen, kok hamil gini amat, yah atau apalah itu....


Jadi ibu² yang baik,, setiap kehamilan pada masing² perempuan itu beda² yah...


Ada yang nggak mual, dari anak kesatu sampe kedua belas


Ada yang nggak ngidam, ada yang keluar masuk rumah sakit karena muntah yang nggak berhenti dan masih banyak lagi...

__ADS_1


Jadi jangan jadikan patokan si A sama si B, yah... Apalagi sampe membandingkan cerita ini dengan kehidupan ibu² hehehe


Next part ketemu sama pasangan terakhir kita, yah 🥰


__ADS_2